YOUNG CEO And QUEEN OF MAFIA

YOUNG CEO And QUEEN OF MAFIA
S 3 - 60



Tak terasa sudah satu bulan berlalu.


saat ini baik Arthur maupun Raya sudah diperbolehkan pulang.


Saat Arthur dan Raya keluar dari rumah sakit.


Calista dengan berat hati tak bisa menjemput kakak sulung nya itu karena ia serta Julian dipaksa untuk pergi ke metrocity.


Dan disini lah keduanya.


Disebuah ruang tunggu kereta , menunggu seseorang .


" ah paman . maaf kami tiba-tiba meminta paman turun " ucap Julian sopan saat melihat orang kepercayaan papi mereka sudah tiba.


" tak masalah. tapi , kok kalian datang tanpa berita lebih dulu gak kayak biasanya. ada apa ? " tanya Diyan.


" hmm .. itu paman . kami kecopetan " ucap Calista menunduk.


Diyan kaget dan tak percaya , bisa-bisanya mereka berdua kecopetan .


" yaudah nanti paman bereskan masalahnya . sekarang kalian berdua ikut paman pulang ya. kalian pasti belum makan kan . ayo " ucap Diyan mengajak keduanya pulang bersamanya.


" gak usah paman. nanti malah merepotkan " ucap Calista.


" huss udah . paman gak nerima penolakan. udah ayo " ucap Diyan menarik pelan tangan Julian dan secara otomatis Calista pun juga ikut .


Disisi lain.


kebetulan hari ini Edward ada dirumah bersama ibunya .


Ting tong


" bentar " jawab Edward dengan langkah gontai dan tak semangat saat ada yang menekan bel rumah keluarganya itu.


kreek


blarr.


Seketika Edward diam membeku di tempatnya .


ia tak menyangka siapa yang berdiri di depan rumahnya itu.


" Ed !! jangan cuma diam disitu aja." ucap Diyan.


" ah iya . maaf " ucap Edward menyingkir dari pintu .


Edward salah tingkah saat Calista melihat dirinya sewaktu melewatinya.


Calista hanya lewat tanpa sepatah kata pun .


Sedangkan Edward merasa jantung nya seakan berhenti berdetak.


" hah hah hah " Edward mengatur kembali nafas nya.


beberapa saat kemudian , barulah ia ikut masuk ke dalam.


Langkahnya terhenti ketika mendengar suara tawa Calista yang tengah menonton acara kartun.


" Ed .. sini nak . bantuin mama sebentar " ucap mama nya membuyarkan lamunan anak bungsunya itu.


" ah iya ma " ucap edward mengikuti mamanya ke dapur.


Siang berganti malam.


Calista dan Julian ikut makan malam bersama keluarga Diyan.


" ayo dimakan cantik. jangan cuma di liatin aja " ucap istri Diyan tersenyum lembut.


" iya tan. makasih " ucap Calista.


" Lis . tolong yang itu dong " ucap Julian setengah berbisik.


" sini piring mu " ucap Calista lalu mengambilkan lauk yang diminta Julian .


" makasih kakak cantik " ucap Julian senang.


Edward hanya diam melihat interaksi dua bersaudara itu.


" Lian . malam ini kalian menginap disini saja. besok baru paman antarkan kartu identitas kalian serta yang lainnya. " ucap Diyan


" ya Paman. tapi papi udah tau belom ? " tanya Julian


" udah . tadi udah paman kabarin keadaan kalian disini . " ucap Diyan


" syukurlah kalau begitu " ucap Calista.


Sementara Edward mengajukan permintaan pada ayahnya.


" Bukannya ayah gak setuju ataupun menghalangi keinginan mu, hanya saja untuk satu hal itu kamu harus berusaha sendiri " ucap Diyan


" ya Ed juga tau hal itu yah.. Ed cuma ingin mendengar pendapat ayah tentang keinginan Ed ini " ucap Edward.


" hmm.. itu terserah kamu Ed . cuma ingat hubungan kedua keluarga kita ya . jangan sampai merusaknya " ucap Diyan berpesan pada putra bungsunya itu.


" iya yah . Ed paham " ucap Edward.


Hari semakin larut.


Julian sebenarnya tidak keberatan jika saudaranya ikut tidur sekamar dengannya , bagaimanapun keduanya juga sudah saling berbagi sejak masih dalam kandungan .


hanya saja satu hal yang membuat Julian sakit kepala . bagaimana tidak , sejak masuk ke kamar Calista terus saja gelisah seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


" kak. kenapa sih daritadi gak bisa diam.. coba duduk dulu . aku pusing lihat kau jadi kayak setrikaan gitu " ucap Julian tak tahan lagi..


" aku harus gimana .. ahhkkk aku bingung " ucap Calista menjatuhkan dirinya ke sofa .


" emangnya ada apa sih ? coba cerita , kalau gak cerita gimana aku bisa tau " ucap Julian


" kamu lihat , pemuda yang buka pintu depan tadi.. kamu lihat kan ? " tanya Calista


Julian mengangguk.


" maksudmu kak Edward ? anak bungsu om Diyan kan, emang kenapa ? " ucap Julian bingung


Calista membisikkan sesuatu yang membuat Julian langsung tertawa terbahak-bahak mendengarnya..


" huss !! diam lah.. ngapain kau ngetawain aku sih " ucap Calista kesal dengan adik kembarnya.


" maaf habisnya lucu sih.. hahahaha.. udahlah kak.. tidur aja udah malam nih .. besok kita masih harus ngerjain tugas dari papi .. tidur aja ya " ucap Julian mendorong pelan kakaknya lalu menyuruh kakaknya itu tidur.


tanpa mendengarkan kekesalan kakak kembarnya itu ia langsung tertidur pulas.


#


Malam berganti pagi.


Julian dan Calista ikut sarapan bersama Diyan dan Istrinya.


" om , kak Edward kemana , kok gak keliatan ? " tanya Julian karena sadar Calista mencari sosok itu.


" oh . Edward udah berangkat tadi malam " jawab istri Diyan.


" kemana tan ? " tanya Calista spontan


" ehem.. gimana ya . sebenarnya hal ini rahasia. karena tante juga kurang tau apa pekerjaan Edward sekarang jadi tante gak bisa jawab pertanyaanmu yang satu ini sayang.. maaf ya " ucap Istri Diyan merasa bersalah..


" oh gitu ya tan.. hehe maaf " ucap Calista


" sudah jangan pikirkan bocah manja itu , sekarang ini mungkin ia tengah asyik mengayun sesuatu ditangannya , sembari melepas kesalnya " ucap Diyan.


Dan benar saja apa kata Diyan


Saat ini Edward tengah bersenang-senang menebas leher , lengan bahkan mencincang musuh didepannya .


" harusnya kalian merasa terhormat karena menjadi tempat persinggahan mata pedangku ini " ucap Edward dengan tatapan membunuhnya..


Saat ini , Edward turun langsung ke medan pertempuran di perbatasan metrocity dengan kota KN.


Sementara Calista saat ini berada di markas pusat Pasukan Bayangan dan Julian sendiri ada di gedung pusat Adinson Corp..


Kedatangan Calista dan Julian yang mendadak tidak begitu berpengaruh karena memang baik anggota pasukan bayangan maupun para karyawan di kantor pusat hanya mengenali Arthur yang sering datang berkunjung.


Sosok anak kembar keluarga Adinson sangat tertutup bagi mereka jadi tidak heran jika mereka tidak mengenali Calista dan Julian yang sedang menyamar sembari mengawasi situasi seperti perintah papinya karena diduga masih ada mata-mata musuh yang menyelinap masuk ke wilayah mereka itu.


Waktu terus berjalan.


Baik Calista maupun Julian dengan cepat bisa bergaul dengan rekan mereka , walaupun tetap dengan identitas samaran.


Sudah satu minggu si kembar menyamar dan hari ini mereka baru bisa memastikan bahwa memang ada beberapa orang dari pihak musuh yang juga menyamar seperti mereka .


Setelah melapor pada orang tua , keduanya pun pamit pulang pada Diyan dan Istrinya yang selama satu minggu ini mengurus mereka berdua.


Dan Edward yang baru pulang harus menelan pil pahit saat tau sosok Calista sudah tidak berada di rumahnya lagi..


" ahhh seharusnya aku pulang lebih awal.. !!! " keluh Edward


To Be Continue 🙂😊😘🤗