All About You

All About You
Rania Dan Dimitri



🌹


🌹


"Rania tunggu!!" Dimitri mengejarnya hingga mereka berdua masuk kedalam lift, dan secara kebetulan hanya ada mereka saja di dalam sana.


"Yaelaaahh, ... apa lagi sih pak?" gadis itu memutar bola mata dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Lalu dia bersandar pada dinding lift yang mengkilat, yang memantulkan bayangan keduanya dengan jelas.


"Biarkan aku bicara sebentar." Dimitri menekan tombol ke bawah. Dia memutar tubuh sehingga kini mereka berhadapan.


"Iya apa?" Rania enggan menatapnya, karena akhir-akhir ini wajah Dimitri mulai selalu mengganggunya. Dan itu rasanya menyebalkan.


"I like you." Dimitri secara terang-terangan.


"Apa?" Rania mengerutkan dahi.


"I say I like you." pria itu mengulang kata-katanya.


Rania terdiam.


"Pak kalau ngomong pakai bahasa Indonesia bisa nggak?" protesnya, sebal. Bukan hanya karena apa yang pria itu ucapkan, tetapi lebih karena apa yang terjadi baru saja di dalam ruang kerjanya. Dan itu benar-benar sangat memalukan. Rania berharap dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan kedua orang paruh baya tersebut, yang mungkin saja saat ini mereka tengah menertawakan kekonyolannya.


"Kamu tidak tahu bahasa inggris? kamu tidak mengerti apa yang aku ucapkan?" Dimitri dengan kesal, pasalnya gadis ini sulit untuk diajak bicara.


"Tahu, ngerti juga. Gini-gini aku pernah kuliah lho." dia masih memalingkan pandangan dengan kedua tangan yang tetap bersedekap.


"Terus kenapa kamu bicara begitu?"


"Ya nggak biasa aja." Rania menggendkan bahunya.


Dimitri menatap wajah gadis di depannya lekat-lekat. Dia harus segera mengatakannya, kalau tidak dirinya bisa gila. Memendam perasan ini sendirian, dan rasanya dia tidak akan kuat.


"Rania, aku suka kepadamu." ucapnya dengan suara lembut kemudian memberikan senyum termanisnya yang selalu membuat siapapun yang melihatnya segera jatuh hati. Senyum maut yang selalu membuat para gadis tergila-gila kepadanya. Setidaknya itulah yang selama ini dia alami sebelum bertemu dengan gadis ini.


Rania menjengit, dan kali ini dia tak bisa untuk tidak menatapnya.


"Cuma mau ngomong gitu doang pakai bahasa Inggris? Dih, ... kayak anak esempe." reaksi yang tidak pernah di duga sebenarnya, dan membuat senyum manis di bibir Dimitri lenyap seketika. Berganti dengan rasa gemas, kesal dan ada sedikit rasa marah menguasai hatinya.


"Kenapa kamu bisa semenggemaskan itu sih, aku jadi semakin tidak tahan." namun Dimitri mencubit pipinya, kali ini mencoba untuk mengesampingkan egonya yang biasanya dia dahulukan.


Aku memang benar-benar sudah gila ya? dia tergelak dalam hati.


"Dih? cubit-cubit?" Rania segera menepisnya. "Ini pipi orang pak, bukan pipi boneka." katanya, dengan satu sudut bibirnya yang dia tarik keatas.


"Untukku, kamu sama seperti boneka, lucu dan menggemaskan, selalu membuatku tidak tahan." ucap pria itu lagi, lalu dia tergelak.


"Astojiim." Rania bergidik, seolah dia baru saja menemukan hal paling mengerikan di dunia, dan mendengar pria itu berkata demikian membuat dirinya merasa ngeri sendiri. Tubuhnya bahkan sampai merinding saking ngrinya.


"Ayo jawablah, ..."


"Apaan?" ketusnya.


"Tadi aku bilang aku menyukaimu, sekarang jawablah."


"Apa yang harus di jawab?" kening Rania menjengit.


"Perasaanku padamu." Dimitri mengulum senyum.


"Dih, perasaan?" cibir Rania.


"Apa kamu juga menyukaiku?" Dimitri dengan gemasnya.


"Nggak." Rania denga ekspresi cuek, biasa saja dan masa bodoh seperti biasa.


"Kita nggak kenal ih, kenapa saya harus suka sama bapak? lagian bapak itu kan sponsor saya, mana boleh kayak gitu?" lanjut Rania yang bersiap untuk keluar saat lift yang mereka tumpangi berhenti di lantai satu.


"Memangnya apa masalahnya kalau aku sponsor kamu?" Dimitri mengerutkan dahi.


"Pamit pak. makasih atas rasa sukanya." dia hampir saja keluar saat pintu lift terbuka, namun Dimitri segera menariknya dan menyudutkannya, sehingga punggung gadis itu membentur dinding lift agak keras. Dia kembali menutup pintu lift dan menekan tombol darurat sehingga benda tersebut kembali tertutup rapat.


"Apaan sih?" Rania mencoba melepaskan diri ketika pria itu mengungkungnya diantara tubuh tinggi dan kedua tangannya.


"Aku bilang aku menyukaimu, dan ingin kamu."


"Apa yang... "


Dimitri segera saja menundukan wajah hingga kedua bibir mereka bertemu, dan dia segera mencumbunya. Memagutnya seperti yang sudah pernah dia lakukan sebelumnya.


Rania meronta, kedua tangannya mendorong dada pria itu agar mereka menjauh dan dia berusaha melepaskan cumbuannya, namun Dimitri sudah tahu dengan reaksi tersebut.


Dia kemudian meraup kedua tangan Rania, dan membawanya keatas kepala. Menahannya dengan keras agar gadis itu tak bisa berkutik lagi. Kemudian meneruskan cumbuan yang hampir saja terhenti.


Kedua bibir itu saling bertautan, Dimitri nenyesapnya sepuas hati, lidahnya menerobos rongga mulut Rania dan bermain-main disana, hingga gadis itu hampir saja terbawa suasana saat ada perasaan aneh mulai merayap di hatinya. Napasnya bahkan memburu seiring desiran hebat di sekujur tubuhnya.


Dimitri tersenyum dalam cumbuannya, dan dia merasa telah berhasil menaklukannya. Sehingga melonggarkan cengkeraman tangannya, lalu melepasnya setelah beberapa saat. Tangannya bahkan telah berpindah memegang pinggang gadis itu dan hampir merayap kedalam leather jaketnya saat kesadaran Rania tiba-tiba kembali.


Gadis itu mengangkat kakinya keatas, kemudian menjejakannya dengan keras diatas kaki Dimitri. Membuat pria itu melepaskannya lalu berteriak cukup kencang.


"Apa yang kamu laukan?" pria itu membungkuk menahan sakit di kakinya.


"Hal yang pantas pak." Rania mendekat kemudian melayangkan pukulan pada wajahnya.


"Aarrgghh, Rania! Kamu ini kenapa?" Dimitri tersudut di sisi lain lift.


"Bapak salah kalau mau mainin saya, saya nggak seperti yang bapak pikirkan." katanya, kemudian menekan tombol darurat dan pintu lift kembali terbuka.


Dia menyeka bibirnya yang basah sisa cumbuan pria yang dihajarnya barusan, kemudian segera berlari keluar. Kedua matanya berkaca-kaca dan hatinya terasa sesak. Seperti sesuatu baru saja direnggut dari dirinya dengan paksa. Namun ada perasaan yang tidak dia mengerti, yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dan itu membuatnya frustasi.


"Kuncinya ada?" suara sang ayah menginterupsi saat dia tiba di pelataran parkir, membuat Rania mendongak.


"Kuncinya ketemu?" ulang Angga.


"Papa masih disini?" dia balik bertanya.


"Kan nungguin kamu. kuncinya ketemu nggak?" Angga bertanya lagi.


"Ketemu." dia menunjukkannya kepada ayahnya.


"Ya udah, kita balik ke bengkel. Ada yang ngirim onderdil sebentar lagi." Angga menghidupkan mesin motornya.


"I-iya." Rania menyeka matanya yang basah, lalu dengan cepat mengenakan helm, menaiki motor kemudian melakukan hal sama seperti ayahnya, dan mereka berdua puna pergi.


Sepertinya akan sulit untuk mendapatkanmu, Rania. batin Dimitri yang berdiri dibalik pintu kaca dengan wajah sebelah kirinya yang lebam dan hampir membengkak.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


nah Lu, kena bogem mentah kan? bapak cari gara-gara sih. 🤭🤭


like komen sama hadiahnya jangan lupa ya. lope-lope sa Bandungeun 😘😘😘