YOUNG CEO And QUEEN OF MAFIA

YOUNG CEO And QUEEN OF MAFIA
S 3 - 57



Arthur dan Raya harus tetap berada di Rumah Sakit untuk beberapa waktu kedepannya.


penjagaan di rumah sakit keluarga Adinson pun kini di perketat guna mencegah segala hal yang tidak diinginkan..


sedangkan Calista dan Julian sudah harus kembali ke kampus .


Seperti hari ini.


Calista berangkat ke kampus seorang diri tanpa sang adik yang harus pergi ke kantor bagiannya lebih dulu.


hanya 20 menit waktu yang Calista perlukan untuk sampai ke fakultasnya.


Mulai dari mata kuliah pertama hingga kedua semua berjalan seperti biasa.


tapi Calista merasa ada yang janggal saat ia masuk ke kantin utama kampusnya..


ia melihat kebelakang , tapi tidak ada siapapun di belakangnya.


" masa hanya perasaan ku aja sih " batin Calista lalu memilih tempat duduk .


" kau dimana ? aku lagi dikantin utama sekarang " ucap Calista mengirim pesan suara ke Julian.


" tunggu aku disana . jangan kemana-mana , bentar lagi aku kesana " jawab Julian.


" jangan lama " balas Calista.


Calista menunggu Julian sembari memakan pesanannya.


Calista merasa ada yang terus mengawasinya tapi ia tak merasakan niat membunuhnya.


hampir setengah jam Calista duduk sendiri dikantin utama yang sepi itu karena kebanyakan mahasiswa lainnya masih berada di kelas masing-masing.


sekian lama menunggu , akhirnya Julian dan salah satu temannya datang juga.


" lama amat sih " celoteh Calista begitu Julian duduk disampingnya


" ya maaf . habis aku tadi masih ada kelas , ya jadinya lama lah " ucap Julian lalu mendadak diam


" kalian ngobrol aja dulu . aku pesan makanan kesana " ucap teman Julian yang masih mengira Julian dan Calista itu kekasih.


" kau juga merasakannya ? " tanya Calista sedikit berbisik


" jadi ini alasannya kau menyuruhku cepat-cepat datang kesini padahal kau kan pasti tau kalau aku masih dikelas " ucap Julian mengeluarkan ponselnya.


" ya bisa dibilang gitu sih. satu hal lagi , sepertinya ini orang yang sama dengan yang diparkiran waktu itu " ucap Calista mendorong air minum nya ke Julian yang kehausan.


" hem. semoga aja orang ini gak ada niat buruk . tapi aku bisa kupastikan kalau orang ini bukanlah suruhan mami ataupun papi " ucap Julian melihat layar ponselnya .


sedangkan orang yang dibicarakan mereka sedikit emosi saat melihat kedua saudara kembar non identik itu berbagi makanan dan minuman.


" sabar . aku tau kau bukan lah saingan ku. tapi tetap saja kau itu laki-laki dewasa. bukankah harusnya kalian menjaga kelakuan kalian diluar rumah " gerutu orang itu cemburu.


Drrrt drrt


orang itu menghela nafas berat saat melihat siapa yang berani mengganggu dirinya.


" ada apa ? " orang itu bertanya pada sang penelpon.


" dimana kau sekarang ? " terdengar suara seorang wanita dari seberang telepon


" aku sibuk . kalau bukan urusan penting jangan ganggu aku " jawab pemuda itu tapi perhatian nya terus tertuju ke Calista yang kini sibuk dengan kertas materi kuliahnya.


" kau tidak lupakan ini hari apa.. jangan buat kami menunggumu lagi. lokasinya sudah ku kirim ke ponselmu " ucap wanita itu lalu langsung memutuskan panggilannya.


" si** .. aku lupa hal itu. aakkhh dasar menggangu saja " gerutu pemuda itu terpaksa harus pergi dari tempat persembunyiannya .


Sementara Calista dan Julian sedikit lega karena orang yang mengawasi mereka sudah pergi.


Karena hari itu keduanya sudah tidak ada kelas , keduanya pun langsung pulang kerumah.


#


Tak terasa kini sang mentari telah berganti rembulan.


Disebuah Restoran disalah satu pusat kota DA.


tampak sebuah keluarga menyambut dengan hangat tamu mereka.


" silakan duduk Tuan Diyan " ucap ramah seorang pria paru baya .


" terima kasih tuan. " ucap Diyan. walaupun dirinya hanya salah satu pegawai senior di Adinson Corp. tapi ia adalah orang kepercayaan dari keluarga Adinson jadi secara tidak langsung orang-orang juga segan dengannya termasuk pria paru baya yang tengah duduk satu ruangan dengan Diyan .


Saat Diyan dan pria paru baya itu baru berbicara sekitar 5 menit , masuk lah seorang gadis bergaun merah diiringi ibunya.


" Tuan perkenalkan ini anak perempuan saya satu-satunya " ucap pria paru baya itu memperkenalkan gadis yang bersikap anggun dan elegan .


" ya ternyata aslinya lebih cantik dan anggun dibandingkan yang difoto ya tuan " ucap Diyan basa-basi.


Diyan dan pria paru baya itu berbicara tentang hal-hal remeh , sementara gadis bergaun merah itu hanya diam dan menjaga sikapnya sesuai yang ibunya katakan sebelumnya.


Beberapa saat kemudian.


pintu ruangan VIP itu pun kembali terbuka dan kini memperlihatkan seorang wanita paru baya yang tak lain istri dari Diyan lalu seorang pemuda mengikuti dibelakangnya.


" maaf kami terlambat " ucap istri Diyan lalu duduk di samping suaminya , sedangkan pemuda itu duduk di samping gadis bergaun merah tadi.


Gadis beserta keluarganya sedikit heran karena pemuda itu memakai topeng yang menutupi hampir seluruh wajahnya kecuali sedikit mata kanannya.


Pelayan pun masuk dan menyajikan hidangan dalam sekejap meja bundar besar itu pun penuh dengan berbagai aneka makanan dan minuman.


Berbeda dengan gadis disebelahnya yang menjaga sikap. Pemuda itu malah bersikap biasa .


" nak makan pelan-pelan " ucap istri Diyan mengingatkan pemuda yang adalah putra bungsu nya itu.


" iya ma " jawab pemuda itu singkat


" maaf jika kalian terganggu dengan sikap anak saya. " ucap istri diyan.


Sedangkan Diyan sendiri sibuk mengatur emosinya yang naik karena tingkah putra bungsunya itu.


" kalau boleh tau nama nya siapa nak ? " tanya ibu dari gadis disebelahnya.


" Nama ? Edward " ucap pemuda itu


" Nama yang bagus nak " ucap pria paru baya itu.


" ya nama yang bagus tapi kenapa kamu memakai topeng seperti itu , bukankah itu tidak nyaman untukmu ? kenapa gak dibuka aja " tanya sang gadis.


" oh benarkah ? untukku atau untukmu " sindir putra bungsu diyan itu.


" Ed kenapa kamu bilang seperti itu " ucap ibunya.


" maaf ma . tapi sepertinya mereka tak suka dengan kehadiran ed disini. kalau gitu saya permisi " ucap edward bangkit dari kursinya.


" Duduk ! " tegas Diyan , lalu edward pun kembali duduk.


Suasana hening .


" silakan dimakan. tuan nyonya .. ayo anak manis jangan malu-malu " ucap istri Diyan memecah keheningan itu.


" jadi bagaimana Tuan . apa perjodohan ini masih bisa dilanjutkan ? " tanya pria paru baya itu.


" ternyata itu alasannya " batin Edward


" maaf menyela. tapi apa anda bisa menerima kekurangan saya ? hanya memandang diri saya tanpa memperhitungkan bakingan " ucap edward


" ed , apa maksudmu ? " tanya Diyan


" tuan , Nyonya ,dan juga anda . jika keputusan kalian tidak berubah setelah melihat kekurangan saya maka saya juga akan menerima. jika sebaliknya , maka saya harap anda semua tidak perlu membuang waktu untuk saya " ucap Edward.


lalu edward membuka topeng nya itu.


semua orang yang ada diruangan itu kaget termasuk ibunya sendiri.


Bagaimana tidak , wajah putra bungsunya kini cacat.


Ada sebuah bekas luka panjang di wajah sebelah kirinya.


" maaf Tuan . tapi apa Tuan memandang rendah kami sehingga menjodohkan pemuda ini pada putri semata wayang saya " ucap pria paru baya itu mengira Diyan meremehkan mereka.


" kondisi saya ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan keluarga saya. saya sendiri baru pulang dari luar negeri untuk urusan pekerjaan , jadi seluruh keluarga saya tidak tau tentang kondisi saya " jelas Edward


" ha dasar jelek. sudah gak punya sopan santun , muka jelek masih cari alasan .. pake bilang ada pekerjaan diluar negeri lagi.. heh kau kira aku bakal percaya lalu mau dijodohkan dengan orang cacat seperti kau !! MIMPI AJA SANA !! AKU GAK SUDI !! " teriak gadis bergaun merah itu memperlihatkan sifat aslinya.


melihat itu bukannya marah , Edward malah tersenyum kecil.


" gue juga ogah dijodohkan dengan ondel-ondel " batin Edward.


Diyan sebenarnya tau maksud perbuatan putra bungsunya itu.


tanpa banyak kata lagi , pria paru baya itu langsung pergi meninggalkan ruangan itu beserta anak istrinya.


" kali ini kau menang lagi . jadi apa permintaanmu sekarang ? " tanya Diyan


" ya seperti biasa yah. tapi yang ini spesial jadi nanti dirumah aja " ucap Edward duduk lalu meminum minumannya dengan santai.


Sedangkan ibunya mulai sadar akan sesuatu ..


" kalian berdua ? BERANINYA MEMPERMAINKANKU !!! " bentak istri Diyan , membuat kaget Diyan dan Edward.


" kayaknya gawat ni " batin Edward dan Diyan.


to Be Continue 😘😋🤗