
Hari yang di nanti pun tiba .
Hari ini Arthur akan pergi ke metrocity untuk urusan pekerjaan bersama Lena yang juga disuruh pulang papanya.
Raya ditemani Bari mengantar Arthur dan Lena ke bandara.
" jangan lupa rindukan aku ya " ucap Arthur manja ke Raya tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarnya.
" iya . kabari aku kalau udah sampai disana.. jangan lupa makan " ucap Raya menatap Arthur yang sangat ia cintai.
" iya . aku janji akan segera pulang begitu kerjaan disana selesai." ucap Arthur.
" jangan pernah dilepas ya . walaupun kena hujan atau apapun . ingat jangan pernah dilepas . janji ? " tanya Arthur memakaikan sebuah gelang ke lengan Raya , gelang yang hampir sama seperti miliknya.
Lena sedikit kaget saat melihat Arthur memakaikan gelang itu ke Raya karena yang ia tau gelang itu buatan khusus paman Johan LU mereka dan hanya anggota keluarga lah boleh memakainya.
" kayaknya nih bocah serius ya " batin Lena
" iya aku janji " ucap Raya
" Ar , ayo pesawatnya bentar lagi lepas landas tuh " ucap Lena mengingatkan .
sebenarnya Arthur tak ingin berpisah dari Raya tapi ia harus karena tuntutan pekerjaan.
Arthur memeluk erat Raya , dan Raya pun membalasnya.
" nenek lampir , sini peluk " ucap Bari langsung memeluk Lena.
" eh om om jelek.. jangan cari kesempatan ya . " bentak Lena mendorong Bari
" ck.. sesama jomblo harus saling menghibur " ucap Bari melirik Arthur dan Raya yang masih berpelukan.
Bari pun langsung menarik lagi Lena kedalam pelukannya.
" hati-hati di jalan.. jaga dirimu. jangan pernah ngebut lagi " ucap Bari pelan sambil memeluk Lena
Lena hanya diam saat merasakan kekhawatiran Bari terhadap dirinya.
Dengan enggan , Arthur melepas pelukannya dengan Raya .
keduanya diam dan memperhatikan Bari dan Lena yang masih berpelukan dalam diam.
" ehem.. kak .. papa mu nelpon " ucap Arthur menunjukkan layar ponselnya ke Lena.
Lena langsung mendorong Bari lagi dan berjalan menjauh setelah menyambar ponsel Arthur.
" Kalau mau PDKT , boleh aja kok.. entar aku yang ngelobi paman sama bibi " goda Arthur menepuk bahu Bari.
" siapa yang PDKT , kalian yang salah.. siapa suruh pamer kemesraan di depan para jomblo.. huh " Elak Bari.
namun Raya tertawa kecil saat melihat telinga Bari jadi merah.
" dasar tukang boong " batin Raya.
Lena pun kembali dan membisikkan sesuatu ke Arthur.
Arthur mengangguk tanda mengerti akan instruksi yang di berikan pamannya.
" sayang , aku pergi dulu ya.. ingat jangan lupa rindukan aku ya " ucap Arthur mencium kening Raya
" iya , hati-hati " jawab Raya .
" Bar , tolong jagain Raya ya " ucap Arthur pada Bari
" tenang aja , Raya aman " ucap Bari.
Arthur memakai kacamata hitamnya lalu berjalan menjauh dari Raya dan Bari.
" kalau ada sesuatu , segera kabari aku ya . jangan sungkan " ucap Lena memberikan nomor ponsel pribadinya.
" baiklah.. hati-hati ya kak " ucap Raya melambaikan tangannya saat Lena juga berjalan menjauh , menyusul Arthur yang sudah lebih dulu..
Raya terus menatap pintu kaca transparan itu bahkan saat punggung Arthur sudah tak terlihat lagi.
" Ra , udah ah.. mereka udah naik pesawat. ayo pergi " ucap Bari
Raya dan Bari pun pergi meninggalkan bandara menggunakan motor hadiah dari Arthur.
Sementara didalam bandara.
Arthur dan Lena bukannya naik pesawat komersil seperti jadwal mereka.
tapi mereka naik pesawat pribadi yang dikirimkan papanya Lena , Leon Anson.
" kak kok mendadak gini sih ? " tanya Arthur duduk didalam pesawat.
" ya papa bilang ada hal penting . jadi kita disuruh cepat " ucap Lena
" hal penting ? misi lagi. tapi aku ada jadwal syuting besok siang " ucap Arthur melihat buku jadwalnya.sejak debut , Arthur tak punya manager , ia sendirilah yang mengurus dan menyusun jadwal pekerjaan nya.
" ya kita lihat aja nanti gimana pengaturan papa sama aunty " ucap Lena
Perjalanan mereka tak begitu lama.
Mereka pun sudah tiba dibandara internasional metrocity.
Seperti biasa , Lena dan Arthur dan berpisah begitu keluar bandara karena Lena tak suka menjadi sorotan jika bersama Arthur.
Arthur sudah biasa dengan kelompok fans yang menyambut kedatangannya . sambutan hangat itu ia balas dengan senyuman dan lambaian tangan.
" Mr Arthur , saya Nia perwakilan dari perusahaan PL . menyambut kedatangan anda dengan senang hati " ucap seorang wanita membawa sebuah papan nama dirinya .
" terima kasih atas sambutannya. bisa kita pergi sekarang ? " tanya Arthur pada wanita itu.
" tentu silakan Mr. " ucap Nia memimpin mengajak Arthur ke mobil jemputan mereka.
DRRT DRRT.
Arthur langsung nenerima panggilan dari Lena .
" jangan lupa nanti malam langsung ke mansion " ucap Lena begitu panggilan itu tersambung.
" oke aku ngerti " jawab Arthur didalam mobil.
lalu panggilan pun langsung di putuskan.
" Mr Arthur , kalau berkenan ,apa boleh saya tau kapan waktu luang anda ? " tanya Nia mencoba mendekati Arthur.
" maaf , tapi cukup fokus pada pekerjaan saya saja jangan hal lainnya . tapi anda bisa tenang karena saya selalu melakukan yang terbaik untuk pekerjaan " ucap Arthur .
" hm.. baiklah " ucap Nia kembali diam.
Sepanjang perjalanan menuju hotel tempat Arthur menginap , mereka semua hanya diam tanpa bicara.
Nia fokus mengemudi , sedangkan Arthur sibuk dengan ponselnya menulis 'laporan' untuk kekasihnya.
Mobil itu pun berhenti didepan pintu utama hotel.
" terima kasih atas tumpangan nya . saya permisi " ucap Arthur menarik kopernya masuk ke lobi.
bahkan Nia yang awalnya berniat mendekati Arthur hanya bisa diam tak tau harus berkata apa dengan sikap dingin Arthur .
Nia kembali ke perusahaan nya setelah memastikan Arthur menerima kartu kamarnya.
#
Arthur langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang lalu memejamkan matanya sebentar.
Tak terasa ia pun ditarik ke alam mimpi.
#
Raya dan Bari kembali ke panti asuhan dengan membawa beberapa barang dan bahan pokok lainnya.
Tampak Bari sangat senang menemani anak-anak kecil itu bermain di halaman.
Sedangkan Raya membantu bu Rol selaku ibu panti memasak didapur.
Setelah siap , mereka pun makan bersama.
#
Malam pun tiba , Saat Raya membantu ibu Rol mengurus anak-anak panti.
Arthur berangkat ke kediaman keluarga Anson dengan jemputan.
" paman , kenapa paman yang jemput aku ? " tanya Arthur karena ia kaget melihat sang paman sendirilah yang membawa mobil hitam itu.
Seorang lelaki dewasa yang masih terlihat gagah dan rupawan diusianya yang menginjak 50 tahun.
Siapa lagi jika bukan Leon Anson , kakak kandung dari mami Arthur , Angela Anson.
" pasang sabuk pengamanmu . kau bawa senjatamu kan ? " tanya Leon menghidupkan mesin mobil.
" iya bawa paman " jawab Arthur menunjukkan kotak basoka serta pistol di pinggangnya.
" bagus , mereka menemukan kita . bersiaplah " ucap Leon melirik kaca spion.
Arthur pun melihat kebelakang , ada 3 buah mobil yang melaju kencang ke arah mereka.
Leon melajukan mobilnya diatas kecepatan rata-rata.
Sedangkan Arthur dengan cepat langsung menembaki mobil-mobil itu.
dalam hitungan detik mobil-mobil itu hancur berkeping-keping.
Leon terus melajukan mobilnya menuju markas Dragon Eyes yang masih bersebrangan dengan markas rahasia Pasukan Bayangan.
to be continue 😊😘🤗