
Begitu Arthur membereskan ketiga mobil itu.
mereka pun tiba di markas Dragon Eyes.
Leon mengajak Arthur masuk terlebih dahulu dan menunggu dirinya yang membersihkan diri karena bajunya berlumuran darah.
Arthur menunggu di ruang tunggu sambil mengirim pesan ke Raya , kekasihnya.
" selamat malam cantik , lagi ngapain ? " tanya Arthur.
" malam juga tampan. baru selesai nidurin anak-anak panti , kamu udah makan disana ? " tanya Raya
" belum , mungkin bentar lagi .. ah iya , gelangnya masih kamu pakai kan sayang ? " tanya Arthur , dihatinya sedikit khawatir dengan keselamatan Raya jika suatu saat musuh-musuh keluarganya mengetahui hubungan mereka.
" iya masih kok.. ini hadiah darimu , jadi gak akan aku lepas kok sayang " ucap Raya .
" baguslah kalau begitu . ah iya , seharian besok jadwalku mungkin penuh , ah aku kangen sama kamu sayangku " ucap Arthur manja.
Leon melihat Arthur telponan dengan tingkah manja tapi yang membuatnya tak habis pikir adalah tangan kanannya Arthur tetap memegang pistolnya.
" ehem " Leon berdehem agar Arthur tak kaget dengan keberadaannya.
" ah sayang , ada yang mau ngomong , mau kenalan katanya " ucap Arthur membuat Leon mengangkat sebelah alisnya.
" pacarku " bisik Arthur mengkode pamannya itu.
Leon pun menerima ponsel Arthur.
" halo selamat malam , saya pamannya Arthur .. dengan siapa saya berbicara ? " tanya Leon.
Diseberang sana , Raya sedikit kaget mendengar suara lelaki yang ngaku sebagai paman kekasihnya itu , karena suara itu tak seperti suara orang tua melainkan seperti suara seorang pemuda yang baru masuk kuliah.
" halo ? " ulang Leon.
" ah selamat malam om. saya Raya , emm.. pacarnya Arthur " jawab Raya gugup
" oh kalau gitu tolong jaga keponakan saya selama ia berada di kota DA ya " ucap Leon
" iya om " jawab Raya gugup.
" kalau gitu , saya kembalikan ke Arthur " ucap Leon memberikan ponsel itu kembali ke Arthur.
Lalu Leon berjalan lebih dulu menuju garasi bawah .
Arthur pun mengikutinya sambil terus menelpon kekasihnya.
Leon sedikit aneh karena mendengar percakapan pasangan yang tengah kasmaran itu.
" Ar , cepat naik " ucap Leon menghentikan mobil didepan Arthur.
" sayang udah dulu ya , entar aku telepon lagi . miss you honey " ucap Arthur sambil masuk ke mobil lalu mengakhiri panggilannya dengan Raya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan metrocity.
" sejak kapan kamu pacaran Ar ? " tanya Leon
" hmm mungkin sekitar 2 bulan paman " jawab Arthur memeriksa ponselnya.
" apa dia baik denganmu? " tanya Leon
" iya , sangat baik .. paman mau lihat orangnya , ini fotonya " ucap Arthur menunjukkan foto Raya yang tanpa dandanan alias natural.
" hm ya. berarti Lena tau pacarmu itu ? " tanya Leon
" iya paman. papi mami sama si kembar juga udah lihat langsung orangnya " jawab Arthur paham maksud pertanyaan pamannya.
" apa tanggapan mamimu ? " tanya Leon
" ya , bisa dibilang masih dalam proses setuju " ucap Arthur menunduk.
" Ar ingat , kita sebagai lelaki harus bertanggung jawab dengan segala perbuatan kita dan kita juga harus berusaha yang terbaik melindungi orang yang kita sayangi , kamu mengertikan ? " tanya Leon dengan nada lembut.
" iya paman . Arthur mengerti maksud paman " jawab Arthur
Tak lama kemudian , mobil pun berhenti di depan sebuah restoran.
" pakai maskermu , paman gak mau kalah pamor darimu " ucap Leon turun dari mobil
Arthur hanya tersenyum kecil dengan tingkah dari pamannya yang kini merasa tersaingi .
Arthur pun keluar lengkap dengan kacamata tebalnya dan juga masker hitam.
ia berjalan beberapa langkah dibelakang Leon.
Saat Leon masuk ke sebuah ruang pribadi , Arthur tak langsung masuk melainkan mengamati keadaan sekitarnya.
ia sedikit bingung saat melihat Lena kakak sepupunya juga duduk dimeja bundar besar itu dengan mamanya .
Namun akhirnya ia sedikit mengerti saat melihat seorang pemuda yang ia kenali juga duduk di meja itu bersama sepasang suami-istri .
Arthur mendengarkan obrolan mereka dari luar dan akhirnya sedikit mengerti status keluarga Petrus.
" oh ternyata begitu, beraninya kalian mau memanfaatkan kakakku " kesal Arthur mendengar niat ayah Petrus yang sebenarnya ingin mengambil Lena sebagai menantu.
Leon dan ayah Petrus memang saling kenal karena ayah Petrus adalah Rektor di kampus tempat Arthur belajar saat ini.
awalnya Leon berpikir apa niat ayah Petrus mendadak mengundang mereka sekeluarga makan malam.
" ehem .. jangan cuma berdiri diluar aja . masuk " ucap Leon sedikit keras.
Arthur pun masuk dengan langkah tegap dan aura yang kuat.
" malam paman , malam bibi.. terima kasih atas undangan makan malamnya . hay cantik , ini untukmu " ucap Arthur mulai memainkan perannya.
" ah kamu sudah datang Ar. ayo duduk sini dekat Lena.. daritadi mami mu terus nanyain kamu , ayo makan dulu " ucap Viona , mama nya Lena.
Arthur pun duduk di antara Lena dan Viona.
Petrus sedikit risih dengan kehadiran si cupu kampusnya.
ya Petrus belum tau jika si cupu itu adalah artis terkenal.
" ah maafkan kelancangan saya Tuan Anson. tapi kenapa mahasiswa saya bisa ada disini ? " tanya ayah Petrus.
" malam pak Rektor yang terhormat.. saya diundang orang yang saya sayangi , tentu saja saya pasti datang , iyakan ? " Arthur mengkode Lena.
" iya om.. saya yang mengundangnya " jawab Lena
" bukannya kamu itu mahasiswa beasiswa dikampus suamiku , dapat uang darimana kamu bisa terbang kesini ?! " tanya ibunya Petrus dengan sombong.
" hus diamlah jangan banyak bicara " ucap ayah Petrus menegur istrinya.
" maaf om , tapi setau saya Arthur ini seorang playboy. main hati dari satu gadis ke gadis lainnya " ucap Petrus
" ia ditolak mentah-mentah oleh Ratu kampus karena ia itu miskin dan gak punya apa-apa.. kalau Lena dengannya , Lena akan sengsara om..tolong pikirkan lamaran saya " ucap Petrus.
" apa itu benar Lena , Arthur ? ditolak mentah-mentah ! " ucap Leon emosi mendengar keponakannya tersayang ditolak.
" iya pa , aunty takut Arthur sedih makanya Lena kesana waktu itu " ucap Lena.
" kita bahas itu dirumah aja pa .. " ucap Viona
" Kamu !! mulai besok jangan pernah muncul lagi di kampusku ."ucap Leon pada ayah Petrus
" tapi Tuan , saya mohon berikan saya kesempatan lagi .. saya janji akan berusaha lebih baik lagi " ucap ayah Petrus.
" selama ini saya sudah berikan kalian kesempatan. tapi nyatanya apa .. bukan hanya menggelapkan dana kampus , kau juga membiarkan anakmu berlaku semena-mena dan tak tau aturan. ku berikan waktu 1 minggu , dana yang hilang harus kembali secara utuh tanpa kurang sedikit pu " ucap Leon tegas
" Ar, ayo pulang . kamu bawa mobilnya " ucap Leon melemparkan kunci ke Arthur.
Petrus tak terima keluarga nya dibuang begitu saja.
hingga ia mengambil pisau dan langsung menawan Lena.
Leon dan Viona tak senang dengan itu.
begitu juga Lena dan Arthur.
" kau atau aku ? " tanya Arthur.
" heh tentu aku aja .." ucap Lena tak gugup sama sekali padahal pisau itu berada dilehernya.
Syuut. BRAAK .. PRANG !!
Keadaan pun berbalik. Kini Petrus lah yang terpojok dengan Lena yang mengarahkan pisau itu ke lehernya.
" tolong maafkan anakku !! ia anakku satu-satunya " tangis ibu Petrus.
" heh.. jika tak kulihat ibumu , jangan harap kau bisa melihat matahari besok.. ingat ini baik-baik .. jika kau melihatku dari jauh , bersembunyi lah. karena setiap ku lihat batang hidungmu lagi , maka akan ku pastikan hidupmu berakhir saat itu juga.. paham kau !! " ucap Lena menepuk pipi Petrus.
" Lena , Arthur .. ayo pulang " ucap Leon keluar dari ruangan Itu .
Arthur dan Lena mengikuti dari belakang.
" ini untuk anda Nyonya.. pergilah sejauh mungkin dengan keluarga anda dari negara ini jika anda ingin nyawa keluarga anda selamat.. lebih cepat lebih baik " ucap Viona memberikan cek ke ibu Petrus.
Lalu keluar menyusul suaminya.
" kayaknya paman marah ya kak ? " tanya Arthur pelan.
" kayaknya sih iya.. habislah kita " jawab Lena pelan .
Keduanya bergidik ngeri membayangkan amarah dari Leon.
To be Continue 😘😊🤗