All About You

All About You
Marahnya Rania



🌹


🌹


"Rania tidak ada di rumah orang tuanya." Dimitri kembali setelah berusaha mengejar Rania ke rumah Angga. Namun tak dia temukan keberadaannya di sana. Rumah itu bahkan kosong seperti tak berpenghuni.


"Cobalah telfon, siapa tahu dia pergi dengan mereka?" Sofia memberi saran.


"Tidak ada. Mereka di rumah Raja." Satria meletakan ponselnya setelah melakukan percakapan telfon dengan Angga dan menjelaskan beberapa hal.


"Bagaimana dengan Galang?" Sofia mengalihkan perhatian kepada Amara yang terdiam di sisi lain ruangan dengan ponsel di tangan.


Dan gadis itu menggelengkan kepala sambil menunjukkan layar ponselnya yang tengah melakukan panggilan ke nomor Galang.


"Sayang?" Sofia kepada suaminya.


"Aku sudah mengirim pesan kepada Andra. Dia akan berusaha menemukannya." jawab Satria yang kemudian meletakan ponselnya di atas meja.


"Lagi pula, ada apa sebenarnya? mengapa kalian bisa bertengkar? ada masalah apa?" Sofia yang menerima kantung es dari Lita dan menempelkannya ke wajah Dimitri.


Putranya itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, dengan lebam di bawah matanya yang sudah terlihat jelas akibat pukulan yang di layangkan Rania kepadanya. Dia merebahkan diri disana sementara Sofia merawat lukanya.


"Kamu pasti sudah membuatnya sangat marah sehingga dia berani memukulmu sepertu itu." Satria berujar.


"Benarkah?" Sofia memeriksa keadaan sang putra.


"Sudah pasti, biasanya begitu bukan?" sahut Satria.


"Hanya salah faham," Dimitri menjawab, dengan sebelah tangan menutupi kedua matanya.


"Salah faham soal apa? kenapa dia sampai sangat marah seperti ini?" sang ibu terus saja mendesaknya.


Dimitri tak menjawab.


Masa aku harus cerita soal ini di depan semua orang?


"Dim!"


"Ya Mom?"


"Rania sedang hamil, mau kamu biarkan dia berkeliaran di luar sana?" Sofia yang mulai kesal dengan sikap putranya.


"Apa ... karena ... aku?" Amara bereaksi. Dia merasa hal ini terjadi karenanya. Sebab pertengkaran itu terjadi tak lama setelah dirinya menyerahkan dompet milik Dimitri yang di temukannya di dekat gazebo setelah mereka tanpa sengaja bertemu dan membicarakan beberapa hal.


"Apa hubungannya dengan kamu?"


Gadis itu bangkit.


"Apa karena dompetnya?" tanyanya lagi.


"Dompet apa?" perhatian semua orang kini tertuju kepadanya.


"Kamu sengaja memberikan dompetnya kepada Rania?" Dimitri bangkit dari posisinya.


Amara tertegun.


"Apa lagi yang kamu katakan kepadanya?" katanya lagi.


"Ng ... nggak ada." gadis itu menggelengkan kepala.


"Lalu mengapa dia sampai semarah itu?" Dimitri meninggikan suaranya.


"Hey, hey ... ada apa sebenarnya?" Arfan maju untuk membela putrinya.


"Kenapa kamu harus memberikan dompetnya kepada Rania? kenapa tidak kepadaku?" ucap Dimitri, lalu dia berdiri.


"Ma-maaf kak, aku nggak bermaksud ..


"Nyatanya tindakan kamu sudah membuat Rania salah faham!" Dimitri berteriak.


"Dim!" Dygta ikut bereaksi.


"Ma-maaf." Amara dengan matanya yang berkaca-kaca, dan dia hampir menangis.


"Maaf Mommy, aku nggak bermaksud bikin masalah. Kami nggak sengaja ketemu di belakang dan ngobrol sebentar. Aku nggak tahu itu akan bikin kak Rania marah."


Dimitri memejamkan matanya, lalu menyapu wajahnya kasar. Hatinya kalut dan pikirannya berkecamuk, segala hal buruk mendominasi perasaannya kini, dan tentu saja rasa bersalah yang mulai menyeruak.


Mengapa juga dirinya harus berbohong mengenai pertemuannya dengan Amara yang bahkan tak di sengaja, ketika dirinya menerima telfon dari Clarra semalam.


Dimitri gelisah, bukan hanya karena keadaan Rania yang tengah mengandung dan dia berkeliaran di luar rumah, tapi ini lebih dari apa yang di pikirkan. Perempuan itu pergi dalam keadaan marah, terlebih lagi dia pergi bersama Galang.


"Aarrghh!!" dia menggeram kemudian menendang meja, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sumpah Papa, kami nggak ada hubungan apa-apa. Obrolan kemarin nggak sengaja setelah aku nelfon kak Galang, tahu-tahu kak Dim ada di sana, juga lagi nelfon. Aku nggak tahu kalau yang aku lakukan tadi akan jadi masalah." Amara sekali lagi mencoba menjelaskan di hadapan semua orang yang terdiam setelah Arfan mengintetogasinya.


"Lalu kenapa Rania bisa semarah itu?" Arfan bertanya lagi.


"Nggak tahu."


"Maafkan kami sayang, tapi apakah pernah terjadi sesuatu di antara kalian, dan itu belum di selesaikan sampai sekarang?" Sofia mulai ambil bagian.


"Maksud mama?" Dygta bereaksi.


"Maaf jika mama harus mengungkit ini, tapi ada yang harus kita luruskan. Yang seharusnya kita lakukan dulu." ucap Sofia lagi.


"Soal apa?"


"Soal Ara dan Dimitri."


"Sayang, ..." Satria berusaha mencegahnya.


"Tidak, tidak. Harus ada yang di luruskan agar tidak terjadi kesalah fahaman lagi, agar tidak menimbulkan kesalahan yang lebih fatal dari ini."


"Kita jujur saja, kita sudah tahu keadaannya seperti apa bukan? bagaimana mereka sebelumnya, dan apa yang sudah di lakukan?" Sofia meneruskan.


"Ma, ..."


"Ara, jawab dengan jujur sayang. Tidak usah takut, kami hanya ingin tahu." Sofia duduk di dekatnya.


Amara terdiam.


"Ara, sayang ..." perempuan itu meraih jemari Amara dan merematnya dengan lembut.


"Apa Dimitri melakukan sesuatu kepadamu? atau ada yang terjadi di antara kalian sehingga keadaannya menjadi seperti ini? karena tampaknya kalian sulit untuk saling merelakan satu sama lain?"


Amara mendongak, kemudian menggelengkan kepala dengan cepat. Semua orang saling pandang.


"Kamu tahu, kadang masalah bisa berasal dari diri kita sendiri. Dan itu akan sangat menyulitkan jika kamu ...


"Nggak mama Fia, nggak ada apa-apa." Amara buka suara.


"Tapi kalian ...


"Aku sayang kak Dim, ...


Semua orang menahan napas bersamaan.


"Dulu, aku pernah sayang kak Dim, tapi ... keadaannya nggak bisa aku usahakan untuk menjadi yang aku inginkan bukan?"


Sofia mengerutkan dahi.


"Apa lagi setelah ada kak Rania, aku sadar nggak akan ada yang bisa aku lakukan selain mundur."


"Oh, kak." Dygta merangkul pundak anak sambungnya.


"Gimana aku bisa tetap mempunyai perasaan itu, sementara di sana, di dekat kak Dim sudah ada orang lain yang lebih pantas?" gadis itu mulai terisak.


"Aku berusaha, ... menghilangkan perasaan itu walaupun rasanya sulit sekali. Dan aku pikir aku berhasil." dia menyeka pipinya yang basah.


"Semalam hanya ke tidak sengajaan kami bertemu secara pribadi, dan hanya obrolan biasa. Aku pikir kak Rania tahu soal itu, tapi ...


"Astaga!" Satria menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Dan dia memijit pangkal hidungnya yang terasa nyeri.


"Tapi kadang aku merasa harus memastikan kalau kak Dim mendapatkan apa yang selalu dia dapatkan ketika kami bersama. Makanan, minuman, atau semua kebiasaannya. Aku masih merasa hanya aku yang tahu soal itu."


"Hhh ..." Sofia pun menyadarkan punggungnya pada kepala sofa.


"Tapi aku bersumpah, nggak ada apa-apa lagi selain itu. Beneran papa." Amara menatap sang ayah. "Semuanya sudah selesai sebelum kak Dim menikah." katanya lagi, sejujur mungkin.


🌹


🌹


"Udah udah. Disini aja." Rania menepuk pundak Galang ketika mereka melewati terminal Cicaheum, setelah beberapa saat sebelumnya bermaksud pulang ke rumah Angga, namun tak ada siapapun di tempat itu.


"Kenapa disini? bukannya mau ke rumah kakek kamu?" Galang menepikan motornya.


"Nggak jadi."


"Lah, terus?"


"Aku di sini ajalah."


"Mau ke mana? emangnya ada saudara lain di sekitar sini? setahu aku kamu nggak punya saudara lagi selain om Gara?"


"Ke mana aja lah." perempuan itu turun kemudian membuka helm dan menyerahkannya kepada Galang.


"Ada masalah apa sih sampai kamu kabur lagi?"


"Cuma masalah rumah tangga."


"Nyebut cuma, tapi kabur?"


"Dari pada aku hajar dia,?"


"Kamu serem kalau marah?"


"Serah lah, ...


"Lagian, kenapa sekarang gampang bener marah sih? mau jadi emak-emak juga?"


Rania tak menjawab.


"Jadi mau kemana?"


"Kamu nggak usah tahu, nanti laporan lagi sama papa."


"Dih? kayak baru kenal?"


Rania menggendikkan bahu. Kemudian memutar tubuh bermaksud masuk ke area terminal.


"Ran! kok masuk ke sana?"


Namun Rania tak merespon, dia nya sedikit berlari untuk segera menjauh dari sahabatnya itu.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


Duh, oneng mau kemana?


ayo gaes like komen sama hadiahnya di kencengin lagi biar si oneng naik lagi ke 20 besar.