
🌹
🌹
Dimitri mengerjap saat merasakan wajahnya yang tersentuh air dingin, namun terasa asin di lidah. Dia kemudian benar-benar membuka mata, dan perlahan mengangkat kepalanya yang tertelungkup di atas pasir di pinggir pantai.
Hari hampir petang, terlihat dari langit yang meredup dengan sedikit cahaya jingga bercampur kuning dan kemerahan dari jejak matahari yang hampir tenggelam.
Perlahan Dimitri bangkit, lalu melihat sekeliling. Dia berada di tempat yang sepi, sebuah pulau sunyi yang kemungkinan tak berpenghuni. Hal itu terlihat dari tak adanya tanda-tanda kehidupan di sana, selain burung camar yang hinggap di pepohonan, dan beberapa ekor kera yang tampak berembunyi. Karena jika ada manusia, sudah tentulah ada yang menyadari keberadaannya.
Pria itu menyugar rambutnya yang basah, dan mengusap wajah pucatnya yang dipenuhi pasir. Beberapa lukan gores bahkan membuatnya sedikit meringis karena perih ketika air laut mengenainya. Dia tertegun, dan baru mengingat orang lain yang mungkin ada bersamanya.
"Om Andra!" gumam Dimitri seraya melepaskan pelampung dari tubuhnya.
Dan dia kembali melihat sekeliling, kalau-kalau asistennya itu berada di sana juga bersama dirinya. Terakhir kali mereka bersama ketika ombak besar menghantam perahu karet yang mereka tumpangi dengan keras hingga terbalik dan membuat semua penumpang di dalamnya berhamburan.
Namun Andra tak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya. Bahkan saat mereka terombang-ambing di lautan, pria itu terus mendorongnya agar menemukan sesuatu untuk di pegang, yang mungkin dapat membawa mereka ke daratan.
"Bertahan Dim! kamu harus selamat!" kalimat yang berkali-kali di ucapkannya terngiang-ngiang di telinga.
"Om Andra!" Dimitri berteriak, namun malah sahutan burung dan kera yang terdengar.
Dia berjalan sambil melepaskan sepatu dan jasnya yang basah kuyup, ponsel di dalam sakunya bahkan sudah tak bisa dinyalakan lagi karena terendam air dalam waktu yang cukup lama. Padahal di dalamnya ada alat pelacak yang sengaja di pasang oleh Andra, sama seperti yang pria itu lakukan pada ponsel miliknya, agar jika sesuatu terjadi, maka seseorang di rumah dapat melacak keberadaan mereka.
"Om Andra!! Dimana Om!" dia berteriak lagi, meski mungkin usahanya sia-sia, namun Dimitri tak bisa jika tak melakukannya.
Langkahnya tersaruk-saruk menyisir bagian demi bagian bibir pantai yang air lautnya telah pasang. Dia mencari, diantara bebatuan juga pohon tumbang, berharap asistennya itu berada di sana. Entah terjepit ataupun tesangkut.
Hampir satu jam Dimitri mencari, hingga dia berjalan cukup jauh dari tempatnya terbangun. Dia bahkan hampir putus asa setelah tak menemukan tanda-tanda keberadaan Andra, yang akhirnya membuatnya ambruk di atas pasir. Dia kemudian terlentang dan menatap langit.
Seumur hidupnya, Dimitri tak pernah merasa sulit seperti ini. Dia tak pernah mengalami kesusahan, apa lagi sendirian. Akan selalu ada orang yang mendukungnya, baik itu dalam keadaan senang ataupun sedih. Akan selalu ada yang membantunya melewati kesulitan. Dan akan selalu ada yang menemaninya bagaimanapun keadaannya. Tapi kini? dia bahkan tak tau dirinya sedang ada di mana.
Bayangkan jika suatu hari, kamu dalam kesulitan. Tak ada siapa pun yang bisa di mintai pertolongan, dan hanya ada satu hal saja yang kamu punya.
Dia seperti mengingat ucapan seseorang, membuatnya tertegun untuk waktu yang cukup lama.
"Rania!" des*hnya seraya memejamkan mata saat mengingat perempuan itu, kemudian dia menitikan air mata.
"Maafkan aku." gumamnya, yang menyeka kedua matanya yang basah.
Tiba-tiba saja bayangan pertengkaran dan perselisihan di antara mereka berkelebat di pelupuk mata. Semua yang dia ucapakan dan yang Rania ucapkan menjadi hal yang paling berisik di dalam kepalanya. Bagimana dirinya terus membela diri, sementara Rania terus berteriak menyudutkannya atas kesalahan-kesalahan yang tanpa sengaja di buatnya. Dan bagaimana perempuan itu selalu bertindak di luar kebiasaan perempuan pada umumnya. Yang sempat membuatnya jengah bahkan melontarkan keluhan. Dan ketidak pekaannya menjadi alasan untuk menghindar. Namun saat ini, hal itulah yang paling dia rindukan.
Aku tidak punya apa-apa sekarang, dan aku bahkan tidak tahu sedang berada di mana sekarang ini. Batin Dimitri. Dan air yang hangat kembali mengalir dari sudut matanya.
Oh, ... jika saja aku selamat hari ini, aku berjanji akan melakukan yang seharusnya aku lakukan, Rania. Aku janji. Aku tidak akan menuntutmu melakukan banyak hal, dan aku tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi.
Langit semakin meredup, dan matahari semakin tenggelam. Air lautpun semakin pasang namun Dimitri tak tahu sama sekali apa yang harus di lakukan. Yang dia inginkan hanyalah pulang.
Tapi bagaimana caranya? Dibelakangnya hanya ada pulau yang sepi, sementara di sekelilingnya merupakan perairan yang sangat luas, yang tak mungkin dapat dia lewati hanya dengan berenang saja.
Dia bangkit, kemudian menaiki salah satu batu yang cukup besar yang hampir terendam air laut yang pasang. Mencari tahu jika saja ada sesuatu yang dapat di perbuat untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Dan benar saja, pria itu adalah Andra. Asisten utamanya, pemegang kekuasaan kedua di Nikolai Grup setelah dirinya.
"Om Andra!" Dimitri menyeret tubuh pria 43 tahun itu ke daratan. Kemudian membaringkanya di atas pasir, lalu memeriksa keadaannya.
Dimitri memeriksa napasnya lewat hidung, dia sepertinya tak bernapas. Kemudian memeriksa denyut di lehernya. Terasa ada denyutannya, walau agak lemah, sementara kulitnya memucat dan terasa dingin.
"Tidak! om Andra, bertahanlah!" katanya, yang kemudian melakukam pertolongan pertama.
Dimitri melakukan hal yang pertama kali diingatnya. Dia meletakan kedua tangannya di area di antara perut dan dada Andra, kemudian menekannya cukup keras. Dan dia mengulanginya untuk beberapa kali. Hingga akhirnya sang asisten memuntahkan cukup banyak air bercampur pasir dari mulutnya, dan Andra perlahan tersadar.
"Om!! syukurlah!" Dimitri pun bereaksi, dirinya berhasil membuat pria itu tersadar.
Berkali-kali Andra memuntahkan air yang memenuhi perutnya, juga yang sempat dia hirup ketika mencoba menyelamatkan Dimitri di tengah arus laut yang menghantam keduanya. Hingga akhirnya pria muda itu berhasil mencapai bibir pantai. Namun arus yang cukup kuat malah menariknya kembali dan membuat mereka terpisah hingga dirinya terdampar di sisi lain pulau.
"Kamu selamat Dim? kamu baik-baik saja?" Andra tersadar setelah beberapa saat. Dia memeriksa keadaan Dimitri dengan teliti.
Membuat pria muda itu kembali terdiam dengan matanya yang berkaca-kaca. Bahkan di saat dirinya hampir kehilangan nyawa pun Andra masih memikirkan keselamatan orang lain. Dedikasinya pada pekerjaan memang sungguh luar biasa.
"Dim! kamu baik-baik saja?" ulang Andra yang kembali memeriksa tubuh atasannya itu untuk memastikan keadaannya.
"Aku ... baik-baik saja Om, hanya ...
"Syukurlah, ..." Andra bernapas lega. "Itu yang penting, ... keselamatanmu." katanya, dan dia kembali menjatuhkan tubuh lelahnya di atas pasir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa ... kita akan selamat? aku bahkan tidak tahu sekarang kita ada di mana." mereka berbaring di atas pasir, dengan pakaian yang masih basah dan tanpa alas apa pun. Keadaan bahkan sudah menggelap, dan suasana benar-benar hening. Hanya suara ombak saja yang terdengar di sekitar mereka.
"Kita masih hidup, bisa di pastikan kita akan selamat." Andra menjawab.
"Apa orang-orang di rumah akan menyadari keadaan kita?"
"Tentu saja, sinyal darurat dari pesawat pasti sampai ke menara pengawas, dan mungkin saja sekarang ini orang-orang sedang mencari kita."
Dimitri menoleh kepadanya.
"Kalaupun tidak, kita akan berusaha pulang dengan cara apa pun." ucap Andra, dengan semangatnya yang masih tersisa. Walau sejujurnya dirinya pun tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Namun satu hal, keselamatan mereka sudah lebih baik dari apa pun. Dan yang paling penting adalah Dimitri masih bersamanya, selamat dan baik-baik saja.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
kopi, bunga, kursi pijat, piala, atau apapun otor butuh nih buat nambah semangat up. Selain like sama komen tentunya. 😉😉
lope lope sekebon cabe 😘😘