
🌹
🌹
WARNING!!
Jomblo dan bocil harap mundur,
Jangan dibaca, karena ini penuh ke anuan. Nanti kalian anu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Oh, God!" Dimitri meremat rambut di kepalanya kala Rania mengulum naga ajaibnya, tanpa melepaskan rematan tangannya di bagian yang lain.
Dia semakin frustasi saat tangan perempuan itu mengusap pahanya, kemudian merayap ke atas. Menambah sensasi lebih gila yang semakin lama semakin menyiksanya.
"Such a good girl, Zai. You are a good girl." dia mengusap rambut di kepala Rania, kemudian menyingkirkan helaian yang menghalangi wajahnya.
Matanya menatap wajahnya, dan dia tampak menggoda, tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya.
"Zai, baby!" des*h Dimitri yang semakin merasa frustasi ketika Rania tampak tak akan menyudahi kegiatannya bermain-main dengan alat tempurnya.
Pria itu mengetatkan rahangnya hingga giginya bergemeletuk. Dan di detik berikutnya dia mendorong Rania sehingga dia melepaskan naga ajaibnya.
Kini posisinya berbalik, Dimitri mengungkung tubuh perempuan itu diantara kedua tangan dan tubuh tingginya. Memindai wajahnya sebentar, kemudian melanjutkan cumbuan yang terjeda karena eksperimen aneh perempuan itu kepadanya.
"Nghh..." Rania mengerang ketika Dimitri membenamkan miliknya, tanpa aba-aba seperti biasa kemudian menghentak dengan tidak sabaran.
Hasratnya sudah tak bisa ditahan lagi, dan dia tak mampu untuk menahan diri. Kelakuan Rania pagi itu benar-benar membuatnya hilang kesabaran.
"Ah, ... babynya." Rania sedikit menahan perut pria itu untuk mengingatkannya. Namun Dimitri malah meraih kedua tangan perempuan itu, dan meletakannya diatas kepala untuk melanjutkan pergumulan mereka.
Cumbuan kembali berlanjut diiringi suara penyatuan tubuh yang menggema di seluruh ruangan. Diselingi des*han dan erangan yang terus mengudara di sofa ruang depan kamar hotel Pantai Tanjung Aan pada pagi menjelang siang itu.
Sementara pinggir pantai di bawah sana berangsur sepi karena sebagian pengunjung memang telah pergi meninggalkan tempat itu setelah balapan telah berakhir semalam.
Dimitri sejenak melepaskan pertautan tubuh mereka, lalu membalikan Rania hingga perempuan itu membelakanginya. Kemudian melanjutkannya tanpa menunggu lama.
Erangan semakin terdengar lirih, ketika Dimitri berpacu lebih cepat. Dan Rania berpegangan erat pada pinggiran sofa, seolah dia akan terjatuh jika tak melakukannya.
"Dim!! Ran!" suara ketukan di pintu terdengar cukup nyaring. Sepertinya Angga yang tengah mencari tahu keberadaan anak dan menantunya yang tak terlihat sejak pagi.
"Rania, Dimitri!" panggil Angga lagi, namun tak mendapatkan jawaban dari dalam sana.
Tentu saja, dua orang di dalam kamar sedang sibuk menggapai surga dunia yang kenikmatannya tak dapat di jelaskan dengan kata-kata.
Apalagi ketika Dimitri membekap mulut Rania yang tak hentinya meracau dan hampir saja menjawab panggilan ayahnya, menjadikan tempat itu seolah-olah tak berpenghuni.
Dia kembali berpacu saat tak di dengarnya lagi suara panggilan Angga, dan kini lebih cepat. Bersama gairah yang terus menggulung keduanya hingga membuat mereka kembali tenggelam dalam gejolak hasrat yang menggelora.
Tubuh Rania semakin menegang seiring pelepasan yang hampir datang bersamaan dengan denyutan hebat di bagian terdalam dirinya. Dan Dimitri semakin merasa tak sabar lagi.
"Oh Zai, wait, wait!" dia menggeram kemudian menarik pinggul perempuan itu agar alat tempurnya terbenam semakin dalam.
Dia merasakan pelepasan akan tiba sebentar lagi, dan benar saja mereka sama-sama menegang dan keduanya tak lagi mampu menahan ketika tiba di puncak bersamaan.
🌹
🌹
"Om yakin nih, mau ninggalin mereka?" Galang kembali bertanya untuk meyakinkan kepada pria itu. Setelah memasukan tasnya kedalam mobil angkutan yang akan membawa mereka ke bandara.
"Iya, Dimitri yang bilang begitu tadi." jawab Angga, kemudian dia berputar ke bagian penumpang.
"Dimitri menelfon?"
"Iya."
"Bener-bener ya mereka itu?" Galang menggerutu.
"Kenapa? sirik ya? kawin sono!" cibir Angga sambil mendorong kepala anak tetangganya itu sehingga dia terhuyung ke samping.
"Om ih!!"
"Kawin Lang!"
"Kawin mah gampang om, tinggal pelorotin celana, terus kawin." Galang sekenanya.
"Dudul!" Angga menepuk belakang kepala pemuda itu agak keras.
"Sakit om!!" Galang berteriak.
"Umur kamu berapa sih udah tahu yang begituan?"
"Apaan?"
"Begituan."
"Iya apa?" Galang kemudian tertawa.
"Dudul!" Angga lagi-lagi menepuk kepalanya.
"Pantesan Rania onengnya nggak ketulungan? kali kepalanya sering om pukul ya?" pemuda itu mengusap-usap kepalanya yang beberapa kali terkena pukulan Angga.
"Aku jadi kasihan sa suaminya, dia harus bener-bener ngajarin si oneng." katanya lagi.
"Ngada-ngada."
Kemudian ponsel Galang berdering, dan kontak dengan nama Ara muncul di layar.
"Ya?"
"Kakak hari ini jadi pulang?" tanya Amara dari seberang.
"Jadi. Ini baru mau jalan ke bandara." Galang menjawab.
"Oh ya?"
"Hu'um."
"Oke."
"Gimana kuliah kamu?"
"Baik."
"Baguslah."
"Kak?"
"Ya?"
"Aku di Jakarta lho."
"Oh ya?"
"Iya."
"Kenapa belum balik ke Bandung? emangnya nggak ada kuliah ya?"
"Nggak ada jadwal."
"Tapi sengaja juga sih." lanjut Amara.
"Sengaja?"
"Siapa tahu kita bisa pulang bareng?"
"Pulang bareng?" Galang tampak mengulum senyum. "Tapi kayaknya nggak bisa, aku kan pulangnya sama rombongan tim?"
"Oh ...
"Bukannya kamu suka diantar papa kamu ya?"
"Mmm ....kebetulan papa akunya pergi."
"Hmmm ...
"Ya udah kalau nggak bisa pulang bareng, aku berangkat ke Bandungnya sekarang aja." tiba-tiba Amara menutup panggilan.
"Ra? hallo?" Galang tertegun menatap layar ponselnya. "Kenapa dia itu?" dia mengerutkan dahi, lalu kembali memasukan ponselnya kedalam saku jaketnya.
"Cieeeee ... si dudul udah gede?" Angga bereaksi setelah menyimak percakapan tersebut.
Galang menoleh dengan dahi berkerut.
"Si dudul punya cewek? cieeee uda move on!" cibir Angga, yang memang mengetahui perihal Galang yang sempat menyukai putrinya.
"Apaan?"
"Si dudul udah nggak dudul lagi?" Angga kemudian tertawa.
"Om apaan sih?
"Cieeee ... udah move on!" pria itu terus menggodanya hingga mobil yang mereka tumpangi mulai menjauhi area hotel.
🌹
🌹
"Oke Cla, hanya sehari lagi ini saja, nanti malam aku sudah pulang ke Jakarta."
" Beneran ya? aku sudah aturkan lagi jadwal kamu lho." suara Clarra terdengar nyaring
"Baik."
"Awas bohong!"
"Tidak, aku janji hanya sehari."
"Kerjaan kamu banyak lho."
"Iya iya, kamu mau anak-anakku ileran gara-gara aku nggak menuruti kemauan ibunya?" Dimitri mulai kesal.
"Sejak kapan kamu percaya mitos semacam itu?" gadis itu terdengar tertawa.
"Sejak ... " Dimitri menatap Rania yang berlari-lari kecil menghindari ombak yang menerpa kakinya, lalu tertawa, dan dia kembali melakukannya secara berulang-ulang.
Perempuan itu terlihat menggoda hanya dalam balutan crop top berwarna putih yang mengekspose sebagian pundak dan punggung bagian atasnya, juga mengenakan celana super pendek yang telah basah terkena air laut.
"Bayi memang suka begitu kan? aku baca di internet memang begitu. Dan itu masuk akal." lanjut pria itu.
"Yeah, ... kamu mengerti."
"Tapi dia membuat aku mulai bisa menerima banyak hal tidak masuk akal." katanya lagi, kemudian tertawa.
"Kata-katamu menyeramkan Dim." Clarra pun ikut tertawa.
"True, true."
"Baiklah, habiskan waktumu seharian ini lagi. Sebelum besok aku memberimu banyak pekerjaan." ucap Clarra yang kemudian mengakhiri percakapan.
"Udah?" Rania datang menghampirinya.
"Sudah."
"Clarra ngomel lagi?"
"Begitulah."
"Kan udah aku bilang harusnya kita pulang tadi subuh, jadi hari ini bisa kerja. Kamu nggak nurut sih?"
"Tidak apa-apa, dia memang dibayar untuk mengomel."
"Masa?" Rania tertawa.
"Hmm ...
"Aku pikir dia yang aturin semua jadwal kamu, juga memghandle pekerjaan kalau kamu lagi nggak di kantor?"
"Itu juga."
"Banyak banget kerjaannya Clarra?"
"Kan sudah aku bilang, dia dibayar untuk itu."
"Keren lah, keren."
"Kamu juga keren." Dimitri merangkul pundaknya.
"Aku emang keren." Rania menggendikan bahu.
"Mulai sombong ya kamu?"
"Sedikit, lebih kecil lah dari narsisnya kamu."
"What?"
"Hehe, ...
"Apa kita masih akan tetap disini?"
"Nunggu sampai sunset boleh? setelah itu kita pulang."
"As you wish Ma'am."
"Ah, ... kamu yang terbaik." Rania melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu, kemudian mereka berjalan menyusuri pinggir pantai yang cukup lengang.
Hingga akhirnya matahari pun terbenam dengan sendirinya menyisakan semburat oranye dilangit Pantai Tanjung Aan, yang menjadi saksi kemenangan dan perayaan cinta antara dua anak manusia yang tengah dilanda asmara.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
uluh uluh ... co cweett
jan lupa ritualnya oke?😘😘