
Ryan turun dari Jet pribadinya, dengan langkah cepat menghampiri mobil yang bertugas menjemputnya. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Gisella.
Rintik-rintik hujan menyambut kedatangannya. Laki-laki itu, langsung menarik paksa supirnya keluar dari mobil. Wildan kaget dan langsung berlari menyusul. Tapi, terlambat. Ryan langsung menancap gas meninggalkan lapangan bandara.
***************
Gisella masih tidak bergeming dari tempatnya. Ia masih bersimpuh dengan tubuh yang basah kuyup. Bibirnya yang membiru, wajah pucat dan tubuhnya mulai mengigil kedinginan, keadaannya benar-benar kacau bukan lagi menjadi prioritasnya. Perlahan ia bangkit, lalu kembali memberi hormat pada sang ayah. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, dan langsung berbalik pergi meninggalkan krematorium itu.
****************
"Kau sudah menemukannya?" Tanya Ryan pada Giandra,
"Sudah, Tuan. Dia... dia ada di krematorium ayahnya." Jawab Giandra.
Untunglah.
"Jangan berbuat apa-apa dan tunggu aku!"
Ryan langsung membating stir 180 derajat Tidak peduli dengan klakson pengemudi lainnya. Yang dia pikirkan hanya Gisella. Wanita itu.
'Kau akan serakah pada waktunya Tuan, buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya'
Ucapan Resti, teringiang dikepalanya. Benar. Dia memang serakah. Dia tidak ingin kehilangan Gisella. Hujan kembali turun mengguyur jalanan, lebih deras dari sebelumnya. Mobil yang ia kendarai akhirnya sampai di pelataran gedung krematorium. Saat itu juga, mobil Gisella keluar dari parkiran diiringi larian Giandra dan Victoria yang berusaha menghentikan gadis itu.
Tanpa menunggu, Ryan langsung memundurkan mobilnya dan mengejar mobil Gisella. Sejak kapan dia pandai menyetir?
Hanya mobil Gisella dan Ryan yang melaju di jalanan sepi. Menembus lebatnya hujan. Gadis itu juga tau caranya mengebut. Ryan tak mau kalah, dan langsung menambah kecepatan penuh.
Dari dalam mobilnya, Gisella sesekali melirik kaca spion, lampu utama dari mobil Ryan terus dikedipkan pemuda itu sebagai tanda agar Gisella menyerah. Ia mulai memelankan laju mobil, bukan untuk mengalah lantaran kakinya tiba-tiba kesemutan. Ia membiarkan Ryan menikung jalan dan memblok mobilnya. Gadis itu mengeratkan pegangannya ke stir. Ia merunduk menenggelamkan wajahnya.
Ryan langsung keluar ketika aksinya pengejarannya berhasil. Masa bodoh dengan hujan yang langsung membasahi setelannya. Ia menghampiri mobil Gisella dan menggebrak jendela mobil.
"Turun Gisella! Dengarkan aku! Kumohon!!"
Hujan tiba-tiba berhenti saat Gisella keluar dari mobilnya, yang tersisa hanya rintik-rintik. Ryan menatap keadaan Gisella dengan prihatin. Dia begitu berantakan.
"Gisel...."
'Plakkkk!!'
Tamparan kuat dilayangkan ke pipi Ryan. Ini belum seberapa. Laki-laki itu kembali pada posisinya, matanya kembali menatap lurus Gisella.
'Plaaaakkkk!!'
Tamparan kembali mendarat ke pipinya yang lain. Ryan tak mengatakan sepatah katapun.
Gisella mengepal tanganya kuat-kuat, telapak tangannya terasa perih setelah menampar pria di depannya itu. Bukannya lega, ia malah bertambah sakit. Perkataan Ryan yang ia ucapkan pada Wildan tempo lalu benar. Jika Ayah Ryan, Candra Perwira, tidak melakukan hal sekeji itu, mungkin tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk menahan perasaan mereka. Itupun, jika Ryan juga mencintainya.
"Aku....bahkan tidak bisa berkata apa-apa." Ujar Gisella lirih, "Membunuhmu bahkan tidak bisa membuat ayahku kembali."
Ryan menelan ludahnya kuat, merapatkan rahangnya menahan rasa bersalahnya. Laki-laki itu jatuh berlutut di depan Gisella. "Maafkan... aku.."
Itulah yang keluar dari mulut Ryan. Hanya itu. Tubuh Gisella akhirnya ambruk menimpa Ryan. Laki-laki itu panik setengah mati, sekujur tubuh Gisella panas, pipinya yang selalu merona hangat kini seperti mayat. Tangan Ryan menyentuh pipi gadis itu.
"Gisella!!"
Tanpa menunggu, ia menggendong tubuh Gisella dan membawa gadis itu pulang. Ryan menekan nomor Wiildan dengan panggilan cepat. "Panggilkan Erlangga ke rumah, SEKARANG!!"
"Baik!"
*****************
Ryan menatap isi paket yang tercecer disisi tempat tidur. Gisella sudah tertidur lelap dengan suntikan infus ditangannya. Badannya panas 38 derajat sudah mulai turun setelah Erlangga memberikan obat penurun panas.
Dirinya masih sama, belum beranjak sejak menemukan isi paket itu. Wildan perlahan mendekat.
"Kau sudah tau siapa pelakunya?"
"Ibu Resti. Hera...yang melakukannya."
Ryan mengusap wajahnya, lalu menarik nafasnya dalam-dalam. "Tinggalkan aku sendiri," pintanya kemudian. Wildan mengangguk dan beringsut meninggalkan laki-laki itu.
Ryan bangkit dari duduknya. Ia meletakkan isi paket itu di nakas. Lalu mendekati Gisella. Duduk di tepi ranjang. Mengamit tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak ingin menyakitimu, kenapa berita ini begitu cepat sampai padamu sebelum aku sempat membuat banyak kenangan manis bersamamu. Pantaskah aku tinggal disampingmu Gisella?"
*******************
Gisella terbangun. Kepalanya masih pusing, Ia membuka matanya perlahan lalu mencoba mengumpulkan nyawanya, mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Nyonya, kau sudah bangun?"
Gisella menoleh ke arah suara. Victoria. Ia bangkit dari tidurnya pelan-pelan. Ada sensasi dingin yang menjalar di dahinya saat telapak tangan wanita itu mencoba memeriksa keadannya.
"Kau sudah lebih baik dari semalam."
"Dimana Ryan?" tanya Gisella dengan suara parau. Cepat-cepat Victoria menyodorkan segelas air putih dan disambut Gisella.
"Tuan ada diruang kerjanya, Nyonya."
Gisella menyerahkan kembali gelasnya, "Baguslah, setidaknya dia tidak kabur."
Ryan. Laki-laki itu hanya duduk memeriksa pekerjaannya, seperti biasa. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bukan dia tidak peduli, tapi, dia tidak bisa meninggalkan kewajibannya selagi Gisella belum memutuskan apa-apa.
Tok Tok Tok
Laki-laki itu mengangkat wajahnya. Victoria.
"Tuan. Nyonya sudah bangun."
Ryan langsung beranjak dari kursinya, keluar. Dengan setengah berlari ia menuju kamar Gisella. Langkahnya terhenti di ambang pintu, nyalinya yang kuat kini ciut. Diangkatnya tangan mengetuk pintu putih tersebut
Tok Tok Tok
"Gisella, aku masuk ya,,"
Dia perlahan membuka pintu, dan melangkah masuk. Dilihatnya Gisella duduk di tempat tidur sembari menyuapi bubur.
"Bagaimana keadaanmu? Kau sudah lebih baik?" pertanyaan dari Ryan membuat gadis itu meletakkan sendoknya.
"Duduklah," Ia menepuk bagian tepi kasur meminta Ryan untuk duduk di dekatnya. Ryan menurut walaupun hatinya sedikit tidak nyaman. Ini tidak benar. Harusnya Gisella masih marah dan semakin dirinya. Masih tidak ingin berbicara atau kasarnya mangkoknya dibuang saat melihat wajahnya.
"Aku... sudah tau semuanya. Selain ini, apa ada yang belum kutahu?" Suaranya masih terdengar lemah.
Ryan terdiam sebentar, "Tidak ada. Semuanya sudah jelas. Paket yang kau terima itu, sudah mewakili semuanya." Takut-takut pemuda itu melirik Gisella. "Kau... tidak marah?"
"Tentu saja aku marah. Aku sangat marah. Sudah ku bilang kan, membunuhmu bahkan tidak bisa mengembalikan keadaan. Jadi....kau semata-mata menyelamatkanku karna aku putri dari Ferry Agrariansyah?"
"Apa perlu aku jawab?"
"Kau tidak punya jawaban lain?" tanya Gisella
Ada.
Aku mencintaimu.
"Apa yang ingin kau dengar? Aku anak dari..."
"Lalu? Apa itu menghentikanmu untuk mencintaiku? Pernyataan Gisella membuat Ryan terhenti. Ditatapnya lekat-lekat gadis dihadapannya. "Bisakah aku serakah? Tidak. Maksudku, itu masa lalu. Itu perbuatan ayahmu. Bukan kau Ryan. Aku mencoba berfikir logika. Kenapa aku harus membencimu, sementara kau menyelamatkanku?"
"Gisella..."
"Aku tau. Aku tau aku gila. Permintaan ini bahkan terdengar tidak masuk akal. Aku melupakan penyebab ayahku meninggal. Aku bukan tidak peduli dengannya dan menganggap masalah ini sepele. Tapi..." Gisella menarik nafasnya. "Tidak bisakah kita melihat kedepan? Seperti sebelumnya, kau adalah CEO maskapai Ertain, dan aku tunanganmu."
Ryan menelan ludahnya, "Apa kau serius? Kau tidak menyesal?"
"Ada yang harus kau tau lebih dari ini..."
"Apa?"
****************
"Menikah!!!"
Wildan, Victoria, Giandra, dan beberapa pelayan yang lain, saling melempar tatap terkejut.
"Kami akan menikah. Minggu depan?"
Baru 2 hari setelah kejadian itu. Rasanya tidak percaya kata 'Menikah' keluar dari mulut Ryan. Wildan menatap khawatir, Ryan langsung membela diri.
"Aku juga terkejut. Gisella yang memintaku menikahinya."
"Tapi... Minggu depan? itu ...."
"Fokus saja pada persiapannya. Sederhana pun tak apa." Suara Gisella terdengar dari lantai atas. Gadis itu melangkah menuruni tangga. "Dia tidak boleh lari kemanapun. Tetap harus disini, tetap menjadi CEO, tetap menjadi tunanganku, hingga akhirnya menjadi suamiku."
Semua tertunduk,
"Kenapa kalian? Aku... memilih untuk menata masa depan bersama kalian. Bersama laki-laki ini." Gisella mengamit tangan Ryan. "Aku tidak melupakan perbuatan ayahnya. Tapi...ayahku pasti menghargai keputusanku."
****************
Wildan menatap sebuah foto dari sakunya. Ia merapatkan rahangnya dengan keras. Setelah pengumuman dari Gisella, ia tidak tau harus berbuat apa. Tak habis pikir wanita itu bisa berfikir sesimple ini. Pernikahan bukan hal yang mudah bagi 2 orang yang punya masa lalu pahit. Anak perebut perusahaan dan anak korban.
Haruskah dia diam?
Tidak.
Semua harus sesuai rencananya.
Ia menginjak pedal gas, mobil yang ia bawa melaju di antara pengendara lainnya. Wildan akhirnya memutar stir masuk ke pelataran sebuah apartement mewah.
Resti menyambut kedatangannya dengan wajah masam, setelah diberi pesan Wildan akan datang menemuinya, ia langsung cepat-cepat membereskan segala kekacauan rumahnya. Memalukan jika pria itu tau kalau dia sedang down.
"Ada apa kau kemari?"
"Kau punya wine?"
Gadis itu tak menjawab, dan segera menyiapkan apa yang dibutuhkan. "Kita sering bertemu akhir-akhir ini, seperti bukan dirimu saja."
Wildan menerima gelas dari Resti, sementara gadis itu menuangkan sedikit wine. Pria itu langsung meneguk tanpa menunggu Resti.
"Kau kenapa?"
"Tumben kau tidak mengusirku?"
"Untuk apa? Setelah kejadian di bandara, aku merasa, aku akan terus bertemu denganmu. Jadi, kalau aku to...."
Cup.
Wildan memotong ucapan Resti dengan ciuman. Gadis itu melotot langsung mendorong keras pria itu menjauh.
'Plakk!!'
Tamparan keras mengenai pipi tegas Wildan. Pria itu tersenyum tipis, lalu menuangkan wine ke gelasnya dan kembali meneguk isinya.
"Kau gila ya!"
Wildan menatap gelas kosongnya. "Gisella sudah tau semuanya." Ucapnya lirih.
"Tau apa?"
"Semuanya. Hal yang di sembunyikan Ryan."
Resti menegakkan tubuhnya, "Apa Gisella mengusir Ryan?"
Pria itu tersenyum remeh lalu menoleh, "Dia mengajak Ryan menikah....minggu depan!"
"Apa!"
"Kau tak percaya? Aku juga begitu."
"Ada apa dengan reaksimu? Kenapa kau terlihat tidak senang? Bukankah kau dipihak Ryan?"
"Bagaimana bisa, aku berada di pihak Ryan setelah ayahnya membuat ayahku mati dipenjara." Sebaris ucapannya menegaskan bahwa ia sama sekali tidak mendukung Ryan.
Luka lama.
Ada luka lama yang ia bawa dalam hidupnya.
#Flashback On
Seorang anak laki-laki kecil melihat kepergian sang ayah dengan setelan 'Tahanan'. Pihak pengadilan melayangkan hukuman 15 tahun penjara pada sang Ayah. Hidupnya tak pernah damai setelah itu, tidak ada yang mau berteman dengan anak seorang pembunuh. Ibunya juga tidak bisa berbuat banyak saat ditagih hutang sang suami.
Tidak ada yang bisa dilakukan anak itu selain membantu sang ibu berjualan makanan. Tapi, itu tak bertahan lama. Berita tentang bebasnya Candra Perwira dari penjara, membuat anak itu bersumpah tidak akan melupakan keluarga Candra sampai cucunya sekalipun.
Setelah ibunya meninggal. Darren. Anak kandung Frans meninggalkan Seoul dan hidup di Jepang sampai lulus SMA. Mengganti namanya menjadi Wildan. Melanjutkan kuliah di Seoul dan tentu saja, kembali pada keluarga Perwira sebagai sekretaris kepercayaan Ryan.
Tidak ada ampun bagi keluarga yang sudah meluluhlantakkan keluarganya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Delista, keluarga korban keserakahan Candra. Niat mereka sama. Jika saja gadis itu tidak lupa dengan apa yang dilakukan Ayah Ryan. Tentu saja, membalaskan dendam tidak terlalu sulit.
Walaupun akhirnya, Ryan jatuh kepelukan Gisella yang menurutnya akan mudah menemukan hati pria yang sedang jatuh cinta.
#Flasback Off
Wildan mengusap wajahnya. Ini diluar dugaannya. "Kenapa wanita itu tidak memikirkan ayahnya?"
"Bahkan saat aku memberitahunya kalau dia bukan anak kandung. Dia tetap bersikeras kalau itu tidak membuatnya rugi sekalipun. Dia bukan tipe yang peduli dengan masa lalunya." Jelas Resti.
Pria itu meregangkan dasi dan melepaskan kacing atas kemejanya. "Aku tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Mengomporimu ternyata tidak cukup."
"Mengomporiku?"
"Sherly. Juniormu di maskapai adalah orang yang kusuruh untuk mengompori dirimu, dia menceritakan kata kunci padamu, tapi sulit membuatmu untuk percaya."
Resti ingin membuka mulutnya, namun Wildan cepat-cepat memotong, "Detektif yang kau percayai itu. Sebenarnya adalah pesuruhku. Aku yang memberikan semua informasi tentang Gisella dan Ryan."
"Katakan padaku, rencana besar apa yang kau telah persiapkan?"
"Bahkan, mengirimi bom pada Gisella tetap menghasilkan hal yang sama sekali tidak menguntungkan"
"Bom? Apa maksudmu?"
Resti menutup mulutnya tak percaya. "Kau..." ia menelan ludah lalu melanjutkan ucapannya, "Kau datang kesini hanya untuk ini? Kau mau mengeluh? Lalu...apa kau sudah menyerah?" tanya Resti.
Wildan menatap Resti dalam-dalam, "Apa kau punya rencana?"
Resti tersenyum penuh arti, "Ibuku pasti akan menyukaimu, Wildan."
******************
Gisella menatap dirinya di cermin, tubuhnya sudah berbalut dress mewah dan wajahnya sudah dipolesi make-up natural. Ia terlihat cantik.
Para undangan memenuhi ballroom. Acara pernikahan mendadak itu, tidak membuat para undangan menciut untuk tidak menghadiri.
Pernikahan Adryan Perwira. CEO maskapai penerbangan itu, punya banyak orang yang mendukungnya. Datang ke pernikahan Ryan bukan sesuatu yang sulit bagi mereka.
"Gisellaaaa!!!"
Sherly, Viola dan Felish berteriak bersamaan. Ketiganya masuk ke ruang tunggu pengantin wanita dengan wajah berbinar.
"Kalian sudah datang?"
"Waahhh,, mau cantik sekali."
"Terimakasih."
"Tolong ambilkan foto kami." Ujar Felish kepada sang kamerawan. Pria itu mengangguk mengiyakan permintaan.
"Kenapa pernikahanmu begitu mendadak seperti ini?" Tanya Felish.
"Apa mungkin.....kau..." Sherly sengaja menggantung ucapannya membuat yang lain ikut penasaran. Felish yang pertama tau maksud Sherly langsung menepuk bahu perempuan itu gemas.
"Jaga bicaramu, Sherly!"
Gisella tersenyum, "Aku tidak hamil, kok. Aku dan Ryan memang ingin cepat menikah, saat kutantang dia untuk menikahiku minggu ini, dia langsung menerimanya. Jadi beginilah sekarang..."
Victoria datang bersama 2 pelayan dibelakangnya. "Nyonya, mari bersiap-siap." Gisella mengangguk.
Ruang pemberkatan sudah dipenuhi ratusan ribu undangan. Wildan mendapat kesempatan untuk menuntun Gisella ke altar. Sementara Ryan, laki-laki itu menunggu dengan wajah sedikit pucat karna gerogi. Ia menatap Gisella dengan wajah berbinar. Wanitanya benar-benar cantik.
Wildan mengulurkan tangan Gisella untuk bersambut pada pengantin pria. Dengan penuh karisma, Ryan menuntun wanitanya itu ke depan altar. Di depan pendeta mereka membuat janji pernikahan.
"Saya Adryan Perwira. Dengan pernyataan ini saya berjanji. Menjadi suami, teman dan ayah bagi istri saya Gisella Arvaletta dan anak-anak kami kelak. Memberikannya kebahagiaan, memenuhi segala kebutuhannya dan bertanggujawab sebagaimana mestinya. Sampai maut memisahkan kami, Gisella akan menjadi istri dan wanita saya satu-satunya di hati saya."
Giliran Gisella sekarang, wanita itu terlihat cukup gugup dalam beberapa menit sesaat, lalu dengan tarikan nafas ia mengucapkan janji pernikahannya.
"Saya Gisella Arvaletta. Dengan pernyataan ini saya berjanji. Menjadi Istri, teman dan ibu bagi suami saya Adryan Perwira dan anak-anak kami kelak. Memberikan cinta dan kasih sayang sepenuhnya pada keluarga kami kelak. Menghormati, menemani dan memberikan dukungan pada suami saya disaat apapun yang terjadi. Sampai maut memisahkan kami, Adryan Perwira akan menjadi suami dan laki-laki satu-satunya dihati saya."
Setelah janji pernikahan itu diucapankan, riuh tepuk tangan para undangan langsung terdengar memenuhi ruangan.
Ryan tersenyum bahagia begitu pula dengan Gisella. Mereka lalu bertukar cincin dan akhirnya bertautan mesra dalam ciuman mereka.
"Terimakasih Gisella," Ucap Ryan setelah ia menarik diri. Wanita itu tersenyum.
Tapi, kebahagian itu tidak berlangsung lama. Riuh para undangan seketika langsung lenyap saat getaran dan deringan ponsel mereka saling bersahutan. Mereka mengechek ponsel masing-masing dan memberikan ekspresi kaget secara masal.
Ryan melempar pandangan ke Wildan untuk mencari tau apa yang terjadi. Tapi, respon laki-laki itu hanya datar dan tidak peduli.
Ada apa ini?
Gibran menghampiri Gisella dan menyerahkan ponselnya. Matanya membesar melihat artikel yang kini berada di puncak pencarian teratas.
'Gisella adalah Putri kandung Ferry Agrariansyah. Pemilik maskapai ErTain sesungguhnya!'
Wanita itu menatap Ryan yang sama terkejutnya. Gibran membisikkan sesuatu padanya.
"Wartawan menunggu diluar, Nyonya!"
"Apa!"
Sedangkan Ryan. Dia masih dalam posisi menatap Wildan yang sama sekali tak bergeming dari tempatnya. Ia mengepal tangannya kuat. Gisella hanya bisa menahan amarah laki-laki itu dan menyeretnya pergi dari aula. Dari keramaian.
******************
Kini Ryan tengah duduk memejamkan matanya di ruang kerja. Tenang. Sudah 6 jam lebih setelah pernikahannya dengan Gisella digelar, dan selama itupulah hpnya masih bergetar hebat sedari tadi. Tidak hanya ponselnya tapi juga ponsel Gisella.
Rumah mereka sudah dipenuhi para wartawan yang bergerumul pada di gerbang utama. Wildan? Jangan ditanya, dia sudah jadi penghianat. Wildan tidak sepenuhnya salah, jika dia diposisi Wildan saat ini, mungkin dirinya juga melakukan hal yang sama.
Sama seperti Resti. Laki-laki itu ingin dirinya kehilangan segalanya. Sebenarnya harta bukan masalah baginya. Tapi, Gisella. Wanita itu. Dia tidak ingin kehilangannya.
Gibran datang tergopoh-gopoh, "Tuan." Ia menunjukkan saham perusahaan turun drastis. Ini memang seharusnya. Pemegang saham tidak akan mau berinvestasi pada perusahaan hasil penipuan.
"Bagaimana keadaannya?"
"Sangat kacau tuan."
Ryan mengusap wajahnya kasar. Ini melelahkan. Tidak bisakah ia hidup tenang?
Gisella masuk ke ruang kerja, dengan tenang gadis itu menyuruh Gibran pergi.
"Apa kau lapar?"
"Tidak. Aku tidak bisa lapar disaat seperti ini." Ryan memutar kursinya. "Kau...kenapa kau bisa setenang ini?"
"Karna, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau takut kehilangan perusahaan atau takut kehilanganku?" tanya Gisella
"Ini bukan situasi yang tepat untuk bercanda, Gisella."
"Ayo makan malam denganku. Cobalah untuk tenang sepertiku, dan biarkan mereka melakukan hal yang tidak berguna" Gisella menarik tangan Ryan, beranjak dari tempatnya dan meninggalkan ruang kerja.
***************
Dilain tempat, Resti dan Wildan menikmati waktu berdua mereka. Kembali pada masa percintaan, yang dulu sempat terputus.
Mantan kekasih.
Mereka pernah berkencan 2 tahun lamanya, sejak Wildan resmi menjadi sekretaris Ryan, ia mengencani Resti. Hubungan mereka terjalin intim dan harmonis. Itu jauh sebelum Wildan mendapat data tentang Gisella.
Hubungan mereka adem ayem. LDR beberapa kali mereka jalani. Tentu saja, Ryan tidak mengetahui hal ini.
Hingga, waktu akhirnya memberikan jawaban pada Wildan tentang kehadiran Gisella. Ia menjauhi Resti dan berkali-kali mencari alasan untuk menghindari pertemuan. Karna baginya, balas dendam dan membuat Ryan jatuh adalah tujuan utamanya.
Keduanya duduk bersandar, menikmati wine sekaligus menonton berita terkait Ryan.
"Bagaimana selanjutnya?" Tanya Resti.
"Entahlah, mungkin aku akan pergi dari Seoul. Tugasku sudah selesai sekarang."
"Lalu, bagaimana denganku?"
Wildan tersenyum, "Kau ingin ikut denganku?"
Resti menyipitkan matanya kesal, "Lupakan!" ujarnya ketus.
"Terserah kau saja. Aku tidak mau memaksa."
Drrrrtt.... drrrtttt......
Ponsel Resti berdering. Resti terbangun dan meraih ponselnya.
"Hallo."
'Restiii....tolong ibu nakk!!'
Ibu?
Suara Ibu yang terdengar memohon langsung membuatnya bangkit dari kasur. "Ibu. Ada apa? Ada masalah apa? Kenapa suaramu?"
'Polisi datang menangkapku.'
"Apa! Tenanglah, Aku segera kesana!"
Resti langsung menoleh ke arah Wildan. Seketika pria itu bangkit meraih bajunya. Begitu pula dengan Resti. Wildan meraih mantel dan kunci mobil. Menunggu Resti bersiap lalu keduanya pergi
Wildan melajukan mobilnya dalam keramaian malam. Ia melupakan satu hal ini. Kesalahan Hera. Membunuh suaminya.
"Apakah Ryan yang melakukannya?"
"Tentu saja, siapa lagi kalau bukan dia. Tapi kau tenang saja. Ryan pasti kekurangan bukti. Untuk sekarang, kau hubungi pengecara yang kau percayai, suapaya Ibumu bisa bebas bersyarat"
Resti mengangguk.
Hanya butuh 20 menit untuk sampai ke tempat tujuan. Resti yang diikuti Wildan dari belakang langsung menghampiri polisi yang bertugas. "Dimana ibuku?"
"Ibumu sedang di ruang pemeriksaan. Dia menjadi tersangka utama pembunuhan."
"Apa ada buktinya?"
"Ada!" Resti memutar bola matanya. Sial.
"Bukti apa?" Tanya Wildan.
"Maaf itu bukan wewenangku." Polisi itu lalu pamit pergi.
"Maafkan aku, Resti."
"Maaf untuk apa?"
"Aku melupakan kasus ibumu. Kukira kita sudah menang, rupanya Ryan masih memegangi kartu AS."
"Tidak apa, lagipula ini benar-benar kebodohan Ibuku. Kau tidak salah. Tujuan kita juga sudah tercapai."
'Malam ini secara dadakan Adryan Perwira sebagai CEO ErTain memberikan permintaan maaf dan penjelasan kepada media bersama Gisella Arvalleta.'
Wildan dan Resti menoleh. Dari TV kantor polisi, mereka melihat Ryan dan Gisella melakukan siaran live.
'Hallo, selamat malam. Aku Adryan Perwira. CEO ErTain. Aku disini untuk mengklarifikasikan berita yang beredar. Benar. Gisella adalah putri kandung dari Ferry Agrariansyah. Pemilik Utama Maskapai ErTain yang direbut ayahku dengan cara penipuan..." Ia menarik nafas, memberikan jeda. "Dia juga adalah Delista. Putri dari Alm. Gilang Perdana. Wanita yang diberitakan tewas karna kecelakaan gas, itu bukan Delista yang asli."
Ryan menoleh ke Gisella, mencari kekuatan disana. Gadis itu tersenyum.
"Setelah kepulangannya dari Jepang bersamaku. Dia dijemput saudara tirinya, Resti Griselya dan ditinggalkan di tepi kota, hingga Gisella mengalami kecelakaan. Aku menolongnya, merawatnya dan bahkan mengajarinya hal-hal tentang perusahaan, tentu saja dia dalam keadaan lupa ingatan."
Ryan lagi-lagi menoleh ke Gisella. Gadis itu mengantikan Ryan berbicara.
"Kalian sudah lihat sendiri, sesuai dengan bukti yang sudah ku kirim ke beberapa media masa. Aku tidak bermaksud membohongi publik atas kematianku, tapi itu memang tidak sengaja dan diluar kemampuanku. Aku bahkan tidak tau, bahwa identitasku diambil. Tentu saja, aku akan bertanggungjawab tentang hal ini."
Gisella menarik nafasnya sebentar.
"Untuk saudara tiriku, Resti. Maaf telah membuatmu kecewa atas kehadiranku di keluargamu. Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana lagi, meyakinkanmu kalau kau sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri. Tapi, nyatanya kau malah membuangku begitu saja hanya karna kehadiranku menggangu kariermu."
Resti melihat siaran itu mengepal tangannya.
"Dan untuk masalah perusahaan. Aku tidak bisa mengambil kembali apa yang menjadi milikku. Menurutku, hal ini tidak penting, aku mengikhlaskan segalanya dan memilih untuk melihat kedepan. Seperti yang kalian tau, hari ini kami resmi menikah. Aku dalam keadaan sembuh total dari ingatanku, benar-benar menerima Ryan sebagai suamiku. Kesalahan ini karna ayahnya, bukan karna Ryan sendiri. Kalau memang niatnya sama seperti ayahnya? Kenapa dia harus repot-repot menolongku?"
Ryan kembali mengambil alih. "Untuk Resti, aku atas nama ayahku juga minta maaf padamu. Semua akan berjalan sesuai hukum berlaku. Aku bisa saja, meninggalkan perusahaan, seperti yang kau ucapkan supaya aku kehilangan semuanya. Tapi, Gisella menolak keras permintaan ini, semua kembali normal dan kami mohon untuk kembali percaya pada kami."
"Aku juga memohon kepercayaan kalian kembali pada ErTain. Kami tidak akan mengecewakan kalian, penumpang setia kami, untuk kalian kami akan bekerja keras melayani sepenuh hati."
Ryan dan Gisella menunduk memberi hormat dan mengakhiri siaran live mereka.
Tubuh Resti luruh ke lantai, ia tak berdaya. Semua terasa sia-sia. Apa yang diharapkan tidak sesuai. Keinginannya melihat laki-laki itu menangis sudah pupus. Sementara Wildan hanya bisa terpaku ditempat, tidak ada komentar apapun yang keluar dari mulutnya. Yang tersisa hanya kekosongan.
******************
"Sejak kapan kalian merencanakan ini?" Tanya Ryan begitu siaran berakhir.
Ryan memang ditarik untuk makan malam, tapi nyatanya dia malah ditarik ke ruang tamu dan berhadapan dengan kamera dan dua orang dari salah satu media kepercayaan Victoria.
Verta.
Gadis yang dulu Ryan temui di Rumah sakit, saat kehadiran Gisella pertama kali masih menjadi tanda tanya besar sebagai tunangannya. Ryan menjanjikannya sebagai wartawan yang meliput ekslusif beritanya.
"Terimakasih atas berita eksklusifnya, Tuan." Ujar Verta, ia bersama dengan juru kameramen menunduk hormat.
"Siapa yang mengundangnya?"
Gisella mengangkat tangannya, "Victoria menemukan kartu namanya di saku salah satu tuxsedomu, harusnya aku memberikannya padamu. Tapi, aku lupa dan malah menyimpannya. Syukurlah, jika penyakit lupaku menjadi berkah untuk memanggilnya datang kemari."
Ryan tersenyum lega, ia tak henti-hentinya menatap Gisella, "Jadi ini yang kau bilang makan malam?"
Gisella mengangguk, "Makan semua mangsamu!!"
"Ahh,,aku jadi benar-benar lapar sekarang." Ia beralih ke Victoria, "Tolong siapkan makan malam." Kepalanya berbalik kembali ke arah Verta dan rekannya, "Kalian disini saja, ikut makan malam bersamaku. Sebagai tanda terima kasihku juga."
"Dengan senang hati, Tuan." Ujar Verta. Mereka lalu diajak Victoria untuk bergegas ke ruang tengah untuk menunggu makan malam siap.
Sedangkan Gisella yang ingin menyusul, ditahan Ryan dengan cepat. "Kau mau kemana?"
"Membantu Victoria,"
"Tidak perlu. Kau lupa, kita ini pengantin baru." Ujar Ryan dengan senyuman menggoda.
Gisella bersemu merah dan memalinglah wajahnya, "Berhentilah menggodaku. Aku laparr." Gadis itu berusaha melepaskan diri, namun ditahan laki-laki itu.
"Ingat ya,, malam pertama kita."
Astaga. Perubahan cepat emosi Ryan memang patut diajukan jempol. Padahal belum satu jam dia stress memikirkan masalah yang lain, dan sekarang secara drastis berubah romantis.
Gisella hanya bisa mengigit bibirnya, Ryan mendekati wajah Gisella berusaha bertautan pada gadis itu.
"Tuan!! Para wartawan itu sudah pergi!!" Gibran datang merusak suasana. Tentu saja, Gisella langsung melepaskan diri dan lari menyusul Victoria dan yang lain.
"Uppss,, Maaf." Ujar Gibran setelah mengetahui kehadirannya tidak tepat waktu.
"Tidak apa. Kau harus banyak belajar mulai sekarang." Ujar Ryan.
Ia jadi ingat dengan Wildan. Laki-laki itu, bagaimana keadaannya sekarang?
******************