
Lista dan Edward terus berjalan-jalan disekitar pasar dan kota yang memang tidak terlalu besar .
" kita mau kemana ? " tanya Lista
" hanya jalan-jalan . tapi kemana pun kamu mau , akan ku temani " ucap Edward.
" kalau gitu , rumah mu dimana ? maksudku rumah mu selama di Tekan. Paman Diyan bilang kamu jarang sekali pulang dan itu pun gak pernah lama . jadi dimana rumahmu ? " tanya Lista sebenarnya penasaran dengan pesan dari Lian yang bilang mau cari rumah baru untuk Edward.
" rumah ku lumayan jauh dari sini dan aku takut kamu bakal capek kalau jalan kaki kesana . Bentar ya " ucap Edward menghampiri salah satu prajurit yang sedang bertugas di sekitar situ.
Lista bisa melihat jika status Edward disini cukup berpengaruh karena prajurit juga segan padanya.
Prajurit malang itu berlari begitu mendapat permintaan dari Edward dan beberapa saat kemudian prajurit itu pun kembali dengan seekor kuda putih.
" Ta , kenalin . ini kuda ku , lebih tepatnya kuda cepatku. dialah yang menemaniku saat bertugas . dimana pun itu " ucap Edward membawa kuda itu ke hadapan Lista.
" pangeran kuda putih !? " batin Lista
" kita pakai ini ? " tanya Lista
Edward mengangguk lalu membantu Calista untuk naik.
" tenang saja . aku gak akan biarkan kamu jatuh " ucap Edward memegang tali kendali kudanya.
Keduanya jadi pusat perhatian orang orang yang melihatnya. Warga tak menyangka akan ada hari dimana Jendral Termuda kerajaan mereka yang dikenal sangat anti dengan gadis manapun kini berkuda dengan seorang gadis yang orang awam pun tau jika gadis itu bukan gadis biasa.
Saat sedang asyik berkuda , tiba-tiba hujan deras mengguyur mereka. Tapi karena jarak yang sudah tak terlalu jauh . Lista meminta Edward terus melaju dan tidak berteduh dijalan.
Akhirnya , Lista dan Edward pun sampai dirumah Edward.
Perasaan Calista yang sangat peka bisa dengan mudah merasakan keanehan di rumah Edward.
" ayo masuk. " ucap Edward membuka pintu rumahnya.
Calista meraba sesuatu di saku nya lalu masuk mengikuti Edward.
" maaf , karena aku kamu jadi basah dan kedinginan. ganti saja dengan ini , biar gak sakit " ucap Edward memberikan handuk dan pakaian kering untuk Calista.
" makasih . tapi ini punya siapa ? " tanya Calista karena pakaian kering yang diberikan Edward itu pakaian wanita.
" aahh.. ini bukan seperti yang kamu pikirkan. sebenarnya , itu aku beli sendiri . Untukmu " jawab Edward menunduk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" makasih banyak ya . kamu baik " ucap Calista tersenyum manis.
" eemm.. itu .. disana . disana kamarmu.. kalau yang itu kamar Julian tadi malam " ucap Edward salah tingkah lalu menunjuk pintu kamar yang berbeda.
Pintu kamar Calista berada tepat di samping kamar Edward , sedangkan kamar yang dipakai Lian itu kamar tamu yang ada di depan.
" yaudah aku mau ganti dulu. kamu juga , cepat mandi dan ganti baju ya biar gak sakit " ucap Calista lembut lalu masuk ke kamar yang ditunjuk Edward.
" oh jantung ku.. tenang lah " gumam Edward memegangi dadanya merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Setelah berganti baju . Lista membuat makanan untuk mereka berdua selagi menunggu hujan reda.
" biar aku aja. " ucap Edward.
" hus , biarkan aku saja . oke " ucap Calista.
" hem. yaudah, tapi ada yang bisa aku bantuin gak ? " tanya Edward.
" oh itu , tolong ambilkan mangkok diatas itu. soalnya aku gak nyampe. hehe " ucap Lista tertawa kecil.
Edward tersenyum melihat tawa di wajah gadis yang ia cintai.
" Ta , apapun keputusan mu nanti. janji satu hal padaku. kamu harus terus bahagia. bisakan ? " tanya Edward memegang lembut pipi Calista.
Sesaat mata keduanya bertemu pandang.
Namun, sebuah suara menyadarkan mereka.
KRUUUKK
Hening , Suasana yang tadinya cair kini jadi canggung dan keduanya pun salah tingkah.
Edward yang katanya mau menolong langsung keluar dari dapur dan menonton di ruang tengah
" ha kenapa jadi panas ya . " gumam Calista lalu melanjutkan kegiatan yang tadi sempat terhenti.
Makan sudah , ngobrol juga dari tadi gak berhenti .
Namun entah kenapa hari itu hujan tidak mau berhenti barang sebentar.
Bukannya berhenti , hujan malah bertambah deras.
Hari itu di kerajaan Trian semua tempat penyimpanan air yang tadinya kering kini terisi penuh.
" kayaknya benar ya mitos yang bilang putra putri mahkota harus mengikat hubungan dengan orang berderajat . Padahal udah hampir 1 bulan disini gak turun hujan , eh begitu Layla dipastikan bersama dengan Lian bukannya si cunguk itu sekarang hujan nya juga turun secara merata. " ucap Calista melihat air hujan diluar jendela .
" ya tapi gimana kalau kita gak bisa kembali hari ini. bukannya nanti kamu dimarahin sama orangtua mu " ucap Edward memindahkan bidak catur nya.
" tadi aku udah nelpon mami kok. mami sih gak apa-apa. katanya nanti kalau udah reda langsung pulang , tapi kalau gak reda juga ya harap maklum . gitu katanya " ucap Calista melihat susunan bidak catur didepannya.
" oh gitu. syukurlah , soalnya aku takut kamu dimarahin. dan lebib takut lagi kalau kamu dilarang ketemu sama aku lagi " ucap Edward.
" hahaha.. gak sampai segitu nya juga kali. Mami sama papi gak masalah kami bertiga berteman ataupun menjalin hubungan dengan orang lain asalkan tau batasan yang diperbolehkan dan kalau lewat batas , ya harus tanggung jawab plus dapat hukuman tentunya.. " ucap Calista tersenyum
#
Saat Calista dan Edward terjebak hujan dirumah Edward.
Kondisi Julian juga tidak berbeda jauh dengan kembarannya.
masyarakat Trian percaya turunnya hujan setelah kemarau panjang ini karena putri mahkota kerajaan mereka menerima pinangan dari pangeran kerajaan sekutu dan disinilah Julian dan Layla.
Keduanya dibawa keliling kota dengan tandu sambil berhujan-hujanan.
" biar gak terlalu dingin " ucap Lian memegang tangan Layla yang sedikit kedinginan dan mengeluarkan sedikit hawa panas nya.
" makasih " ucap Layla.
" makasih untuk apa ? " tanya Lian
" makasih karena mau menggagalkan pertunangan yang dipaksakan itu dan juga terima kasih karena mau menerima ku " ucap Layla.
" aku harap kamu tidak marah kalau ku katakan ini.sebenarnya aku belum ada perasaan yang berbeda dari biasanya padamu. mungkin karena kita sudah lama seperti saudara dan sahabat dan juga karena ada sebuah nama di dalam hatiku selama ini . jika kamu gak keberatan , apa boleh aku belajar untuk mencintaimu ? " tanya Julian berkata jujur karena memang ada sebuah nama yang sangat terukir didalam hatinya.
Layla tersenyum .
" aku tau semua itu bahkan jika kamu tidak cerita. Aku juga tau ada sebuah nama yang tidak bisa hilang dihatimu. Tapi aku senang karena kamu mau membalas perasaanku walaupun secara perlahan . Aku juga gak keberatan dengan segala masa lalu mu . aku malah berterima kasih dengan nama dihatimu itu karena dirinya lah aku bisa bersamamu disini , sekarang " ucap Layla yang memang sudah tau dari Calista dan ayahnya, Hyper tentang trauma dan masa lalu Julian di Athan.
" aku akan melindungi mu dan membuat mu bahagia. aku janji " ucap Julian menatap lembut wajah Layla yang tersenyum manis.
Di saat yang sama , ada seseorang yang menatap penuh benci dan amarah pada Layla dan Julian .
" kau hanya boleh bersamaku. lebih baik kau lenyap daripada diambil orang lain " ucap orang itu penuh dendam lalu hilang di balik kerumunan orang dan derasnya hujan.
" apa mungkin hanya perasaan aku aja ya " batin Julian melihat tempat dimana orang itu berada sebelum hilang .
" semoga semua berjalan lancar " batin Layla.
To Be Continue 😘😘😊🤗🤗