When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Forget-Me-Not



Pagi buta aku melangkah lepas pada jalan setapak seraya menikmati desir angin menerpa rumput pijakan sejauh mata memandang, membuat pikiran ikut berlayar entah ke mana padahal hanya menghabiskan waktu menunggu panggilan lanjutan dari senior staf.


Sudah satu minggu menjalankan tugas yang baru, aku benar-benar belajar banyak. Sebab selama ini hanya sebatas memberantas para naga dan hibrida, tidak tahu ternyata Vaughan juga mengurus berbagai hal ... termasuk masalah politik dan ekonomi. Sungguh aku mengira kami hanya menggeluti kemiliteran, padahal tidak.


Bisa dibilang untuk masyarakat sipil, kami dinilai sebagai organisasi besar dan para mahasiswa kelulusan akan langsung bekerja pada perkantoran yang dimiliki organisasi.


Itu tidak sepenuhnya salah.


Tapi seminggu menjalankan tugas, seminggu pula belum berpulang ke akademi. Padahal bukan misi grade tinggi. Sesuai dugaan, aku akan sangat sibuk.


Dalam misi sekarang dikabarkan setiap tengah malam terdengar suara deram dari arah bukit, dan paginya ditemukan ada pemuda yang hilang. Padahal desa ini--Siber--merupakan desa kecil yang masih menjunjung perkebunan dan peternakan, tak punya banyak biaya untuk meminta bantuan keamanan.


Namun, itu bukan lagi masalah setelah kami tangani dan benar merupakan ulah hibrida. Jika memanggil pihak ke keamanan lokal pun mereka tak mampu menanganinya.


Meski sekarang aku dan beberapa anggota tim tiba seperti sekelompok mahasiswa yang melakukan pengumpulan data--seperti biasa melakukan penyamaran--mereka tidak menganggap jelek keberadaan kami, dan itu cukup mengejutkan.


Dilihat dari kesibukan Head Master Lucian dengan beberapa petinggi, sepertinya segala perbuatan beliau benar-benar bagus dan tepat sasaran untuk mengubah penggambaran Vaughan menjadi lebih baik di mata masyarakat. Dan hal tersebut, perlahan membuahkan hasil.


Sebagai bukti, kedatangan kami pada desa ini disambut dengan baik sehingga pencarian data dan pemberantasan berlangsung lancar. Bahkan, kami dinilai sebagai organisasi yang ramah dan profesional. Mungkin tersisa beberapa tempat ... kehadiran kami berarti teror dan membawa dampak buruk.


Sontak mata jelaga tertuju pada beberapa kumpulan orang yang sibuk di sebelah kiri, tampak sedang memanen buah cranberry dan plum cherry.


Musim gugur seperti ini memang waktu yang tepat untuk memanen buah-buahan, tetapi kenapa udara sejuk tak menenangkan pikiranku yang berkecamuk? Membuat kaki jenjang terus melangkah sampai akhirnya tumit berhenti, ketika pandangan menangkap kebun kecil pada pelataran rumah yang terbuka.


Aku pun mendekat dan berjongkok, dalam-dalam memandang pada suatu bunga. Ujung telunjukku menyentuh pada kelopak emas bertumpuk-tumpuk bak gumpalan elok lagi tangguh, lantaran mahkota nan mengkilat mampu menahan embun beku yang membuat napasku terlihat jelas.


Unik sekali. Kendatipun kecil, bunga ini begitu kokoh.


"Eengg, Kak ... kok jongkok di situ? Lihat bunga ya?" Lantas aku menoleh pada asal suara yang melengking di sisi kanan. "Baguskan?! Namanya cantik loh, Marigold!"


Entah mengapa tiba-tiba sudut emosi berkecamuk atas perasaan nostalgia akan kenangan terdahulu. Perlahan, aku membelalak dalam deru jantung terpacu sedikit lebih cepat. Sebab mata biru gadis kecil begitu bersinar bagai cakrawala yang kini memunculkan mentari, membuat rambut pirang yang panjang berkilauan bak serbuk emas bertebaran di udara.


Perawakan dan caranya memanggilku ... kenapa, tak asing?


Lalu dalam kepala muncul banyak kilas balik saling berlomba-lomba sampai aku tertegun, berusaha menelusuri satu persatu yang bermunculan tetapi tak mampu. Semua seperti memaksa untuk dilihat. Bagaimana ada seorang anak gadis tersenyum; tertawa; bermain bersama; memintaku untuk merangkulnya.


Seluruh ingatan itu memancing hasrat untuk mengulang suatu kisah lama yang telah putus. Pulang; kembali, seperti dulu. Pulang. Pulang.


"Ayo, pulang," gumamku tiba-tiba yang membuatku kembali sadar akan sekitar.


Dan tanpa sadar, tangan kananku seolah-olah ingin meraih pipi meronanya---Tuhan, apa yang aku lakukan?! Gadis kecil sampai kebingungan! Buru-buru aku mengurungkan niat. Namun, ketika ingin memalingkan wajah, kedua pipiku ditahan oleh jemari mungil hingga memaksa mata jelaga ikut memandang iris nan biru.


Gadis itu meraih tas selempangnya, sangat kecil dan mungkin hanya mampu memuat satu buku yang sudah dia keluarkan. Dan buku itu ... kenapa tak asing? Kemudian tangan kecilnya mengambil sesuatu pada lembar acak dan menyerahkan pembatas buku padaku.


"Nih, lihat deh! Baguskan?! Namanya Myosotis, sering dijadiin lambang kesetiaan!"


Lantas pandangan tertuju pada pembatas buku yang diberikan, lalu aku merabanya dengan saksama. Bisa dibilang, ini adalah bunga berwarna biru dengan bentuk manis yang diawetkan dan menjadi pembatas buku.


Dan ini, tak asing pula.


"Terus ada loh cerita! Ceritanya, ada pasangan kekasih gitu ... emmm, mereka suka jalan dekat sungai dan kumpulin bunga, terus nemu bunga kecil yang sungguuuh indah! Terus cowok itu mau ambil bunga kecil itu. Pas mau diambil, semua bunga yang sudah dikumpulin jatuh ke sungai! Terus sekalian deh dia melemparkan semua bunganya dan teriak 'jangan lupakan aku' ke ceweknya. Romantis bangetkan?!"


Aku sedikit tidak mengerti apa yang gadis ini katakan, tapi memilih untuk mendengarkannya dengan baik. Terlebih, wajahnya sungguh penuh antusiasme.


"Ada versi yang kedua! Masih sama sih artinya, yaitu ... yang tersayang enggak pernah tergantikan---eh, benar enggak ya? Oh, atau enggak pernah melupakan orang-orang tersayang baik kecil, besar, ataupun sudah berada di atas! Cinta itu abadi. Makannya nama lain bunga ini Jangan-Lupakan-Aku, karena kecil juga berarti. Ehe, cantik bangetkan?! Kakak pasti suka, soalnya aku juga suka!"


Rasanya, seperti benda semu menembus tepat di rongga kiri meski mendengar itu semua dari anak kecil dengan aksen berisik. Rasanya, perih. Sakit. Aku tak tahan. Membuat napasku memburu sebab mati-matian menekan perasaan yang menyakar bak memaksa memercikkan bara. Aku pun menunduk dalam meski tangan masih belum melepas pembatas buku dari bunga.


Kenapa isi dadaku berkecamuk?


Mungkinkah ... akibat membaca surat pemberian Crist?


Aku tahu; mulai mengerti bahwa di setiap roda kehidupan akan selalu ditimpa oleh pilihan. Dari yang aku alami, pilihan-pilihan itu sulit, mereka memerlukan pengorbanan. Sebab mencapai kebaikan perlu melewati rintangan tetapi sampai kehilangan semua kenangan, terlalu berat. Jika mengorbankan perasaanku padanya, aku tidak tahu ... bagaimana lagi untuk bertahan.


Karena saat itu yang terasa dalam batin ... kebersamaan kami, begitu berarti dan membekas; begitu menjejak hingga menyakitkan, bagai belenggu yang menjerat sampai mati.


Andai seluruh kenangan hilang dari genggamanku; aku melupakannya, maka siapa lagi yang akan mengingatnya? Aku belum sanggup kehilangan ia, untuk kesekian kali bahkan secara sepenuhnya. Benar apa yang Crist katakan, aku belum siap memutuskannya sekarang; belum siap pergi dengan mengucapkan selamat tinggal padamu, Aion.


Ah, tapi, cinta itu abadikan? Apa masih terus bertahan, meski tak mengingatnya lagi?


Apa yang dibahas dalam isi surat stempel emas sungguh berat.


Dengan kasar aku mengusap kedua mata menggunakan lengan jaket yang panjang karena menyadari gelagat panik si gadis kecil. "Tak apa, terima kasih sudah menceritakannya padaku."


"Kok dikasih lagi? Kan, bunganya buat Kakak. Biar Kakak bisa senyum terus ... kayak sekarang!"


Aku terkejut mendengarnya sampai setia mematung.


Ternyata, gadis ini, begitu bersinar bagai cahaya dalam rasi bintang Lyra.