YOUNG CEO And QUEEN OF MAFIA

YOUNG CEO And QUEEN OF MAFIA
S 3 - 72



Lian semakin geram dan marah karena Dav semakin menjadi-jadi.


" aku gak apa-apa . lanjut jalan saja " ucap Layla tersenyum lirih karena menahan sakit di seluruh tubuhnya.


" Sisakan nafas terakhirnya untukku " ucap Lian pada Lista yang kini melilitkan cambuk itu ke tubuh si Dav.


" cepat bawa Layla pergi. dia kehilangan banyak darah " ucap Lista. Lian pergi dengan menggendong Layla di punggungnya.


Sedangkan Lista juga sedang tidak ingin berlama-lama dengan Dav itu dan sangat kebetulan sang kakak pun datang .


" kenapa jadi aku sih yang ngurus cecunguk ini !" gerutu Arthur melihat Dav yang sudah tak sadarkan diri karena dipukuli oleh Lista sebelum Arthur datang.


Saat Arthur membawa Dav ke ruang isolasi tersembunyi , Lian pun membawa Layla ke tempat aman seperti yang di katakan maminya.


" Lian , kamu tunggu diluar. biar dokter yang menangani luka Layla " ucap Angela pada putra bungsu nya itu.


" kenapa mi ? " tanya Lian , karena ia takut jika saat ia keluar maka ia tidak akan bisa bertemu dengan Layla lagi untuk selamanya.


" Layla itu anak gadis , boy. biarpun kalian tunangan , belum sepantasnya kau melihat tubuhnya yang polos . paham " ucap Reiki..


PLETAK


Reiki memegangi kepala nya yang di ketuk Angela dari belakang.


" jangan racuni pikiran polos putra ku " ucap Angela datar.


" oke oke .. maaf sweety " ucap Reiki merangkul istrinya.


" pi , mi .. paman sama bibi bagaimana ? udah ada kabar belum ? " tanya Lista yang menyusul Lian.


" kalian tenang saja.. mereka lagi pergi ke tempat kakek kalian untuk urusan pekerjaan , jadi mereka aman. sedangkan prajurit asli istana ini , kebanyakan ikut mengawal mereka di perjalanan dan hanya tersisa sedikit diistana " jelas Angela


" lalu para prajurit itu kemana ? " tanya Lian


" heemm.. pergi ke area perbatasan , tempat camp pasukan penjaga perbatasan diserang " ucap Reiki melirik perubahan ekspresi dari Lista.


" Berarti mereka pergi jemput Ed. Kalau gitu ..! " Lista menyadari yang menyadari sesuatu pun langsung bergegas pergi ke tempat penyimpanan kuda bahkan tanpa menghiraukan teriakan dari Lian.


" kamu mau nunggu Layla disini atau pergi menemani saudarimu ? " tanya Reiki.


Terlihat kebimbangan di wajah Lian karena disuruh memilih antara tunangannya atau saudaranya.


Setelah lama berpikir , keputusan pun diambil.


" aku disini aja pi , mi .. Layla cuma sendirian sekarang dan dia butuh aku. kalau Lista , dia yang sekarang dalam mode on . Bahkan hantu aja takut dengannya , hanya orang yang bosan hidup yang berani dengan Lista yang dalam mode super bar bar itu. " jelas Lian


" baiklah. kalau itu pilihanmu. kalau gitu mami sama papi menyusul kakak mu . mami mau lihat tampang orang yang berani menjadi otak pemberontakan kali ini " ucap Angela.


Angela dan Reiki pun pergi , meninggalkan Lian yang menunggu Layla diluar sendirian.


#


Sementara Lista yang sudah berkuda selama hampir 2 jam dalam kecepatan yang tinggi pun akhirnya tiba di tempat tujuan nya. Rumah Edward.


Waktu kini menunjukkan malam yang sudah semakin larut , namun rumah Edward tampak sunyi hanya ada sebuah lampu yang menyala di luar.


Lista pun masuk ke rumah Edward bahkan ia tidak sadar akan sebuah keanehan.


Dan ia baru sadar keanehan itu saat sudah ada didalam rumah..


" SIAPA KALIAN !! CEPAT KELUAR JANGAN SEMBUNYI LAGI !! BERANINYA KALIAN MASUK KE RUMAH ORANG TANPA IZIN " teriak Lista memegang gagang pedang nya seolah siap menebas kapanpun .


Ya , keanehan yang sempat luput itu adalah pintu rumah Edward yang harus nya terkunci karena Edward sudah seminggu lebih bertugas di luar. Tapi saat Lista masuk tadi , pintu itu tidak terkunci bahkan sedikit terbuka.


Tak lama , keluarlah beberapa orang dengan memegang senjata.


" kalau kalian tidak katakan yang sebenarnya , jangan salahkan aku kalau ku pakai darah kalian untuk memandikan pedang kembar kesayanganku ini " ancam Lista mengeluarkan pedang dari sarungnya.


Clatek.!!


Rumah yang tadinya gelap kini terang benderang.


Lista pun terdiam ditempat saat melihat orang-orang asing itu , begitu juga dengan orang-orang asing itu karena mengenali logo dan ciri pedang yang ada didepan mereka.


" well , maafkan kelancangan kami , Tuan Putri " ucap seorang pria dewasa yang mungkin seumuran dengan paman Hyper nya, Lista menatap heran pada pria yang keluar dari kamar Edward.


Namun sesaat kemudian, Lista menyadari identitas pria dewasa yang harus nya ia panggil paman itu.


" maafkan sikap kasar saya paman " ucap Lista sopan. pria yang dipanggil paman itu pun tersenyum kecil melihat sikap Lista.


" karena insiden penyerangan kemarin , kami jadi lebih waspada pada orang yang datang kemari . karena itulah mengapa kami bersikap seperti tadi. Harap Tuan Putri sudi memaafkan kami " ucap orang-orang asing yang tadi siap menyerang Lista dalam kegelapan.


" sudahlah , lebih baik lupakan kesalahpaham tadi.. oh iya paman , bukannya paman pergi ke perbatasan . kenapa sekarang paman ada disini ? " tanya Lista


Pria dewasa yang Lista panggil Paman itu adalah kakak dari Permaisuri Trian saat ini sekaligus paman dari Layla yang memimpin pasukan bantuan ke perbatasan.


" ya , kami kesini karena membawa Edward supaya bisa menghindari pertempuran yang merugikan baginya " jelas Paman itu melihat ke arah pintu kamar Edward yang sedikit terbuka.


Lista langsung berjalan ke kamar Edward , hatinya pilu karena melihat pemuda yang biasa nya ceria dan energik kini terbaring lemah diatas ranjang .


Tubuhnya pun dipenuhi perban yang menutupi luka-luka nya.


" bukannya aku ikut campur. Tapi ku lihat bocah ini sangat serius padamu , ia bahkan mengingatmu sebelum ia pingsan. Tapi apa kamu yakin mau menerima nya mengingat kondisi bocah ini yang mungkin harus melepaskan posisi nya di militer karena fisiknya sekarang . apa kamu yakin bisa menjaganya walaupun mungkin dimasa depan ia tidak bisa menjaga mu seperti sebelumnya. apa kamu yakin karena bisa saja ia akan menjadi beban dan halangan bagimu ke depan nya. " ucap Paman itu ikut masuk menemani Lista yang duduk di samping Edward.


Lista menatap wajah pucat Edward , nafas nya masih belum terlalu stabil .


" aku yakin. bagiku fisik atau tampilan luar itu tidaklah penting , yang terpenting adalah hati yang tulus dan kesetiaan hingga hembusan nafas terakhir. aku tidak mau menyesal di kemudian hari karena melepaskan begitu saja hati yang setia dan tulus. Masalah menjadi beban atau halangan di masa depan itu tidak penting.. jika di masa depan ada yang berani meremehkan ataupun menyakitinya , maka akulah orang pertama yang akan menyiksa orang-orang itu " ucap Lista menggenggam lembut tangan Edward dan ditempelkan ke pipinya.


" aku yakin kamu mendengar apa yang ku katakan. jadi bangunlah. jangan tidur terlalu lama " ucap Lista meneteskan air mata.


Paman Layla pun keluar dari kamar Edward , meninggalkan Lista dan Edward berdua saja..


Lista yang kini sedikit lega karena jujur pada kata hatinya , merasa terganggu dan kesal karena suara aneh yang tiba-tiba merusak suasana.


Lista keluar dari kamar Edward dan melihat suasana kembali sunyi , pasukan paman Layla entah bersembunyi kemana..


Namun , telinga Lista bisa mendengar jelas suara dari arah belakang..


To Be Continue 😊😘🤗