
Selesai makan , Lena langsung mengajak Bari untuk pergi dari rumah makan itu sebelum pemuda pengganggu itu mengikuti mereka lagi.
Dan benar perkiraan Lena , pemuda yang bahkan ia tak tau namanya itu terus mengikuti mereka berdua.
" Na , ini udah malam. sebaiknya kita pulang lebih dulu dan minta izin sama orangtua mu kalau masih mau jalan lagi. gimana ? " tanya Bari memakaikan helm pada kekasihnya itu.
Lena pun mengangguk dan keduanya pun langsung menuju kediaman keluarga Anson.
" lah pada mau kemana ? " tanya pemuda itu tak dihiraukan sama sekali.
pemuda itu tetap mengikuti kemana Lena dan Bari pergi walaupun dirinya sama sekali tak ditanggapi.
pemuda itu berhenti tepat di depan gerbang kediaman keluarga Anson saat melihat motor Bari masuk ke dalam kediaman itu.
" ya lain kali aja lanjutin nya " gumam pemuda itu tersenyum misterius lalu menjalankan mobilnya menjauh dari tempat itu.
Sementara di dalam.
" nak Bari , udah lama ya gak ketemu . gimana kabarnya ? " tanya Viona , Nyonya Anson.
" ah tan. kabar baik. maaf Bari baru sempat sekarang main kesini " jawab Bari. jujur , ia merasa nyaman saat berada di dekat ibu dari kekasihnya itu , ia merasa seperti punya ibu lagi.
Sekilas tentang Bari.
Bari bukanlah anak tanpa orang tua , hanya saja ibunya meninggal karena kecelakaan saat ia masih berusia 5 tahun.
tak lama setelah itu , ayahnya pun menikah lagi dengan wanita lain.
tapi sayang karena kehadiran orang asing itu , ayah nya lebih mendengarkan perkataan istri barunya dan dengan tega membuang Bari di pinggir jalan jauh dari kota asalnya.
Bari kembali mengingat sosok mendiang sang ibu.
hatinya sangat rindu dengan sang ibu dan rindu itu bisa sedikit terobati karena ibu dari kekasihnya itu.
" yaudah , duduk aja dulu ya . anggap rumah sendiri Lena itu suka lama kalau udah dandan. " ucap Nyonya Anson lembut.
" iya tan. makasih " jawab Bari tersenyum.
Nyonya Anson pun beranjak ke lantai atas menyusul putrinya yang masih berdandan, sedangkan Bari duduk sendirian di ruang tamu.
Tak berapa lama , Hawa yang tadinya tentram mendadak jadi kaku dan sesak karena kehadiran seseorang . ya siapa lagi kalau bukan Leon , Tuan Anson.
" selamat datang om " sapa Bari sopan saat melihat papa Lena itu.
" hem. sudah lama kamu datang ? " tanya Leon lalu duduk di sofa tunggal tak jauh dari tempat Bari duduk.
" belum lama om. maaf jika saya datang tiba-tiba " ucap Bari canggung bercampur grogi .
Belum sempat Leon menanggapinya , tiba-tiba.....
" PAPA !!! " teriak Lena turun dari atas dan hampir mencubit papanya jika tidak dengan sigap Bari menangkapnya.
" Na , tenang gak boleh gitu dengan papamu. itu gak sopan " ucap Bari sedikit berbisik dengan lembut.
" ha .. Pa jelasin kenapa papa kasih izin ke pemuda gak jelas kayak gitu. papa kan tau aku gak suka pa. " keluh Lena sedikit tenang.
" siapa ? " tanya papa nya
" siapa lagi kalau bukan anak si gubernur itu. katanya lelaki tapi sikap nya lebih tak tau malu dari perempuan " ucap Lena lalu duduk .
" anak gubernur ? tapi , setau papa ya Gubernur itu gak punya anak laki-laki hanya ada 2 anak perempuan dan satu lagi papa gak pernah kasih izin pada siapapun itu " ucap Leon juga duduk.
Lena dan Bari saling tatap saat mendengar ucapan Leon.
Malam itu , Bari dan Lena tidak jadi pergi jalan-jalan lagi dan sebagai gantinya , Bari menginap dirumah itu untuk beberapa hari.
Keesokan harinya.
perhatian para karyawan di Perusahaan Anson Corp teralihkan saat melihat Lena , sang Direktur yang terkenal galak , cuek ,tegas dan dingin dengan orang lain kini tengah berjalan bersama seorang pemuda yang berpenampilan biasa-biasa saja .
" apa kalian lihat-lihat !! kembali bekerja !! " tegas Lena tak suka saat para karyawati nya melihat Bari dengan tatapan seolah siap menelannya.
Dengan posesif nya , Lena menggandeng lengan kekasihnya itu dengan mesra.
" kamu milikku " bisik Lena ke Bari
Setelah mengantar Lena , Bari pun pergi dari perusahaan itu karena sebenarnya ia juga punya janji dengan seseorang guna membahas rencana usahanya .
Bari masuk ke sebuah cafe dan berbincang dengan seorang pria berjas , cukup lama mereka berdiskusi dan akhirnya mencapai kesepakatan.
Lain Bari dan Lena .
Lain juga Julian.
Hari ini ia terpaksa harus libur kuliah karena dipaksa menemani Layla yang baru tiba kemarin.
" hari ini mau kemana ? " tanya Julian ke Laila yang notabene nya lebih tua 6 bulan darinya.
" emm.. ke mall udah bosan. ke bioskop juga udah sering , ke kolam renang atau taman juga udah tiap hari.. rekomen dong " ucap Laila
" ha .. yaudah tapi jangan ngeluh ya. kalau ngeluh ku tinggal loh " ucap Julian memutar arah mobil nya.
Laila pun mengangguk tanda ia setuju.
Sepanjang perjalanan , Julian hanya diam sedangkan Laila ikut bernyanyi lagu yang sedang diputar didalam mobil itu.
40 menit mereka berkendara dan akhirnya mobil itu pun berhenti disuatu tempat.
" kita kesini ? " tanya Laila memastikan.
" ya . ingat jangan ngeluh. udah tunggu aja disini bentar . aku keluarin barang dulu " ucap Julian lalu keluar dari mobil.
Julian mengeluarkan sebuah tikar dan juga payung elektrik.
" aku bantu ya " ucap Laila membantu Julian mengeluarkan bekal yang disiapkan mami Julian tadi.
tikar sudah di hamparkan , payung juga sudah terbuka dan lengkap dengan bekal ditengah mereka.
Saat ini Laila tengah menikmati pemandangan dari hamparan hijau didepannya itu.
sedangkan Julian membaringkan tubuhnya diatas tikar.
" disini nyaman " ucap Laila
" ya disini udara nya masih segar karena jauh dari kota dan juga sangat tenang " ucap Julian enggan membuka matanya.
" kamu tau dari mana ada tempat seperti ini disini ? " tanya Laila ikut berbaring.
" dari ...seseorang " jawab Julian .
" oh " balas Laila . ia tau jika Julian tak mau menceritakan siapa orang itu.
Mereka pun hanyut dengan suasana yang damai seperti itu , suasana yang sangat jarang mereka rasakan.
Hingga mereka tak sadar dengan waktu yang menjelang sore . Mereka juga tak merasa lapar bahkan Julian sendiri sudah terlelap di belai hembusan angin segar.
Laila masih sadar pun tak ingin melupakan tempat itu.
dengan lincahnya tangan Laila bermain di kamera nya.
mengabadikan setiap hal yang menurutnya indah melalui lensa kamera.
Julian terbangun dari tidurnya saat merasa sebuah kilatan cahaya didepannya.
" ah maaf . aku ganggu kamu tidur ? " tanya Laila
" eeh !! jam berapa sekarang ? kenapa gak bangunin aku dari tadi " ucap Julian melihat sekelilingnya yang sudah agak gelap karena siang sudah berganti sore.
" kamu juga nyenyak banget tidurnya. aku gak tega bangunin kamu yang lagi enak gitu " ucap Laila
" yaudah kita pulang habis aku beresin ini semua . oke " ucap Julian dan Laila hanya mengangguk.
Karena hari sudah mulai malam dan perut mereka sudah merasakan demo dari para cacing.
mau tak mau Julian memberhentikan mobilnya dan istirahat sebentar di sebuah rumah makan yang ada dipinggir jalan.
to be continue 😘😋🙂