YOUNG CEO And QUEEN OF MAFIA

YOUNG CEO And QUEEN OF MAFIA
S 3 - 46



Gani pulang ke rumah dengan amarah yang tak belum reda karena alasan dari Julian tadi.


" hei bocah ! masih berani juga kau pulang ya !! " teriak seorang pria paru baya yang tak lain adalah ayahnya sendiri.


" berisik ! jangan ganggu aku ! " gertak Gani yang tak ingin berdebat dengan ayahnya.


" dasar kau bocah sombong !! beraninya kau bicara kasar gitu dengan ayahmu... !! tanpa aku , kau itu bukan apa-apa.. bahkan kau itu gak mungkin ada didunia ini kalau bukan karena aku !! " Marah ayahnya yang memang selalu meremehkan Gani .


" oh ya benarkah??! tapi aku gak merasa kau itu ayahku. mana ada ayah yang tiap hari selalu merendahkan anaknya seperti kau !! minggir !! " ucap Gani mendorong ayahnya yang menghalangi jalannya.


" lihat itu !! itu hasil didikan mu !! dasar kau perempuan tak becus !! " ucap Ayahnya memarahi sang ibu yang tak tau apa-apa karena baru pulang dari pasar.


Plak !! Bruk !! Prang !!


Gani langsung bergegas turun saat mendengar suara tangisan dari ibunya..


BUGH BUGH !!


" KAU BA******.. KARENA TAK MAMPU MELAWANKU , KAU MALAH MELAMPIASKAN NYA KE IBU !! DASAR BR****** !! KU BUNUH !! KU BUNUH KAU !! LENYAP KAU DARI HIDUPKU !! " ucap Gani terus memukuli sang ayah secara membabi buta.


" Nak . hentikan nak .. jangan pukul ayahmu lagi " ucap sang ibu berusaha menghentikan Gani.


" Gani !! Berhenti !! " teriak kakaknya yang baru pulang kerja langsung menahan dan menarik Gani.


" LEPAS !! JANGAN TAHAN AKU !! " ucap Gani masih emosi.


Plak !


Sebuah bekas tangan membekas di pipi Gani dan orang itu tak lain adalah sang ibu..


" Maafkan ibu nak. ibu yang tak bisa menjaga kalian dengan baik.. jangan pukul ayahmu lagi. ibu tak ingin kamu dipenjara hanya karena itu. ibu tak ingin hidupmu hancur nak .. hiks hiks " ucap sang ibu meneteskan air mata .


" ibu " gumam Gani yang mulai tenang.


kakaknya pun melepaskan Gani.


" maafkan Gani bu .. maaf kalau Gani buat ibu takut .. Gani cuma gak terima kalau B****g** itu memukuli ibu terus " ucap Gani mengusap air mata sang ibu.


Saat kondisi mulai tenang , mereka bertiga pun duduk di lantai.


" jadi apa keputusan ibu ? apa ibu sudah pikirkan apa yang ku katakan kemarin ? " tanya kakak nya.


" ya ibu sudah punya keputusan " jawab sang ibu.


" baiklah . kalau gitu , ibu sama Gani bisa kemas barang yang penting aja lalu pergi dari sini. " ucap sang kakak.


" kak . apa maksudmu ? kau mengusir kami ? " sambar Gani sedikit kaget


" huss , dengarkan dulu orang bicara sampai selesai baru komentar " gerutu sang kakak menjitak adiknya.


" kamu sama ibu kemas barang lalu pergi dari sini , ikut kakak tinggal dirumah kakak. jangan tinggal disini lagi . sedangkan kakak akan urus proses perceraian ayah dan ibu . " ucap sang kakak.


Hari itu juga , Gani beserta ibu dan kakaknya pergi dari rumah itu meninggalkan ayahnya yang babak belur dipukuli Gani.


#


Sementara di metrocity.


Matahari sudah berganti bulan..


Lena baru menyelesaikan serangkaian laporan yang menumpuk di mejanya.


" akhirnya selesai juga " ucap Lena menghela nafas panjang.


" nona mau makan malam sekarang ? " tanya asistennya.


" hmm.. boleh deh. tapi , kita makan diluar aja ya kak Dila " ucap Lena ke asistennya yang tak lain adalah putri sulung dyan , tangan kanan paman nya.


" baik nona " ucap Dila yang 4 tahun lebih tua dari Lena dan Arthur . dirinya juga sudah berkeluarga .


" kalau gitu , gimana kalau makan ke sini ? " tanya Lena menunjukkan layar ponselnya.


" baik nona . akan saya siapkan " ucap Dila lalu keluar.


" haha padahal udah sering ku bilang , jangan panggil nona kalau cuma berdua.. dasar kak Dila terlalu profesional " gumam Lena menjatuhkan kepalanya ke meja.


5 menit kemudian , Dila pun masuk lagi untuk menjemput Lena.


Sampai di tempat makan itu , mereka pun makan bersama. alasan Lena mengajak Dila makan di luar karena ia ingin melepaskan sejenak status besarnya dan merasakan hidup layaknya orang pada umumnya.


Tapi , keselamatan nya juga adalah prioritas bagi Dila sehingga ia mengatur para bodyguard sedemikian rupa guna melindungi sang Nona Besar.


" sabar sabar " batin Lena mengelus dada .


" ah kak Dila , gimana kabar si ganteng ? " tanya Lena


Dila paham siapa yang dimaksud Lena . si ganteng itu ya tak lain adiknya.


" kabarnya baik , ayah bilang dia akan pulang ke sini minggu depan " jawab Dila yang sudah melepas bahasa formalnya karena mereka diluar kantor.


" minggu depan . hmm.. wah baguslah. Katanya Arthur bakal tunangan 2 minggu lagi . wah aku gak sabar lagi " ucap Lena girang


" Gak sabar ketemu yang namanya Bari itu kan " goda Dila.


Dila dan adiknya sudah berteman dengan Arthur dan Lena sejak Reiki dan Angela kembali bertemu setelah lima tahun lamanya.


karena itu Bagi Lena dan Arthur , Dila dan adik nya sudah seperti saudara walaupun usia adik Dila terpaut 2 tahun lebih tua dari Lena.


" hehehe.. ketahuan ya " ucap Lena memasang wajah malu-malu.


" sudahlah , kita bahas itu nanti. sekarang makan dulu lalu kita pulang " ucap Dila


" baik kak " ucap Lena


Setelah itu mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


Lena pulang ke mansion keluarga Anson.


Dila pulang ke rumah suami nya.


" Ah capek banget " gumam Lena menghempaskan tubuhnya ke ranjang lalu tidur.


Hari pun semakin larut malam.


suasana sepi pun terasa kala yang terdengar hanyalah suara dari binatang malam.


Saat Lena tidur lelap di kamarnya.


Bari yang menginap di rumah Arthur pun harus kaget dan tak percaya dengan apa yang ia lihat.


" kenapa harus malam ini sih !! dasar kecoak . gak ada rasa jera sama sekali " gerutu Julian yang harus terganggu tidurnya.


" Kalian berdua , perhatikan benar-benar. yang datang kali ini bukan sekedar datang tanpa persiapan seperti yang lalu.. lihat !! mereka sudah siap dengan segalanya " ucap Arthur mengamati layar monitor besar.


" kalau gitu bagaimana kak ? " tanya Calista


" Bari sorry karena kamu harus melihat ini. tapi memang beginilah kenyataannya. lebih baik kamu sembunyi di ruang bawah aku gak mau ada sesuatu yang terjadi pada temanku .. oke " Ucap Arthur


" baiklah. kalian hati-hati ya " ucap Bari


" pasti " ucap Calista


" Blue , arahkan Bari ke ruang aman " ucap Arthur memberi perintah


Lalu Bari pun diperlihatkan sebuah lampu yang mengarah ke pintu dibalik dinding.


Setelah dirasa Bari sudah aman.


Barulah Arthur dan Calista mengeluarkan pedang mereka.


sedangkan Julian mengoperasikan berbagai senjata dari ruang kendali.


Malam yang gelap kian mencekam saat yang terdengar ialah suara pedang yang saling beradu bercampur dengan suara tembakan yang bagaikan tiada hentinya.


diantara semua suara , rintihan kesakitan lah yang paling samar terdengar.


Bari yang melihat dari layar monitor di ruang bawah tanah pun bergidik ngeri karena ia tau apa yang ia lihat dilayar itu adalah situasi yang sebenarnya kini tengah terjadi di atas sana..


" bagaimana kalian bisa menjalani hidup kalian , bagaimana bisa kalian menerima hal mengerikan begini. Lena , apa kamu juga seperti ini ? " batin Bari terus bertanya-tanya.


to be continue 😘😊🤗