
πΉ
πΉ
Matahari sudah menghangat walau masih setengah bersembunyi di balik gugusan perbukitan teh wilayah puncak. Menggugurkan embun di dedaunan sedikit demi sedikit, mengusir kabut yang sejak semalam menyelimuti tempat itu hingga nampaklah semua yang berada di sana.
Sementara Rania telah terjaga sejak subuh walau dia tak beranjak dari tempat tidur sama sekali. Rasa dingin membekukan membuatnya tetap bergelung di bawah selimut hingga langit benar-benar terang benderang.
Satu-satunya yang membuat dia turun dari tempat tidurnya adalah rasa lapar yang mendera, dan membuatnya merasakan mual yang hebat.
"Neng, kata Ambu makanannya di antar agak siang. Abahnya juga tadi subuh habis jaga villa langsung pergi ke kota." pesan masuk dari nomor tak dikenal ketika dia menyalakan ponselnya.
Astaga! malah gue nyalain lagi, kalau nanti kelacak sama orang-orang gimana? lalu dia segera mematikan ponselnya yang sejak sore kemarin manyala.
Rania tak berniat membalasnya sama sekali, namun dia segera bangun untuk membersihkan diri.
***
Rania memutuskan untuk keluar dari villa dan berjalan menyusuri jalanan desa yang cukup ramai. Orang-orang telah memulai kegiatan mereka pagi itu, yang sebagian besarnya merupakan para perempuan pemetik teh di perkebunan setempat. Sementara yang lainnya adalah pria-pria yang hendak pergi ke ladang, dan anak-anak yang pergi bersekolah di ujung desa.
"Teteh mau kemana?" salah seorang anak yang mengenalinya menyapa.
"Mau ke rumahnya pak Hamdan. Tapi lupa habis dari sini ke mana lagi." Rania menjawab, dan bersamaan dengan itu seorang pemuda tinggi dengan stelan olah raga berlari melewatinya.
"Rumahnya abah lurus ke sana, nanti ada pohon mangga di depan, masuk aja. Tuh ada aa aa yang lari ke sana." jawab anak tersebut seraya mengarahkan telunjuknya ke depan sana.
"Nggak jauh?"
"Nggak. Tuh pohon mangganya kelihatan dari sini. Yang aa itu masuk." jawab si anak.
"Oh. ... okelah kalau gitu." Rania mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dia berjalan ke tempat yang di tunjuk setelah anak-anak itu berpamitan.
***
"A ..." dia hampir saja berteriak untuk memanggil penghuni rumah, namun tiba-tiba saja ingat ucapan sahabatnya.
"Ehm ..." Rania pun berdeham.
"Punten, assalamualaikum." dia mencoba untuk menggunakan suaranya setenang mungkin.
"Assalamualaikum." katanya lagi ketika tak ada sahutan dari dalam rumah.
"Punten, Ambu?" dia menambah volume suaranya.
"Ambu, ini Rania." dia melihat sekeliling tempat itu yang tampak sepi.
"Assalamualaikum, pun ..." kemudian pintu terbuka dari dalam. Dan wajah yang cukup asing muncul dari celah yang terbuka.
Mereka berdua sama-sama tertegun. Rania bahkan memindai pemuda yang berdiri di hadapannya, yang kepalanya hampir saja menyentuh bingkai pintu di atasnya.
Pria sipit berkulit putih dengan rambut agak kecoklatan yang tampak kontras dengan keadaan di sekitarnya. Mengenakan jogger hitam dan hanya singlet yang menutupi tubuh bagian atasnya.
"Ya?" ucap pemuda tersebut.
"Eee ... ambunya ada?" dia baru ingat, mungkin ini cucu si penjaga villa yang kemarin dia ceritakan. Namun dirinya tak yakin, dan sekali lagi Rania menatap wajah pemuda tersebut.
"Ini rumahnya pak Hamdan sama Ambu Mimih bukan ya?" dia bertanya lagi, meski mengira akan mendapat jawaban yang mungkin dengan bahasa yang tidak dia mengerti.
"Iya." jawab pemuda tersebut.
"Mmm ... saya mau ...
"Ambuuuuu!!! ada Rania!" diluar dugaan, pemuda itu kembali ke dalam rumah dan berteriak kencang.
"Duh?"
Kemudian seorang perempuan seumuran kakeknya berjalan tergopoh-gopoh dari dalam sana.
"Gustiii, si Neng malah ke sini? padahal ambu ini mau berangkat. Kelamaan nunggu ya? udah lapar?"
"Nggak juga, cuma tadi sambil jalan pagi aja." jawab Rania sambil terkekeh.
"Padahal mah tunggu aja di villa, ini ambu habis bersih-bersih dulu. Sambil nunggu Gaza pulang lari, takutnya kalau ambu pergi duluan dia nyariin."
Rania melirik pemuda di belakang perempuan itu yang tampak sibuk dengan ponsel dan headsetnya. Merebahkan tubuh tingginya di kursi malas dekat jendela.
"Gaza, ini yang ambu ceritain semalam." dia menarik Rania ke dalam rumah sederhananya yang tampak asri. Yang di kelilingi pekarangan luas yang berfungsi sebagai kebun sayuran dan terdapat banyak pohon buah-buahan. Sementara di belakangnya tampak kebun teh yang terhampar luas sejauh mata memandang.
"Hmm ..." sementara Gaza hanya bergumam.
"Jadi abah dan ambu nggak bohong kan?" ucapnya kepada sang cucu.
"Yeah, baiklah." pemuda itu menjawab seraya melirik sekilas kepada Rania, kemudian kembali pada ponsel pintarnya.
"Dia nggak percaya kalau abah sama ambu kenal sama pembalap motor idolanya." ucap Mimih kepada perempuan itu.
"Hah?"
"Dia bilang abah sama ambu bohong setelah bilang kalau neng Rania cucunya yang punya villa. Tapi itu berhasil bikin dia datang ke sini karena mau membuktikan ucapan abahnya." dia tertawa.
"Ooo ..." Rania menganggukkan kepala dengan mulut kecilnya yang membentuk huruf O.
"Ya udah atuh, neng mau makan di sini atau pulang ke villa lagi?" Mimih kemudian bertanya.
"Disini aja lah."
"Ya udah, ambu siapin."
***
Satu wadah nasi hangat dengan beberapa macam lauknya terhidang di meja. Sepiring ayam goreng, beberapa buah tahu, juga sayuran hijau yang Mimih petik di kebun belakang rumah mereka. Tidak lupa dengan sambal yang tampilannya begitu menggugah selera, membuat Rania hampir meneteskan air liurnya.
"Gaza, mau ikut makan?" tawar Mimih kepada cucunya.
Pemuda itu tak menjawab, namun dia bangkit dan mengenakan kausnya, lalu menghampiri mereka yang sudah siap di meja makan. Duduk di samping sang nenek yang tengah mengambilkan makanan untuk mereka.
"Ayam kampung, mbu?" Gaza bertanya.
"Iya, seperti yang kamu suka." jawab neneknya.
"Arigatou." pemuda itu menganggukan kepalanya dengan penuh hormat.
"Tapi nggak ada ikan salmon, belinya jauh. Apa lagi sushi. Ambu nggak bisa bikinnya."
"Tidak apa-apa." sang cucu menjawab.
Mimih tampak tersenyum seraya menyerahkan piring kepada mereka berdua. Kemudian mereka makan dalam diam.
Sesekali Gaza melirik kepada perempuan di seberangnya. Meyakinkan jika dia memang benar pembalap itu yang akhir-akhir ini sepak terjangnya di dunia balap motor dia gandrungi. Begitu juga teman-teman satu tongkrongannya di kampus.
Dia tak percaya akan bertemu secara langsung dengannya, seperti halnya juga dia tak mempercayai ucapan sang kakek. Gaza mengira itu hanya akal-akalan Hamdan saja agar membuatnya mau datang berkunjung setelah hampir lima tahun tak bersua.
"Bapak kemana sih, tadi pulangnya juga saya nggak tahu?" suara Rania membuyarkan lamunannya.
"Ke kota, ada perlu."
"Perlu apa?"
"Kurang tahu."
Rania terdiam.
"Makannya tambah lagi Neng?"
"Nggak Mbu, udah kenyang." tolak Rania.
"Tumben makannya sedikit?"
"Mungkin karena babynya udah makin gede, tapi nanti sebentar lagi juga laper lagi." Rania mengusap perutnya yang tampak membuncit. Dua bayi di dalam sana memang membuat kehamilannya tampak lebih menonjol dari kehamilan pada umumnya. Kemudian dia meneguk air minumnya dan membersihkan tangannya.
"Kamu ... pregnant?" Gaza akhirnya bersuara.
"Iya." Rania menganggukkan kepala.
"Oh, i see. Thats why kamu tidak ikut balapan musin depan?" pemuda itu antusias.
"Ya."
"Oh, ... i thought you are another girl. Tapi ternyata ini benar kamu." Gaza dengan raut riang.
"Memang."
"Benar kan? dari kemarin nggak percaya ambu bilang?" Mimih menyela percakapan.
"I thought that she was lie, just to make me come. ( aku pikir dia berbohong hanya untuk membuatku datang)." pemuda itu tertawa.
Sementara Rania menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Why?"
"Kamu ngerti bahasa Indonesia?" perempuan itu bertanya.
"Iya."
"Bisa." Gaza menganggukkan kepalanya.
"Ya udah, ngomongnya pakai bahasa Indonesia aja, jangan di campur. Aku pusing." keluh Rania yang membuat pemuda di seberangnya tertawa terbahak-bahak.
"Serius, kalau bisa mah pakai bahasa Sunda aja. Kata pak Hamdan kamu bisa. Aku bakal lebih ngerti." lanjut Rania tanpa canggung.
"Nah kan, udah akrab aja. Kalau gitu ambu tinggal ke belakang sebentar ya?" sang nenek kembali menginterupsi.
"Oke." keduanya menjawab bersamaan.
***
"Suami kamu ... ada?" pemuda itu bertanya. Kini mereka tiba di depan villa setelah sang nenek memintanya untuk mengantarkan Rania, sekaligus membawakan satu wadah berisi makanan untuk siang dan sore nanti.
"Nggak ada."
"Why?"
"Dia di Jakarta."
"Dan kamu ... vacation sendirian di sini?" Gaza memiringkan kepalanya.
"Begitulah."
Pemuda itu kemudian terdiam.
"Mau masuk?" tawar Rania kepadanya.
"No. Ambu bilang aku cuma harus memastikan kamu sampai di villa dengan selamat." tolak Gaza.
"Oh, ... oke kalau gitu." Rania mengulurkan tangannya untuk menerima kotak makanan yang di sodorkan Gaza.
"Lagian ambu kamu tuh repot amat. Kenapa juga masaknya nggak di sini aja sih?" Rania bergumam.
"I don't know." sementara Gaza menggendikkan bahu.
"Kan repot jadinya."
"Got to go now." ucap pemuda itu kemudian seraya berjalan mundur.
"Oke lah."
"Oke, see ya."
"Hmm .." Rania segera masuk kedalam villanya.
Namun perempuan itu seketika tertawa saat melihat Gaza yang berjalan sambil berjingkrak dan tertawa sendirian. Wajahnya yang memerah tampak riang dan dia terlihat begitu gembira.
πΉ
πΉ
Dimitri tertegun menatap layar ponselnya setelah melihat nomor kontak Rania yang sempat online kira-kira lima jam yang lalu. Dan dirinya kembali merasa gusar karena dia tak sempat menghubunginya.
Fokusnya hari ini benar-benar teralihkan. Bukan karena pekerjaan, melainkan karena dirinya kembali melanjutkan pencarian.
Jakarta tak memberinya banyak harapan, begitu juga area di sekitarnya. Membuatnya memutuskan untuk kembali ke Bandung untuk memulai lagi. Walau beberapa orang suruhannya tetap melaporkan tak menemukan keberadaan perempuan itu.
Alat pelacaknya menemukan nama sebuah perkampungan di daerah Bogor, yang tidak dia duga sama sekali. Padahal dirinya hampir saja menyerah dan memutuskan mendatangi kediaman Angga karena dirinya hampir kehabisan waktu.
Astaga Zai, sampai sejauh ini kamu lari? hingga tidak ada siapa pun yang bisa menemukanmu? batinnya bermonolog.
"Jadi, kamu menyerah?" Angga bersedekap di depannya. Dia baru saja kembali dari suatu tempat dan menerima kedatangan menantunya begitu tiba di rumah.
"Papa pasti tahu sesuatu." Dimitri berujar.
"Soal apa?"
"Soal keberadaan Rania."
Angga mendengus kasar.
"Bercanda ya? yang lebih tahu dia kabur siapa? sedangkan saya tahu dari orang tua kamu."
Namun Dimitri menggeleng pelan, kemudian dia meletakan ponsel di atas meja, lalu menggesernya ke arah mertuanya.
"Dimana ini?" katanya.
"Tidak tahu." Angga menggendikkan bahu, meski dirinya merasa terkejut juga karena pria muda di depannya dapat menemukan putrinya.
"Papa sengaja mau memisahkan aku dengan Rania?"
Angga bergeming.
"Pah!"
"Buat apa saya memisahkan kalian? tanpa saya pisahkan pun kamu sudah berbuat kebodohan sehingga anak saya meninggalkan kamu." Angga akhirnya menjawab.
"Itu salah faham! tidak di sengaja sama sekali!" Dimitri lagi-lagi menjelaskan situasi awal dari perseliasihan tersebut. Yang tampaknya akan sulit menemukan ujungnya. Terutama karena sang mertua sudah ambil bagian di dalamnya.
"Tetap saja kamu sudah berbohong. Dan itu membuktikan ..
"Membuktikan apa? diantara aku dan Ara tidak ada apa-apa, mengapa kalian tidak percaya?"
Angga menatapnya dengan raut dingin.
"Kamu tahu, sejak awal saya tidak setuju jika Rania kamu nikahi. Saya merasa kamu tidak akan bisa memperlakukannya dengan baik. Dan hal itu terbukti, bukan? kamu bahkan tidak menganggap keberadaannya padahal keluargamu sendiri yang mengadakan acara perayaan itu untuknya. Mereka terlihat sangat menyayangi dia. Yang awalnya itu terasa melegakan. Tapi kenyataannya? tidak usah saya jelaskan pun, kamu pasti mengerti." pria itu dengan suara bergetar.
"Dan feeling saya benar." geramnya kemudian.
"Harus berapa kali aku katakan? aku melakukan itu hanya untuk menjaga perasaannya. Aku takut dia tersinggung jika aku mengatakan bertemu dengan Ara malam itu." Dimitri menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa.
"Tapi nyatanya? dia lebih marah ketika tahu kamu telah berbohong!" Angga menjawab.
"Menurut kamu itu hal kecil? lantas kenapa dia bisa sampai seperti itu? kamu anggap Rania berlebihan? perasaannya sepele? dari sini saja saya fahami kalau kamu memang tidak sebaik itu."
"Pah, ...
"Kamu tahu, banyak hal yang sudah anak saya korbankan hanya demi laki-laki seperti kamu. Dia meninggalkan semua yang dia suka, menunda cita-citanya, mimpinya, dan segala yang dia rencanakan hanya untuk kamu. Dan kamu anggap itu semua sepele? dimana perasaan kamu?"
"Apa yang kamu korbankan untuk anak saya?"
"Kehidupan gemerlap? foya foya? saya rasa itu bukan pengorbanan, tapi sebuah keharusan. Karena pada dasarnya pilihan kalian memang mengharuskan untuk seperti itu."
"Kamu tahu, bisa saja saya menyuruh Rania untuk meninggalkan kamu sekarang ini. Dia pasti menurut. Dia mampu menghidupi dirinya sendiri tanpa kamu, dan saya yakin dia akan lebih bahagia. Dia bebas pergi ke mana pun, bebas melakukan apap pun, tanpa harus terbelenggu bersama kamu."
"Pah!" Dimitri menghiba. Semakin lama kata-kata Angga terasa semakin menyakitkan.
"Tapi itu bukan hal yang benar untuk di lakukan, karena memutuskan ikatan pernikahan itu sama saja dengan membunuh anak saya sendiri."
Dimitri membisu.
"Rania itu tidak pernah dekat dengan laki-laki selain saya sama Galang. Malah dulu mereka sempat mau saya jodohkan. Saya tahu, Galang akan menjaganya dengan baik karena dia sangat mengenal Rania dari kecil. Tapi takdirnya nggak begitu. Tahu-tahu dia ketemu kamu. Saya bisa apa?"
"Dia memang banyak kekurangan, selain tidak seperti perempuan lain juga juga tidak bisa melakukan apapun selain mengendarai motor dan mengutak-atik mesin. Kamu sudah tahu itu sejak awal karena dia tidak menutupi apapun. Tapi dia putri kami, dan kami mencintai dia tanpa peduli bagaimana keadaannya. Jadi ... jika tidak bisa menerima keadaannya yang seperti itu, kembalikan dia baik-baik kepada kami." Maharani pun buka suara, membuat wajah Dimitri memucat.
Semua orang menyudutkannya tanpa mau menerima penjelasannya, dan kini masalahnya menjadi semakin melebar saja.
"Jadi, carilah dia sekarang. Temukan dia, dan biarkan dia yang memutuskan." Angga berujar, sementara Dimitri masih membeku di tempatnya.
"Ini villa milik kakeknya di daerah puncak." akhirnya dia mengatakannya juga. Merasa tak tega melihat raut putus asa di wajah menantunya.
"Setidaknya usaha kamu akan menghasilkan sesuatu." lanjutnya, yang menggeser ponsel milik Dimitri setelah mengetikkan alamat lengkap dari villa yang jadi tempat persinggahan putrinya.
Sedangkan Dimitri mengangkat kepala dan menatap kedua mertuanya dengan perasaan tidak percaya.
"Pergilah sekarang, jangan sampai Rania menunggu terlalu lama." lanjut Angga yang kini suaranya lebih tenang.
πΉ
πΉ
πΉ
Bersambung ...
Gaskeun bang!! jan kasih kendor!ππ
like komen sama hadiahnya jangan lupa, buat bekel aa Dimi jemput si Onengπ
lope lope sekebon cabe.π
meet Aa Kento, eh maksudnya Gaza Yamazaki. cowok blasteran Bogor-Jepang π