YOUNG CEO And QUEEN OF MAFIA

YOUNG CEO And QUEEN OF MAFIA
S 3 - 63



Arthur pun duduk lagi di samping Raya.


" jadi maksudmu , Layla bukannya diculik tapi ia sengaja kabur dari rumah dan bersembunyi . Tapi ia sempat menelpon mu. begitu maksudmu ? " tanya Arthur.


" ya begitulah perkiraan ku kak " jawab Lian yang duduk di lantai memegangi kepala nya yang habis di getok kakak sulung nya itu.


" hem. tapi ada satu hal yang tidak kalian tau tentang masalah ini. Layla memang pergi dari rumah sekitar 1 bulan yang lalu dan sudah sekitar 2 minggu ini jejak nya menghilang . karena itu orang tua nya datang kesini karena minta tolong kita disini untuk mencarinya. walaupun hanya jejak terakhir nya sekalipun. selagi ada informasi dan bukti kalau Layla itu baik-baik aja , maka orang tua nya akan sedikit tenang. " ucap Arthur


" Tapi kak , setahu aku , Layla bukan orang yang gampang kabur dari rumah begitu aja tanpa ada sebab nya " ucap Calista .


" ya , kamu benar. semua ini ada sebabnya. Sebenarnya dari awal Layla menolak untuk dijodohkan . berbagai macam cara ia lakukan hanya supaya orang tua nya membatalkan perjodohannya itu. tapi semuanya gagal. karena itu ia pergi dari rumahnya " jawab Arthur


" HAH !! KAPAN ? DENGAN SIAPA ?! MANA ORANG NYA ?! " kaget Calista dan Julian bersamaan.


" kalian ingatkan beberapa bulan yang lalu , papi sama mami pergi ke kerajaan kakek. Dari situlah mami sama papi tau rencana itu . Tapi kita juga gak bisa ikut campur . " ucap Arthur


DDRRRT DRRRTT


Semua nya langsung diam saat ponsel Julian yang ada di atas meja bergetar menampilkan nama dan nomor ponsel Layla.


" angkat aja. tapi ingat , bersikap biasa , seolah kita tidak tau masalah ini. Jika dia nanya , jawab aja kamu disini " ucap Arthur


Lian mengangguk lalu menerima panggilan itu tak lupa dengan loudspeaker nya.


" Ya dengan siapa saya berbicara ? " tanya Lian dengan nada lembut


" apa si Tuan Playboy cap ikan ada disana ? " tanya Layla dengan nada menggemaskan.


" ah dengan saya sendiri. apa anda si Nyamuk rem ? " tanya Lian dengan nada menggoda


" hahahah gue cantik gini masa di bilang nyamuk. hahaha " tawa Layla dari seberang telepon.


Baik Calista maupun Arthur melongo mendengar pembicaraan Lian dan Layla yang terdengar bukan seperti sepupu tapi lebih seperti pasangan yang saling menggoda dan bercanda.


" ah udah ah. masa aku dibilang Nyamuk . dasar Playboy ikan " ucap Layla.


" ya. siapa suruh , yang mulai duluan siapa hayo " jawab Lian


" hahaha. Lian , kamu sekarang ada dimana ? " tanya Layla


" aku baru pulang kuliah , sekarang main ke apartemen kak Arthur , hehe Kak Lista bawa calon kakak ipar loh .. " ucap Lian seolah tidak ada orang lain yang mendengar obrolan mereka padahal Lista dan Edward yang dibicarakan ada didekat nya.


Edward yang lagi minum sambil nonton pun tersedak saat mendengar Lian menyebutnya 'calon ipar'.


Sejenak mata Edward beradu dengan mata Calista , lalu saling membuang wajah masing-masing padahal sama-sama memerah karena malu.


" Wah !! beneran.. haha baguslah . bilang selamat untuk Lista ya. hmm Lian , aku bosen ni. keluar main yuk " ucap Layla.


Dari suara tawa yang dipaksakan itu , semua orang tau kalau Layla merasa iri dan sedih karena hanya dia yang tidak bisa memilih pujaan hatinya sendiri.


" oke juga tuh. ayo lah daripada kelamaan aku disini jadi obat nyamuk mereka . hahaha.. oh iya , emangnya kamu dimana ? terus aku jemput nya gimana ? " tanya Lian karena memang keberadaan Layla saat ini masih belum bisa ditemukan , walaupun ia menelpon Lian saat ini.


" oke lagi. entar ku shareloc ya. kalau jemput , terserah kamu mau pakai apa , mobil boleh motor juga boleh. aku sih bebas . asal bersamamu " ucap Layla pelan tapi ia tak sadar bahwa ucapan 'asal bersamamu' itu terdengar cukup jelas ke telinga Edward yang duduk paling jauh dari ponsel Lian. apalagi Lista dan Arthur yang duduk di samping dan didepan Lian.


Hanya saja , Lian sendiri tidak menghiraukan itu dan menganggapnya biasa.


Karena satu hal yang membuat Lian diusia remaja nya ini sudah menutup hati nya.


" oke . shareloc ya. aku berangkat " ucap Lian.


" hem. aku tunggu ya " jawab Layla lalu memutuskan panggilan itu.


" Lian . kamu dan Layla ada sesuatu ? " tanya Arthur


" Lian sepertinya Layla menganggapmu lebih dari sepupu . lagipula kita dan dia juga bukan sepupu yang ada ikatan darah .apa salahnya mencoba menerimanya. Jangan hanya bermain-main diluar dan cobalah untuk terbuka lagi " giliran Lista yang berbicara.


" Lalu ? bukannya kalian tau siapa , apa dan kenapa hatiku bisa tertutup. " ucap Lian datar dan dingin bahkan sorot matanya berubah menjadi tajam.


sekilas itu bukan seperti Lian yang sekarang.


" ah sudahlah. lupakan saja . aku pergi dulu , ini udah ada alamatnya " ucap Lian mengambil jaket nya lalu keluar.


Calista dan Arthur menatap sendu punggung Julian yang menghilang di balik pintu.


" mau sampai kapan dia seperti itu " ucap Lista pelan


" sudahlah Lis. kakak yakin suatu hari nanti kunci di hati nya akan mencair dan pintu nya terbuka lagi. kita juga gak bisa berbuat apa-apa tentang masalah itu " ucap Arthur.


Julian mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang menuju alamat yang diberikan Layla.


15 menit kemudian.


Mobil Julian berhenti di depan sebuah gubuk kecil tak jauh dari pusat kota.


" benar ini alamatnya ? " gumam Julian bertanya-tanya. Lalu keluar dari mobilnya.


Namun , keluar sosok yang ia kenali dari dalam gubuk kecil itu.


" Yo ! haha kaget ya lihat rumah baru ku. ayo masuk dulu " ucap Layla menghampiri Lian .


Lian hanya mengikuti Layla yang menarik tangannya masuk ke dalam gubuk kecil itu.


Saat ada didalam , Julian kaget melihat isi gubuk yang hanya ada sebuah lemari kecil yang menemani meja mungil di tengah .


" hey . jangan menghina rumahku ya . ayo " ucap Layla menekan meja mungil itu lalu BRAAAK .


Terbuka sebuah tangga menuju ke bawah.


Layla tetap menarik tangan Lian menuntun nya turun.


" welcome to my home " ucap Layla membentangkan kedua tangan nya seolah menyambut kedatangan Lian di rumah rahasianya itu.


Ruang bawah tanah yang disulap menjadi rumah hunian yang tak kalah mewah dibanding hotel bintang lima.


fasilitas nya terhitung lengkap , bahkan ada laptop yang terletak rapi di atas meja , kumpulan komputer yang baru Layla gunakan.


Tapi satu hal yang menarik perhatian Lian. semua barang pemberiannya dan juga foto-foto mereka berdua terpajang indah di dinding ruangan itu.


hanya foto mereka berdua , tanpa ada orang ketiga.


" sejak kapan kamu bangun ini semua ? " tanya Lian


" sejak kapan ya. haha aku lupa. udah ah. yuk keluar main " ucap Layla mengambil tas nya .


" oh ayo. tapi , kapan-kapan aku boleh main kesini lagi kan " tanya Lian . sejujurnya , ruangan itu sesuai dengan seleranya.


" tentu saja boleh " jawab Layla tersenyum manis .


Akhirnya , mereka hanya keluar beli makanan dan minuman . mereka sibuk dengan permainan di komputer .


Keduanya terlihat bahagia , tanpa tau kebahagian sederhana itu tidak akan bertahan lama karena sebuah keputusan .


To Be Continue 😘😊🤗