All About You

All About You
Kedatangan Galang



🌹


🌹


"Aku nggak lama ya? misinya harus di selesaikan sekarang juga. Kalau nggak, bisa kacau dunianya si Oneng." Galang menyesap minuman yang Amara suguhkan untuknya.


Dia sengaja mengantarkan Amara terlebih dahulu kerumahnya, setelah berangkat dari Bandung bersama-sama.


"Lagian aneh banget sih kak Rania ngidamnya? pakai mau ayam geprek dari Bandung segala. Untung kakak kebetulan mau kesini, jadinya bisa. Coba kalau nggak?"


"Nggak tahu lah, ... bawaan bayinya gitu kali. Apa bawaan emaknya aku nggak ngerti."


"Orang hamil aneh ya?"


"Gitu deh, hanya mereka sama Tuhan yang tahu keinginan anehnya."


"Hu'um."


"Ya udah, ..." pemuda itu bangkit dari kursinya.


"Pamit dulu sama Papa dan Mommy ya?" Amara mengikutinya.


"Duh, harus ya?"


"Iyalah, orang mereka ada dirumah. Kalau nggak sih nggak apa-apa."


"Baiklah." Galang pasrah saja ketika Amara menggiringnya ke dalam rumah.


Sementara di dalam sana pasangan suami istri tersebut mengawasi dari balik jendela. Yang kemudian berpura-pura duduk di sofa ketika tahu sang anak dan tamu jauhnya melangkah kedalam rumah.


"Papa, Mommy? kak Galangnya mau pergi." mereka muncul dari balik pintu.


"Ya?" Arfan mendongak.


"Pamit dulu Om, Tante." ucap pemuda itu berusaha setenang mungkin.


"Oh, mau pergi sekarang?" Dygta merespon.


"Ya tante, ada yang harus dikerjain." Galang menjawab.


"Baiklah kalau begitu." Dygta menganggukan kepala.


Kemudian mereka sama-sama terdiam, terutama Arfan yang tampak tak terlalu merespon pemuda itu. Dia sibuk mengerjakan sesuatu dengan laptopnya.


"Mm ... kalau begitu, saya pamit." Galang mencoba untuk bersikap sopan dengan menyalami kedua orang tua kekasihnya itu.


"Baik Galang, terimakasih sudah mengantar Ara sampai kesini ya?" balas Dygta.


"Ya tante." kemudian dia dan Amara kembali keluar.


"Ayo, ... turun dulu ya? kak Galangnya mau pergi." Amara mengusir dua adik kembarnya yang asyik bermain-main diatas motor milik Galang.


"Yaaaahhh, ...." Asha dengan raut kecewa. Bocah perempuan sembilan tahun berambut ikal itu terpaksa turun dari motor yang terparkir di depan garasi. Begitu juga dengan saudara laki-lakinya, Aksa.


"Nanti main lagi ya adik-adik, sekaramg kakak harus pergi dulu," ucap Galang dengan kekehan kecilnya.


"Padahal aku mau nyobain naik motor, belum pernah." Asha berujar.


"Masa?"


"Hu'um, ...


"Nanti ya, kalau main ke Bandung kakak ajak keliling pakai motor."


"Beneran?" dua bocah itu dengan mata berbinar.


"Iya, nanti kalau kalian liburan ke Bandung kita jalan." Galang mengenakan helm dan sarung tangannya.


"Boleh nggak ya, sama papa?" Aksa bergumam.


"Nggak tahu, kita bilang dulu aja dari sekarang." Asha menyahut.


"Ya udah, ayo!" dua bocah itu kemudian berlari ke arah rumah.


Sementara Galang hanya tertawa melihat hal tersebut.


"Nggak yakin diijinin." Amara menggelengkan kepala.


"Iya in aja dulu, kenapa sih? namanya juga anak-anak. Masalah beneran atau nggak nya urusan nanti." Galang menaiki motor crossnya lalu menghidupkan mesinnya.


"Kakak nanti langsung pulang setelah ketemu papi?" Amara kemudian bertanya.


"Yaiyalah, masa mau nginep disini? bisa panjang urusannya." Galang tertawa.


"Nanti aku balik ke Bandungnya sendirian dong?"


"Mau aku jemput?"


"Nanti ngerepotin kakak, harus bolak-balik Bandung-Jakarta."


"Nggak apa-apa, demi kamu apa sih yang nggak?" pemuda itu tersenyum.


"Ish, ... gombal."


"Beneran."


"Nggaklah, paling nanti papa antar."


"Oh, iya ya."


"Hu'um ..."


"Ya udah, aku pergi sekarang deh. Makin lama disini makin lama juga papa kamu ngintipnya." dia melirik ke arah jendela yang tirainya sedikit tersingkap.


"Apa?" Amara hampir saja menoleh.


"Nggak usah dilihat, nanti papa kamu malu. Dia cuma mengawasi anaknya." Galang tertawa lagi.


Kemudian pemuda itu pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dimitri kembali dibuat kesal dengan tingkah istrinya yang menurutnya begitu menyebalkan pagi ini.


Rania sudah mandi dan berdandan rapi, tidak seperti biasanya. Dia mengenakan kaus putih ketat di padukan dengan celana panjang berwarna hijau tosca. Perempuan itu bahkan mulai menggunakan make up yang selama ini jarang disentuhnya. Kemudian berdiam diri di teras depan setelah membuatkannya secangkir latte panas untuknya.


Dengan sabar dia duduk di kursi yang tersedia, atau sesekali melihat keluar gerbang, siapa tahu sahabatnya tiba dan dia tak bisa masuk karena belum ada dalam daftar tamu yang bisa keluar masuk dengan mudah kerumah itu. Lalu kembali ke teras saat dia tak menemukan Galang di sana.


Namun wajahnya berubah sumringah saat dia mendengar suara motor yang sangat dikenalnya mendekat. Dan benar saja, Galang muncul di depan gerbag dengan gayanya yang sangat Rania hafal.


Perempuan itu setengah berlari menyongsong sahabatnya begitu penjaga keamanan membukakan gerbang dari dalam posnya.


"Mana, mana?" Rania dengan tidak sabarannya.


"Ck! baru juga sampai?" Galang membuka helmnya begitu dia menghentikan laju motornya di depan teras.


"Udah lapar," ucap Rania.


"Lagian, kenapa malah nunggu sih? makan dulu kenapa?"


"Udah dibilangin nunggu ini." Rania merebut bungkusan yang diberikan Galang kepadanya.


"Ampun dah, oneng, oneng!" pemuda itu menggelengkan kepala.


"Ayo masuk Lang, temenin aku makan."


"Pak Dimi?"


"Ada di dalam lagi mantengin laptop." Rania menarik sahabatnya itu kedalam rumah.


"Yang, Galangnya udah datang," dia sedikit berteriak sambil berjalan ke arah ruang makan dengan tangan Galang yang dia tarik.


"Hmm ..." terdengar gumaman dari ruang tengah.


"Mau makan bareng nggak? ayam gepreknya udah dateng."


"Oh, ya udah ... berarti ini jatah kamu Lang." katanya, yang menunjuk kursi di dekatnya untuk Galang duduki.


"Wahhh ..." mata perempuan itu berbinar kala menatap potongam ayam di dalam kotak makan yang dibawa Galang. Yang seluruhnya sudah bersatu dengan sambal kesukaannya. Dan aroma yang kuat langsung menguar di udara, semakin menggoda lidah Rania untuk meyantapnya.


"Kan, beneran enak." Rania mengunyah potongan ayam itu dengan ekspresi yang luar biasa. Seperti dia baru saja menemukan makanan paling enak di dunia. Dan memang baginya saat ini dia telah menemukan hal tersebut.


"Biasa aja oneng, makannya. Kayak yang belum pernah nemu makanan kayak gini? dijalan tuh banyak yang jualan, kenapa nggak beli disini aja? ribet amat deh?" Galang bereaksi. Tapi dia merasa senang juga melihat ekspresi sahabatnya yang seperti itu.


"Orang aku maunya makan yang ini gimana sih? kamu sih nggak hamil, jadi nggak tahu rasanya. Kemarin juga pas mau capucino cincau rasanya tuh udah ada di sini." dia menyentuh tenggorokannya.


"Dalam bayangan aku kayaknya enaaaaaaaak banget. Seger gitu di tenggorokan." lagi-lagi ekspresinya begitu luar biasa.


"Ya beli aja kenapa sih? jangan kayak orang susah deh. Beli sekalian sama kang dagangnya biar kalau kamu mau kamu bisa dapat kapan aja."


"Aku maunya dibeliin pas pulang kerja."


"Ya tinggal minta sama pak Dimi."


"Nggak di beliin."


"Duh?"


"Dia lupa."


Galang terdiam.


"Rasanya kesel banget deh." adunya kepada Galang.


Tanpa mereka sadari, Dimitri menyimak obrolan tersebut diambang pintu. Dengan perasaan yang tentu saja bertambah kesalnya.


"Ayo makan Lang, temenin aku." Rania menggeser kotak berisi ayam bertabur sambal itu ke dekat sahabatnya.


"Kamu aja dulu, nanti kalau aku ikut makan kamu nggak kenyang. Kamu sekarang kan makannya buat bertiga. Kasihan anak kamu kalau sisanya ini aku makan." pemuda itu terkekeh.


"Uuhhh kang dudul pengertian banget sih sama aku." Rania mencubit pipi sahabatnya itu dengan gemas.


"Aku doain kamu buruan dapat pacar biar nggak jomblo lagi." lanjutnya, kemudian tertawa.


"Ish, ... ujungnya nggak enak banget sih?"


"Jangan ditolak, doa ibu hamil ini!"


"Iya, iya mama onengmah pasti bener dah ah, ..."


"Tapi jangan sering-sering repotin suami, Ran. kasihan." lanjutnya, masih tak menyadari keberadaan Dimitri disana.


"Nggak ngerepotin, cuma minta jajan doang. Tapi itu juga nggak di turutin. Bagian mana yang repotnya? yang ada juga kamu yang repot-repot bawa ayam geprek dari Bandung. Untung papi manggil kamu, coba kalau ngggak? aku pergi sendiri deh ke Bandung."


"Janga konyo oneng! kamu lagi hamil."


"Lah, emang."


"Kalau ngidam jangan kebangetan."


"Kebangetan apanya? masih bisa dicari kan? coba aku ngidamnya kayak yang kamu bilang semalam."


"Apaan?" Galang tertawa.


"Minta kapal pesiar, apalagi kalau ditambah berlayar ke tujuh samudera."


"Elitan itu. Pak Dimi pasti mampu."


Rania mencebikan mulutnya.


"Yang normal ajalah kalau ngidam, yang pak Dimi bisa gitu."


"Udah dibilangin nggak bisa di atur, emang apaan?"


"Ehm ..." Dimitri berdeham, akhirnya dia tak tahan juga untuk tak bergabung.


"Eh, ... pak?" sapa Galang kepadanya.


"Sudah lama Lang?" jawabnya.


"Lumayan, sampai Rania hampir habisin ayamnya nih."


"Hmm ...


"Libur pak?"


"Begitulah ..." Dimitri membuka lemari pendingin kamudian mengambil dua minuman kaleng dari sana. Memberikan salah satunya kepada Galang, kemudian duduk di dekat Rania.


"Saya dengar papi panggil kamu ya?"


"Iya pak."


"Ada apa?"


"Belum tahu pak, kan ini baru mau ketemu."


"Begitu ya?" Dimitri menenggak minumannya dengan cepat.


Lalu suasana menjadi hening. Selain Rania yang asik dengan kegiatan makannya, tidak ada yang berbicara lagi.


"Kalau gitu, aku pergi sekarang aja ya? udah jam sebelas." Galang menatap layar ponselnya.


"Ketemunya dirumah papi?" Rania yang telah selesai dengan urusan makannya.


"Iya."


"Aku ikut ah." perempuan itu setelah membereskan kekacauan di meja makan.


"Hah?" dua pria di depannya bereaksi bersamaan.


"Mau ketemu papi sama mama, udah lama nggak kesana." katanya yang kemudian mengambil jaket yang tersampir di sofa ruang tengah.


"Tapi ...


"Udah lama nggak naik motor. Kangen juga rasanya." Rania telah bersiap.


"Jagan bawa motor, Zai." Dimitri menyela.


"Nggak akan, aku ikut Galang aja." jawab Rania.


"Buruan Lang, kamu ketemu papi aku ketemu mama." Rania dengan bersemangat.


"Ketemu mama mau apa?" Dimitri pun bangkit dari kursinya.


"Ya mau apa aja," jawab Rania sekenanya.


"Nantilah aku antar. Tunggu pekerjaan aku selesai, kita pergi sama-sama."


"Nggak usah, kalau ada kerjaan beresin dulu aja. Aku bareng Galang."


"Tapi Zai, ...


"Buruan Lang, suntuk nih dirumah." Rania mendahului sahabatnya keluar dari rumah.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


wah wah, ngambeknya masih ya? alamat perang dingin berlanjut ini ya. 😂😂😂


biasa atuh, klik like komen sama kirim hadiah. kasihan Papi Dimi masih dicuekin.


lope lope sekebon cabe 😘😘