
Arthur dan Lena pergi ke tempat sasaran mereka , tanpa banyak kata , Lena langsung memerintahkan bawahannya menyerang tempat itu.
Karena serangan dadakan yang diluncurkan rombongan Lena dan Arthur membuat para penjaga tempat itu kelimpungan .
Disaat para bawahan nya membantai para penjaga itu , dengan santai nya Arthur dan Lena berjalan melewati medan pembantaian itu.
" Siapa kalian !!!? " bentak Seorang pria bertubuh tambun berdiri didepan keduanya.
" Minggir ! " ucap Lena dingin.
" Kalian pikir kalian hebat hah !! " ucap pria itu meremehkan Arthur dan Lena hanya karena keduanya bertubuh lebih kecil darinya.
" berisik " geram Arthur mendorong pria tambun itu hingga terpental menghantam dinding.
Suasana di dalam ruangan yang kedap suara itu berbeda jauh dengan suasana diluar .
Diruangan itu tampak beberapa pria paruh baya dan pemuda yang sebaya dengan Lian.
BRAAKKK !!!
Sontak perhatian semua orang di ruangan itu teralihkan karena pintu yang terbuka lebar .
" APA MAU MU ?!! " tanya Pemuda itu dengan tatapan mengancam Arthur .
" Wah wah . ternyata ngumpul disini semua ya " ucap Lena tertawa kecil .
para pria paruh baya diruangan itu langsung menciut dan pucat pasi , seolah mereka tau kalau malam ini adalah malam terakhir mereka.
" Nona Besar anda disini .. Apa nona membutuhkan sesuatu ? akan saya siapkan " tanya salah seorang pria paruh baya itu berpura-pura bersikap baik di depan Lena karena ia mengenali Lena sebagai Nona besar Anson sekaligus atasan mereka semua yang ada di ruangan itu.
" benarkah ? kalau gitu .... persiapankan leher kalian " ucap Lena menatap tajam mereka.
Brak !!
Mereka semua terlonjak kaget mendengar suara benda jatuh , Padahal Arthur lah penyebab suara itu begitu ia melempar tubuh pria tambun yang kini tak lagi berjiwa.
" Jangan buang waktu . cepat bereskan " ucap Arthur pada Lena.
" Bereskan !! " jawab Lena mengeluarkan pedang nya.
Srriiinnggg !!
Sriinnggg !!
syuuutt !!
Braaaakkk !! Bugh bugh bugh !!
Ruangan yang tadinya penuh dengan botol-botol minuman dan riuhnya suara musik kini berganti dengan suara pedang Lena dan pisau pendek milik Arthur.
Suara teriakan yang sangat menyayat hati dan telinga itu sangat menggema memenuhi ruangan yang tak terlalu besar tersebut.
Hanya butuh 15 menit Arthur dan Lena melumpuhkan sekitar 25 orang baik pria paruh baya maupun pemuda .
" aku beres . Tapi buat apa kau sisakan satu itu " ucap Lena.
" Untuk bukti " jawab Arthur merantai tangan dan kaki pemuda yang menyerahkan dirinya.
" Terserah kau saja " ucap Lena keluar dari tempat itu.
Lalu Arthur menyusul di belakang nya.
Mereka berdua yang melakukan pembantaian, Tapi anak buah mereka yang harus membersihkan semua sisa yang ditinggalkan.
#
Disaat Arthur dan Lena menjalankan misi utama mereka.
Disaat yang sama markas The Dark Knight di kota DA tiba-tiba di serang oleh segerombol orang tak dikenal.
Walaupun rombongan itu tak terlalu besar tapi entah kenapa setelah mereka melemparkan sesuatu yang langsung berubah menjadi asap , saat itu juga Elemen Es Calista mendadak tidak bisa digunakan.
Keadaan kedua belah pihak pun menjadi imbang karena sama-sama menggunakan senjata api bukannya sesuatu yang 'spesial'
Calista sempat terdiam karena hal itu hingga terpaksa Edward menariknya masuk ke dalam.
" Ta !! sadar !! jangan terlalu tergantung dengan Es mu. Sadar !! " ucap Edward meninggikan suara nya agar Lista sadar .
Tak butuh waktu lama Lista pun menyadari situasi yang terjadi di rumah nya itu.
" biar mereka rasakan akibatnya karena udah berani mengganggu keluarga ku " geram Lista .
" oke. kalau gitu aku bantu mereka diluar dulu " ucap Edward mengecup sekilas kening Lista lalu kembali ke medan pertempuran.
Sedangkan Lista menghubungi Layla dan Lian sembari melangkah ke ruang kendali yang biasanya di pegang oleh Lian.
" oke aku mengerti . hati-hati . keselamatan tetap yang utama . aku sama Layla akan segera pulang. jangan kabari kak Ar dulu sebelum mereka yang menghubungi kita. kau ingatkan caranya memakai mesin ku itu ? " tanya Lian karena mereka sedang panggilan video jadi Lian bisa melihat apa yang dilakukan kakak kembarnya itu.
" ya aku tau. kalau gitu udah . bye " ucap Lista langsung memutuskan panggilan mereka.
Tak banyak berpikir , Tangan kanan Lista langsung mengambil alih kendali ruangan itu.
Satu persatu senjata yang tersembunyi di dekat pagar pun langsung keluar dan menembak kan peluru nya mengarah tepat ke rombongan penggangu itu.
Dengan bantuan mesin pembantai Lian , Semua orang yang datang menyerang berhasil di kalahkan hanya dalam waktu 2 jam.
Lian dan Layla datang disaat para anggota The Dark Knight membersihkan area sekitar dan mengobati yang terluka.
" mana kak Lista ? " tanya Lian menghentikan salah seorang anggota lama.
" Nona ada di ruangan 0 " jawab nya lalu berlalu.
Lian berlari masuk ke ruangan 0 itu karena khawatir dengan keadaan kakak kembarnya itu.
" kak , apa ada yang luka ? mana , sakit gak ? " tanya Lian penuh khawatir dan takut , begitu melihat kakak nya ia langsung memutar mutar kakaknya itu sampai tidak sadar kalau kakak nya sedang ada panggilan video dengan beberapa orang kepercayaan orangtua nya di perusahaan.
" i'm fine . okay " ucap Lista menepuk lembut kepala sang adik.
Barulah Lian sadar dengan orang-orang yang ada di panggilan video itu.
" maafkan kelancangan saya . silakan dilanjutkan " ucap Lian hendak menjauh.
" no , kau juga tetap disini dan ikut mendengar bersama ku " bisik Lista membuat Lian tak ada pilihan selain setuju dan langsung duduk di sebelah sang kakak.
Edward dan Layla hanya melihat dari samping bagaimana dua bersaudara itu menjawab dan menjelaskan apapun yang di tanyakan oleh orang-orang itu.
" Ternyata mereka berdua sudah siap ya . kalau gitu apa kita juga udah siap berdiri di samping mereka " ucap Layla.
" maaf Tuan Putri itu urusan pribadi saya " jawab Edward otomatis karena sudah terbiasa menjawab seperti itu sewaktu masih mengabdi pada kerajaan Trian.
" hey , sepertinya kau lebih tua dari ku dan juga bukannya kau itu calon suami dari kak Lista . Jadi lebih pantas kau berhenti memanggil ku Tuan Putri . lagipula ini bukan Trian " ucap Layla.
" akan saya usahakan " jawab Edward datar sedangkan pandangan mereka berdua terfokus pada Adinson bersaudara.
##
Di satu sisi , Markas Dragon Eyes pun berhasil mengalahkan pasukan musuh yang menyerang mereka hampir bersamaan dengan yang di markas The Dark Knight .
Tapi untungnya , Viona dengan pengalaman nya selama ini bersama Angela membuatnya berhasil mengendalikan situasi di markas Dragon Eyes .
" aku tau pasti sudah mendengar berita nya karena itu untuk sementara waktu aku yang akan bertanggung jawab disini. Jadi jika terjadi sesuatu langsung laporkan pada ku. Paham !!" tegas Viona
Saat markas mereka diserang secara serempak , Angela dan yang lainnya malah sibuk memperbaiki alat komunikasi mereka .
To Be Continue 😊😘🤗