All About You

All About You
Modelnya Mama



🌹


🌹


Rania berjalan mengendap ke arah kamar mandi ketika dia mendengar air mengalir di dalam sana. Dipastikan Dimitri sedang mandi karena pria itu tak ada di tempat tidur mereka sekembalinya dia dari jalan subuhnya.


Sudah hampir satu minggu ini Rania menjalankan rutinitas paginya yang dimulai dengan berjalan kaki mengitari lintasan mini di belakang rumah mereka ketika hari masih gelap. Hingga matahari muncul menghangatkan dunia. Lalu dia kembali ke dalam rumah setelah satu jam berjalan dan meyakini jika suaminya sudah terbangun.


Dia melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya, kemudia mendorong pintu yang tak dikunci itu secara perlahan.


Rania mendapati Dimitri yang berdiri dibawah shower membelakanginya dengan air hangat dan busa shampo yang mengalir dari kepala, melewati bahu lebarnya, punghung kokohnya, dan jatuh hingga ke bawah kakinya.


Pria itu sedikit terlonjak ketika Rania memeluknya dari belakang dan menempelkan tubuh telanjangnya dengan erat.


"Kamu sudah kembali?" Dimitri mengusap wajahnya yang basah.


"Humm ..." Rania mengangguk kemudian terkekeh. Mencium aroma segar dari tubuh suaminya yang kini sangat dia sukai. Tentu saja, semua yang Dimitri pakai merupakan peralatan mandi miliknya yang dia pakai setiap hari. Dan entah mengapa aromanya terasa lebih enak ketika pria itu menggunakannya.


"Kayaknya aku jalannya kelamaan deh, kamu keburu bangun?" katanya.


"Tidak, aku memang sengaja bangun lebih awal karena ada rapat pagi."


"Oh, ... buru-buru?" Rania memiringkan kepalanya.


"Tidak juga, hanya agar lebih san ..." pria itu sejenak menahan napas ketika tangan Rania merayap kebawah, dan menemukan naga ajaibnya yang tiba-tiba saja menegang. Apalagi ketika perempuan itu menggenggamnya dengan perlahan.


"Lebih apa?" Rania setengah berbisik.


"Lebih ..." Dimitri menelan ludahnya dengan susah payah. "Santai ..." katanya dengan suara parau.


Gairahnya tersulut begitu saja setiap kali perempuan itu menyentuh miliknya. Oh, tidak! Dia memang selalu merasa terpancing setiap kali mereka berdekatan, sekalipun Rania tidak sedang melakukan apa pun. Dan kini hal tersebut semakin menjadi ketika istrinya itu mulai berani menggodanya.


"Santai untuk ... " Rania meremat benda yang telah mengeras di dalam genggamannya itu dengan gemas. Akhir-akhir ini dirinya memang lebih sering memulai aktifitas panas itu tanpa mengenal waktu.


Dimitri mendes*h pelan, dan dia mengerjapkan mata untuk mempertahankan kesadarannya karena godaan ini mulai tak terkendali. Wajahnya terdongak keatas menatap langit-langit kamar mandi yang terang benderang. Namun hal tersebut tak mampu membuatnya bisa menahan diri.


"Kamu mau mandi Zai?" dia berusaha mengalihkan perhatian.


"Iya."


"Oke, aku mau menyelesaikan mandiku dulu, agar kamu bisa ... ah ..." des*hnya lagi saat Rania menggerakan tangannya.


Dan Dimitri menempelkan sebelah tangannya pada dinding kamar mandi untuk mempertahankan posisinya.


"Jangan menggodaku terus Zai, nanti aku terlambat. Meeting hari ini sangat penting untuk Nikolai grup, dan aku harus datang tepat waktu." katanya, dan dia berhasil menghentikan perempuan itu dari apa yang mungkin ingin di lakukannya.


"Oh, ... gitu ya? ya udah." Rania melepaskan gengaman tangannya dari milik Dimitri, kemudian menjauh dan membiarkan pria itu menyelesaikan urusannya sendiri.


***


Rania keluar dari kamar mandi setelah beberapa saat, hanya mengenakan handuk yang melingkar di dada, dengan rambut basah yang masih meneteskan air.


Dia berjalan ke arah lemari di mana Dimitri tengah bersiap.


"Karena pagi ini aku ada meeting dengan investor, bolehkah aku menggunakan parfumku sendiri Zai?" Dimitri mengenakan kemeja fit in berwarna hitam yang tampak pas di tubuh atletisnya. Hasil olah raga yang akhir-akhir ini di lakukannya.


"Emangnya kenapa kalau pakai punya aku?" perempuan itu menarik sepasang pakaian dal*m dari lemari khususnya


Dimitri tertawa.


"Akan sangat aneh rasanya jika mereka mencium aromaku yang seperti perempuan." katanya.


"Investornya perempuan?"


"Laki-laki."


"Oh, ...


"Apa boleh?"


"Boleh lah, boleh. Tapi kalau investornya perempuan aku nggak ijinin pakai parfum kamu ya?" Rania berucap


"Kenapa?"


"Nanti mereka tertarik sama kamu lagi, aku nggak suka!" Rania mendelik.


Dimitri tertawa cukup keras.


"Serius!"


"Baiklah, baiklah." pria itu mengangguk-angguk.


"Eh, ... tapi mereka suka datang sama sekertarisnya kan? kayak kamu sama Clarra."


"Kadang-kadang."


"Kalau gitu jangan!"


"Apa?"


"Nanti sekertarisnya yang suka sama kamu."


"Tidak mungkin."


"Mungkn aja, di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin."


"Zai ...


"Pokoknya nggak mau!"


"Astaga Zai!"


"Yee!! ini pas! emang mama kamu tuh kalau kirim beginian nggak pernah salah, pasti pas di aku." Rania berputar-putar di depan cermin, mengagumi dirinya sendiri yang mengenakan bra berwarna merah dengan tali kecil di belakang, juga segitiga mini nya yang tampak menggoda.


"Kemarin kirimnya banyak bener, katanya sample buat produk terbarunya. Mama kamu keren lah, bisnisnya melebar kemana-mana. Sampai dalem*n juga dia jual." Rania tertawa pelan, lalu dia mengambil ponselnya diatas meja aksesoris dan mengarahkan kameranya ke depan cermin di mana pantulan dirinya yang hanya mengenakan sepasang pakaian dal*m seksi itu terpampang nyata.


Perempuan itu mengambil gambar dirinya sendiri dalam keadaan setengah telanjang.


"Kamu mau apa?" Dimitri menginterupsi.


"Mau kirim gambarnya."


"Kirim ke siapa?"


"Ya ke mama lah, biar dia tahu. Masa aku kirim ke papi?"


"Astaga!"


"Mama bilang kalau udah aku cobain kirim gambarnya, biat bisa lihat bagus apa nggaknya, atau kurangnya di mana."


"Sejak kapan kalian jadi partner semacam ini?" Dimitri merebut ponsel tersebut dari tangan Rania, dan melihat hasil jepretan kameranya.


"Sejak jadi modelnya mama."


"Sejak kapan kamu jadi modelnya mama? pemotretan produk baju itu kan sudah lama sekali?"


"Minggu lalu."


"Minggu lalu?" Dimitri membeo.


"Hu'um, aku kan sekarang nganggur, nggak ada kegiatan. Ya aku terima aja pas mama nawarin aku jadi model lagi."


"Kamu tidak membicarakannya dulu dengan aku?"


"Aku pikir boleh, lagian kerjanya juga sama mama."


"Setidaknya kamu bicara dulu dengan aku Zai."


"Habis kamunya sibuk. Pergi pagi-pagi, pulangnya malam. Setelah anuan kamu tidur. Udah seminggu ini kita nggak ngobrol malem kayak biasanya."


"Kan pagi-pagi kita sarapan sama-sama?"


"Kamu sarapannya buru-buru. Mana sempat kita ngobrol banyak?"


Dimitri terdiam.


"Lagian aku nggak keluar rumah kok, cuma cobain baju yang mama kirim, terus aku foto kayak tadi, terus aku kirim gambarnya ke mama."


"Kamu kirim foto setengah telanjang seperti tadi kepada mama?" Dimitri setengah berteriak. Membayangkan banyak sekali foto istrinya dalam keadaan seperti itu yang dia kirim kepada ibunya.


"Jagan teriak-teriak! ini kuping bukan aksesoris!" protes Rania.


"Iya, terus ... benar seperti itu?"


"Ya nggak lah. Kemarin-kemarin baju biasa. Baru kemarin sore mama kirim dalem*nnya." jawab Rania kemudian.


"Oh, ... aku pikir ..." Dimitri terkekeh.


"Memangnya berapa banyak pakaian dal*m yang mama kirim?"


"Ada kali selusin."


"Banyak bener?"


"Macem-macem model sama warna."


"Oh ya?"


"Hu'um." Rania mengangguk, kemudian dia mengenakan pakaian sehari-harinya. Celana pendek dan kaus berwarna cerah.


"Apa kamu akan memakai itu seharian?"


"Apanya?"


"Pakaiam dal*mnya?"


"Iyalah, kan ini untuk di pakai sehari-hari, emangnya buat kapan?"


"Serius?" pria itu yang otaknya sudah benar-benar kacau. Bayangan Rania mengenakan benda tesebut seharian membuatnya tak bisa berpikir jernih.


"Iya, emangnya kenapa?"


"Mm ... tidak ap-apa. Dan kamu harus mencoba dan mengirim semua fotonya ke mama?"


"Iya, biar bisa dilihat apanya yang kurang."


"Kalau begitu, kirimkan saja fotonya ke nomor aku, nanti aku yang lihat dan aku sampaikan ke mama."


"Kenapa kamu?"


"Sama saja, nanti aku sampaikan ke mama." ulang Dimitri. Dia tak rela tubuh indah perempuan itu harus di perlihatkan kepada orang lain meski itu untuk keperluan riset produk sekalipun.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...