All About You

All About You
Iklan



🌹


🌹


Angga memicingkan mata saat melihat mobil yang dia hafal sebagai mobil milik Dimitri sudah terparkir di halaman rumahnya pagi-pagi sekali.


"Ngapain tuh anak udah ada disini aja pagi-pagi?" dia bergumam.


"Kak Dimi nginep kali?" ucap Rega sekenanya.


"Apa??" pria itu setengah berteriak.


"Ish, ... biasa aja kali nggak usah teriak-teriak. " protes bocah itu.


Kemudian mereka turun setelah mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di dekat mobil Dimitri.


"Kak Dim, udah disini aja? nginep ya?" Amel turun terlebih dahulu saat melihat pria yang sudah dikenalinya berada di garasi bersama kakaknya.


"Sembarangan!" Rania menyembul dari dalam garasi.


"Cuma nanya."


"Nggak, baru sampai." jawab Dimitri.


"Kirain nginep?"


"Rajin amat pagi-pagi udah kesini?" sambung Rega.


"Iya, kan mau ke Jakarta."


"Oh iya ya? nggak bisa nonton aku Ikut seleksi timnas dong?"


"Oh ya? kapan?"


"Siang ini."


"Oh, ... nggak bisa. Harus antar kakak kamu ke Jakarta. Mungkin lain kali. Atau kalau kamu tanding sama timnas." jawab Dimitri.


"Belum tentu juga lolos kak."


"Kok gitu?"


"Baru juga seleksi. Kalau udah lolos pasti bisa ikut main di pertandingan."


"Percaya diri aja, pasti kamu bisa." Dimitri membesarkam hatinya.


"Nggak yakin deh."


"Harus yakin."


"Pemain yang lain bagus-bagus."


"Memangnya kamu nggak bagus?"


Rega terdiam.


"Kalau kamu diminta ikut seleksi, berarti kamu bagus. Tinggal usahanya aja harus lebih keras."


"Nggak tahu juga deh."


"Usaha dulu, baru nanti kita bisa lihat hasilnya."


"Kalau nggak lolos gimana?"


"Ya nggak apa-apa. Bisa dicoba lagi nanti. Kalau gagal lagi, ya coba lagi. Coba terus sampai kamu berhasil."


"Yah, ... lama dong."


"Nggak apa-apa, anggap latihan. Karena nggak ada yang instan di dunia ini. Mi instan aja butuh kita rebus dulu baru bisa dimakan."


"Iya ya, Bener juga." Rega tertawa.


"Memang, ... jadi berusahalah dulu, hasilnya belakangan."


Remaja itu mengangguk-anggukkkan kepalanya.


"Ehm... " Angga mendekat setelah menyimak percakapan diantara putra dan calon menantunya tersebut.


"Pak?"


"Udah siap pergi?"


"Mungkin sebentar lagi." jawab Dimitri.


"Sepagi ini?"


"Nggak juga." sahut Rania.


"Tapi dia udah disini aja?" ujar Angga kepada sang putri.


"Kebetulan lewat habis menginap." bohong Dimitri.


"Menginap dimana?"


"Dirumah nenek."


"Hmmm... rumah nenek ya? kirain nginap disini?"


"Tida pak, mana saya berani?" Dimitri terkekeh canggung.


"Iyalah, habis kamu kalau berani nginep disini tanpa izin saya." pria itu melengos ke dalam rumah.


"Duh?"


"Nggak usah diambil hati." Rania menepuk pundak kekasihnya dengan pelan. "Papa sebenarnya baik, tapi nanti kalau udah biasa nggak gitu kok." katanya, sambil tertawa.


"Padahal kita mau nikah, tapi papa kamu masih begitu sama aku?" protes pria itu.


"Biasakan, yang penting bohongnya jangan ketahuan. Kalau ketahuan, habis kamu dihajar papa." Rania tertawa lagi.


"Hahh, ... sebelum papa kamu pun aku sudah kamu hajar duluan?"


"Sabat, sabar. Nanti juga nggak."


"Nggak yakin."


"Ya udah, mau batal? dari pada nikahin aku yang kang pukul ini? mending nyari cewek di klub ajalah, gampang. Bisa diajak bobo-boboan juga nggak kayak aku."


"Apa yang kamu bilang itu?"


"Kamu tadi bilang ngga yakin? ya udah ...


"Stop! Nggak usah dibahas." Dimitri menutup mulut Rania dengan tangannya. "Aku cuma bilang gitu aja, kamu bahasnya ke yang lain-lain."


"Ya makanya...


"Stop! nanti kita malah bertengkar." pria itu memperingatkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jangan ngintip terus kenapa sih? kamu bikin risih deh?" Maharani menginterupsi suaminya yang berdiri di dekat jendela samping memperhatikan putri mereka yang tengah berada di garasi, bersama Dimitri. Mereka tampak bercakap-cakap, dan sesekali tertawa terbahak-bahak.


"Akrab bener mereka itu ya?" pria itu bergumam.


"Ya akrab lah, sama calon suaminya sendiri." jawab Maharani.


"Terlalu akrab." ucap Angga, membuat istrinya memutar bola matanya.


"Kamu mulai berlebihan. Padahal mereka sebentar lagi menikah, tapi tetap nggak bisa merelakan." Maharani mendekat.


"Aku masih nggak rela kalau harus menyerahkan anak kita sama dia."


"Tapi kenyataannya kita harus. Udah sepakat juga kan sama orang tuanya Dimitri? terus masa kita mau batalin? mau di taruh dimana mukanya ayah?" perempuan itu berujar.


"Kok ayah? Rania Kan anak aku?"


"Ya Iyalah ayah. Om Satria kan sepupunya ayah. Kalau kita batalin, ayah yang malu bukan kamu. Kalau kamu kan cuek orangnya. Nah ayah?"


"Dih, ... belain menantunya?"


"Nggak belain."


"Tuh buktinya, malah sampai bawa-bawa ayah juga demi belain si Dimi?"


"Ck! serah kamulah, emang susah ngomong sama cowok patah hati mah." Maharani kembali pada kegiatannya menyiapkan sarapannya.


"Patah hati apaan?" Angga terkekeh.


"Patah hati, mau ditinggal nikah anaknya."


"Dih?" Angga mencebik.


***


"Yang antar aku hari ini siapa?" Rania memulai percakapan saat mereka hampir menyelesaikan sarapannya.


"Papa Hari Ini mau antar Rega seleksi." jawab Angga, tiba-tiba.


"Hah?" putranya sampai terkejut tidak menyangka.


"Iya."


"Beneran?" ucap Rega lagi setelah meneguk air minumnya.


"Iya, papa mau antar kamu selagi bisa."


"Wah...


"Terus Rania?" sela Maharani.


"Mama lagi yang antar?" sang putri bertanya.


"Kayaknya nggak bisa. Besok pagi kan harus antar Amel sama Adel lomba di alun-alun? banyak yang harus mama siapin."


Lalu mereka semua terdiam.


"Kalau nggak papa antar nggak apa-apa?" Angga ragu-ragu, ini pertama kalinya dia hampir melepas putri pertamanya pergi sendiri.


"Sekali ini. Masa papa biarin mama ngantar Rega juga?"


"Nggak apa-apa Kok, kalau nggak bisa. Aku mama yang antar juga nggak apa-apa." Rega menyahut, terdengar kecewa dari nada suaranya.


"Ng ...


"Nggak apa-apa, aku sendiri bisa. Papa antar Ega aja. Kan udah bilang mau antar Ega ya kan?" Rania menangkap raut kecewa di wajah sang adik.


"Beneran?"


"Iya, cuma Jakarta, bukan ke Antartika." gadis itu tertawa. "Lagian udah ada Dimi." katanya, seraya melirik Dimitri yang sejak tadi tidak bersuara.


Angga melirik kepada pria itu. Kentara sekali dia merasa tak suka. Tapi Rania ada benarnya juga. Dan tidak mungkin dirinya membatalkan janjinya kepada Rega untuk mendampinginya menjalani seleksi. Apalagi Menyuruh Maharani mengorbankan waktunya dengan putri mereka yang lain. Akan sangat tidak adil rasanya jika mereka lebih mementingkan Rania yang sudah dewasa dari pada tiga adiknya yang masih kecil.


"Kamu bisa saya percaya?" Akhirnya Angga berbicara kepada Dimitri, walau dengan nada sedikit tegas.


"Bi-bisa pak." jawabnya, yang menyimak sejak tadi.


"Yakin? Kamu nggak akan macam-macam?"


Dimitri mengangguk.


Angga tampak terdiam sebentar.


"Saya pegang janji kamu." katanya, lalu dia bangkit setelah menenggak air minumnya hingga habis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dimitri memastikan pintu bagasi belakangnya tertutup rapat setelah tas terakhir milik Rania dia masukan kedalam sana. Lalu bersiap pergi saat gadis itu berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Jaga diri, jaga kehormatan. Jangan mau kalau dimodusin orang." ucap Angga.


"Apaan sih? pesan papa absurd banget?"


"Pkoknya gitulah."


"Iya iya tahu."


"Hati-hati kak."


"Iya mama, berasa mau pergi perang deh? padahal cuma kerja ke Jakarta."


"Buat orang tua, ngelepasin anaknya sama orang asing berasa kayak mau lepasin anaknya pergi perang." jawab Angga.


"Ish, ...


"Sudah sudah, cepat pergi. Nanti keburu macet." Maharani mendorong putrinya agar dia segera pergi.


***


"Orang tua memang seperti itu ya kalau kita mau pergi?" Dimitri menjalankan mobilnya dalam kecepatan sedang. Lalu lintas pada akhir pekan itu sudah mulai padat.


"Kamu juga gitu?"


"Hu'um. Mama yang begitu."


"Kirain kalau sama anak laki-laki nggak?"


"Sama saja. Mereka masih menganggap kita ini anak TK."


"Emang."


"Padahal kita sudah bisa bikin calon anak TK." Dimitri tertawa.


"Hmm... eh apa itu maksudnya?"


"Mm.. nggak. cuma bercanda."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kurang lebih dua jam mereka menempuh perjalanan, dan tiba di gedung Fia's Secret pada hampir tengah hari. Keduanya segera menuju studio untuk pemotretan dari minuman kaleng yang akan Rania bintangi.


Gadis itu tampak bersemangat, rasa lelah tak mempengaruhinya walau setelah menempuh perjalanan jauh. Segera saja dia bersiap dengan beberapa stylish dan make up artist.


"Rania?" seorang gadis berpenampilan modis datang menghampiri. "Beneran ini Rania?" katanya lagi menatap Rania yang telah selesai di dandani. Make up flawless dan riding suit yang senada dengan tema minuman ringan berlogo lemon yang dia bintangi.


"Anne?"


"Jadi beneran ini Rania?" ucap gadis itu yang ternyata teman semasa SMA nya.


"Kamu Ngapain disini?"


"Aku kerja. Jadi beneran kamu yang jadi modelnya? aku pikir bukan kamu. Aku pikir Rania yang lain."


"Mm...


"Sudah siap?" Dimitri muncul.


"Udah."


"Ya sudah, cepatlah." pria itu mengulurkan tangannya, lalu menuntunnya keluar dari ruang makeup. Dengan dandanan yang sempurna tentu saja membuat semua orang tampak terkagum-kagum.


Pemotretan dimulai dengan properti motor seperti biasa, dan beberapa minuman kaleng yang cukup terkenal. Puluhan kali sang fotografer mengambil gambar dari angel yang berbeda-beda. Dan Rania tampak sudah mahir melakukannya. Dia bahkan kadang sedikit berimpovisasi, menghasilkan gambar yang cukup mengesankan.


Di sesi Kedua gadis itu kembali melakukan pemotretan untuk merk baju terkenal milik Sofia Anna.


Soft Clothing yang sebelum peluncuran resminya pun telah menerima banyak pesan di awal setelah satu kali pra iklan di majalah tersebut.


Beberapa pakaian santai, seperti jeans dan kaus dengan warna-warna lembut, membuat gadis itu tampak manis dan imut. Atau pakaian lainnya yang lebih feminim, seperti baby doll dan gaun-gaun simple ala anak muda yang belum pernah dia kenakan sama sekali. Jangan lupa juga sepatu dengan merk sama dari rumah mode milik calon mertuanya itu.


Walau gadis itu awalnya merasa canggung karena harus mengenakan pakaian dengan style feminim yang tidak sesuai seleranya, namun bukan Rania namanya jika dia tak bisa menguasai keadaan.


Dia membuat pria yang sejak tadi mengawasi pemotretan hampir tak berkedip sedikitpun. Pertama kali melihat Rania dalam tampilan seperti itu membuat perasaannya bertambah besar saja.


"Selesai, terimakasih." sang fotografer berucap, dan segera saja tepuk tangan menggema di seluruh studio berukuran 8x8 meter itu, saat pemotretan untuk beberapa iklan selesai pada hampir petang itu.


"Ini pak, semua pakiannya. Mau saya masukan ke mobil?" Anne menarik sebuah tas besar.


"Boleh, nanti minta bantuan yang lain saja ya, sepertinya berat." jawab Dimitri.


"Apa itu?"


"Pakaian yang tadi kamu pakai untuk pemotretan."


"Mau dibawa kemana?"


"Dibawa pulang ke Bandung lah, nanti."


"Kenapa?"


"Kan sudah jadi milik kamu."


"Hah?"


"Endorse dari mama." ucap pria itu, dengan senyum khasnya.


"Dari bu Fia?"


"Mama."


"Iya, bu Fia."


"Mama Zai. sebentar lagi jadi Mama kamu juga."


"Mmm...


"Kamu mau pulang dengan penampilan itu atau mau ganti baju dulu?" Dimitri menatap gadis itu yang masih memakai gaun satin selutut berwarna biru muda yang pundaknya terbuka. Terlihat menggemaskan bagi dirinya yang sedang dilanda asmara.


"Sudahlah, tidak usah kamu ganti. Kamu cantik." Dimitri terkekeh.


"Ish, ... geli aku denger kamu ngomong gitu."


Namun pria itu hanya tertawa, sementara orang-orang yang berada di sekitar mereka hanya menatap dengan raut heran.


***


"Cepetanlah, aku capek." Rania keluar dari ruang ganti dengan skinny jeans dan jaket kulit hitamnya seperti biasa. Menghampiri Dimitri yang tengah bercakap-cakap dengan seseorang setelah menerima kertas-kertas yang cukup banyak.


"Baik, ayo."


"Kamu udah selesai?"


"Sudah."


Lalu merekapun berjalan berdampingan keluar dari studio.


"Sebentar." Rania menghentikam langkahnya tepat sebelum mencapai pintu keluar gedung majalah wanita terkenal itu.


"Anne? Kamu masih disini?" dia kembali menyapa teman semasa SMAnya itu.


"Iya, kerjaan aku masih banyak."


"Pemotretan? atau syuting iklan?"


Anne terdiam.


"Anne, kerjaan kita masih banyak!" seseorang berteriak dari gudang.


"Bukan. Aku staf wardrobe baru di gedung ini." ucap Anne, dengan nada sendu yang kemudian berlari mengikuti partner kerjanya.


"Kamu kenal dia?" Dimitri mengikuti pandangan gadis itu.


"Kenal. Dia temen aku waktu SMA, dulu dia pernah bawa aku ke agensi model juga. Nggak nyangka dia malah jadi staf wardrobe disini." jawab Rania, dengan suara tak kalah sendunya dari Anne.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


votenya masih adakah? 😂😂