All About You

All About You
Kemarahan Angga



🌹


🌹


Dimitri terus mencoba menghubungi ponsel Rania setiap beberapa menit sekali. Namun tetap saja, tidak tersambung. Sepertinya dia sengaja mematikannya agar tak seorangpun dapat melacaknya. Bahkan setelah tiga hari Andra pun tak dapat menemukannya.


Rumah terasa benar-benar sunyi tanpa kehadirannya, dan jelas dirinya merasa hampa. Ternyata hal sekecil ini mampu memberikan dampak yang besar bagi mereka. Hal yang dianggapnya sepele malah yang paling merusak hubungan mereka. Dan itu jelas fatal.


"Bapak mau sarapan dulu?" Lina menawarkan, latte yang dibuatnya bahkan sudah dingin, sama seperti hari-hari sebelumnya ketika Dimitri mengira Rania pulang dan merasa kecewa karena minuman itu bukan dia yang membuatkan.


"Tidak, pekerjaan saya banyak hari ini." jawab sang majikan yang tampak tak bersemangat. Tentu saja, belahan jiwanya menghilang bak di telan bumi.


"Baiklah, ..." sepertinya besok dirinya tidak usah menyiapkan sarapan lagi, karena percuma saja, selama Rania tidak ada hanya akan terbuang sia-sia.


"Nanti telfon saya kalau Rania pulang ya?" ucapnya sebelum pergi, seperti biasa.


"Ya pak."


Kemudian pria itu melenggang keluar dari rumahnya dengan langkah gontai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dia melakukan penarikan uang dengan jumlah yang cukup besar di atm sekitar terminal Cicaheum tiga hari yang lalu." Andra meletakan lembaran kertas yang di dapatkan anak buahnya dari bank tadi pagi. Setelah di hari ketiga pencarian dan mereka tak menemukan titik terang. Lembaran dengan tulisan jumlah uang, lengkap dengan tanggal dan hari jiga ja di mana Rania menghilang.


"Apa mungkin dia keluar kota? atau keluar pulau?" Dimitri menoleh kepada Galang yang duduk diam di depannya.


"Tidak pasti pak. Dia tidak punya kenalan di luar Bandung, saudara apa lagi. Semua keluarganya ada di Bandung." jawab Galang, yang tiba-tiba saja harus masuk pada pusaran masalah ini.


"Hhhh ...." Dimitri merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. "Lalu kemana dia?"


"Apa mungkin ke Sentul? mungkin dia kabur ke dekat sirkuit agar bisa melihat orang latihan balapan atau semacamnya?" katanya lagi.


"Tidak ada, orang kita sudah menyisir wilayah itu tapi mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Rania." Andra menjawab.


"Lalu ke mana dia? mengapa kalian sulit sekali menemukannya? bukankan kalian punya tim pencari yang handal? tapi kenapa mencari seorang perempuan hamil saja sulit?" Dimitri bangkit dan dia setengah berteriak.


"Masalahnya dia punya perhitungan yang baik, dan memiliki rencana yang bagus untuk melarikan diri. Dia mengambil uang di satu tempat, namun kemungkinan dia pergi ke tempat lain." Andra menjelaskan.


Dimitri berdiri seraya mengusap wajahnya kasar, kemudian mondar-mandir di depan mereka.


"Mengapa kemarahannya sulit sekali di redakan? mengapa hal kecil bisa membuatnya semarah ini?" dia memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa nyeri.


"Dan hal kecil itu membuat putriku marah, bodoh!" suara yang tentu sangat mereka kenal menginterupsi.


Angga dengan langkah lebarnya menerobos pintu menyongsong menantunya yang berdiri dengan raut terkejut.


Pria itu melesat secepat kilat ke arah Dimitri lalu mencengkeram kerah jasnya dengan keras.


"Masih beruntung dia tak menghajarmu habis-habisan, padahal pria sepertimu bisa dengan mudah dia jatuhkan." Angga menggeram, kemudian melepaskan cengkeraman tangannya ketika Galang datang melerai.


"Sudah sampai mana kalian mencari?" Angga beralih kepada Galang.


"Di sentul nggak ada om, tapi sekarang mereka lagi cari ke tempat lainnya. Tiga hari yang lalu dia tarik tunai di Cicaheum. Setelah itu hilang."


Angga kembali kepada Dimitri dengan tatapan begitu tajam. Kemarahan jelas sudah menguasainya sejak Satria memberitahukan soal pertengkaran di antara mereka, apalagi hingga membuat anak kesayangannya itu pergi menghilang. Hingga setelah tiga hari lamanya bahkan masih belum di temukan.


"Dia bukan orang yang mudah marah, meskipun seseorang berbuat buruk kepadanya. Dia akan menghadapinya dengan santai, bahkan saking santainya sampai-sampai dia sering di manfaatkan."


"Tapi kamu tahu, dia akan bertindak keras jika sesuatu sudah benar-benar mengusiknya. Tidak peduli apa yang akan terjadi kepadanya. Dan yang dia lakukan sekarang ini pasti karena dia sudah terlalu marah."


"Tahu apa yang dia lakukan ketika seseorang melecehkannya di sekolah?" Angga kembali mendekat kepada Dimitri.


"Rania menghajarnya hingga empat tulang rusuknya patah, rahangnya bergeser, dan mengalami gegar otak. Tapi dia tidak takut ketika orang-orang itu menuntutnya di kantor polisi, padahal umurnya masih 15 tahun. Tahu kenapa dia seperti itu? karena dia ada di pihak yang benar, tidak menggunakan kebohongan sebagai dalih, apa lagi untuk menutupi sesuatu. Meski itu kebohongan kecil sekalipun."


"Dan apa yang dia lakukan kepadamu bahkan tidak sepadan dengan apa yang dia dapatkan." Angga menunjuk dada Dimitri dengan ujung jarinya.


"Kamu beruntung dia memilih kabur dari pada harus mengumbar emosi dan melampiaskannya kepadamu, karena bisa di pastikan kamu tidak akan bisa menahannya."


"Dan kamu juga masih bsruntung, kedua orang tuamu menjelaskan sejelas-jelasnya tentang masalah ini. Kalau tidak, sudah saya pastikan kamu masuk rumah sakit sekarang ini." geram pria itu.


Sementara Dimitri membeku.


"Sekarang cari dan temukan Rania sendiri. Waktumu tiga hari untuk menemukannya, atau jika orang lain yang menemukannya maka saya tidak akan mengijinkanmu untuk menemui dia lagi selamanya." ucap Angga lagi yang segera membuat menantunya bereaksi.


Dan Dimitri segera pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.


🌹


🌹


Seorang pria tua tertegun di depan pagar ketika Rania melepaskan masker dan topi dari kepalanya, kemudian tersenyum. Setelah selama tiga hari berpindah-pindah penginapan kecil akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke vila keluarganya di pelosok daerah perkebunan teh di Bogor.


"Aatagfirullah! neng Rania!" pria itu segera membuka pintu pagar vila yang di jaganya setelah mengenalinya.


"Pak Hamdan masih ingat saya?" katanya.


"Ya ingat atuh? masa bisa lupa sama anaknya den Angga yang suka main layangan di atas genteng?" Hamdan segera meraih travel bag dari tangan anak majikannya tersebut.


"Neng sama siapa?" pria itu bertanya sambil melihat ke belakang Rania namun tak menemukan siapa-siapa di sana.


"Sendiri pak."


"Astagfitullah! sendiri?" pria itu mengulangi kata-katanya.


"Iya."


"Hamil seperti ini neng pergi sendiri? pakai apa? masa angkot?"


Rania hanya tersenyum.


"Beneran?"


"Iya pak."


"Ya Alloh, ... nyaah teuing! ( kasihan!)" pria itu segera meraih tangannya, kemudian dengan tergopoh-gopoh menariknya ke dalam vila.


"Masuk neng, mana udah sore lagi. Ya Alloh!" pria tua itu terus berbicara.


"Papa tahu neng kesini?" mereka sudah berada di dalam rumah.


"Nggak."


"Kakek?"


"Nggak juga."


"Nggak."


"Suaminya?"


"Nggak pak."


"Masha Alloh! Neng kabur?"


Rania terdiam.


"Neng kabur?" ulang Hamdan.


"Biasa aja, nggak usah kaget pak." jawab Rania.


"Gimana nggak kaget? Neng datang kesini sendirian, mana lagi hamil. Terus nggak ada yang tahu lagi, duh?"


Sementara Rania hanya terkekeh.


"Eh, sampai lupa. Duduk dulu neng, istirahat. Bapak panggilin si Ambu di rumah sebentar ya?" ucap Hamdan yang kemudian pergi setelah Rania menganggukkan kepala.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rania melahap makanan yang terhidang di meja, dia tampak kelaparan karena hampir semua makanan yang ada dihabiskannya dalam waktu yang cukup cepat.


"Bapak sama Ambu nggak mau ikut makan?" katanya kepada pasangan tersebut yang menungguinya hingga hampir selesai makan.


"Nggak, neng aja. Kayaknya kelaparan? di jalan nggak nemu makanan ya?" jawab Hamdan.


"Nemu, tapi nggak seenak ini." jawab Rania yang meneguk habis teh hangatnya. "Tiga hari kemarin cuma makan nasi goreng atau bakso doang."


"Gusti nu agung!" perempuan di samping Hamdan bereaksi. "Neng habis dari mana aja sampai tiga hari baru sampai kesini?"


"Jalan-jalan Mbu." jawab Rania dengan entengnya.


"Jalan-jalan?"


"Iya."


"Kok sendiri? kalau ada apa-apa gimana? mana lagi hamil?"


"Ini nggak apa-apa."


"Alhamdulillah nggak apa-apa. Ambu bayanginnya kok sedih, hamil, sendirian lagi?"


"Nggak sedih, kan lagi healing."


"Healing itu apa?"


"Jalan-jalan." jawab Rania sekenanya.


"Oh, ...


"Tapi jangan kasih tahu papa saya di sini ya?"


"Lho, kenapa?"


"Saya kan lagi kabur. Masa udah ketahuan?"


"Memangnya neng mau berapa hari kaburnya?" Hamdan malah bertanya.


"Dih, masa ada kabur di rencanain berapa harinya?"


"Ya biar bapak siap-siap."


"Siap-siap untuk apa?"


"Siapin semuanya, biar neng betah kaburnya." pria tua itu tertawa.


"Bapak ada-ada aja deh? nggak tahu berapa lama. Bisa seminggu, sebulan atau setahun. Asal nggak ada yang nemuin, saya pasti lama di sini."


"Ya udah kalau gitu." Hamdan memberi isyarat kepada istrinya.


"Kalau gitu Ambu pulang dulu ya? nanti malam kesini lagi nemenin neng."


"Nggak apa-apa gitu?"


"Nggak apa-apa, di rumah juga nggak ada temen. Cucu pada ke kota semua."


"Ya udah."


"Neng kalau mau istirahat di atas aja, udah Ambu beresin kamarnya. Tasnya udah di atas juga."


"Ya oke." Rania menurut, dia segera beranjak menaiki tangga ke lantai dua. Berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa letih setelah perjalanan panjang dan berliku.


"Udah ke atas belum si nengnya?" Hamdan berbisik sementara istrinya memperhatikan Rania di dekat tangga.


"Udah Bah."


"Awasin terus." pria itu megeluarkan ponsel daru saku celananya.


"Abah mau apa?"


"Ngasih tahu Den Angga kalau anaknya udah sampai."


"Tadi kan si Neng bilangnya jangan kasih tahu siapa-siapa?"


"Tapi dari kemarin den Angga bilang kalau anaknya datang suruh kasih tahu."


"Kita bohong sama neng Rania?"


"Demi keselamatan dia Mbu."


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


huh, selamat-selamat.😂😂