
Di dalam pesawat , Calista terus merasa gelisah dan khawatir dengan kondisi Edward.
Calista mondar mandir tak perduli dengan Lian yang menggeleng ke kanan ke kiri mengikuti arah langkah kakaknya itu.
" kak . coba duduk dulu sini. gak capek apa kayak gosokan gitu ? " tanya Lian menepuk tempat duduk didepannya.
" gimana aku bisa duduk tenang. kita belum tau keadaan nya disana bagaimana .. gimana aku bisa tenang dek " ucap Lista.
" memang nya kakak gak percaya kalau Edward itu kuat. aku yakin dia pasti bisa bertahan. jadi cobalah sedikit tenang dan kendalikan dirimu. aku udah capek buat cairin es mu itu kalau enggak, pesawat ini mungkin bakal jatuh . kalau jatuh bukannya jenguk Edward , malah kita yang dilayat orang kak " ucap Lian serius dengan sedikit mengeluarkan api di tangannya.
Lista melihat sekeliling nya dan memang benar kalau mami serta kakak sulung nya tengah mencairkan kursi serta dinding pesawat yang mulai membeku.
"ah maaf " ucap Calista lalu duduk di depan Lian yang juga mencairkan es di belakang nya.
" duduk yang tenang ya. biar kita sampai dengan selamat " ucap Papinya mengelus kepala putri satu-satunya itu.
Calista menunduk dan diam seribu bahasa.
Beberapa jam diudara , pesawat mereka mendarat dengan selamat di lapangan terbang istana Trian.
Calista yang reflek hendak lari mencari Edward terpaksa ditahan oleh Arthur dan Lian .
" kak lepas " ucap Lista lirih.
" dek . coba lihat sekeliling dulu. kamu pikirkan dulu , kenapa disini sangat sunyi bukan seperti biasanya kan " ucap Arthur menyadari hal itu sejak pesawat terbang di atas lapangan terbang yang kosong itu.
Lian dan Lista memperhatikan keadaan sekitar dan memang ada yang tidak beres.
" Lian , persiapkan senjata. ingat tetap waspada " ucap Papinya .
Adinson bersaudara mempersiapkan senjata mereka masing-masing , begitu juga orangtua mereka dan tak ketinggalan Diyan juga .
Keluar dari lapangan terbang itu , mereka langsung disambut beberapa kelompok pembunuh bayaran yang menyamar sebagai prajurit kerajaan Trian.
" mereka bukan prajurit asli." ucap Lian mengenali tanda khusus bagi para prajurit seperti yang dijelaskan Edward.
TRING TRING TRING.!!! DOR DOR DOR !! SYUUT SYUUT..
pertempuran pun tak bisa dielakkan..
Reiki dan Angela yang sudah lama memegang senjata pun dengan lancar membantai para pembunuh bayaran itu , begitu juga dengan Diyan .
Arthur dan Lian pun sedikit membantu orangtua mereka . sedangkan Lista melacak keberadaan Layla dan Edward.
" lebih baik sekarang kita langsung ke istana, firasat mami gak enak . " ucap Angela mengelap sisa darah di pedang kembarnya.
" baik mi " jawab Adinson bersaudara memimpin jalan .
Karena lokasi lapangan terbang itu berada di atas bukit jadi mereka dengan mudah melihat keadaan istana Trian yang ada di kaki bukit itu.
" kenapa bisa seperti itu ? siapa mereka ? " ucap Lian bertanya-tanya.
" yang pasti mereka bukan orang baik dan jika perkiraan papi benar , mereka itu pemberontak . Jadi jangan beri ampun " ucap Reiki.
Lian dan Lista turun bersama Arthur sedangkan Reiki dan Diyan menangani serangan jarak jauh.
" kalian kesana. mami sama Art ke arah sini " ucap Angela.
Lian dan Lista mengangguk lalu masuk ke istana dari jalur rahasia.
Tak lama kemudian , Keduanya sampai di dekat aula istana. Belum lama keduanya sudah disambut oleh prajurit palsu yang sama seperti yang mereka temui di lapangan terbang.
Lian membantai mereka dengan sedikit kewalahan karena jumlah mereka yang terus bertambah seolah tidak ada habisnya.
" AAHHH !!! KALIAN HANYA MEMBUANG-BUANG WAKTU KU !!! ENYAH LAH !!! " bentak Lista tambah emosi karena ia makin khawatir dengan keadaan Edward yang belum pasti.
Pedang Lista yang tadinya berwarna perak kini berlumuran darah segar .
" menyerah atau mati !! " ucap Lista , Aura nya saja sudah cukup untuk menekan prajurit palsu itu hingga mereka tidak bisa bergerak lagi..
" Jika ingin mati , maju !! " tegas Lista mengarahkan pedang ke arah mereka yang tidak bisa bergerak itu.
" Kami menyerah !! " seru mereka melemparkan seluruh senjata mereka ke arah lain.
" urus mereka dengan cepat !! semakin cepat semakin baik " ucap Lista .
Lian pun setuju dan membuat para prajurit palsu itu tidak sadarkan diri.
Selesai dengan aula istana , keduanya pun bergerak ke arah kamar penghuni .
Lista dan Lian memeriksa satu per satu kamar yang ada , namun tidak ada satu pun manusia yang mereka temui.
" Kami ada di ruang bawah tanah . para pelayan bersembunyi disini dan untungnya mereka selamat . hanya saja , Layla dan orangtuanya belum ketemu.. kalian bagaimana ? " tanya Arthur lewat earphone di telinga Lian dan Lista.
" disini penuh dengan prajurit palsu. tapi syukurlah jika tidak ada korban . kami akan cari lagi keberadaan Layla dan Orangtuanya " jawab Lian
" oh iya kak .. Edward udah ketemu belum ? " tanya Lista pada Arthur.
Arthur kini ada di ruang bawah tanah bersama Reiki , Angela serta Diyan memeriksa keadaan para pelayan yang bersembunyi.
" itu .. kakak belum tau dek. maaf " jawab Arthur.
" ya udah , kalau gitu aku cari lagi ". jawab Lista lalu melanjutkan pencariannya.
Saat Lian dan Lista terus melanjutkan pencarian mereka , Arthur membantu orangtua dan paman nya mengobati pelayan dan para penjabat istana.
" sudah selesai disini. lebih baik kamu susul adik-adikmu. mami khawatir istana paman mu ini bakal rusak karena mereka lepas kendali " ucap Angela.
" baik mi " jawab Arthur lalu keluar menyusul kedua adiknya itu .
Sedangkan Reiki dan Angela serta Diyan membawa mereka yang bersembunyi di ruang bawah tanah ke tempat yang lebih aman lagi.
Disaat yang sama , Lian dan Lista akhirnya menemui lokasi Layla namun ia sendiri tanpa kedua orang tuanya..
" HAHAHAH !! INI SEMUA KARENA KAMU MENOLAK KU DIDEPAN PUBLIK.. !! KARENA KAU DAN KELUARGAMU ITU , SEKARANG KELUARGAKU MENANGGUNG MALU !!! " teriak Dav mengambil cambuk .
" SEKARANG WAKTUNYA KAU MEMBAYAR SEMUA ITU !!! JIKA KAU TIDAK BISA MENJADI MILIKKU , MAKA JANGAN HARAP SIAPAPUN BISA !! " bentak Dav mencambuk Layla yang terikat.
" Kau !! Haha !! Bagus aku tidak jadi tunangan dengan orang seperti mu !!! Dasar Binatang !! " Bentak Layla menahan sakit di kakinya karena dicambuk Dav.
" BAIK !! BIARKAN KAU MERASA BAGAIMANA BINATANG INI MEMBUATMU SERASA DI SURGA !! " bentak Dav membuka paksa baju yang di pakai Layla.
" HENTIKAN !!! DASAR KAU B***N*** " bentak Layla meronta menolak Dav .
SYUUT !!
Sebuah pisau terbang ke arah leher Dav yang jika telat sedetik saja mungkin kini leher itu sudah berlumuran darah..
" ternyata kau dalang semua kekacauan ini !! " ucap Lista
" ya memang aku !! lalu kenapa ? apa hak mu ikut campur dalam urusan ku !! " tegas Dav berjalan ke arah Lista sedangkan Lian yang masuk diam-diam kini berada di belakang Layla dan melepaskan tali nya.
" kita pergi dari sini dulu ya , sebelum kena imbas kak Lista " bisik Lian menggendong Layla di punggung nya.
Dengan hati-hati Lian membawa Layla yang terluka Namun masih saja ketahuan oleh Dav.
" JANGAN BERMIMPI KALIAN BISA KABUR DARI SINI !! " Bentak Dav kembali mengarahkan cambuknya ke punggung Layla .
" AAAKKHH !! " jerit Layla yang entah kenapa malah membuat Lian semakin emosi.
To Be Continue 😊😘🤗