
Edward menghibur teman lamanya itu dengan membawanya ke rumah kecilnya.
" kau tinggal disini ? yakin ? kenapa ? " tanya Anton saat melihat rumah Edward.
" ya bisa dibilang begitu , aku memang tinggal disini . Tapi gak setiap hari sih " ucap Edward mempersilakan temannya itu masuk ke dalam rumah kecil nya.
" ya ya .. aku paham artinya itu " ucap Anton melangkah masuk ke rumah teman nya itu.
" haha iya aku lupa kau kan memang paham . haha anggap aja di rumah sendiri " ucap Edward.
" haha okelah . tenang aja. jangan nyesal isi kulkas mu habis ya " ucap Anton bercanda.
" ya terserah kau aja lah. habiskan juga gak masalah . asal kau mampu . hahaha. aku mau ganti baju dulu , panas " ucap Edward masuk ke kamar nya .
Anton malah tertawa dengan wajah polos nya.
Sementara di saat yang sama , Arthur dan Lena mengantar Bari ke Bandara karena ia akan kembali ke Metrocity hari ini.
" kamu yakin pulang sendiri ? aku ikut ya " ucap Lena
" ya aku juga mau nya begitu . Tapi kamu disini saja dulu , papa mu kan juga masih ada disini . " ucap Bari
" tapi aku mau ikut . aku gak bisa jauh dari kamu " ucap Lena sedih .
" aku juga gak bisa. Tapi kalau sekarang kita pulang bareng , takutnya papa mu marah lagi " ucap Bari
Lena memasang wajah sedih dan polos nya sangat berbanding terbalik dengan wajah nya saat memegang pedang.
Datar , dingin , tak berperasaan .
Arthur hanya diam sambil menonton drama keduanya.
" lebih bagus aku nunggu di mobil aja deh . " gumam Arthur lalu meninggalkan keduanya melepas perasaan .
" Sudah ya . nanti aku kabarin kalau sudah sampai . oke " ucap Bari tersenyum sembari memegang tangan Lena.
" benar ya . kalau udah sampai resto langsung kabarin aku. Kalau papa pulang aku juga ikut pulang kok. jangan nakal ya " ucap Lena dengan wajah cemburu nya.
" iya sayang ku.. aku gak akan nakal kok. janji deh " ucap Bari mengacungkan dua jari nya , lambang janji.
" hiks . ya sudah . hati-hati di jalan ya. " ucap Lena sendu.
" aku pergi. My princess , jaga dirimu " ucap Bari memeluk Lena.
" kamu juga , jaga dirimu my prince " ucap Lena membalas pelukan Bari.
Bari mencium lembut kening Lena , lalu berjalan ke loket keberangkatan.
Lena menahan rasa berat di hatinya melihat kepergian kekasih nya itu.
" sudah pergi ya . ku kira masih ada " ucap Arthur datang lagi dengan segelas cappuccino ditangannya.
" berisik !! " ucap Lena merampas cappuccino di tangan adik sepupunya itu.
" ambil saja . toh aku beli memang buat kamu . udah pulang yuk . gue lapar " ucap Arthur mendorong pelan kakaknya itu ke pintu keluar bandara.
Lena hanya menurut saja kemauan adiknya itu.
Perlahan tapi pasti , mobil biru milik Arthur pergi dari Bandara Internasional kota DA.
Mobil biru Arthur membelah jalanan kota yang masih padat akan kendaraan yang berlalu lalang.
" kita ke rumah Rean dulu ya. katanya mau ada yang dia diskusikan dengan kita " ucap Arthur pada sang kakak
Lena hanya mengangguk tanpa bantahan apapun atau bertanya.
Arthur menghela nafas panjang karena reaksi dari kakaknya itu.
" kak . Bari itu pergi buat kamu. Demi dipandang pantas bila berdampingan dengan mu suatu hari nanti. makanya ia bekerja keras dengan mengandalkan kemampuannya sendiri . " ucap Arthur.
" ya aku tau itu. tapi tetap saja , hati ini berat harus melihat dia pergi " ucap Lena.
" ya ya aku tau itu. karena aku juga pernah begitu. " ucap Arthur.
Setelah itu , keduanya hanya diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
Tak lama kemudian , Mobil biru itu pun tiba di kediaman Rean.
" silakan masuk . Tuan besar sudah menunggu anda didalam " ucap kepala pelayan mempersilakan Arthur dan Lena masuk ke dalam rumah itu.
" terima kasih " ucap Arthur.
Arthur dan Lena menuju ruangan Rean diantar kepala pelayan itu.
" silakan Tuan dan Nona " ucap kepala pelayan itu membuka ruangan di depan mereka.
Lena masuk ke ruangan itu mendului Arthur , Kepala pelayan itu menelan savina nya saat Lena melewati dirinya.
" itu orang kan " gumam kepala pelayan itu merasakan hawa dingin dan mencekam dari Lena.
Rean yang ada didalam juga sedikit tertekan karena kehadiran Lena.
" haha maaf kalau sedikit dingin , maklum lagi galau " ucap Arthur menepuk pundak kakak nya .
" cepat katakan , ada apa kau menyuruh kami kesini ? " tanya Lena dengan wajah dingin dan cuek nya.
" sebenarnya memang ada yang mau ku bicarakan dengan kalian tapi sebelum itu kita bisa makan dulu , itu pun kalau kalian berkenan. " ucap Rean.
" ya . kebetulan aku juga lagi lapar " ucap Arthur.
Rean memanggil pelayan , satu per satu pelayan masuk ke ruangan itu membawa berbagai hidangan .
Lena hanya diam melihat orang-orang yang silih berganti masuk ke ruangan itu.
Namun , tiba-tiba...
" BERHENTI !! KAU !! " bentak Lena yang secara otomatis membuat mereka berhenti termasuk Arthur yang tengah memegang gelas di tangannya.
" kenapa kak ? " tanya Arthur bingung dan penasaran.
" kau ! apa kau sudah mulai tumpul hah !! sampai-sampai kau tak sadar ada racun di minuman dan makanan ini !! " bentak Lena menaruh gelas yang ada di tangan Arthur.
" racun ? bagaimana bisa ? kalian jelaskan ada apa ini sebenarnya ?!! " bentak Rean.
Para pelayan itu menunduk takut dengan amarah Rean.
" maaf Tuan besar . kami sama sekali tidak tau apa-apa. " dalih Kepala pelayan itu.
" siapa dia ?! " tanya Lena menunjuk salah satu pria berpakaian pelayan yang perlahan mundur ke arah jendela.
" siapa kau !! " tanya kepala pelayan karena tak tau siapa pria itu padahal ia mengenal seluruh pekerja di kediaman itu.
Merasa terancam , pria itu pun langsung kabur melalui jendela di dekatnya.
PRAAAANGG!!
" HEII !!! BERHENTI !! " teriak Arthur mencoba menghentikan pria itu namun sayang sudah terlambat.
Pria itu berhasil kabur melalui jendela .
" TUTUP SEMUA AKSES KELUAR MASUK DI SINI !! JANGAN BIARKAN SEEKOR NYAMUK PUN PERGI !! CEPAT !! " perintah Rean yang secara otomatis di laksanakan para penjaga terlebih penjaga yang menjaga gerbang maupun dinding tinggi.
#
Beberapa jam kemudian .
" Maaf Tuan , kami tidak berhasil menemukan orang itu . kami sudah periksa seluruh tempat bahkan setiap sudut . tapi kami tetap tidak menemukannya " ucap kepala penjaga merasa sangat bersalah karena ia bisa kecolongan seperti tadi.
" terus cari !! " perintah Rean.
" percuma saja kau mencari orang itu sekarang . mereka tidak akan bisa menemukan orang itu . " ucap Lena.
" apa maksud mu ? " tanya Rean bingung dan tak mengerti apa yang dimaksud Lena.
" ah maksudnya itu . orang itu sudah tidak ada disekitar sini lagi. orang itu orang terlatih , jadi sebaiknya kau menyerah mencarinya. lebih baik fokus dengan pertahanan dan periksa lagi para pekerja disini " ucap Arthur memberi saran pada kakak tunangannya.
" kau benar . dengar , perketat penjagaan bila perlu tambah personil lagi " ucap Rean.
" tak perlu susah-susah mencari personil. biar nanti orang-orang ku yang kesini kalau memang kak Rean kekurangan orang " ucap Arthur
" baiklah . Terima Kasih " ucap Rean
" masih ada lagi ?! " sinis Lena karena memang dalam suasana hati yang tak bagus.
" sebenarnya , aku ingin menitipkan perusahaan dan juga kedua adikku pada keluarga kalian untuk sementara waktu " ucap Rean.
" memangnya kau mau kemana ? " tanya Lena
" aku .. hah mungkin memang sebaiknya aku jujur pada kalian tentang hal ini " ucap Rean sedikit tak siap.
Sedangkan Lena dan Arthur memasang wajah penasaran.
" selama ini aku mencari orang-orang yang menghancurkan keluarga ku dulu , yang membuat kami harus terpisah . dan baru-baru ini aku dapat informasi jika mereka ada di negara ah bukan lebih tepatnya kerajaan independen . jadi aku akan kesana dan menghancurkan mereka " ucap Rean penuh emosi.
" kerajaan ?? " tanya Lena dan Arthur saling pandang.
" kerajaan apa ? " tanya Lena
" kerajaan ah kalau gak salah Froze " jawab Rean mengingatnya lagi.
Lena dan Arthur diam dengan wajah tanpa ekspresi saat mendengar jawaban dari Rean itu..
Sedetik kemudian , Arthur mengeluarkan ponsel nya .
" kak Rean , bisa ku lihat daftar orang-orang yang mau kau cari itu ? " tanya Arthur.
" oh iya . ini " ucap Rean memberikan sebuah map berisi data yang diminta Arthur.
Lena yang penasaran ikut melihat data orang-orang yang dimaksud Rean tadi.
Arthur memfoto data-data itu lalu mengirimkan nya pada seseorang.
" bukannya aku melarang. tapi mungkin sebaiknya kak Rean cukup menunggu disini saja. orang-orang ini serahkan padaku " ucap Arthur mengibas-ngibaskan map itu.
Sedangkan Lena diam dan menatap nya .
" hah sudahlah aku ikut apa kata kalian saja " ucap Rean.
Arthur kembali fokus pada ponselnya .
" apa ada hal lain lagi ? " tanya Lena datar dengan wajah cueknya pada Rean. ya karena memang keduanya baru sekali ini bertemu secara langsung dan bertatap muka.
Rean menggelengkan kepalanya .
" oh kalau gitu sebaiknya kita berdua balik sekarang ya kak " ucap Arthur menyimpan ponselnya.
" baiklah . oh dan juga terima kasih , berkat dirimu hari ini aku bisa terhindar dari celaka " ucap Rean pada Lena dan mencuekan Arthur yang tadi berbicara.
" hmm . cuma kebetulan " ucap Lena dingin bahkan tak melihat kearah Rean karena fokus dengan ponsel nya yang berbunyi.
Sedetik kemudian , sebuah senyum terlukis di wajah cantik Lena membuat Rean terpana walaupun hanya sesaat saja namun itu di lihat oleh Arthur.
" kak ! jadi pulang gak ? " tanya Arthur membuyarkan fokus Lena yang tengah sibuk berkirim pesan dengan kekasihnya yang baru saja mendarat.
" oh iya jadi. ayo " jawab Lena langsung saja pergi mendahului Arthur.
" orangnya memang dingin kalau sama orang yang baru dia kenal. tapi kalau udah lama gak kok. Raya juga senang banget kalau lagi main dengan KAKAKKU itu " ucap Arthur menekankan kata 'kakakku' pada Rean.
" iya . sampaikan salamku kepada Tuan dan Nyonya Adinson. kapan-kapan aku akan berkunjung lagi kesana " ucap Rean paham maksud Arthur dan segera mengalihkan pembicaraan.
" hem . kalau gitu kami pamit dulu. akan ku hubungi lagi kak " ucap Arthur .
Rean mengangguk dan hanya melihat mobil biru itu perlahan tapi pasti bergerak menjauh dari rumahnya.
" hah .. lupakan lah. fokus dengan tujuan awalmu Rean !! " gumam Rean menepuk kedua pipi nya.
@
Beberapa hari kemudian .
Arthur yang sekarang tengah berada di ruang tengah lantai 2 bingung dan heran saat melihat keberadaan Rean di lantai 1 tengah duduk dan ngobrol dengan mami nya.
" sejak kapan tuh orang doyan kesini ?! " tanya Julian juga bingung dengan kelakuan kakak Raya itu.
" kak. dia waras kan. dia gak takut apa masuk ke kandang cheetah sendirian gitu . gimana kalau bisa masuk tapi gak bisa keluar ? " tanya Calista.
Ya , Arthur memang tidak sendirian disana karena adik kembarnya juga ada di sampingnya.
" mungkin aja dia kesepian karena di rumahnya gak ada siapa-siapa . jadi dia main kesini terus " jawab Arthur yang sebenarnya juga tidak benar-benar yakin dengan ucapannya itu.
" aku tau kalau kak Raya memang sibuk dengan beberapa butik dan pameran nya. Tapi kalau si Mike itu , dia sibuk apa sampai gak ada dirumah ? " tanya Julian.
" haha itulah akibat nya kalau bisnis dijadikan mainan apalagi taruhan. Mike itu sekarang mungkin tengah terkurung di ruang kerja nya di kantor agensi kakak dulu.. hahaha .. dia nya aja sih yang berpikir pekerjaan ini mudah padahal ini adalah pekerjaan yang banyak menguras tenaga dan pikiran " ucap Arthur senang.
Sedangkan Julian dan Calista langsung menyingkir , meninggalkan sang kakak sulung sendirian disana dengan khayalan nya yang aneh itu.
Dilantai 1 tampak Rean terus melihat kesana kemari saat Nyonya Adinson sedang minum .
" kau butuh sesuatu ? Rean " tanya Nyonya Adinson
" ah maafkan ketidaksopanan saya Nyonya. saya hanya melihat-lihat karena kagum dan masih tak percaya sudah diizinkan masuk dan melihat isi dalam mansion megah ini ." ucap Rean salah tingkah.
" haha. terima kasih atas pujian nya, Rean " ucap Nyonya Adinson.
Setelah berbincang-bincang sebentar dengan calon ibu mertua adiknya itu kini giliran berbincang dengan calon ayah mertua Raya.
" oh sweety. ku pikir dirimu kemana karena tidak menjawab telepon dariku. apakah engkau tau betapa khawatirnya diriku " teriak Tuan Adison yang pulang terburu-buru dan langsung memeluk istrinya.
" ehem. apa kau tak lihat ada anak orang disini ?! " gumam Nyonya Adinson mencubit pinggang suaminya yang terkadang terlewat sangat lebay.
" oh benarkah. haha maaf ya nak Rean. om gak lihat tadi..hahaha " ucap Tuan Adinson.
Sedangkan Julian dan Calista kembali lagi menonton bersama Arthur karena mendengar suara papi mereka .
" ada tontonan nih kayaknya " ucap Lian.
" Papi papi.. masa iya masih cemburu dengan pria yang lebih pantas disebut anak itu sih .. ck ck ck " komentar Lian itu malah di serang dengan sorot tajam kedua kakaknya.
" jangankan itu jelas-jelas orang yang gak ada hubungan darah . dengan kita bertiga yang sangat jelas darah daging nya sendiri aja masih suka cemburu dan memonopoli mami untuk nya sendiri " ucap Arthur
Sedangkan Rean lebih memilih pamit daripada harus jadi sasaran kecemburuan seorang Adinson yang sangat dikenal protektif dengan apa yang mereka miliki.
" dia ngapain kesini ? " tanya Tuan Adinson pada istrinya.
" entahlah mungkin kesepian karena gak ada teman dirumahnya. dan juga dia itu anaknya sedikit tertutup jadi gak punya yang namanya teman diluar " jawab Nyonya Adinson.
To Be Continue 😊😘🤗