When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Underground IV



"Berhenti," aba-aba mendadak Lux yang membuatku terkejut.


Mata emas mendelik sekitar hingga kepala ikut bergerak ke sana kemari, akhirnya dia berbisik pada kami untuk meminta bersembunyi di balik gedung yang tak jauh.


"Kita tiba pada sisi belakang dan beruntungnya naga itu belum mengetahui kedatangan kita. Mungkin bisa menyelesaikan misi lebih cepat. Cecil, Crist, kalian analisis naga di depan dan berikan datanya."


Kemudian dia bertukar pandang antara Fate dan Rose seraya mengedik kepala, ibarat komunikasi dalam diam. Dan kedua gadis langsung mengangguk mengerti. Sedangkan aku ... entahlah, sang ketua tim hanya meminta siap siaga jika kondisi berakhir tak terkendali.


Kini Fate dan Rose melesat di atas hamparan aspal hingga rambut mereka bersicepat; sampai mataku hanya menangkap bayang-bayang gesit mendekati sosok naga--yang mungkin berelemen tanah.


Oh, melakukan penyergapan dan ini berlangsung lancar. Dua gadis--menggunakan Class Executioner--berhasil mendekati reptil kadal raksasa dalam sunyi. Hampir dekat tetapi detik kemudian gelegar petir menyeruak, menyembur kilat intens menyambar tanpa arah ke seluruh penjuru. Ah, bahaya! Jika mereka tidak menghindar---


"Aegis!"


Seketika Theo sudah berada di antara mereka, menancapkan Zweihande pencipta kubah merah yang melindungi ... tapi, sejak kapan? Secepat itu?! Setidaknya kini mereka selamat, tetapi Fate yang masih di dalam Aegis melempar salah satu pisau rantai--di bagian gagang--hingga sang senjata menembus ke luar, bergerak horizontal mengenai kubah sang naga. Sayang, tak terjadi apa pun dan senjatanya tertolak ke belakang.


Gesit Lux menjentikkan jari, memanggil pistol ganda dari Heart Core-nya. "Semua masuk dalam Aegis dan serang kubah naga pada satu titik!"


Seketika kami menggenggam senjata masing-masing, lalu derap kaki terdengar riuh beriringan dalam suara guntur. Halilintar menyambar-nyambar dan jelas itu menghantar listrik tegangan tinggi jika kami tak segera berlindung dalam Aegis. Langsung Daniel dan Lux intens menembakkan peluru energi pada satu titik, disusul oleh pisau ganda milik Rose dan Fate.


Spontan sebuah cahaya membutakan berkedip dalam kebul, dan detik itu juga aku menerobos masuk dengan Sabel terangkat mantap; siap memberikan serangan akhir meski cambukan listrik mengoyak setiap inci badan.


Bam!


Desing memekakkan menggaung, tegas terbawa angin disusul partikel debu memenuhi udara. Entah mengapa ... terasa, aku justru terpental dan melayang jauh, sampai akhirnya kaki menjejak sempurna seraya menancapkan Sabel di tanah demi menghentikanku terus meluncur. Namun, kubah pelindung sang naga tak tergores sedikit pun.


"Cecil, apa titik kelemahannya?"


"Ah, aah! Belum, belum! Ada yang kurang. Ada yang kurang," jawab Cecil gugup pada pertanyaan Lux.


Sialnya, kini sang naga berbalik menghadap ke belakang--arah kami--sampai mata merahnya bertemu denganku, dan saat itu juga ... banyak lingkaran sihir muncul dari berbagai macam sisi bak membidik tempatku berdiri.


Selang beberapa detik bongkahan batu seukuran tak sedang melesat dan refleks aku berkelit, sedikit terpukul mundur karena pergerakanku lambat---ah, setiap melangkah, aku dibuat bergidik oleh sulur-sulur listrik! Sampai Lux meraih seragamku ketika mendekati Aegis; menarik dan dihempaskan diriku begitu saja saat posisi telah aman.


"Red, kamu baik-baik saja?" tanya Crist khawatir sembari membantuku berdiri. Namun, hanya bisa mengangguk sebagai jawaban sebab tubuh terasa sedikit kaku--mungkin efek terkena listrik?--sebelum Rose melakukan healing padaku.


Lantas mata biru tua menatap mantap pada Lux yang masih ada di samping, dan Crist berkata, "Aku siap menyerang."


"Ah! Serang tiang-tiangnya, tapi hati-hati! Itu tuh penyebab aliran listrik disekitar!" seru Cecil, tangan mungil turut menunjuk empat lampu jalan yang begitu mencolok di sekitar naga.


Tak dibayangkan, mendadak gaung bahana naga justru memecah telinga; memancing gempa entah berapa richter; membuat retakan kecil di jalan tetapi Theo tetap kukuh menggenggam Zweihande. Sampai hujan bebatuan mulai membanjiri, semakin lama semakin keras menghantam kubah pelindung.


Tiba bebatuan raksasa menabrak Aegis hingga tubuh pemuda yang melindungi kami gemetar dahsyat. Sampai batu terakhir menabrak kubah, saat itu juga Theo ambruk; pedang besar turut pecah menjadi serpihan cahaya selaras dengan darah mengalir di ujung bibirnya.


Gesit aku mengganti Sabel dengan Zweihande dan menancapkannya ke tanah, berganti mengeluarkan Aegis. Naga itu masih melaung-laung tak suka, sama dengan banyak lingkaran sihir mengarah pada posisiku. Tak bergeming, aku menyipitkan mata demi memusatkan fokus saat bongkahan batu besar menabrak kubah semu merah buatanku.


Aku merasa optimis dapat menahan berbagai serangan termasuk hujan batu keji seperti sebelumnya, tetapi jika naga besar nan gemuk itu menabrak tepat ke arahku ... mungkin cukup kesulitan, untungnya dia tetap diam di tempat dalam kubah raksasa---tidak, tak beruntung, kami juga tidak bisa melayangkan serangan demi menjatuhkan Elite tingkat menengah ini.


Ketika suasana di belakang masih ramai menangani Theo, Lux berlisan lantang, "Crist, kau bisa bertarungkan? Maju dengan Fate, hancurkan tiang di sisi kanan depan. Aku dan Daniel akan memberi bantuan dari jarak jauh."


Yang dituju mengangguk mantap, melepas kacamata dan meletakkannya dalam tas pinggang. Dan keduanya pun melesat.


Ini ... mungkin hasil dari latihan, Crist hampir bisa menyamai kecepatan Fate. Mereka bergerak dalam akselerasi bahkan mungkin serangan listrik tak sampai mengenai keduanya. Bahkan ketika mereka menyerang, hanya terlihat percikan api.


Tak kalah dengan para Gunner kami. Mereka menyiapkan senjata masing-masing sampai ngiang pisau-pisau mengolah simfoni beriringan dengan pecahan hujan batu yang hancur oleh peluru energi, dan satu tiang pun rubuh.


Namun, seper sekian detik tiang yang telah hancur kembali berdiri kokoh memancing raung murka sang empu, memaksa Crist dan Fate untuk mundur.


Belum sempat berkelit, raga nahas si pemuda terkena aliran listrik lantaran seperti telah sampai pada batasnya, kecepatan Crist berkurang.


Aku tersentak menyaksikan ini tetapi gesit Fate menggeret Crist dan berhasil membawanya kembali masuk dalam Aegis sebelum musuh mengeluarkan serangan tak terduga. Aku mengembuskan napas lega mengetahui lukanya tak serius; langsung ditangani oleh Cecil.


Fate lanjut berkata, "Kita harus hancurkan ke lima tiang pada saat bersamaan. Tampaknya tiang-tiang itu akan terus pulih jika tidak dihancurkan pada saat bersamaan."


"Oh, betul-betul! Itu tuh benar!"


"Ow, ow, Cecil ... sakit!"


"Eeeh, maaf Crist, tapi itu tuh benar! Sisa data yang enggak lengkap, itu!" Dalam wajah berbinar, si gadis kecil menatap sungguh-sungguh pada Lux. "Kalau tiangnya enggak dihancurkan bersamaan akan tumbuh lagi, tapi hati-hati kalau memegangnya ... ah, sulit---"


"Aku akan menggunakan Vinnitus," ucap datar Fate yang mengundang heran pihak Dion, karena wajah para anggota Disiplinaria yang lain terlihat biasa saja. Wajar saja merasa heran; bahkan terkejut, Vinnitus merupakan Ultimate Skill Executioner, memerlukan kontrol dan stabilitas tinggi tetapi orang yang kita bicarakan adalah Fate, aku yakin dia bisa.


"Terlalu berisiko ...," gumam Daniel.


Lantas Fate memejamkan mata sekali dan mengembuskan napas, lalu melipat tangan depan dada beriringan mata perak kebiruan menelaah sekitar. "Satu menit. Alihkan perhatian naga itu selama satu menit. Dan aku dapat melakukannya."


Kini setiap orang dalam regu tenggelam dalam gelagat berpikirnya masing-masing, menyisakan sunyi menemani di setiap detik. Aku yang sedari tadi sedikit membalikkan muka ke belakang--hanya terlihat pipi--mulai kembali memalingkan wajah ke depan, menyaksikan naga kadal raksasa berkulit keras meraung-raung jauh di sana; selaras dengan bongkahan batu tak henti menerjang.


"Aku saja," aku kembali membalikkan wajah ke belakang, "aku saja yang menjadi umpan."


Seketika ekspresi terkejut memenuhi mereka, kecuali Lux yang kini menyipitkan mata emasnya. "Apakah kau memikirkan bagaimana akan melakukannya?"


Mendengar itu aku langsung menutup mulut dengan tangan kanan--tangan satunya tetap menggenggam Zweihande demi menjaga Aegis--mencoba berpikir ... apa? Sebelum ini tak terbesit dalam kepala. Lagi pula jika memancing, hanya perlu menarik perhatiannya padaku bukan?


Mendadak decak mengudara, berasal dari Lux yang sudah membuang muka. "Berpikirlah sebelum bicara. Kata-katamu di tengah pembahasan strategi bisa menentukan hidup dan mati seseorang."


Seketika keningku berkerut atas rasa bingung yang kentara, tak hanya aku tetapi Daniel juga. Sebab apa yang salah? Memang berkaitan dengan hidup dan mati bukan? Itu mengapa aku memilih mengajukan diri, karena jika mereka---ah, aku tak mau membayangkan skenario terburuk.


Sontak Lux melipat tangan depan dada. "Hah, jika saja bukan suruhan Pak Kaidan atau si Pak Tua itu, hanya kami berempat; Departemen Disiplin yang dikirim."


"Siapa pula pak tua?"


"Diamlah," ringis Lux, tampaknya ucapan Daniel gagal mencairkan suasana, "kalian Club Dion kurang pengalaman untuk diberikan misi tim. Misi kali ini ibarat tes untuk kalian."


Sekarang mata emas yang mencekam melirik ke arahku dengan menaikkan dagu. "Jika ini yang disebut Ace oleh Departemen Eksekusi, sepertinya aku tidak akan meminta bantuan dari Departemen Eksekusi lagi."


"Huh?! Dia Ace karena semua misi selalu selesai di tangannya! Apa lagi sering pergi sendiri ...," celetuk Daniel yang kemudian suaranya melemah pada akhir kalimat, berbalik menatapku dengan wajah terlihat gusar.


"Mungkin ini alasannya dia sering dikirim sendiri. Hanya karena dia yang terkuat bukan berarti dia bisa bekerja dalam tim," ucap Lux bagai petir di siang bolong. Sungguh, perdebatan ini membuat kepalaku pusing dan memutuskan untuk diam. Kenapa harus terjadi? Apa aku seburuk itu?


"Aku mengerti kalau kau tidak bisa memercayai aku, Rose, dan Theo. Tapi kau bahkan tidak mempercayai anggota club sendiri yang sudah lama bersamamu. Bagaimana kau akan diberikan misi tim?"


Aku mendesis samar---ah, kenapa berakhir menjadi kepercayaan? Aku hanya tak ingin mereka terluka, apa yang salah dari hal itu? Haah, kepalaku semakin sakit.


"Kau tidak memercayai kemampuan mereka untuk bertarung bersamamu. Tanpa kau sadari, kau merasa mereka lemah." Meski Fate katakan kalimat ini dengan lembut dan teduh, tetapi semangatku seketika terenggut begitu saja. Bisa dibilang, dari sekian banyak orang, dia dan Profesor Kaidan yang paham betul mengenai diriku. Jika sampai berkata seperti itu maka aku ....


... Hanya akan menuruti apa pun peran yang diberikan, tanpa bisa berdalih.


Lux kini berjalan pelan melewatiku, tanpa menoleh ke belakang dia berkata, "Sekarang, lihat bagaimana tim bekerja."


Fate pun sudah berdiri di samping Lux, aku ... bahkan tidak mendengar langkah tumitnya. Rose dan Theo juga sudah dalam kuda-kuda siap. Seketika mata emas melirik ke arah pemilik rambut perak perak. "Fate, taktik apa yang kau perlukan?"


Rose dan Theo melihat ke arah Fate juga, seakan menunggu keputusan sang gadis.


Fate terdiam dengan tatapan lurus menuju naga, perlahan dia membuka mulut. "... Satu pertahanan, dua pengalihan."


Senyuman tipis menghias sang pemimpin tim seraya mengokang pistol pada tangan kanannya. Lux pun menatap Rose dan Theo. "Theo pertahanan. Rose mari kita menari dengan kadal raksasa itu. Fate, persiapkan Ultimate Skill-mu. Mengerti?!"


"Dimengerti!"