
Hari pun berganti siang.
para karyawan pun turun untuk makan siang di kafetaria perusahaan.
Tak terkecuali Raya dan Luna yang tetap bertemu untuk makan siang walaupun keduanya tidak berada di divisi yang sama.
" Ra , kalau aku nanya sesuatu , kamu jangan marah ya " ucap Luna hati-hati
" emang ada apaan sih ? " tanya Raya penasaran
" ini beneran Arthur pacarmu atau bukan ? " tanya Luna menunjukkan sebuah berita di internet lengkap dengan foto seorang pemuda keluar dari sebuah restoran
" hm kayaknya iya benar itu Ar. kenapa ? " tanya Raya
" coba lihat ini. kamu kenal gak ? " tanya Luna menunjukkan foto dalam versi yang lebih besar jadi terlihat jelas semua hal disekitarnya.
" mm.. kayaknya enggak deh coba ku lihat " ucap Raya mengambil ponsel Luna
' SEORANG MEGA BINTANG TERTANGKAP KAMERA SEDANG BERKENCAN DENGAN PACARNYA '
hati Raya pun memanas membaca artikel itu , tapi ia berusaha tenang .
" Ra , gak semua berita di internet benar kok Ra. mungkin itu teman Arthur atau bisa jadi keluarganya ,iyakan ? " ucap Luna berusaha menenangkan Raya karena ia jadi takut saa melihat botol ditangan Raya telah remuk.
" aku tenang kok. aku gak apa-apa . ha ha " ucap Raya.
Saat yang sama , Bari dan Arthur yang saat ini sedang istirahat di kamar asrama pun juga dikagetkan dengan artikel di internet itu.
drrt drrt drrt
Sejenak Arthur tak berani menjawab panggilan masuk di ponselnya itu.
" Ar , Lena " ucap Bari melihat sekilas layar ponsel Arthur yang terletak di atas meja.
" halo " ucap Arthur
" hei bocah !! apa apaan artikel itu , siapa cewek yang kau peluk itu ha ?! " teriak Lena begitu panggilan tersambung.
" peluk apaan sih , aku juga gak tau cewek itu siapa . begitu aku keluar dari restoran tiba-tiba cewek itu datang lalu jatuh didepan aku . ya namanya juga refleks , jadi kutangkap cewek itu . lagipula kejadian itu juga udah lama banget. sebelum aku mulai kuliah kalau gak salah " ucap Arthur
" udah jangan jelasin ke aku , cukup jelasin ke Raya. kalau dia baca artikel sampah itu , mungkin sekarang dia lagi nangis " ucap Lena langsung mengakhiri panggilannya.
" ah benar Ar. cepat telepon Raya " ucap Bari
" gak diangkat Bar " ucap Arthur setelah berulang kali mencoba menghubungi Raya.
Sementara Raya sendiri , setelah jam makan siang habis . ia diajak seniornya untuk ikut dalam meeting internal jadi ponselnya disilent.
#
Hari pun segera berganti sore.
" bisa kita bicara empat mata " ucap Ayana menghentikan langkah Raya yang hendak keluar .
" oh oke " ucap Raya lalu berjalan di belakang Ayana.
" biar ku beritahu sebuah informasi yang berguna untukmu , Arthur dan aku , keluarga kami saling kenal bahkan sangat akrab. sejak kecil kami bersama baik itu bermain , belajar atau apapun . jadi ku harap jangan pernah mempermainkan apa yang bukan milikmu " ucap Ayana saat keduanya berjalan.
Raya hanya diam mendengarkan semua celotehan Ayana.
Tapi ia bisa menangkap maksud Ayana , yang menyuruh dirinya untuk menjauhi Arthur.
Keduanya menuju pintu utama , tiba-tiba Ayana berlari meninggalkan Raya .
" kakak disini.. kenapa gak kasih kabar ke aku dulu kalau mau datang jemput aku " ucap Ayana memeluk manja Arthur yang berdiri di samping mobil tepat di depan pintu utama.
" hei gadis kecil , maaf untuk hari ini bukan untukmu . tapi calon kakak iparmu " ucap Arthur melepaskan pelukan Ayana , adik sepupunya.
" maaf menggangu , silakan lanjutkan " ucap Raya lalu berjalan menjauh dari keduanya.
Arthur langsung mengejar Raya yang tiba-tiba sudah tak terlihat lagi.
" kemana Raya , kok gak ada " gumam Arthur melihat sekelilingnya.
" kak , anterin aku pulang yuk . kebetulan ayah juga lagi nyariin kakak " ucap Ayana.
" maaf Yana.. untuk kali ini aja , tolong mengerti. telepon Julian kalau mau pulang,oke ? " ucap Arthur
" apa karena cewek gak jelas itu ? kakak sampai nyuekin aku kayak gini " ucap Ayana , ya Ayana memang sangat manja dan posesif dengan Arthur karena menganggap Arthur hanya boleh jadi miliknya seorang walaupun mereka sepupu , ya saudara sepupu angkat.
" Ayana LU , jangan-jangan .. apa yang tadi kau bicarakan dengan Raya ? " tanya Arthur menatap tajam adik sepupunya itu.
" itu.. itu.. gak ada kok " ucap Ayana takut
" Ayana apa kau tau ,aku tak pernah mempermasalahkan setiap masalah yang kau buat dimasa lalu oke. tapi sekarang , aku harap kau jangan membuat masalah pada hubunganku dengan Raya. karena cepat atau lambat dialah yang akan mendampingiku di masa depan. camkan itu" ucap Arthur dingin lalu pergi meninggalkan Ayana yang berdiri mematung di tempatnya.
Seringkali Ayahnya memperingati dirinya agar tak membuat masalah untuk Arthur apalagi jika menyangkut urusan hubungan. jika hal itu sampai terjadi maka mungkin akan berdampak pada hubungan keluarga mereka.
Arthur pergi meninggalkan area gedung itu , berkendara sambil melihat tepi jalan , seandainya Raya memang pulang jalan kaki.
Sementara itu , tanpa sepengatahuan Arthur .
Dan disinilah mereka , disebuah bangunan yang hampir selesai dibangun.
" kenapa kau membawaku kesini ? " tanya Raya penasaran tapi postur tubuhnya memasang posisi siaga.
" Nona tak perlu khawatir , saya tidak akan menyakiti Nona. silakan Nona duduk dan menunggu disini sebentar " ucap orang itu lalu menghilang entah kemana.
Raya semakin siaga saat mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya.
Lalu dari sebuah pintu tampak seorang pemuda keluar didampingi beberapa pengawal di sekitarnya.
" siapa kau ?! apa maumu ? " tanya Raya Tegas
" aku mau dirimu " jawab pemuda itu lembut
" siapa kau ?! " tanya Raya kini bertambah tegas dan tinggi
" aku adalah aku " jawab pemuda itu membuat Raya jengkel.
" kalau tidak ada urusan lagi , aku pergi ! " ucap Raya melangkahkan kakinya menuju arah ia datang tadi.
Dengan gerakan tangan dari pemuda itu , beberapa pengawalnya langsung mengelilingi Raya mencegahnya pergi lebih jauh.
" apa maksudmu ?! kita tak pernah ada dendam . aku tak mengenalmu dan kau juga tak mengenalku jadi lebih baik jangan buang waktuku . aku mau pulang " ucap Raya berusaha menahan marah.
" pulang ? pulang kemana ? ke apartemen artis itu .. ckckck , ah sudahlah Ray , lebih baik ikut aku pulang sekarang " ucap pemuda itu.
" jangan harap !! , aku tak tau siapa kau dan juga aku tak pernah punya urusan dengan kalian semua !! " teriak Raya.
" tangkap dia , bawa ke heli " ucap pemuda itu.
" WHAT !! HEI LEPASKAN AKU !! " teriak Raya marah , kesal , bercampur takut karena tiba-tiba dirinya diangkat bak karung beras oleh pengawal itu.
" HEI !!! LEPASKAN AKU !! DASAR GILA !! SINTING !! PEDOFIL !! B******K !! LEPASKAN AKU SEKARANG JUGA !! CEPAT TURUNKAN AKU !! " teriak Raya sambil meronta.
" maaf nona , kami hanya menjalankan perintah , tolong jangan mempersulit kami " ucap salah satu pengawal yang berada di belakang pengawal yang menggendongnya.
" paman ! tolonglah , aku harus pulang sekarang . ada masalah darurat , dia pasti menungguku pulang , kalau aku gak pulang sekarang , dia bisa gila nanti " ucap Raya memelas pada pengawal yang tadi bicara padanya.
Para pengawal pun langsung diam dan menutup rapat mulut mereka karena sudah berada di landasan Heli , dimana pemuda tadi sudah menunggu.
" sejak kapan ada helikopter disini ? " Batin Raya kaget melihat sebuah helikopter berada tepat didepannya.
Pemuda tadi langsung menarik Raya begitu ia diturunkan oleh pengawal tadi.
Raya pun tau kondisinya sekarang dalam bahaya , jadi ia berusaha berontak sekuat tenanganya.
ia menggigit tangan pemuda itu sampai sang empunya mengaduh..
" kesempatan " Batin Raya langsung lari sekencang mungkin karena perhatian para pengawal itu teralihkan.
" dasar gadis nakal. awas kalau ketangkap lagi .. ku kurung kau dikastil biar jera " ucap pemuda itu
" tapi , sudah lama juga . aku rindu dirinya yang suka menggigit. ternyata kebiasaan itu masih ada ,syukurlah " ucap pemuda itu menatap lembut Raya yang terus berlari padahal dirinya sudah jauh.
" Tuan sekarang bagaimana , apa perlu kami mengejar nona ? " tanya pengawalnya
" tak perlu . biarkan dia disini beberapa hari lagi , kali ini ia bisa kabur dariku . kita lihat apa dia bisa kabur dari monster tua itu " ucap pemuda itu lalu masuk ke helikopter.
Rombongan itu pun pergi dari tempat itu .
#
Raya bernafas lega saat melihat tak ada orang dibelakangnya .
ia bersyukur karena paling tidak bangunan itu berada tak terlalu jauh dari jalan .
Beberapa saat Raya menunggu taxi pesanannya tiba di tempatnya saat ini.
ia semakin bingung sekaligus penasaran dengan pemuda yang berusaha membawanya pergi itu.
" siapa mereka ? apa yang mereka cari dariku , aku kan gak punya apa-apa " batin Raya.
Satu jam kemudian , taxi yang ditumpangi Raya pun tiba didepan gedung apartemen .
dengan langkah gontai dan lemas , ia memaksakan diri untuk naik ke apartemen di lantai teratas itu.
Saat dirinya masuk , ia sungguh kaget dengan apa yang dilihatnya.
" ARTHUR !! " teriak Raya melihat Arthur tak sadarkan diri di lantai tak jauh dari kamarnya.
Raya pun menghubungi Bari dan Luna.
lalu dengan sekuat tenaganya , ia memindahkan Arthur ke sofa terdekat.
" Ar !! bangun Ar !! " ucap Raya mencoba membangunkan Arthur .
" Ra .. kamu.. sudah.. pulang.. terima.. kasih " ucap Arthur pelan setengah sadar lalu kembali tak sadarkan diri lagi.