When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Funfair



Setiba di lokasi, tim kami langsung turun dan pergi bersamaan. Kadang bertemu dan berpapasan dengan murid Vaughan lainnya yang mengantre bersama rakyat sipil untuk melewati gerbang utama Dream Land.


Aku menghela napas ketika kaki menjejak pada bagian depan taman bermain, bahkan turut menurunkan tudung jaket merah; menghentikan langkah dan membelalak pada julangan gedung-gedung beraneka bentuk imut nan mencolok. Juga banyak ... tiang? Dan wahana lain yang eksentrik. Ditambah beberapa potongan gliter besar mengudara untuk menghiasi kemeriahan.


Kaki jenjang kembali berayun ritmis, selaras dengan tangan terus meraba tiket dalam genggaman; mata jelaga melihat ke seluruh penjuru tepat yang entah berapa hektare luasnya. Jujur, ini pertama kali aku tiba pada tempat sebegini meriah. Mungkin bisa menjadi pengalaman baik? Hatiku mulai dipenuhi antusiasme


Tunggu, di mana yang lain? Tuhan, aku terpisah karena terlalu fokus memperhatikan sekitar! Tapi sejauh ini tidak ada kejanggalan apa pun, bahkan tak terasa keberadaan hibrida di sekitar. Aku memutuskan mengecek ponsel. Ternyata Daniel sudah memberikan koordinat tempat pada grup chat. Lebih baik lekas berkumpul dengan yang lain.


Setiba di lokasi, terlihat mereka sudah menunggu pada bangku-bangku pinggir jalan yang kosong. Bergegas aku menghampirinya.


Sejujurnya, jaket one-piece putih model beruang cukup manis Cecil kenakan tetapi ... kenapa, Fate justru lebih bersinar dalam pelupuk mataku? Terlebih cahaya mentari membuat rambut peraknya begitu gemerlap ketika dia hempaskan demi merapikan yang tersangkut di leher. Ditambah celana jin pendek selutut---astaga, melihat ke mana kau Red?! Aku mulai sedikit menggeleng dan menutup wajah dengan kedua tangan.


Aku benci isi kepalaku kalau sudah begini.


"Karena semua sudah berkumpul, ayo gerak! Kita akan berkeliling ke wilayah B2 ... alah, tempat ini luas banget sih!"


"Kamu tuh sudah pegang peta! Yang benar dong kalau kasih arahan, ketua enggak becus!"


"Aduh, sabar dong, Cil! Marah-marah terus terus nanti cepat tua loh."


Mendadak terasa lengan bajuku sedikit ditarik. Aku langsung menurunkan tangan dan melihat---eh, Fate? Wajah datar seperti biasa tapi binar dalam mata perak kebiruannya sedikit berbeda. "Yang lain sudah bergerak, ayo kita pergi."


Eh?


Dengan gugup aku menyentuh tengkuk dan berkata, "Y-ya, maaf."


Lagi, terasa lengan bajuku kembali ditarik seakan dituntun untuk berjalan dengannya---ah, seketika jantung berpacu cepat sebab isi relung dada tak bersahabat; memancing rasa panas menyebar pada seluruh wajah, memancingku berkata dengan nada sedikit melengking, "Fa-Fate, aku bisa jalan sendiri!"


"Hm?" Haaa, wajah pualam itu hanya menatapku datar dengan memiringkan kepala. "Tetapi tingkahmu berkata lain."


Tuhan, aku begini karena kamu terlalu berlebihan! Tetapi tak bisa aku utarakan dan berakhir menutup wajah dengan tangan kiri. Seketika terdengar suara kekehan yang samar di belakangku---uh, Crist, berhentilah tertawa dan tolong aku!


"Kalau wajahmu ditutup, kau akan kesulitan melihat." Tiba-tiba langkah terhenti dan tangan kiriku ditarik---astaga, Fate?!


"A-aku tak apa, masih bisa merasakan aura di sekitar."


"Benarkah? Tapi wajahmu merah, apa kau demam? Perlu melapor Pak Kaidan?"


Tuhan, sekarang tangannya mulai berusaha meraih wajahku hingga menjinjit! Astaga, apa-apaan ini?! Sontak kepalaku terasa kosong.


"Ah, jangan!"


Refleks aku mundur dua langkah seraya memejamkan mata erat-erat dan menutup mulut dengan punggung tangan kiri, membuat darah dalam pembuluh mengalir dahsyat karena gejolak tak biasa dalam dada. Ah, mulai pusing. Ditambah bagian belakang tubuh turut terasa dingin, tidak selaras dengan wajah yang kian mendidih!


"Fate, justru aku yang akan bertanya padamu, apa kamu tidak apa-apa? Baru melakukan teleportasi jarak jauhkan?"


Terasa jemari lentik terlepas dari tautan. Haah, Crist mengajak Fate berbicara bahkan sampai menepuk pundak si gadis, mungkin demi mendapatkan perhatian penuh?


"Apa aku seharusnya merasakan sesuatu?"


Kini Cecil turut berlari menghampiri kami dengan wajah terkagum-kagum. "Waaa, serius enggak terasa apa-apa? Keren!"


Tidak hanya si gadis kecil, Daniel juga menatap Fate tak percaya. Namun, Fate hanya membalas mereka dengan ekspresi bingung.


Akhirnya mereka semua mengajak Fate berbicara. Sepertinya aku selamat? Pun mulai mengelus dada dan menarik napas dalam-dalam guna menyudahi sesak di dada. Rasanya, antusiasme saat pertama tiba ke Dream Land luntur kalau seharian penuh terjebak dalam situasi seperti tadi ....


Aku pun mendengkus.


Beberapa menit berselang, kelompok kami mulai melangkah menyelusuri sekitar. Aku merasa sudah jauh lebih tenang, terutama saat melihat mereka semua bercanda dan bercengkerama; senang terukir jelas di wajah teman-temanku. Itu mengundang suatu gurat sabit di bibir, aku suka melihat mereka bisa seceria ini.


Aku mulai ikut menikmati kondisi tempat yang meriah, melihat stan tersebar; melewati beberapa atraksi para akrobatik; menatap orang-orang berbincang-bincang dengan ramahnya.


Tak disangka misi sekarang tidak begitu buruk melihat ketenangan ini, bahkan banyak balita turut menikmati sekitar atas ekspresi penuh kebahagiaan. Sampai-sampai aroma kue yang terjajar di setiap sudut ikut menemani.


Tempat ini cukup tenteram walau jauh dari akademi, tetapi jika sampai ada hibrida yang menyerang ....


Aku harus melindungi mereka.


"Hah?! Aku tuh bukan anak kecil!"


Lagi-lagi aku terkekeh melihat tingkah Daniel dan Cecil. Aku harap gadis itu baik-baik saja karena seperti biasa, ketua kami suka memaksa dan menyeretnya.


Aku memutuskan tetap menyusuri sekitar, benar-benar khawatir jika para naga menyerang. Namun, mata jelaga begitu terpancing pada wahana yang ada. Terutama pada rel raksasa yang ... menggantung di langit? Banyak orang berteriak dan menjerit hingga suaranya terdengar sampai ke sini. Apa mereka baik-baik saja?


Terasa ada suatu hawa di sisi. Refleks menoleh---oh, ternyata Fate. Sepertinya dia mendekat karena Cecil dan Daniel sudah pergi jauh, mungkin menuju tempat pembagian balon itu?


Aku pun bertanya dengan tangan menunjuk pada kereta ular pipih nan panjang, "Itu ... apa?"


"Rollercoaster."


"Hmm, apa itu aman? Kenapa banyak yang menjerit?" tanyaku lagi.


"Aman. Mereka berteriak karena kecepatannya yang tinggi, memacu adrenalin."


Begitukah? Aku mengedip berkali-kali lantaran merasa heran juga kagum secara bersamaan. Mataku mulai berbinar saat kembali menoleh pada Rollercoaster. Sepertinya menaiki itu akan menyenangkan.


"Pertama kali mengunjungi taman bermain?"


Langsung aku menoleh ke asal suara, lalu menunduk atas tangan mengusap belakang leher. Sepertinya ketahuan, gadis ini benar-benar pandai membaca orang lain. "Iya. Dulu aku sepenuhnya hidup di hutan dan setelah itu---ah, tapi tiba di sini tidak buruk juga."


Terlihatlah tersenyum ringan di wajah pualam si gadis. Sangat tipis sampai mungkin aku mengira dia sebenarnya tak tersenyum. "Setelah ini, kita bisa berpatroli di sekitar situ."


"Benarkah?!" Langsung aku menoleh ke arahnya dengan ekspresi senang nan menggebu-gebu, karena sungguh ingin melihatnya lebih dekat lagi! Aku penasaran! Aku suka sesuatu yang memancing adrenalin!


"Tentu. Tetapi Crist ...."


Eh? Benar juga, di mana Crist? Terlalu sibuk melihat-lihat sekitar hingga lupa ke mana perginya anggota Departemen Konsultasi tim kami. Lantas mata jelaga meneliti sekitar---oh, di belakang sana!


Sontak aku dan Fate menghentikan langkah agar si pemuda dapat menyusul kami. Namun, langkahnya lunglai seperti orang tak bersemangat, ekspresi wajah ikut menambah kesan tersebut. Hingga dia tiba pada kami, Crist berakhir mengembuskan napas panjang.


"Kamu baik-baik saja?" tanyaku.


Yang dituju memperbaiki kacamatanya, mengeluarkan ibu jari dan tersenyum masam yang dipaksa. "Aku sangat, amat, sungguh ... baik-baik saja!"


Sungguh? Karena hanya melihat ekspresinya, entah menapa terasa miris. Aku harap Crist benar baik-baik saja.


"Ahahahaha, jomlo!"


Suara teriakan yang menusuk memekakkan, apa lagi vokalnya terdengar semakin dekat. Ternyata itu Daniel yang sudah sampai pada kami dengan tertawa tanpa henti, menunjuk tepat ke arah Crist.


Cecil? Dia sibuk oleh permen kapas sebesar wajah dan menggenggam satu balon dengan tangan yang lain. Apa itu penyogokan? Karena gadis ini jauh lebih tenang sekarang.


Berbeda dengan Crist yang dibuat ... sangat marah? Tetapi meredam emosinya, tampak dari dua pundak ikut bergetar ketika tangan mengepal erat. Fate menepuk-nepuk kepala si pemuda dan berkata, "Tidak apa-apa, tidak apa-apa."


Crist mengangguk kecil, mulai mengusap sudut mata biru tua yang berair seperti penuh rasa perih. Aku membuang muka dan menutup mulut dengan tangan kanan. Jujur, tak tega dan tampak menyedihkan. Terutama ketika Crist perlahan menepuk-nepuk dada.


Rasanya, ingin mencairkan suasana. Aku pun bertanya dengan menautkan jemari, "Daniel, apa boleh ... kita mengecek Rollercoaster?"


Waaa! Mendadak ketua kami merangkul pundakku dan menyengir lebar. "Boleh banget! Naik sekalianlah, enggak usah setengah-setengah!"


"Eh, sungguh?! Tapi yang lainnya bagaimana?" tanyaku dengan rasa senang dan khawatir bercampur aduk.


"Aku tak keberatan," jawab Fate santai dengan menyilangkan tangan di depan dada.


"Aku sibuk," ucap Cecil dengan suara mendam karena lidah mungilnya tak henti mengicip gula kapas.


Tetapi Crist berwajah pucat atas wajah menegang. "Aku takut ... dengan Rollercoaster."


Jeda sebentar, mata biru menatap si gadis kecil. Crist lanjut berkata dengan menggaruk kepala, "Mungkin aku akan menemani Cecil saja."


"Oke, sudah diputuskan!" Wah! Daniel mendorongku kuat-kuat dan mengepalkan tangan kanan tinggi-tinggi ke udara. "Ayo tim, berangkat!"