
🌹
🌹
Mereka tiba di kota Bandung ketika malam mulai beranjak larut. Sengaja, ingin menikmati suasana malam kota kembang pada akhir pekan seperti saat-saat dulu ketika mereka belum menikah.
Alun-alun kota menjadi tempat pertama yang mereka singgahi, dan seperti biasa keduanya segera menuju ke spot jajan.
ANEKA SEBLAK jadi stand pertama yang mereka kunjungi. Bukan, sebetulnya Rania yang memaksa Dimitri untuk memesan makanan khas kota itu terlebih dahulu. Meski sebenarnya enggan, namun tak urung juga pria itu menurutinya.
"Seblak komplit level 30 mang." ucap Rania kepada si pedagang.
"Jangan terlalu pedas Zai." Dimitri mengingatkan.
"Sekali ini aja, aku bosen makanannya nggak pedes melulu dari kemarin." Rania merengek.
"Aku bilang jangan terlalu pedas, bukannya tidak pedas." jawab Dimitri.
"Baiklah, level 25 aja."
"Masih terlalu pedas."
"Kamu nyebelin."
"Ingat apa kata dokter Reyhan, kamu tidak boleh makan makanan yang terlalu pedas. Bayi kembar kita tidak tahan. Ingat minggu kemarin apa yang kamu alami?" pria itu kembali mengingatkan saat Rania harus di larikan ke rumah sakit karena mengalami kontraksi palsu, yang belakangan di ketahui di akibatkan oleh makanan pedas yang di konsumsinya. Yang sebetulnya sedikit mengganggu saluran pencernaannya.
"Kondisimu sekarang ini berbeda dari saat tidak sedang hamil lho, ada beberapa yang harus di kurangi." lanjut Dimitri.
"Hhh ... baiklah." tentu saja Rania ingat bagaimana rasa sakitnya, dan dia harus mengalah. Bayi mereka lebih penting dari apa pun.
"Level 20 aja mang." katanya.
"Tidak. Level 3 saja." sela Dimitri.
"Nggak mau. Level 15 deh. Lumayan."
"No!"
"10?"
Dimitri menggelengkan kepala.
"Hmm ... 5?"
"Tiga atau tidak sama sekali, dan sebaiknya kita pulang ke apartemen saja. Datang ke tempat ini benar-benar membahayakan anak-anakku." pria itu menarik tangannya seraya bangkit dari duduknya.
"Oke oke, fine. Level tiga aja mang! cepet bikinin yang lengkap. Pakai tulang banteng kalau ada." Rania akhirnya mengalah walau dengan perasaan gusar. Tapi sayang juga jika mereka harus cepat-cepat pulang. Apa artinya datang ke Bandung tanpa menikmati makanan yang satu itu?
Sementara Dimitri tersenyum, merasa berhasil mengendalikan keinginan perempuan itu walau tidak bisa sekaligus.
"Malah senyum-senyum? beli minumannya gih!" ucap Rania.
"Oke, kamu maunya apa? capucinno cincau?"
"Nggak."
"Lho? biasanya itu?"
"Lemon tea aja."
"Lemon tea?" Dimitri mengulangi ucapannya.
"Iya, kayaknya enak dingin-dingin asem."
"Tapi ...
"Rasanya udah ada disini, kayaknya segeeeeeerrrr gitu." dia mengusap lehernya sambil membayangkan minuman dingin dengan rasa asam dan manis itu membasahi tenggorokkannya. Membuat air liurnya hampir saja menetes.
"Hhh ... " Dimitri ingin tetap berhati-hati karena ingat pesan dokter Reyhan, tapi melihat ekspresinya yang seperti itu membuatnya merasa tidak tega.
"Tapi sekali ini saja ya? lain kali tidak boleh." katanya, memberikan syarat.
"Nggak akan ada lain kali, kan perut aku udah gede gini. Kali setelah pulang ke Jakarta kita nggak akan balik lagi ke sini."
Dimitri hanya tersenyum.
"Baiklah, tunggu sebentar." pria itu bangkit untuk memesan apa yang di inginkan Rania.
"Eh, ... bawa uang tunai emang? aku lupa." Rania menahannya sebentar.
"Ada," Dimitri menepuk saku belakang celananya.
"Ya udah kalau gitu."
***
Alun-alun kota Bandung memang selalu menjadi daya tarik bagi siapa pun yang berkunjung. Seperti halnya juga Rania, yang tumbuh sejak kecil di Kota Kembang ini. Dia mengenal seluk beluk kota yang menjadi tempatnya mengetahui banyak hal. Bahkan dari sinilah segalanya berawal sehingga dia menjadi pembalap dunia.
"Sudah puas?" mereka duduk di pelataran alun-alun. Di atas rumput sintetis yang terbentang di sekeliling mereka.
"Udah." perempuan yang tengah hamil 7 bulan itu menganggukkan kepala.
"Jadi, bisakah kita pulang ke apartemen sekarang?" bujuk Dimitri untuk ke sekian kalinya.
"Nggak pulang ke rumah papa gitu?" pinta Rania seperti sebelumnya.
"Sudah malam Zai. Besok saja oke?" pria itu melihat jam di pergelangan tangannya.
"Beneran?"
"Iya. Kasihan mama papamu kalau kita tiba tengah malam begini ke rumah." bujuk Dimitri lagi, dia tak ingin kalah kali ini.
"Ini Teh Rania ya?" seorang pengunjung mengenalinya, setelah beberapa saat meyakinkan diri.
"Mmm ...
"Beneran Teh Rania!" sahut yang satunya lagi. Kemudian orang-orang mulai berkerumun.
"Hamilnya udah besar ya? pantesan nggak ikut balapan lagi?" seorang ibu maju menyapanya.
"Boleh minta foto teh?" seorang remaja pria mendekati.
"Anak saya juga mau!"
"Neng, video call sama ponakan saya!"
"Saya juga lagi hamil, semoga anaknya nanti kayak teteh."
"Nanti setelah lahiran balapan lagi nggak teh?"
"Superbike nggak seru kalau nggak ada teh Rania."
Ucapan-ucapan itu meluncur begitu saja tanpa ada yang bisa membendungnya, dan seketika alun-alun kota Bandung menjadi tempat paling ramai malam itu, hanya karena kehadiran seorang Rania. Berita cepat menyebar di kalangan pengunjung sehingga membuat kerumunan itu pun menjadi semakin besar.
"Maaf, permisi? kami harus pulang. Istri saya harus istirahat." Dimitri menjeda interaksi tersebut sehingga semuanya hampir saja terhenti. Melihat Rania mulai kewalahan menghadapi para penggemarnya yang bejubel memenuhi area tersebut.
***
"Huuh, ... akhirnya sampai juga." mereka tiba di Landmark Apartemen setelah dengan susah payah keluar dari kerumunan.
Bahkan hingga di tempat parkir pun Rania masih di kejar oleh para penggemarnya. Yang meminta foto, tanda tangan, maupun hanya sekedar menyapa saja.
"Padahal kamu sedang tidak balapan, tapi penggemarmu sepertinya semakin banyak saja ya?" ujar Dimitri.
"Hu'um, ... nggak nyangka ya?" Rania menganggukkan kepala.
"Apa lagi nanti, kalau kamu balapan lagi?"
"Masih lama." jawab Rania yang melepaskan jaketnya dan meletakannya di sofa.
"Kamu serius akan balapan lagi setelah ini?" mereka berjalan ke arah kamar yang remang-remang. Tak berniat untuk menyalakan lampunya sama sekali.
"Iya, kan niatnya dulu gitu."
Dimitri terdiam dan memikirkan kembali ucapannya dulu di awal kehamilan.
"Kamu udah janji. Mama juga udah bilang aku boleh balapan setelah lahiran. Dan anak-anak mama yang hadle kalau aku pergi."
Dimitri terkekeh.
"Aku hanya sedikit tidak rela. Beberapa bulan ini kita selalu bersama-sama setiap hari, selain ketika aku sedang bekerja. Dan aku sudah terbiasa. Tapi nanti tiba-tiba kamu sering pergi lagi, bagaimana jadinya aku?" pria itu berujar.
"Ck! kamu lebay."
"Tidak Zai, aku hanya akan sangat merindukanmu." dia merangkul tubuh Rania yang hanya setinggi dadanya. Seraya mengusap perutnya yang sudah membuncit. Kehamilan kembarnya membuat perut Rania terlihat lebih besar dari pada kehamilan pada umumnya.
"Kan masih lama?"
"Tetap saja, Zai." dia menunduk untuk menempelkan kening mereka berdua.
Rania tersenyum, dan kedua tangannya terulur untuk merangkul pundak suaminya.
"Apa masih bisa, Zai?" Dimitri bertanya.
"Apa?"
"Melakukannya?"
"Dokter Reyhan bilang masih boleh. Dan lebih bagus kalau melakukannya lebih sering."
"Hum? kenapa?"
"Akan melancarkan proses persalinan." Rania berbisik, kemudian tersenyum.
"Benarkah?" wajah Dimitri tampak berbinar-binar.
Dan Rania menganggukkan kepala dengan pipinya yang merona.
Kemudian pria itu menggiringnya ke arah tempat tidur sambil melepaskan pakaian mereka berdua. Lalu dia mendorong Rania perlahan sehingga perempuan itu merebahkan dirinya di tempat tidur.
Mereka saling mencumbu, dan saling menggoda. Sama-sama menyulut hasrat masing-masing sehingga keduanya merasa tidak sabar.
"Oh, ... Dim!" erang Rania ketika Dimitri membenamkan miliknya, kemudian mulai menghentak.
"Ngh, ..." dia merasakan sensasi yang begitu hebat, apa lagi ketika pria di atasnya menyentuh perut buncitnya dengan lembut. Menghadirkan perasaan lain yang berbeda dari sebelumnya.
"Aaah, ..." dia terus mendes*h, membuat Dimitri merasa semakin tak karuan. Raut wajahnya semakin menggemaskan, dan dia semakin merasa tidak sabar.
Dua gundukan indahnya terlihat bergerak-gerak terratur seiring dengan hentakannya yang dia coba tahan agar se stabil mungkin. Namun setelah beberapa saat dia tak mampu mempertahankan dirinya.
Dimitri menggeram, merasakan naga ajaibnya yang hampir menyembur. Namun masih berusaha mati-matian dia tahan karena menunggu Rania terlebih dahulu.
Hingga setelah beberapa saat, dan perasaan itu semakin menanjak. Kemudian sesuatu di dalam diri mereka memaksa mendobrak pertahanan keduanya. Dan akhirnya, kedua tubuh yang saling bertautan itu mengejang bersamaan ketika telah mencapai puncak percintaan mereka.
*
*
*
Pelan-pelan pak, lagi hamil besar kan 🙉🙉