All About You

All About You
Mengalah



🌹


🌹


Dimitri terdiam mendengarkan semua penjelasan dokter tentang keadaan kandungan Rania.


"Semuanya baik, janin dan ibunya sehat, tidak ada yang perlu di khawatirkan mengenai masalah itu. Hanya saja turun naiknya mood bisa mempengaruhi emosi ibu hamil pada masa sekarang ini," ucap dokter kandungan bernama Reyhan itu.


"Apa ngidam termasuk gangguan kehamilan juga?"


"Apa? ngidam?" dokter dengan rambut kelimis dan berkacamata itu sedikit tertawa.


"Itu hanya sugesti, karena kehamilan juga mempengaruhi psikologi ibu hamil jadi ya, ..."


"Apa akan berakibat buruk jika permintaan ibu hamil tidak di turuti?" sekalian saja dia bertanya, karena dirinya tak mendapatkan jawaban pasti dari kedua orang tuanya mengenai maslah tidak logis ini, dan hal itu membuatnya merasa kesal.


"Tidak ada, dan jika semua yang anda dengar tentang masalah ngidam itu semuanya hanya mitos," jelas dokter Reyhan.


"Nah kan, aku bilang juga apa?" dia menoleh kepada Rania yang fokus pada foto hasil usgnya beberapa saat yang lalu. Dia menatapnya seakan tak percaya.


"Tapi memang karena keadaan psikologinya yang mudah turun naik, jadi sebaiknya kita menjaganya agar tetap stabil dengan tidak menimbulkan lonjakan emosi dan sebagainya."


"Apa itu bisa jadi masalah?"


"Tentu saja bisa. Pada satu kasus, lonjakan emosi bisa menyebabkan keguguran atau kelainan pada janin, dan itu yang lebih mengkhawatirkan daripada akibat ngidam yang tidak dipenuhi itu sendiri."


"Duh, ..." Dimitri menatap sang dokter. "Apa yang harus dilakukan agar lonjakan emosi itu tidak terjadi?" kemudian dia bertanya.


"Ya itu tadi, menjaganya agar tetap stabil. Menciptakan lingkungan yang kondusif dan tentu saja bahagia bagi ibu hamil."


"Baiklah, ...


"Baik kalau begitu, ini saya sudah meresepkan obat dan vitamin juga suplemen pendukung agar bayinya semakin sehat dan kandungannya semakin kuat. Seperti mamanya yang kuat di lintasan." dokter itu tersenyum.


"Dokter tahu saya?" Rania bereaksi.


"Tahu, anda pembalap itu kan? Rania Yudistira. Pantas serasa kenal, tapi saya ragu. Saya pikir bukan Rania yang itu." dokter kemudian tertawa.


"Mmm ...


"Sayang sekali ya, balapan kemarin harus ada insiden? tapi anda finish di urutan pertama kan?" percakapan itu malah berlanjut.


"Ah, ... iya, soal itu ...


"Dan setelah hamil terpaksa harus fakum dari balapan ya? sayang sekali."


Dimitri mengerutkan dahi.


"Harus ada yang dipilih dokter. Balapan lain kali masih bisa." Rania menjawab.


"Baiklah kalau begitu, jangan lupa obat dan vitaminnya dihabiskan ya? semoga selalu sehat," ucap sang dokter dan akhirnya pasangan itu pun pergi.


***


"Kamu sudah kenal sebelumnya dengan dokter itu?" mereka kini dalam perjalanan pulang pada sore harinya.


"Udah." Rania menjawab.


"Bagaimana bisa? kenal di mana?"


"Ya di rumah sakitlah, barusan. Tapi kemarin sempat kenalan dulu di whatsapp pas sama csnya rumah sakit disuruh milih mau konsultasi sama siapa." perempuan itu masih betah menatap foto hasil USG di tangannya. Dia tak bisa berhenti tersenyum karena hatinya merasa bahagia, tahu makhluk berumur empat minggu di dalam rahimnya baik-baik saja.


"Kapan chatnya? kok aku nggak tahu?" Dimitri memiringkan kepalanya. Kebetulan mobilnya berhenti karena lampu merah di depan sana menyala.


Hatinya tiba-tiba saja merasa marah setelah menyimak percakapan antara istrinya dan seorang dokter kandungan beberapa saat sebelumnya.


"Kemarin sore, aku ingat kalau udah waktunya check up, ya aku hubungi rumah sakit dulu bikin janji." perempuan itu mendongak.


"Emangnya ada masalah ya?"


Dimitri hanya terdiam.


Kemudian Rania kembali pada foto USGnya, dan dengan ponsel pintarnya dia mengambil gambar beberapa kali. Lalu mengirimkannya ke nomor sang ayah yang sejak tadi berbalas pesan dengannya.


Rania sesekali tersenyum membaca balasn pesan dari sang ayah yang merasa bahagia setelah melihat foto USG calon cucunya. Sementara Dimitri mengawasinya dengan rasa tak suka.


***


Mereka tiba dirumah tak lama kemudian, dan Rania segera saja naik ke kamarnya dilantai atas.


"Nggak, pa. Aku baik-baik aja." terdengar Rania berbicara di balkon kamar mereka, dan Dimitri diam-diam mendengarkan. Rupanya perempuan itu sedang bertelefon ria yang diperkirakan bersama Angga.


Mau mengadu? batinnya bergumam.


"Iya, barusan abis check up sama USG kan?"


"...


"Sama Dimitri lah, siapa lagi? masa sama kang ayam geprek?" Rania terdengar tertawa.


"...


"Baik. Dia emang sibuk sih, tapi selalu nyempetin kalau aku butuh apa-apa."


"...


"Iya, oke papa."


" ...


"Oke, aku akan ingat." kemudian percakapan diakhiri.


Perempuan itu tampak termangu, lalu dia kembali menatap layar ponselnya dan mengetikan sesuatu disana. Mungkin sebuah pesan atau semacamnya.


Dimitri mundur saat Rania terlihat berjalan kembali ke kamar mereka. Pria itu cepat menjatuhkan bokongnya diatas tempat tidur dan segera menyalakan televisi.


Kemudian Rania berjalan melewatinya menuju kamar mandi setelah meletakan ponselnya diatas bantal. Dia terdengar membersihkan diri selama beberapa saat.


Sesekali Dimitri melirik ponsel milik perempuan itu, lalu beralih ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat dan suara air mengalir dari showernya. Dia meraih benda tersebut, merasa penasaran dengan apa yang telah Rania lakukan.


Tak ada yang mencurigakan sebenarnya, dan dia juga ragu, namun tetap saja dirinya penasaran.


Tujuan utamanya tentu saja aplikasi chat, dia mengira akan ada banyak hal yang ditemukannya di dalam sana. Dan benar saja, percakapan dengan Angga lah yang paling baru.


Dimitri terus membacanya sampai ke bawah, hingga dia menemukan percakapan yang membuat hatinya mencelos.


"Cuma ayam geprek doang, beli ajalah."


"Iya, udah tadi sama Dimitri."


"Capucino cincaunya gimana?"


"Udah juga kemarin." diikuti emot senyum.


"Syukur deh, jangan sampai cucu papa ngiler gara-gara kemauan kamu nggak dia turutin ya?"


"Nggak akan, papinya perhatian kok."


"Dih, papi." diikuti emot mengejek.


"Biar keren pah." dengan emot tertawa.


"Kalau baru empat minggu tuh bayinya udah segede apa sih?"


"Tadi kelihatan, paling segede biji kacang polong."


"Hahaha, masa segede biji kacang polong?"


"Ya itu tadi?"


"Iya juga sih." diikuti emot tertawa lagi.


"Berarti biji kacang polongnya dua dong, kan kembar?"


"Ah, ... iya bener."


"Jaga biji kacang polongnya bener-bener, jangan pecicilan ya? biar bisa tumbuh dengan baik. Nanti makin besar, terus bisa dipanen."


"Emangnya sayuran?"


"Ya anggap aja gitu."


Kemudian beberapa emot tertawa Rania kirim lagi.


Dimitri melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, kemudian dia beralih pada chat lainnya begitu chat dengan Angga selesai. Dan kali ini nomor kontak Galang yang dia baca.


"Lang, jangan bilang-bilang sama papa ya soal ayam geprek yang kamu bawain tadi pagi?"


"Emangnya kenapa?"


"Pokoknya papa jangan sampai tahu aja soal itu. Aku nggak mau urusannya jadi runyam. Tahu sendiri papa gimana. Dan baru minggu-minggu ini sikapnya melunak sama suami aku."


"Oh, ... oke."


"Janji ya?"


"Kamu kayak ke siapa aja. Rahasia kamu tenang sama aku."


"Dih, bukan rahasia. Cuma emang nggak penting aja untuk papa tahu. Kasihan juga Dimitri kalau nanti sikap papa berubah lagi."


"Iya oneeeeeng."


Dimitri menghela napas dalam-dalam, ada rasa bersalah yang tiba-tiba saja bergelayut dihati. Dirinya jelas telah melakukan kekeliruan, dan ini serius.


Dia segera mengembalikan ponsel Rania pada tempatnya semula saat menyadari pintu kamar mandinya perlahan terbuka, dan perempuan itu keluar dalam keadaan yang sudah segar. Mengenakan kaus dan celana pendeknya seperti biasa.


"Kamu nggak mau mandi?" Rania bertanya.


"Mm ... sebentar lagi."


"Oke." perempuan itu naik ke tempat tidur sambil menyisir rambutnya agar lebih rapi.


Dia memeriksa ponselnya, lalu meletakannya di nakas.


Dimitri kemudian bangkit dan bermaksud berjalan ke arah kamar mandi ketika Rania memanggilnya.


"Yang?"


"Ya?" pria itu berbalik.


"Maaf," katanya.


"Kenapa?"


"Kalau beberapa hari ini sikap aku nyebelin."


Dimitri mengulum bibirnya.


"Mungkin yang dokter bilang tadi itu benar. hormon aku yang naik turun mempengaruhi mood aku, jadinya aku marah-marah terus, dan nyebelin juga."


Dimitri kembali mendekat.


"Maaf kalau udah bikin kamu kesel," ucap Rania lagi. "Keras kepalanya aku sulit dirubah, tapi aku janji aku akan berusaha." lanjutnya, yang kemudian merangkak ke ujung ranjang sehingga jarak mereka begitu dekat, dan dia duduk dengan kedua lututnya yang bertumpu diatas tempat tidur.


"Jadi, jangan menyerah sama sikap aku ya? aku cuma butuh waktu." dan dia segera menghambur kedalam pelukan suaminya.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


uluh uluuuhhh ... si oneng ngalah🀭🀭


entah lah mesti gimana, yang pasti jangan lupa untuk like komen sama kirim hadiahnya yang banyak buat bekel malam minggunya si oneng dan kang ngomel. πŸ˜‚πŸ˜‚


lope lope sekebon cabe 😘😘