All About You

All About You
New Parrents #2



*


*


"Oh, apakah kalian benar-benar harus pulang?" Sofia masih enggan menyerahkan cucu kesayangannya kepada Rania. Bahkan setelah mereka memasukkan tas perlengkapan ke dalam mobil.


"Ya Ma, rumah udah kelamaan ditinggal." Rania meraih bayi perempuannya dari dekapan sang mertua.


"Padahal mama masih kangen." Sofia ragu untuk melepaskannya.


"Kita akan sering berkunjung Mom, percayalah." Dimitri yang selesai meletakan bayi laki-lakinya di carseat.


"Iya Ma, atau nanti Mama bisa datang kan ke rumah. Nggak jauh ini kok." Rania mengamini.


"Iya sih, tapi Mama akan kangen. Sebulan ini sudah terbiasa dengan mereka."


"Itu pasti. Tapi ya mau gimana lagi, masa terus-terusan disini? Sayang dong rumah kita?" Rania menjawab.


"Rania benar sayang." Satria merangkul pundak istrinya. "Nanti kita berkunjung kalau mau."


"Hmmm ... baiklah." Perempuan itu akhirnya menyerahkan bayi dalam dekapannya, walau dengan berat hati.


"Oke Mom, kami pulang dulu ya? Terima kasih sudah merawat si kembar." Dimitri memeluk sang ibu.


"Ah, jangan sungkan-sungkan. Kalau mau mereka tinggal disini juga tidak apa-apa. Sementara kalian bekerja."


Dimitri hanya tertawa.


"Jangan khawatir, nanti Mama juga bakalan repot kalau aku udah balapan lagi?" Rania bergantian memeluk mertuanya.


"Oh, masih lama kan?"


"Hmm ... lumayan lah."


"Baiklah, mama hanya akan menunggu."


"Iya, sama siapa lagi nanti, ya sama Omanya lah."


"Hmm ..." Sofia menganggukkan kepala, kemudian dia masuk ke dalam mobil sebentar untuk menciumi kedua cucunya. "Dah sayang, Oma akan merindukan kalian. Sehat ya, jangan rewel." Katanya, seolah dua bayi yang sedang terlelap itu akan mengerti ucapannya.


Sementara Satria menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Got to go Mom." Dimitri berjalan memutar ke bagian kemudi.


"Pergi dulu Ma, Pih." Rania pun duduk di kursi penumpang. Dan tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi pun melaju keluar dari pekarangan.


Sedangkan kedua orang tua ini tetap berdiri di teras hingga mobil tersebut menghilang di balik gerbang.


"Sudah sayang, kita masuk?" Satria menyadarkan Sofia dari lamunannya.


"Aku kok khawatir mereka tidak akan bisa merawat si kembar ya?" Perempuan itu memandang pintu gerbang yang tertutup perlahan.


"Tidak usah berlebihan."


"Kenapa mereka tidak mau menunggu sampai aku mendapatkan pengasuh bayi ya? Padahal Sandra sudah menghubungi agensi."


"Biarkan sajalah, terserah mereka. Aku rasa Rania dan Dimitri ingin menentukan dengan cara mereka sendiri. Itu bagus."


"Bagus apanya? Rania itu belum berpengalaman dengan bayi. Sehari-harinya saja dia hanya mengutak-atik mesin?"


Satria tergelak.


"Jangan meremehkan menantumu, siapa tahu dia pandai merawat anak-anaknya? Walau bagaimana pun naluri keibuannya akan muncul dengan sendirinya."


"Aku tidak sedang meremehkan Rania, aku hanya khawatir dengan anak-anak."


"Itu normal, kamu kan neneknya? Tapi sebaiknya kita biarkan saja Rania dan Dimitri mengurus anak-anak dengan cara mereka sendiri. Aku yakin bisa."


"Entahlah, aku hanya ...


"Sayang, ... tidak usah terlalu mengkhawatirkan soal itu. Anak kita sudah dewasa bukan? Itu sebabya kita menikahkannya. Sudahlah ...


"Hmm ... semoga mereka baik-baik saja ya?"


"Ya, memangnya hal buruk apa yang mungkin terjadi kepada mereka?" Satria tergelak lagi, seraya menariknya kembali ke dalam rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Selesai, ..." Rania menepukkan tangannya setelah dia selesai membersihkan kedua bayinya. Mengganti popok dan pakaian mereka sehingga tampak semakin menggemaskan.


"Uuhh, anak Mommy cakep-cakep deh." Dia menciumi kedua bayi tersebut.


"Apa kamu bisa?" Dimitri menghampirinya, lalu membereskan kekacauan yang tercipta di atas tempat tidur mereka.


"Bisa, kan udah aku bilang?" Perempuan itu memindahkan kedua bayi ke tengah-tengah ranjang.


"Iya, iya. Sekarang aku percaya. Istriku ini bisa juga mengurus bayi." Dimitri duduk di tepi ranjang.


"Emang, nggak cuma bisa otak-atik mesin."


"Aku nggak bilang kamu begitu lho." Dimitri terkekeh.


"Ya siapa tahu pikiran kamu gitu?" Rania mendelik.


"Tidak, ..." Pria itu merangkak ke dekatnya.


"Jangan macem-macem, baru 30 hari!" Rania memperingatkan.


"Tidak, aku hanya mau melihat mereka, lagi pula percuma mencoba juga, nanti gagal lagi?" Dimitri menunduk menatap dua bayinya bergantian.


"Oh, ... aku tidak percaya mereka benar-benar anakku. Lihat, lucu sekali bukan?" Dia menyentuh masing-masing pipi mereka yang tengah terlelap.


"Baru sadar ya? Sebulan ini kemana aja?"


Dimitri tertawa.


"Kan, saking seringnya mereka di pegang sama oma opanya, kamu aja sampai nggak sadar?"


"Bukan begitu Zai, ...


"Sebagai orang tua, kita tuh terlalu santai tahu nggak? Mentang-mentang anak ada yag jagain, terus dengan gampangnya kita cuek. Padahal di umur segini peran kita sangat berpengaruh." Rania tiba-tiba saja berbicara.


"Bukannya mengecilkan peran orang tua kamu yang mengurus mereka dengan penuh kasih sayang ya. Aku bersyukur punya mertua kayak Mama sama Papi yang bukan cuma sayang sama aku kayak sama anak mereka sendiri, tapi juga bener-bener sayang sama anak-anak. Mungkin di luaran sana jarang yang dapet mertua kayak mereka, dan aku menjadi salah satu yang beruntung. Tapi selama kita bisa kenapa kita nggak ngurus mereka sendiri? Toh nanti ada masanya kita ninggalin mereka kan?"


Dimitri terdiam dengan dahi yang sedikit berkerut, kemudian dia tersenyum.


"Apaan?"


"Dari mana asalnya kata-kata itu?" Pria itu lebih mendekat lagi.


"Apanya?"


"Sejak kapan kamu bisa bicara seperti itu?" Dia terkekeh.


"Emangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, hanya saja ..." Kemudian dia tergelak.


"Kamu apaan sih nggak jelas banget?"


"Bicaramu seperti kak Dygta waktu dia sudah melahirkan Aksa dan Asha."


"Jelas, dia udah ibu-ibu. Aku juga."


"Apa? Hahahah, ... ibu-ibu ya?"


"Hmm ..." Rania mengangguk.


"Kalau kamu ibu-ibu, lalu aku bapak-bapak dong?"


"Iya, masa mau jadi om-om?"


Dimitri tertawa semakin keras.


"Aku masih pantas jadi om-om? Tidak akan kelihatan bapak-bapaknya."


"Iyalah, kalau pun kamu bawa anak pasti dikira bawa ponakan. Emangnya aku?"


"Apa?"


"Nggak bawa anak-anak pun udah kelihatan kalau aku pernah melahirkan."


"Masa? dari mana?" Dimitri menatap sosok Rania yang duduk bersila di atas tempat tidur mereka.


Dia mengenakan celana pendek dan tanktop yang seperti biasa di kenakannya ketika sedang di rumah. Tubuhnya kini memang lebih besar, meski satu bulan sudah berlalu setelah melahirkan.


"Nggak lihat ya?" Perempuan itu menegakkan tubuhnya.


"Selain dada sama bok*ng, semua bagian tubuh aku lebih besar sekarang." Dia menyentuh beberapa bagian tubuhnya.


"Umm ...


"Aku kan jadi gendut." Katanya, kemudian dia tertawa.


"Mama kamu sih, ngasih makan aku nggak kira-kira. Katanya biar asinya banyak. Dan dia bener. Tapi selain asinya banyak, lemak yang nempel juga banyak." Rania tertawa lagi.


Dimitri ikut tertawa.


"Kenapa?"


"Kayaknya asi aku penuh deh?"


"Hah?"


"Ayo sayang, ne*en dulu." Dia meraih salah satu bayinya, kemudian menyusuinya seperti yang selalu dia lakukan.


Namun bayi yang satunya lagi mulai menangis.


"Dia juga sepertinya mau?" Dimitri meraihnya lalu mendekapnya. Menepuk-nepuk pantat kecil bayi perempuan itu seperti yang pernah dia lihat di lakukan oleh Rania juga ibunya.


"Sebentar ya, gantian."


Tapi bayi perempuan itu malah terus menangis.


"Dia juga haus Mommy!" Dimitri berdiri, berusaha menenangkan putrinya.


"Sebentar, Zenya belum selesai."


"Oke sayang, dengarkan apa kata Mommy? Sabar ya? Zenya dulu." Dia berbisik, kemudian mondar-mandir di samping tempat tidur.


Namun bayi itu tidak berhenti menangis, malah menjadi semakin keras.


"Ayolah Mommy, Anya juga mau." Dimitri kembali ke tempat tidur.


"Oke, sini gantian." Rania melepaskan bayi Zenya, lalu mengantinya dengan Anya. Hal yang sama dia lakuka kepada bayi itu.


Namun kemudian, Zenya turut menangis karena dia belum puas menyusu, sehingga Dimitri meraihnya lalu mendekapnya seperti yang dia lakukan kepada Anya.


"Zai, sepertinya Zenya masih mau menyusu?"


"Tapi kan aku lagi nyusuin Anya?"


"Tapi kasihan Zenya."


"Duh, ...


"Ayolah Mommy, ...


"Tunggu!" Rania meninggikan suaranya, dan membuat kedua bayi menangis bersamaan.


"Kenapa mereka malah nangis?"


"Aku nggak tahu, mungkin masih mau menyusu?"


"Kamu sih, ngomong terus dari tadi. Jadinya berisik!"


"Aku kan cuma berusaha menenangkan anakku."


Rania mendengus keras.


"Panggil Mbak Lina!"


Dimitri melirik jam di atas nakas.


"Sudah jam delapan Zai, Mbak Lina sudah pulang."


"Astaga! Mana aku lupa pompa asinya lagi? dot yang udah di isi ketinggalan di rumah Mama."


"Jadi bagaimana?"


Perempuan itu menghela napas cepat.


"Masa harus aku susuin barengan?" katanya, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Apa?"


"Udah sini, dari pada nangis dua-duanya, aku s*suin aja." ucap Rania, yang menarik tanktopnya, sehingga kedua pay**aranya terpampang nyata.


"Sini, Zenya kasih ke aku!" Kemudian dia menepuk pahanya, meminta Dimitri meletakan bayi laki-laki itu di pangkuannya.


"Kamu serius?"


"Iya, kata mama gini caranya kalau mereka nangis barengan."


"Kamu pernah melakukannya di rumah besar?"


"Belum pernah. Di sana kan banyak orang, jadi ada yang bantuin megang kalau aku lagi nyusuin satu. Di tambah ada botol susu cadangan. Jadi bisa tetep nyusu juga." Dan dia memposisikam kedua bayinya di depan pay**aranya, sehingga mereka segera menyusu bersamaan, dan tangisnya pun terhenti.


Sementara Dimitri terdiam dengan mulut menganga. Dia baru saja melihat hal seperti ini, dan tidak percaya bahwa Rania melakukan hal tersebut.


"Jangan cuma lihat, tapi bantuin megang. Ini pegel tahu?" Protes Rania ketika mendapati suaminya hanya tertegun.


Lalu Dimitri melakukan apa yang di mintanya. Dia menahan salah satu bayi, sehingga Rania bisa menyusuinya dengan nyaman.


"Kamu tidak sakit menyusui seperti ini?" Dia bertanya.


"Sakit waktu pertama kali."


"Sekarang tidak?"


"Sedikit."


"Hmm ... mungkin kita harus menyewa perawat ya? Sepertinya mengurus dua bayi sekaligus akan cukup merepotkan?"


"Kayaknya gitu, baru segini aja udah ribet." Rania tertawa. "Tapi kita lihat aja nanti."


"Hmm ... lagi pula kalau begini terus nanti aku bagaimana?" Dimitri pun tertawa.


"Gimana apanya?"


"Kalau kamu sibuk mengurus mereka, lalu aku?"


"Dih, kan kamu udah dewasa, apa-apa udah bisa sendiri."


"Hmmm ...


Lalu Rania tertawa lagi. "Aku tahu otak kamu nyasarnya kemana."


"Apa?"


"Alah, pura-pura oon." katanya, dengan tawanya yang menggema, yang kemudian membuat dua bayi yang hampir terlelap sambil menyusu itu kembali terbangun, kemudian menangis lagi.


"Yah?"


"Kamu sih Zai? ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sofia dan Satria keluar dari kamarnya dengan tergesa begitu mendengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka. Apa lagi ketika mendengar suara tangis bayi yang menggema pada lewat tengah malam itu.


"Mereka kenapa?" Segera saja, dua orang paruh baya itu meraih cucu mereka yang tengah menangis.


Sofia memeriksa keadaan dua bayi tersebut dengan hati-hati.


"Tidak ada yang aneh?" Dia menatap curiga kepada anak dan menantunya.


"Mereka nggak mau berhenti menangis Mom." ucap Dimitri.


"Kenapa?"


"Nggak tahu, padahal tadi lagi ny*su. Udah aku diemin juga tetep nggak bisa." sambung Rania.


"Sudah coba di susui lagi?"


"Udah, tapi nggak mau. Malah terus aja nangis."


"Cup cup cup sayang, kalian ini kenapa sih? padahal tadi sore baik-baik saja kan?" Sofia meletakan bayi Anya di pundaknya, kemudian menepuk pantatnya pelan-pelan. Dan hal yang sama juga Satria lakukan.


Dan seketika saja dua bayi kembar itu terdiam.


"What? Hanya segitu?" Dimitri bereaksi, sementara Rania hanya terdiam dengan mulut menganga.


"Ah, ... kalian ini! Cara menggendongnya yang salah! kamu lupa ya?" Sofia berujar, dan tanpa menunggu lama bayi-bayi itu segera tertidur di pelukan nenek kakek mereka.


"Kan sudah Mama beri tahu caranya?"


"Umm ...


"Sudah, sana tidur. Kalian pasti lelah. Biar Mama dan Papi gantikan." katanya, yang membawa dua bayi itu ke kamar mereka, seperti biasanya.


Sedangkan dua orang tua baru itu masih tertegun di ruang tengah.


"Ternyata, ngurus anak itu susah!" Mereka kemudian menjatuhkan tubuh di sofa terdekat. Lelah dan kantuk tentu saja menjadi hal yang paling merereka rasakan untuk pertama kalinya merawat bayi-bayi itu sendirian.


Setelah memutuskan untuk kembali ke kediaman Satria, karena mengalami hal paling membingungkan di malam pertama mereka pulang ke rumah. Ketika bayi kembar tak mau berhenti menangis meski segala hal telah mereka coba. Yang akhirnya membuat keduanya menyerah dan memilih kembali berkemas.


*


*


*


Hadeh, lebih gampang teori ya, tapi prakteknya susah 🤣🤣🤣 gapapa Mommy, kamu dulu lebih nyusahin Papa Angga. Dimi juga . Jadi nikmati aja