
Selesai berganti pakaian , Arthur dan Raya pun pergi dari apartemen menggunakan mobil biasa.
Tanpa Arthur ketahui , ada sebuah mobil hitam yang mengikuti mereka .
" kita mau kemana ? " tanya Raya
" belanja " jawab Arthur tersenyum
" duduk yang manis ya " ucap Arthur menggenggam tangan Raya.
Duduk diam membuat Raya sedikit jenuh.
Lalu ia mengeluarkan buku kecil dari tasnya.
" lagi nulis apa ? " tanya Arthur melirik Raya yang menulis sesuatu .
" daftar belanjaan , biar lebih mudah nyari dan gak lupa " jawab Raya.
Arthur mengangguk lalu kembali fokus dengan jalanan yang sudah mulai ramai.
10 menit kemudian.
Arthur memarkirkan mobilnya di parkiran.
Lalu keduanya pun turun dan berjalan masuk ke pasar.
" kita cari yang kecil dulu aja ya " ucap Raya
" terserah kamu sayang " ucap Arthur manis.
Raya tersenyum lalu berjalan mendahului Arthur ke salah satu pedagang di baris depan.
Arthur pun mengikuti dari belakang.
Begitu seterusnya hingga tangan Arthur hampir penuh dengan belanjaan mereka.
" sayang , apa gak kebanyakan ini ? " tanya Arthur karena ia belum pernah belanja banyak sebelumnya.
" biar gak sering keluar jadi stok untuk 1 minggu . emang biasanya kalau kamu belanja itu sedikit ya ? " tanya Raya sambil menerima uang kembalian.
" hm ya bisa dibilang gitu sih. biasanya kalau untuk belanja bulanan mami selalu bawain " ucap Arthur
" hahaha berarti mas nya anak mami ya " ucap bapak pedagang yang juga mendengar ucapan Arthur
" gak masalah lah pak . itu namanya mami nya sayang dengan putranya jadi gak mau anaknya makan sembarangan , iya kan mbak ? " ucap ibu pedagang sebelahnya.
" eh , iya bu hehe. terima kasih , permisi " ucap Raya menarik Arthur dari stand pedagang itu.
Arthur sedikit heran dengan Raya yang tiba-tiba tertawa sendiri.
" anda sehat mbak ? " ledek Arthur
" ya saya sehat pak . terima kasih " jawab Raya ikut main peran.
" ah sayang udahlah , kamu kenapa tiba-tiba ketawa gitu ." ucap Arthur
" gak apa-apa " ucap Raya tapi menahan tawa
" huus , setan iblis .. pergilah jauh-jauh!! jangan ganggu kami !! " ucap Arthur meletakkan tangannya di atas kepala Raya
" sayang , aku gak apa-apa . aku cuma lucu aja dengar bapak itu bilang kamu anak mami .. hehe ekspresi nya itu loh lucu banget " ucap Raya .
" hm dasar kamu ini ya . gak boleh ngetawain orang tua loh " ucap Arthur mencubit gemas pipi Raya.
Keduanya pun lanjut berbelanja isi dapur lalu kembali ke mobil setelah semua sudah terbeli.
#
Arthur dan Raya kini berhenti di seberang gedung perusahaan JDR Corp.
Raya melihat dengan jelas gedung kantor yang sebentar lagi menjadi tempatnya bekerja.
" gimana benar kan ini tempatnya ? " tanya Arthur
" iya ini dia " jawab Raya
" hah.. sudah dong sayang , jangan kacangin aku " ucap Arthur cemberut.
" hehe maaf " ucap Raya lalu mencium pipi Arthur.
mobil pun kembali berjalan dan kini arahnya adalah gedung apartemen Arthur.
Jarak antara gedung apartemen Arthur dengan gedung perusahaan JDR Corp sedikit jauh , 15 menit menggunakan mobil.
Akhirnya mereka tiba dengan selamat di apartemen Arthur.
Raya langsung membereskan belanjaan tadi dan menyusunnya ditempat yang ternyata sudah tertera label setiap barang.
seperti toples-toples kecil yang berlabel gula , garam , lada , dan lainnya.
Raya kaget karena kok bisa pagi tadi ia tak memperhatikan detail yang begitu jelas itu.
" gak apa-apa kok , aku bisa sendiri. ah tapi , siapa yang kasih label disemua tempat kayak gini ? " tanya Ray sambil memasukkan sayur ke lemari pendingin.
" mami " jawab Arthur
" berarti mami mu sering datang kesini ? " tanya Raya
" gak juga. mungkin beberapa bulan sekali baru kesini , karena biasanya aku yang disuruh kerumah kalau mami tau aku libur hehe " ucap Arthur
" ya itu bagus dong , sering-sering datangi keluargamu " ucap Raya . ucapannya sedikit menyayat hatinya sendiri
Arthur tau Raya yang dari luar tampak tegar tapi didalam hatinya rapuh jika menyangkut masalah keluarga.
Arthur memeluk Raya dari belakang lalu meletakkan kepalanya di bahu Raya.
" kamu gak sendiri Ra. ada ibu panti , anak-anak panti , ada Bari dan sekarang ada aku dihidupmu. kami semua keluargamu Ra. " ucap Arthur
" ya mereka memang orang yang sudah kuanggap keluargaku sendiri . tapi keluarga kandung , ayah ibu kandungku ,apa aku punya saudara , siapa mereka aku tak tau dan mungkin gak akan pernah tau.. kenapa mereka membuangku , kenapa aku lahir kalau memang mereka gak membutuhkan ku , aku.. aku.. aku tak tau apapun tentang mereka ... hiks hiks " keluh Raya sambil menangis.
" mereka , apa hidup mereka baik setelah membuangku.. apa mereka bisa makan dan tinggal dengan nyaman tanpaku .. apa mereka pernah mencariku lagi.. apa mungkin mereka... gak pernah menyayangiku .. hiks hiks hiks " Tangis Raya terdengar sangat pilu saat suara hati yang selama ini ia pendam ,akhirnya terucapkan.
Arthur memutar tubuh Raya sehingga Raya menangis didalam pelukan Arthur.
" apa mereka gak mau melihatku lagi .. apa aku aib untuk mereka.. apa aku ini musibah untuk mereka... apa aku ini gak layak untuk mereka... hiks " Raya terus mengeluarkan segala pertanyaan yang telah lama bersarang dihatinya.
" Ra , apapun itu. percayalah pasti ada alasannya. aku tau perasaanmu karena aku juga pernah mengalaminya.. menangislah , keluarkan semuanya " ucap Arthur mengelus punggung Raya
Lama Raya menangis sambil terus mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini.
Selama itu juga Arthur terus menjadi sandaran bagi Raya.
Tanpa keduanya sadari , jika didalam apartemen itu bukan hanya mereka berdua saja.
Calista dan Julian yang tadi datang 10 menit setelah Raya dan Arthur berangkat , mendengar semua yang terjadi didapur itu .
si kembar pun tau maksud perkataan Arthur yang mengatakan dirinya pernah mengalaminya.
Si kembar yang bersembunyi di dalam kamar didekat dapur terus merekam apa yang sedang terjadi.
" hus , kalau ketahuan kakak , bisa habis kita " ucap Julian
" ya kita harus cepat keluar lah oon " ucap Calista kesal karena adiknya itu terus berisik.
" tapi gimana caranya kita keluar ? " tanya Julian
" aku ada ide . tapi ingat kau harus diam " ucap Calista lalu membisikkan rencananya.
Kedua saudara kembar itu pun perlahan-lahan merangkak keluar dari kamar dapur itu.
merangkak perlahan diantara furniture .
jantung keduanya pun berpacu dengan cepat saat keduanya hampir sampai pintu depan.
Dengan hati-hati , Calista membuka kunci pintu apartemen kakaknya itu.
Calista dan Julian bernafas lega karena akhirnya mereka berhasil menyelamatkan diri.
"maaf permisi numpang tanya " suara seseorang mengagetkan kedua saudara kembar itu.
" tanya apa pak ? " tanya Julian
" apa disini rumahnya Tuan Arthur yang aktor itu ? " tanya orang itu
" ah bukan pak. bapak salah alamat. disini rumah kami " jawab Calista yang memiliki kepekaan yang sangat sensitif.
" oh tapi bukannya ini rumah Tuan Arthur selaku pemilik gedung ? " tanya orang itu.
" oh bukan. pemiliknya bukan tinggal disini. kami berdua sudah beberapa tahun tinggal disini " jawab Calista
" coba bapak cek lagi aja dulu dimana alamatnya . kami permisi " ucap Calista menggandeng tangan Julian.
Si kembar bukan pergi tapi bersembunyi sambil memperhatikan orang asing itu.
" beraninya menargetkan kakakku.. kita dianggap bodoh ya " gerutu Calista
" dia yang bodoh. pihak media aja gak tau kalau yang punya gedung ini kakak. selain keluarga kita , cuma beberapa orang aja yang tau " sambung Julian.
Cekrek.
Tek tek
" KAU BODOH HAH !! NGAPAIN KAU KIRIM KE KAKAK BODOH.. SAMA AJA ITU BULANG KITA DISINI .. OON " gerutu Calista saat melihat adiknya itu mengirim foto orang asing itu kepada kakak mereka.
" ha .. habislah udah.. cabut !! " ucap Julian langsung lari
Calista pun langsung mengejar kembarannya itu.
Sementara orang asing itu menghubungi kembali atasannya.
to be continue 😘😊🤗