
🌹
🌹
"Dim, sepertinya kamu harus menjemput Rania disini. Tadi siang dia datang, apa kamu tahu?" sebuah pesan masuk dari nomor ibunya, membuat Dimitri memejamkan mata untuk sejenak.
Kelegaan dia rasakan setelah beberapa saat sebelumnya kembali tak mendapati istrinya dirumah mereka.
"Apa kalian sedang ada masalah? sepertinya dia agak murung?" Sofia bertanya.
Dimitri terdiam, bahkan kepada orang tuanya pun Rania tidak mengadu. Lalu bagaimana dengan dirinya? yang lebih sering mengeluhkan sikap perempuan itu kepada setiap orang.
Dia merasakan hatinya mencelos, ingat betapa banyak kesalahannya kepada perempuan itu, dan bagimana Rania dengan sekuat hati menutupi segalanya.
Ah, Dim ... kau masih harus banyak belajar! gumamnya dalam hati.
"Hanya sedikit salah faham, Ma."
Dia kemudian kembali menyalakan mobilnya, dan segera tancap gas menuju kediaman orang tuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sedikit salah faham." ucap Sofia kepada Satria, lalu meletakan ponselnya diatas meja.
"Hmm ... anak muda." pria itu bergumam.
Bersamaan dengan itu Rania turun dari kamarnya di lantai dua, dengan keadaan lebih segar dari sebelumnya. Sepertinya tidur selama setengah hari sejak dia tiba di rumah besar tersebut membuatnya merasa lebih baik.
"Hey? Rania sudah bangun. Ayo kita makan?" ajak Sofia, yang kemudian diikuti dua orang tersebut dan mereka berpindah ke ruang makan.
"Sejak hamil, apa ada makanan yang kamu tidak suka?" sang mertua memulai percakapan.
"Nggak." Rania menjawab, sambil melahap makanannya denga semangat. Nafsu makannya benar-benar besar kali ini, emosi membuatnya merasa lebih lapar dari sebelumnya.
"Bagus dong ya? jadi tidak khawatir kamu kekurangan nutrisi."
"Hmm ..." dia mengangguk dengan mulut yang penuh dengan makanan. Pipinya saja bahkan sampai menggembung, dan dia jadi terlihat lucu.
Rania sudah tidak lagi peduli dengan imagenya sebagai menantu, karena rasa lapar yang teramat sangat lebih mendominasi dari pada rasa malunya terhadap mertua.
"Pelan-pelan, makanan masih banyak. Kalau ini habis bisa minta bu Lily untuk masak lagi." Satria menepuk punggung menantunya ketika perempuan itu hampir tersedak karena makanan yang dikunyahnya.
Sofia tertawa melihat kelakuan menantu mereka itu.
"Aku ... sejak hamil ... jadi lebih sering lapar. Jadi susah nahan kalau lihat ada makanan, bawaannya mau habisin aja." katanya, kemudian meneguk air minumnya hingga habis setengahnya.
"Wajar, kamu makan untuk tiga orang, terkadang masih selalu kurang kan?" sahut Sofia.
"Hu'um." Rania mengangguk lagi.
"Makanlah yang banyak, kamu membutuhkannya." Sofia menggeser piring-piring berisi makanan ke dekat menantunya.
"Bagaimana, sudah ada perkembangan dari kasus balapan kemarin?" Satria kembali berbicara.
"Nggak tahu, papa belum kasih kabar."
"Hmmm ... mungkin nanti."
"Iya. Eh, ... besok balapannya di Amerika ya? kayaknya mereka aman-aman aja tuh, buktinya balapan kemarin nggak ada yang bahas lagi, terus balapan besok udah mau dimulai aja. Nggak ada tuh isyu soal insiden kemarin?"
"Mungkin belum."
"Ngak tahu deh, sentimen Asia nih kayaknya." Rania terus memgunyah makanannya.
"Apa hubungannya?"
"Ya karena aku pembalap dari Asia, bukan Eropa atau Amerika, makanya mereka gitu."
"Tidak begitu, jangan karena perlakuan buruk seseorang kamu memukul rata semua orang."
"Cuma perkiraan aku aja Pih."
"Yeah, ... semoga tidak ya? banyak juga kan pembalap dari Asia yang sukses di ajang internasional?"
Lagi-lagi Rania mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kamu mau membawa kasus ini ke jalur hukum?" tawar Satria.
"Apa? nggak usahlah, ribet. Biarin aja. Lagian nanti malah aku jadi bahan ejekan."
"Kenapa bisa begitu?"
"Biar yang mereka lakukan itu sengaja, tapi karena itu terjadinya di lintasan, membuat semuanya kelihatan sebagai hal lumrah. Paling mereka bilang itu insiden biasa."
"Hmm ...
"Jadi nggak usah buang-buang energi lah, apalagi duit. Sayang kan kita kehabisan tenaga cuma buat hal begituan."
Satria tertawa pelan.
Namun percakapan mereka terjeda ketika mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ketiganya menoleh bersamaan saat pintu juga terdengar dibuka dan ditutup dengan keras.
"Kenapa dia itu buru-buru sekali?" Sofia bangkit, dan bermaksud menyambut kedatangan Dimitri yang sudah dia ketahui, namun putranya itu telah lebih dulu masuk ke ruang makan.
"Hey? mau langsung makan sekalian?" ucap Sofia.
"Mm ..." pria itu tertegun diambang pintu. Menemukan Rania yang selama seharian tak ditemuinya tengah asyik makan bersama kedua orang tuanya.
"Makanlah Dim, temani Rania." Satria menyahut.
"Uuhh, ... aku udah selesai. Gara-gara mama aku jadi kekenyangan." perempuan itu bangkit setelah meneguk air minumnya hingga tandas. Lalu dia menarik selembar tisyu untuk membersihkan mulutnya.
Rania kemudian melewati Dimitri yang masih berdiri diambang pintu, dan melenggang keluar dari ruangan tersebut.
Sofia menggendikan kepala, memberi isyarat kepada putranya untuk melakukan sesuatu.
***
"Zai, ..." panggilnya kepada perempuan itu yang asyik memainkan game di ponselnya.
Rania merebahkan tubuhnya di kursi malas di sebuah ruang tempat Dimitri dan dua adiknya dulu bermain, yang kini telah disulap menjadi semacam tempat bersantai keluarga.
"Aku semalam ke Bandung, aku kira kamu kesana." Dimitri mendekat, sementara Rania hanya melirik sekilas lalu kembali pada layar ponselnya.
"Aku ... mencarimu."
Perempuan itu bergeming.
"Zai, bicaralah!" Dimitri kemudian duduk di pinggiran kursi dimana Rania berada.
"Astaga Zai!! mau sampai kapan mendiamkan aku seperti ini?" dia merebut ponsel dalam genggaman istrinya.
"Hey!!" akhirnya Rania bereaksi. Dia bangkit dan berusaha merebut benda pipih itu dari tangan suaminya.
"Bicaralah."
"Balikin." Rania mengulurkan kedua tangannya.
"Bicara dulu!"
"Balikin!"
"Bicara dulu Zai!" Dimitri menjauhkan benda tersebut dari jangkauannya, yang akhirnya membuat Rania jatuh ke pelukannya juga.
"Oh, mau aku peluk ya? kenapa tidak bilang? malah terus mendiamkan aku?" Dimitri merasa telah memenangkan perselisihan. Dia merangkul pinggang perempuan itu untuk membuatnya diam.
"Dih, ..." sementata Rania berusaha melepaskan diri setelah dia mendapatkan ponselnya.
"Ayolah Zai, jangan seperti ini."
"I'm sorry." katanya kemudian.
Perempuan itu mendelik.
"Zai, maafkan aku." katanya lagi, dan dia mengeratkan pelukan tangannya sehingga Rania tetap berada di pangkuannya dan jarak diantara mereka perlahan menghilang.
"Zai, ... maaf."
Rania mendengus keras seraya mengetatkan rahanggnya.
"Marah, marahlah kalau mau. Asal jangan mendiamkan aku seperti ini." pria itu terus berbicara.
"Ugh!!" Rania menggeram ketika merasa hatinya yang tentu saja tak bisa diajak kompromi, yang segera luluh begitu menatap wajah suaminya yang memelas. Dan dia benci dengan keadaan ini.
"Kalau nggak ingat kamu suami aku, udah aku pukulin kamu dari semalam!" katanya, seraya menepuk kedua pundak Dimitri dengan kepalan tangannya.
Pria itu menatapnya dalam diam.
Dimitri sudah siap dengan apapun yang akan Rania lakukan. Entah itu mengomel, atau bahkan memukulnya sekalipun. Baginya itu lebih baik dari pada didiamkan apalagi sampai ditinggal pergi.
"Sayangnya aku lemah sekarang, dan kamu beruntung karena keadaan ini." lanjut perempuan itu, dan dia berusaha untuk setenang mungkin.
Kedua sudut bibir Dimitri membentuk sebuah lengkungan.
"Jangan senyum! aku lagi kesel sama kamu!" Rania menggeram, namun senyum di bibir pria itu semakin lebar. Dia merasa lega karena segala yang Rania katakan menandakan jika pintu maaf sudah terbuka baginya.
"Udah aku bilang jangan senyum!" dia kembali menepuk pundak Dimitri, dan kali ini agak keras. Namun malah membuat pria itu terkekeh.
"Malah ketawa?"
Dimitri tak menjawab, yang dia lakukan hanya menyurukan wajah di ceruk leher Rania dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Awas, jangan peluk-peluk!" Rania meronta, namun tak sedikitpun mengurangi eratnya pelukan Dimitri di tubuhnya.
"Awas!! aku sesak!"
Dimitri bergeming.
"Awas!!" Rania berusaha mendorong tubuh pria itu yang semakin menempel kepadanya.
"Babynya ke gencet!!" pekiknya ketika Dimitri tak mau menghiraukannya.
"Sorry." Dimitri kembali berbicara. Dia mendongak dan menatap wajah Rania dengan penuh pengharapan.
"I'm sorry Zai. Karena tidak memberimu kesempatan untuk berbicara, tidak bertanya hal apa yang membuatmu seperti itu. Dan aku bodoh karena tidak mempercayaimu."
"Yang terakhir itu memang benar." Rania menyela.
"Sstt ... dengarkan aku."
"Nggak! kamu yang harus dengerin aku!"
"Oke, bicaralah." Dimitri kali ini memilih untuk mengalah.
"Aku nggak suka sama temen-temen kamu, mereka bermuka dua. Terlebih yang semalam ketemu di reunian. Cewek-ceweknya nyebelin dan cowok-cowoknya kurang ajar."
"Semua?"
"Mungkin, karena aku nggak menemukan ada orang yang baik diantara mereka."
"Baiklah, ...
"Aku nggak suka kamu ketemu apalagi bergaul sama mereka lagi, karena pasti akan berpengaruh buruk sama kamu ataupun rumah tangga kita."
"Baik Zai."
"Dan aku nggak suka sama sikap kamu yang nggak pekaan, selalu menganggap sepele sama hal-hal remeh yang nggak aku permasalahkan, tapi itu penting buat aku. Padahal aku lagi belajar untuk memperhatikan kamu sebagai suami aku."
"Oke, ada lagi?"
Rania terdiam.
"Ayo katakan semuanya, selagi aku mau mendengarkan."
"Emangnya kalau aku ngomongnya nanti kamu nggak mau denger?"
"Eee ... bukan, bukan begitu maksudku. Tapi ...
"Ah, ... kamu! baru aja aku ngomong, tapi udah bikin ulah lagi." Rania kembali meronta.
"Baik-baik, maafkan karena aku bodoh." Dimitri menahannya.
Rania mengulum bibirnya kuat-kuat.
"Apa kamu memaafkan aku?" kemudian Dimitri bertanya.
"Zai, apa kamu memaafkan aku?" ucap pria itu lagi dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kamu tidak mau memaafkan aku ya? kesalahanku sebesar itu, huh? apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan aku? apakah ada cara agar kamu bisa memaafkan aku?" pria itu meracau.
"Ugh!! kamu cerewet!" Rania membekap mulut suaminya dengan kedua tangannya sehingga hanya gumaman saja yang dia dengar.
"Maka maafkanlah aku, sehingga aku akan berhenti berbicara seperti ini." Dimitri menarik tangan Rania dari mulutnya.
"Dasar tukang maksa!"
"Kalau aku nggak memaksa, aku tidak akan bisa mendapatkan kamu Zai."
Rania terdiam lagi.
"Are you forgive me?" ulang Dimitri.
"Zai??"
"Aarrggghhh!! baik lah, baik. Aku maafin kamu." perempuan itu akhirnya menyerah, hatinya tak tega melihat wajah memelas suaminya.
Dimitri tersenyum lebar.
"Tapi jangan sekali-kali lagi, nanti aku tinggal kamu sekalian!" ancam Rania kepadanya.
"Jamgan Zai." pria itu kembali melingkarkan tangannya di pinggang Rania. "Jangan tinggalkan aku, kamu akan membuatku mati jika melakukannya."
"Ck! lebay!"
"Serius."
"Kamu punya segalanya, temen-temen yang banyak, kerjaan yang hebat, dan keluarga yang super baik. Ngapain kamu mati gara-gara aku?"
"Karena kamu duniaku sekarang." Dimitri menjawab.
Rania menggigit bibirnya kuat-kuat. Dia tahu pria ini sedang melancarkan rayuannya sekarang, tapi entah mengapa rasanya senang sekali mendengar hal tersebut.
"Dasar gombal!"
"No, its true. I mean it, from the bottom of my heart." jawab pria itu, setengah bersenandung.
"Kayak lagu?"
Dimitri tertawa.
"Kamu o*n!"
"Apa itu o*n?" Dimitri tertawa lagi.
"Kata lain dari beg*."
"Aduh ... dosa tahu, mengatai suami begitu."
"Habisnya kamu nyebelin, ngeselin, musingin! apa itu nggak bikin kamu dosa sama aku?"
Dimitri terus tertawa.
"Jangan ketawa mulu o*n!" Rania memukul pundaknya lagi, dan membuat pria itu kembali menyurukan wajah di ceruk lehernya.
"Thank you." katanya.
"Apaan?"
"Karena sudah memaafkan aku."
"Jangan kegeeran dulu."
"Tadi kamu bilang begitu."
"Iya, tapi banyak syaratnya."
"Duh, ... perasaan aku nggak enak." Dimitri mendongak.
"Mau aku maafin nggak?"
"Baiklah, sebutkan saja."
"Jangan pulang telat, jangan keluar rumah tanpa aku, jangan pergi sama temen-temen kamu, kalau pergi sama aku aja, dan nurut semua yang aku bilang."
"Kamu seperti mama."
"Itu sih terserah kamu, kalau mau aku ...
"Iya iya iya, ... baiklah. Hanya itu saja kan? sepertinya akan mudah. Bukan memanjat gunung Everest atau memetik bintang di langit. Sepertinya aku masih bisa."
"Yakin?" Rania menyeringai.
"Yakin, aku ini seorang Nikolai, apa yang aku nggak bisa?"
"Jangan besar kepala dulu pak!"
"Tidak apa-apa, yang penting kamu memaafkan aku."
"Kamu bener-bener nyebelin, tahu? untung akunya sayang."
Dimitri tersenyum lagi, dan dia yakin telah memenangkan hati perempuan ini.
"Me too." kemudian mereka mengakhirinya dengan peluk cium mesra seperti biasa.
***
"Sayang!! kamu sedang apa?" Satria muncul dari dalam rumah saat mencari keberadaan istrinya.
"Ssstt!! jangan berisik." Sofia menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Ada apa? kamu sedang mengintip?" Satria bereaksi saat dia melihat putra dan menantunya sedang berpelukan di rumah bermain yang letaknya beberapa meter dari bangunan utama.
"Mereka berdamai." bisik Sofia dengan nada lega.
"Ah, ... lega rasanya. Ayo kita masuk?" perempuan itu menarik suaminya kembali ke dalam.
"Apa kita juga akan berdamai?" Satria mengikuti langkah istrinya.
"Berdamai apa? memangnya kita bertengkar?" Sofia menghentikan langkahnya, kemudian memutar tubuh. "Kita tidak pernah bertengkar sejak terakhir kamu memukul aku di apartemen Arfan."
"Ck! kenapa mengingatkan soal itu?" Satria bersungut-sungut.
"Hanya tiba-tiba saja ingat." Sofia tertawa.
Satria tak menyahut, namun pria itu malah beralih menariknya naik ke lantai atas dimana kamar mereka berada.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
hadeh ... aya aya wae 🙄
like komen sama hadiahnya masih ditunggu oke?😉😉
lope lope sekebon cabe 😘😘