
Sehari sebelumnya dua kota besar yaitu Metrocity dan DA membuat geger seluruh negara itu , bagaimana tidak , kota yang biasanya aman dan damai tiba-tiba saja berubah menjadi lautan darah karena perang antar geng mafia yang bahkan sudah ada sejak beberapa tahun ini.
Berita mengenai situasi terkini di dua kota besar itupun ramai diperbincangkan di layar kaca.
" Ternyata sudah selesai . jadi apa kita bisa pulang lagi ? " tanya Vero pada Nana karena sama-sama menonton berita itu.
" Ya mungkin aja bisa . Tapi kita tunggu kabar dari mereka dulu " jawab Nana.
Saat ini kedua wanita itu sedang ada di salah satu rumah milik Arta , kakak Nana tentu saja bersama putri-putri mereka.
" lah , dimana Yana dan Gita ? " tanya Arta
" Dua bocah itu ada di kolam samping , lihat ikan katanya " ucap Nana sedangkan Vero masih merasa canggung dan aneh dengan Arta.
" kolam samping ya .. ehmm.. yaudah deh , dek tolong tanyain dong . mereka mau ikut kakak ke festival gak ? " ucap Arta pada adiknya.
" emang udah mulai kak ? " tanya Nana
Arta mengangguk , Nana pun langsung senang bak anak kecil yang baru mendapat mainan kesukaan nya.
" senang banget sih " ucap Arta mencubit pipi adiknya.
Sedangkan Vero hanya diam dan menonton kedekatan dua bersaudara itu.
Vero yang memang dari awalnya anak tunggal tidak tau bagaimana rasanya punya saudara laki-laki .
Dan kebetulan Ayana dan Anggita masuk ke dalam rumah .
Arta langsung bertanya pada keduanya dan sama seperti Nana , ekspresi dua anak gadis itu pun langsung berseri-seri karena akhirnya bisa keluar jalan-jalan setelah beberapa minggu terakhir ini mereka dilarang keras keluar dari halaman rumah.
#
Di kota DA dan Metrocity kembali heboh karena berita dari dua keluarga besar di kota tersebut.
Para awak media sudah berkerumun di tempat yang ditentukan lengkap dengan segala peralatan mereka.
Beberapa saat kemudian, konferensi pers atas nama dua keluarga itu dilakukan secara bersamaan walaupun di tempat yang berbeda.
" Terima kasih atas waktu kalian semua . Baiklah tanpa basa basi lagi , saya sebagai kepala keluarga Adinson memberikan sebuah kabar , bahwa semua kerugian yang disebabkan kejadian berdarah kemarin akan kami bantu . Silakan datang ke pos-pos yang sudah kami dirikan . Hanya itu yang bisa saya sampaikan. sekian dan Terima kasih " ucap Reiki berdiri di podium tepat di depan semua orang dan ditonton seluruh orang di negara itu.
Hal yang sama juga terjadi di Metrocity , dan Leon juga lah yang menyampaikan pernyataan serupa dengan Reiki.
#
Tak terasa beberapa hari pun sudah berlalu sejak kejadian berdarah itu .
Calista dan Julian kini kembali ke kampus seperti sebelumnya.
Tapi kondisi kampus sedikit berbeda dari sebelumnya.
" kok agak sepi ya , pada kemana sih " ucap Lista pada Lian.
" mungkin pada pulang kampung kali " jawab Lian sibuk dengan ponselnya karena melepas rindu dengan tunangannya yang jauh di gedung HADK Techno.
" ya ya , mungkin aja sih . udah ah , ke aula bentar yuk . tuh lihat ada pengumuman di papan " ucap Lista menarik adiknya ke menuju aula.
Lian pun hanya bisa mengikuti sang kakak yang mencengkram kuat lengannya itu.
" ini cengkraman perempuan atau lelaki sih " gumam Lian.
" menurut mu ?! " jawab Lena datar membuat Lian langsung diam seribu bahasa.
Entah siapa dan kapan pengumuman itu dibuat , hang pasti suasana di aula saat dua bersaudara itu masuk sungguh diluar prasangka.
Bagaimana tidak , aula yang mereka kira ramai ternyata sepi tak ada orang satu pun.
" kapan sih pengumuman itu dipajang ? " tanya Lian.
" haha... kayaknya kita pulang aja yuk , sekarang . felling ku gak enak " ucap Lista sedikit pelan dan secara perlahan menggenggam sesuatu didalam tasnya .
Lian pun juga merasakan aura yang membahayakan .
Keduanya pun bergegas menuju pintu namun pintu yang tadinya terbuka lebar tiba-tiba menutup sendiri.
" kan benar firasatku " gumam Lista.
" huss diam dan dengarkan " ucap Lian semakin mendekat ke saudara nya.
Lian dan Lista diam tanpa suara sehingga dapat terdengar dengan jelas suara derap langkah kaki yang terdengar berat.
" bukan mahasiswa , mungkin preman atau sejenisnya . sekitar 30 orang " ucap Lista yakin.
Dan benar saja , tak lama kemudian muncul 30 orang pria berbadan tinggi tegap dan besar.
" kenalanmu ? " tanya Lista pada Lian mengingat diantara mereka hanya Lian lah yang sering 'bermain' diluar markas.
" Entah ya , kurasa tidak " jawab Lian.
" Ya itu lebih bagus , jadi aku gak harus menahan diri , kan " ucap Lista tersenyum manis.
" Terserah kamu lah. mau taruhan lagi gak ? " tanya Lian.
" oke , siapa yang paling banyak dialah yang menang . Gimana ? " tanya Lista.
" Peraturan lama . yang kalah harus nurut dengan pemenang . " ucap Lista.
" Siapa takut ! " jawab Lian menerima aturan yang dikatakan kakaknya.
Selama keduanya sibuk dengan tentang taruhan mereka , seorang pria yang mungkin ketua rombongan itu maju kedepan.
" Jadi kalian orangnya , wah berani juga ya kalian datang berdua aja " ucap pria itu.
Lista hanya acuh tak acuh begitu juga dengan Lian , membuat pria itu sedikit kesal.
" SERANG MEREKA !! JANGAN BIARKAN MEREKA KELUAR HIDUP-HIDUP !! " perintahnya , sontak ketiga puluh orang itu langsung mengeluarkan berbagai macam senjata mereka.
" Let's play the game !! " ucap Lian hendak maju namun langsung ditahan Lista.
" entar dulu , kayaknya ada yang sengaja menjebak kita ,kamera di arah jam 10 dan jam 2 , lalu masih ada lagi yang bersembunyi. " ucap Lista pelan.
Lalu Lian pun baru menyadari hal itu karena ucapan sang kakak.
" sekarang gimana ? masa mau babak belur gitu aja sih " gerutu Lian.
" Ya larilah beg* !! " Gerutu Lista langsung menarik tangan sang adik dan lari menuju jendela kaca tak jauh dari mereka.
Sontak semua orang yang melihat itu pun kaget dengan apa yang dilakukan keduanya itu.
Praaanngg !!! Bruugg.. !!
Lian dan Lista berhasil keluar dari jendela itu walaupun dengan sedikit luka goresan .
" langsung ke gerbang depan , mobil ku udah disana " ucap Lian disela lari mereka , ya karena mobil Lian adalah mobil hasil modifikasi yang sudah ditanam sejenis perangkat yang bisa di kendalikan walaupun dari kejauhan .
Lista mengangguk lalu menambah kecepatan lari nya begitu melihat orang-orang itu masih mengejar mereka.
Namun , mereka tetap tidak bisa mengejar Lista yang hanya perempuan itu.
" itu anak gadis atau anak cheetah sih " ucap salah satu pria besar itu.
" mau anak Cheetah atau anak gajah sekalipun , yang penting harus dapat. !! " jawab yang lainnya.
Entah kenapa jarak antara aula dan gerbang depan kini terasa sedikit jauh dari biasanya.
Lian yang tiba di mobil lebih dulu langsung masuk dan membuka pintu kursi belakang untuk kakak kembarnya itu.
Mobil itu pun dengan cepat pergi menjauh dari tempat itu.
Sementara orang-orang yang mengejar mereka hanya bisa gigit jari .
To Be Continue 😊😘🤗