
🌹
🌹
Untuk pertama kalinya Amara mengabaikan panggilan telfon dari nomor ponsel ayahnya. Dia bahkan sengaja merubah nada ponselnya ke mode silent, lalu memasukannya kembali kedalam tas kecilnya.
Dia memilih untuk kembali menyaksikan Galang yang tengah beraksi dengan motor trailnya di jalur track. Naik ke undakan, menuruni bukit buatan, lalu meluncur di turunan. Hingga akhirnya pemuda itu tiba di garis finish setelah menyelesaikan lomba tersebut.
Tepuk tangan terdengar riuh diantara penonton, begitu juga Amara, dia bahkan sampai berdiri untuk memberikan apresiasi terhadap aksi kakak kelasnya tersebut.
***
"Kakak hebat, tadi itu keren!" Amara datang mendekat saat Galang keluar dari zona tunggu.
"Hmmm... biasa aja." pemuda itu menggendikan bahu, lalu tersenyum.
"Sombong!"
"Dikit nggak apa-apa."
Gadis itu tertawa.
"Dan juara satu adalah, ... " suara pembawa acara dari pengeras suara terdengar jelas.
"Galang!!! dari Cross Nation Bandung!!" lanjut orang tersebut, yang kemudian membuat Galang dan Amara terlonjak kegirangan.
"Kakak menang!!" teriak gadis itu dengan nyaring. Lalu dengan refleks dia memeluk tubuh pemuda yang cukup tinggi itu dengan erat.
"Mmm...
"Kakak menang! keren!!" katanya, dan dia menyurukan kepalanya di dada Galang, membuat pemuda itu tertegun untuk waktu yang cukup lama.
"Cieeee, ... juara langsung dapat pelukan dari ayang beb." teman-teman Galang menginterupsi, membuat dua orang tersebut saling menjauh dengan cepat.
"Cieeee jauh-jauhan." yang lainnya berkomentar, kemudian mereka tertawa.
Lalu mereka satu persatu menyalaminya bergantian untuk mengucapkan selamat atas keberhasilannya di turnamen kali ini.
"Mau ikut party?" tawar salah satu dari mereka setelah beberapa saat melewati selebrasi.
"Nggak kayaknya. Gue mesti balik." jawab Galang.
"Balik apa balik?"
"Balik pea! gue bawa anak orang."
"Dih, sekarang jadi anak rumahan?"
"Serah lu Dah."
"Yo'i. Bye." mereka meninggalkannya berdua bersama Amara.
"Kakak mau pergi?"
"Nggak. Mau pulang."
"Oh, ... Kirain."
"Kenapa?"
"Papa udah nelfonin dari tadi, tapi nggak aku jawab. Takut harus bohong."
"Kan aku bilang juga apa? ya udah, ayo cepet pulang!!" Galang bergegas menuntunnya ke arah motor.
"Mau aku antar ke hotel apa gimana? pestanya pasti belum selesai." dia mengenakan helmnya.
"Kerumah aja kak."
"Kenapa?"
"Biar papa nggak banyak tanya aja."
"Oke." kemudian mereka segera pergi dari tempat tersebut.
🌹
🌹
"Bagaimana?" Dygta kembali setelah menenangkan anak-anaknya yang mulai tak betah.
"Dia Belum menjawab telfonku." jawab Arfan.
"Ada masalah apa sebenarnya?" Sofia mendekat.
"Tenang dulu, mungkin dia hanya pergi ke suatu tempat." Satria menyahut.
"Iya, tapi kemana?" Dygta mulai tak tenang.
"Kita suruh orang untuk mencarinya." ucap Satria yang berniat melakukan panggilan telfon.
"Tunggu! Ara menelfon!" Arfan berseru. "Halo sayang?" dia merubahnya ke mode panggilan video. "Kamu dimana? kami mencarimu kemana-mana." karaya, panik.
"Aku udah dirumah Pah." jawab Amara, yang terlihat tengah merebahkan diri.
"Dirumah?" Arfan membeo.
"Iya, tadi tengah hari aku pulang. Mau bilang sama papa tapi lagi sibuk." jawab Amara.
"Kamu pulang dengan siapa?"
"Order taksi online. Sampai rumah malah ketiduran. Ini baru bangun." bohongnya, karena pada kenyataannya dia baru saja tiba di rumah Lita yang kosong karena penghuninya masih berada di pesta.
"Kamu tunggu ya, papa sebentar lagi pulang. Jangan kemana-mana ya? oke?"
"Papa santai aja, aku nggak apa-apa. Cuma capek doang."
Arfan terdiam.
"Papa, aku mau tidur lagi ya? nggak apa-apa, sampai pestanya selesai aja."
"Baiklah." lalu percakapan pun diakhiri.
"Ara ada dirumah pak." ucap Arfan setelahnya.
"Oh, ... syukurlah." Sofia dan yang lainnya bernapas lega.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tamu undangan mulai berkurang, namun tak mengurangi keseruan pesta pada menjelang malam itu. Kini pesta di dominasi oleh para anak muda, teman sekolah dan kenalan Dimitri yang sebagian baru saja tiba. Musik khas anak muda dimainkan dengan begitu apik hingga semua orang larut dalam suasana.
"Baiklah, sepertinya kami sudah harus pulang. Para orang tua ini tidak bisa terlalu lama berpesta." Satria mendatangi anak dan menantunya.
"Apa harus secepat itu?" Dimitri berujar.
"Anak-anak sudah ribut dari tadi." Arfan menimpali.
"Hmm... baiklah."
"Kami juga." Angga dan Maharani menimpali.
"Sebentar lagi Mama!" rengek Rania.
"Nggak bisa. Adik-adik kamu udah pulang duluan sama kakek."
"Oh, ...ya udah."
"Baik-baik ya?" kedua orang tuanya memeluk Rania bergantian. Begitu juga yang lainnya.
"Mama dan Papi juga pamit." ucap Sofia.
"Oke." lalu mereka tertegun menatap anggota keluarga yang pergi berurutan.
"Terus kita ditinggal disini sendiri gitu?" ucap Rania setelah terdiam cukup lama.
"Nggak sendirian. Tapi kita berdua sekarang." Dimitri menjawab.
"Oh iya, lupa." Rania menoleh kepada suaminya yang tengah tersenyum kearahnya.
"Dih, senyum-senyum?"
"Iya dong."
"Senyum kamu aneh, Dim?"
"Hey, aku suamimu sekarang."
"Ya terus?"
"Kamu mau terus memanggil aku seperti itu?"
"Emangnya kenapa?"
"Panggil aku sayang mulai sekarang."
"Dih, sayang?"
"Iya lah."
"Emang kalau udah nikah panggilannya harus berubah ya?"
"Nggak harus juga."
"Terus, kenapa aku harus manggil kamu kayak gitu?"
"Sayang?" Dimitri mengulum senyum.
"Iya. Kenapa?"
"Karena aku mau kamu panggil seperti itu."
"Hmm... "
"Ayo panggil aku sayang sekarang!" pinta Dimitri.
"Masa harus sekarang banget?"
"Kan kita sudah sah."
"Mm...
"Ayo, panggil aku sayang!"
"Sa-sayang." Rania merasa tenggorokannya seperti tercekat. "Aku belum terbiasa."
"Nanti juga kamu terbiasa. Ayo panggil Sayang lagi!"
"Ngg... sa-sayang."
Pria itu tertawa hingga kepalanya terdongak keatas. "Oh, aku merasa tidak Sabar. Andai teman-temaku sudah pulang, sudah aku pastikan akan segera membawamu keatas." katanya.
"Keatas?"
"Ke kamar kita."
"Mau Ngapain? masa mau ganti baju lagi? kan udah malam?" ucap Rania dengan polosnya.
"Astaga! apa kamu benar-benar sepolos itu Zai?"
"Soal apa?"
"Pernikahan."
"Oh, Iyalah. Kan ini pernikahan pertama aku, ya aku nggak tahu apa-apa."
"Hhhaaaahh... " pria itu menghempaskan tubuhnya pada kursi pelaminan dengan putus asa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam semakin larut, dan tamu pun berurutan pergi. Pesta hampir usai dan semuanya telah kembali pada jalannya masing-masing. Menyisakan kekacauan di ballroom dengan dekorasi indah bagai di negri dongeng itu yang mulai di bereskan para petugas.
"Kita nggak pulang?" Rania mengikuti langkah Dimitri yang membawanya kembali ke lantai 10 hotel tersebut.
"Kita terlalu lelah untuk pulang." jawab suaminya, yang berusaha membuka pintu kamar mereka dengan sebuah keycard yang dia miliki.
"Aku yang nyetir."
"Dengan penampilan seperti ini?" dia menunjuk Rania dari atas kebawah yang masih mengenakan gaun pesta berwarna coklat keemasan dengan aksesoris lengkap.
"Ganti baju dulu."
"Lama. Lagipula aku nggak bawa mobil."
"Kan ada mobil aku?" Rania tersenyum sambil menggerakan Kedua alisnya keatas dan kebawah.
Dimitri tertegun.
"Eee... kamu capek ya? ya udah kalau gitu, nggak jadi. Kita tidur disini aja malam ini."
***
"Aku pikir ini di benerin!" gerutunya, dengan tangan yang terus berusaha melepaskan benda tersebut.
"Kenapa?" Dimitri berjalan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang dia lilitkan dibawah pusarnya. Sambil mengusak rambutnya yang basah.
"Ininya susah lagi dibuka." Rania memutar tubuh hingga mereka berhadapan. Namun matanya membulat seketika saat melihat pemandangan di depan matanya.
Dada telanjang yang basah, pundak kokoh, dan tangan yang cukup kekar. Apalagi perutnya yang... ah... pemandangan itu menggetarkan dada.
"Harus aku bantu lagi?" pria itu mendekat.
"Ng ... nggak usah. Aku bisa, ... itu. Anu... ehh..." Rania kehilangan kata-kata. Tubuhnya mendadak terasa panas dingin.
"Berputar." ucap Dimitri.
"Hah? apa?" Rania terperangah.
"Berputar, biar aku bisa membantumu membuka relsletingnya."
"Oh, itu...
"Cepatlah, aku mau pakai baju. Sudah kedinginan."
"Ng...
"Kecuali kalau kamu mau membantu menghangatkan aku Sekarang." pria itu mencondongkan tubuhnya.
"Nggak! oke." Rani memutar tubuh.
Dimitri tersenyum, kemudian meraih ujung relsleting dan menariknya kebawah, hingga terpampanglah punggung mulus gadis yang sudah berstatus menjadi istrinya tersebut.
Istri.
Pria itu tersenyum gemas.
"Aku mau mandi dulu!" Rania segera menghambur ke kamar mandi sambil menarik satu travel bag.
Habis ini kamu tidak akan bisa menghindar lagi. gumamnya lagi, lalu dia mengenakan pakaiannya.
***
Rania memeriksa satu travel bag yang dibawanya. Tapi dia tak menemukan apapun selain pakaian dal*m dan perlengkapan perempuan lainnya.
Beberapa pakaian dal*m bahkan berbentuk aneh, dan sedikit membuatnya malu.
"Mana bajunya?" dia bermonolog sambil terus mengeluarkan isi travelbag nya. Namun tak ada satupun pakaian layak yang dia temukan.
Klek!
Dia membuka pintu perlahan, dan mengintip keluar dimana Dimitri sudah duduk setengah berbaring di tempat tidur, sudah dengan pakaian tidurnya.
"Dim?" panggilnya, pelan, mengalihkan pandangan pria itu dari televisi.
"Ya?"
"Aku...
"Apa?"
"Koper itu isinya apa?" dia menunjuk koper di dekat tempat tidur.
"Baju aku."
"Cuma baju kamu?"
"Iya."
"Nggak ada yang lain?"
"Nggak. Cuma baju aku. Kenapa?"
"Nggak ada baju aku gitu?"
"Nggak ada. Baju kamu kan di tas yang satunya lagi."
"Nggak ada."
"Masa?"
"Hu'um. Periksa aja." Rania membuka pintu kamar mandi lebar-lebar. Kemudian dia mundur saat Dimitri turun dari tempat tidurnya.
Rania menyelinap ke belakag pintu, menyembunyikan tubuhnya yang hanya mengenakan sehelai handuk saja.
Pria itu segera memeriksa isi travel bag yang sudah berhamburan di atas wastafel. Dan memang hanya bersisi alat kecantikan dan pakaian dal*am saja.
"Nggak ada kan?" ujar Rania.
"Hu'um, nggak ada." Dimitri berbalik.
"Terus aku gimana? nggak pakai baju dong?"
Pria itu menatap Rania yang mengkeret di belakang pintu.
"Tidak usah pakai baju kalau begitu." katanya.
"Apa? malu lah."
"Malu kepada siapa?" Dimitri tergelak.
"Sama kamu."
"Kita ini sudah menikah, tahu?" pria itu mendekat.
Rania tertegun, dan dia baru ingat.
Dimitri menarik ujung handuk yang membungkus tubuh Rania.
"Nggak!!" gadis itu mundur lebih kebelakang. Dia faham apa maksud pria itu. Mungkin saja dia mau melakukanya sekarang. "Maksud aku nggak gitu. Maksudnya ..."
"Kamu pasti ngerti apa yang seharusnya kita lakukan sebagai suami istri." Dimitri menarik dagu gadis itu, lalu menundukan wajahnya untuk kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Mau disini," dia menatap seluruh ruang kamar mandi yang cukup luas itu. "Atau mau disana?" Katanya, seraya melirik tempat tidur diluar kamar mandi.
"Di... disana aja, ya disana." jawab Rania dengan gugup.
"Oke. Sekarang?"
"Aku... siap-siap dulu."
"Apa yang mau kamu siapkan?"
"Mmm...
"Ck! lima menit." ucap Dimitri, yang kemudian keluar dari kamar mandi.
***
Pria itu tersenyum-senyum tak karuan kala menunggu Rania bersiap. Apalagi saat mendapat pesan dari sang ibu, jika travel bag berisi pakaian milik Rania terbawa oleh stylish yang menata penampilan mereka seharian ini.
Pintu kamar mandi terbuka untuk yang kedua kalinya, dan Rania mengintip dari dalam.
"Dim?"
"Ya."
"Kamu... jangan ngetawain aku ya?"
"Kenapa?"
"Aku nemuin baju tidur yang agak mendingan, walaupun kurang bahan." ucap Rania.
"Nggg ..." otak pria itu tengah memvisualisasikan tubuh Rania dalam balutan kain super tipis yang dibawakan ibunya.
"Tapi aku malu."
"Nggak usah malu. Keluarlah." Dimitri bangkit menegakan tubuhnya.
"Mm... tapi janji jangan ketawa." ucap Rania lagi.
"Iya, aku nggak akan tertawa."
"Oke." gadis itu kemudian melebarkan pintu, lalu keluar dengan langkah pelan.
Dia berjalan dengan ragu dan canggung. Merasa malu dengan penampilannya sendiri. Yang mengenakan pakaian tidur kurang bahan berwarna hitam yang sangat tipis.
Jakun Dimitri naik turun dengan cepat, dan dia menelan ludahnya dengan susah payah. Pemandangan di depan matanya sungguh sangat membuatnya hilang akal. Andai dia buka Ranianya yang lugu, sudah pasti dirinya akan langsung menerjangnya tanpa ampun.
"Come." katanya, seraya menggerakan tangannya memberi isyarat.
"Aku gugup." gadis itu mendatanginya, lalu meraih tangannya yang terulur.
"Kamu pikir aku nggak gugup?" Dimitri dengan dada yang mulai bergemuruh.
"Aku kira ku nggak akan gugup, kamu kan udah pernah ...
"Ssstt! jangan bahas itu." Dimitri segera menariknya kepangkuan.
"Tapi aku kan ...
"Jangan bicara terus Zai, selain... menyebut namaku." pria itu berbisik kemudian segera meraih bibir ranum milik Rania.
Dia memagutnya dengan penuh perasaan, seperti biasanya. Dan Rania membalasnya setelah beberapa saat. Mereka saling menyesap dan mengulum, lalu saling membelitkan lidah. Gadis itu sudah mulai terbiasa, dan sepertinya sekarang dia akan menyerahkan diri.
Tentu saja, mereka sudah menikah bukan?
Rania membiarkan Dimitri menyentuhnya lebih jauh. Pakaian mininya bahkan sudah hampir terlepas dari tubuhnya, namun Dimitri tak melepaskan cumbuannya.
Bibirnya kini sudah menelusuri leher dan pundak menggoda Rania, kemudian turun ke dada, dan semakin turun ketika tangannya meremat gundukan ranum milik gadis itu.
"Ahhh, ..." Rania tak dapat menahan des*han kala sentuhan Dimitri di dadanya menjadi semakin intens. Dia meremat lembut bulatan indah itu, dan mempermainkan puncakya dengan gemas. Lalu menyesapnya seperti bayi yang kehausan.
Tubuh Rania menegang, kala dia merasakan gelenyar-gelenyar aneh yang menjalar. Merambat dari dada hingga tiba di pangkal pahanya.
Rania mengerang ketika hisapan Dimitri didadanya menjadi semakin keras, dan dia meremat rambut kecoklatan pria itu dengan erat. Tubuhnya mulai melengkung ke belakang, dan membuat dadanya yang ranum itu menjadi semakin membusung.
Dimitri menekan punggungnya ketika Rania terasa menjauh, dan mengikuti gerakan gadis itu. Yang kemudian membiarkannya jatuh diatas tempat tidur.
Dia bangkit untuk melepaskan pakaian mereka, lalu dengan cepat kembali meneruskan mencumbunya. Sentuhan tangannya semakin tak terkendali, dia meremat setiap bagian tubuh Rania yang membuatnya hilang akal.
Gadis itu bergerak tidak nyaman dibawah kungkungannya. Lebih tepatnya, Rania menahan rasa yang bergolak di dalam dada setiap kali pria yang kini telah menjadi suaminya itu menyentuh tubuhnya. Yang mulai merespon dengan baik terhadap apa yang dilakukan Dimitri kepadanya. .
"Are you Ready?" pria itu berbisik, dia menatap wajah Rania yang sudah memerah. Yang kemudian menganguk pelan tanda setuju.
"Oke, mungkin nanti akan sedikit sakit." Dimitri menyeringai, seraya menarik kain terakhir ditubuh bagian bawah Rania.
"Mm... tunggu." gadis itu menahan cel*na dal*mnya ketika merasa sesuatu keluar dari kem*luannya.
"Apa lagi? aku sudah siap."
"Tapi ini...
"Apa. " Dimitri menatap ke bawah, kain mini itu hampir saja dia lepaskan.
"Kayaknya basah." ucap Rania, dan dia kembali merasakan tidak nyaman di pusat tubuhnya.
Dimitri kembali menyeringai. "It's oke. Memang sudah seharusnya seperti itu. Jadi rasanya tidak terlalu sakit."
"Oh ya?"
"Hmm..
Dimitri menyingkirkan tangan Rania dari tempat itu, lalu kembali menarik celana mininya hingga terlepas, dan dia melemparkannya kebelakang. Kemudian tangannya menyentuh pusat tubuh gadis itu yang sudah sangat basah.
Rania menggigit bibir bawahnya dengan kencang, seraya menutup mata saat Dimitri juga melapaskan celananya. Jantungnya berdebar begitu kencang dan dia sudah bersiap menyerahkan diri, namun setelah beberapa detik tak kunjung ada pergerakan.
Rania membuka mata, dan mendapati suaminya tertegun menatap tangannya sendiri dengan wajah memucat.
"Kenapa?"
"Kamu berdarah." Dimitri mengalihkan pandangan.
"Apa?" gadis itu bangkit, lalu memeriksa dirinya sendiri. "Aku datang bulan!" Katanya, yang segera menarik handuk yang dia temukan di ujung ranjang.
Sementara Dimitri berlari ke kamar mandi.
🌹
🌹
🙈🙈🙈