
"Oi Red, akhirnya turun juga! Ngapain sih dalam kamar terus? Dipanggil enggak menyahut lagi."
Langkah kakiku pelan mendekati meja makan atas mata jelaga menyaksikan kesibukan mereka. Di sana para anggota club sudah duduk dengan rapi sembari menyiapkan piring masing-masing. Ah, ya, waktunya makan malam. Hampir lupa.
Lantas aku mengisi tempat kosong paling ujung meja; bersebelahan dengan Crist, seperti biasa. Sebelum benar-benar berbaur dengan mereka, aku mengembuskan napas dalam-dalam.
Bagaimana cara menjelaskannya ....
"Maaf tadi aku mendapatkan surat tugas dari Heart Core, dan sedikit terkejut," jawabku lesu dengan mengambil satu piring yang bebas.
"Oh, mulai besok kamu dipindah tugaskan menjadi tim pencari orang hilang dan penyurvei ya?"
Atas wajah jelas menampilkan kesah, aku menjawab pertanyaan Crist dengan nada rendah, "Iya, memang sudah lama tidak diberi tugas ... tapi, kali ini aku akan semakin sibuk."
Perlahan, tatapanku sayu. "Aku akan jarang pulang ke akademi; pergi ke tempat jauh entah ke mana; tidak akan bisa lagi masak untuk kalian; tak makan bersama seperti ini, mu-mungkin akan sangat sibuk sampai tidak bisa memberi kabar, lalu tidak pernah bertemu lagi ...."
Ha-ah, ternyata kalau dibayangkan cukup mengerikan. Aku akan benar-benar sering bersama orang asing dalam tempat asing pula. Kemudian akan merasa bingung dan lebih banyak diam, canggung---tunggu, kalau tiba-tiba aku mengajak mereka berbicara, apa akan menilaiku yang tidak-tidak? Cerewet, kah? Jika membuat kesalahan, apa Profesor Kaidan akan marah lagi? Jujur, pertama kali mendapatkan misi ini. Biasanya aku selalu memberantas hibrida.
Sebentar, tugas ini juga memberantas hibrida 'kan? Tapi lebih seperti pengawal.
Memang di dunia asal aku terbiasa berpergian, tapi itu selalu kulakukan sendiri. Jika masuk dalam tim survei tentu lebih banyak berbaur dengan orang lain. Juga, tak begitu kenal siapa yang biasa ada di tim ini. A-aku tahu penghuni organisasi Vaughan adalah orang-orang baik tetapi masih belum terbiasa di tengah orang banyak. Apa lagi orang asing! Memikirkannya mengundang gumpalan tirta menumpuk pada ujung kelopak mata.
Tak menyangka akan berakhir seperti ini ... ah, aku akan merindukan kalian semua.
Eh? Tak lama kudengar suara kekehan yang samar. Namun, Daniel justru tertawa keras sampai aku terkejut dan langsung menoleh padanya yang ada di sisi depan. "Kamu dideportasi?! Bahahaha, sukurin! Lagian kamu---aw, Cecil, sakit!"
"Ketawa sih ketawa, tapi enggak usah mukul meja juga kali, kita tuh lagi makan!"
"Habisnya dia kurang ajar loh Cil! Masa main terobos ruang uji coba, aku juga main diangkat lagi!"
"Ya badanmu lebih kecil daripada Red, mau dilempar sekalian juga enggak masalah kali."
"Woi, enggak gitu juga!"
"Saat itu aku tidak tahu---" Ah, suaraku kalah pada kegaduhan ini. Tapi memang rasa bersalah memenuhi relung dada sampai hanya bisa berkata pelan. Apa lagi mulai banyak anggota club yang terbahak-bahak, kecuali Fate.
Gadis itu tetap saja berwajah datar. Ketika aku pandangi, dia menaikkan kedua pundak dan berkata, "Sekarang kamu paham konsep diberi hukuman."
Mendengarnya, mataku mengerjap beberapa kali.
Benar juga, akan kuingat dan kupastikan tidak akan mengulanginya lagi. Setidaknya, kini aku mengerti dan paham akan beberapa hal. Seperti setiap tindakan pasti akan membuahkan hasil. Jika berbuat jelek maka menghasilkan kejelekan pula, begitu sebaliknya. Pun mengerti ketika saat kecil mengambil beberapa potong roti, para manusia justru memukuliku ... karena sudah mencuri.
Benar yang dikatakan Lord Metatron, ketidaktahuan adalah dosa. Begitu pula yang diucap oleh Head Master Lucian, jika salah maka harus diingatkan.
"Aku paham itu salahku."
Seketika, hiruk-pikuk di sekitar reda termasuk Daniel dan Cecil yang sibuk berdebat tak jelas. Mata-mata mereka tertuju padaku membuat ubun-ubun berdenyut sebab rasa tersipu luar biasa. Haah, bahkan wajahku terasa panas!
Namun, tetap berusaha berkata, "Ta-tapi senang Profesor Kaidan mulai memarahiku karena aku berbuat salah, harus ditegur. Misalnya ini adakah bentuk hukuman, juga tak keberatan. Kuterima, tapi ... sedih---ah, tidak apa-apa. Aku bisa mulai belajar mendewasakan diri, tapi ... sedih."
Mau bagaimanapun, ternyata terasa sangat pilu dalam hati tapi aku butuh pengalaman. Ya, harus mulai belajar dari saat ini juga meski kepala masih berantakan, beberapa lembar kosong dalam buku bisa menjadi tali untuk menangkap memori yang ada. Hanya butuh membiasakan diri.
Tuhan, beri aku kekuatan untuk menjalani ini ....
Namun, mereka ... tertawa semakin keras? Bahkan Crist ikut terkekeh meski samar karena menghalau mulutnya menggunakan tangan---eh, ada yang salahkah?
"Red, karena kamu masuk dalam tim pencari orang hilang dan penyurvei, mungkin nanti kita akan sering bertemu," tutur Crist lembut.
"Kelihatannya karena ingatanmu sedikit terganggu kamu jadi lupa. Tugas Departemen Konsultasi lebih pada hubungan luar dengan akademi, begitu pula untuk tim yang berhubungan langsung dengan rakyat sipil. Apa lagi mencari orang hilang dan melakukan survei. Barang kali Daniel juga akan satu tim denganmu, karena memerlukan peralatan khusus ketika melakukan pencariankan? Kalau keadaan sudah genting, bahkan Departemen Disiplin bisa turun tangan membantu kalian, seperti Fate."
"Iya ... benar juga."
"Kamu lebai tahu enggak Red, sudah kayak mau dikirim ke bulan sendirian saja!" celetuk Daniel bersungut-sungut.
"A-ah, maaf aku tak berpikir sampai situ," balasku gugup dengan mengelus tengkuk.
"Lagian ...," ucap Daniel menggantung dengan memandangku atas sebelah alisnya terangkat, seperti ada rasa heran yang sungguh jelas. "Kamu senang dimarahi Pak Kaidan? Ia itu paling seram loh kalau marah! Masa kamu lupa sih julukannya si guru paling tegas? Hih, aku kena bentaknya saja dah malas."
"Untuk beberapa aspek, kadang Red bisa lebih dewasa daripada kamu," sindir Cecil.
"Cil, kali ini ... aku benar tersinggung."
Fate yang jemari lentiknya masih menaut secangkir teh sampai meletakkannya pada piring kecil dan berkata, "Untuk satu ini, aku setuju pada Cecil."
"Buset, Fate! Serius?!"
Aaaa, malam ini sungguh dipenuhi oleh suara tawa. Padahal tidak ada yang bercanda bukan? Bahkan Daniel juga, dia hanya heran. Namun, aku memang bersyukur Profesor Kaidan melihatku secara adil dan tegas.
Sampai akhirnya suara dari ungkapan rasa geli mereka reda ketika ada yang bertanya, "Eh, eh, tapi aku juga heran ... kadang tingkah Senior Red itu enggak biasa. Bukan maksud menyindir tapi iya enggak sih?"
Seketika dingin tiba bak mencambuk punggung pun aku langsung menunduk dengan menautkan jemari. Jantung sama menjadi tak wajar atas detak yang tak beraturan sebab rasa bingung melanda relung dada secara tiba-tiba.
Bagaimana menjelaskannya? Aku memang ... benar-benar, tak begitu memahami secara penuh rasa menjadi kalian. Selama ini hanya hidup sendiri dan sebatas pengalaman singkat bersama dengan Aion yang telah tiada. Pada dasarnya, aku belum pernah merasakan kehidupan di tengah-tengah manusia.
"Iya! Kayak enggak nalar hal-hal wajar!"
Aku berbeda ... sejauh itukah?
"Ada yang namanya gegar budaya jika berada di negara asing, mungkin Red tidak terbiasa dengan kehidupan di sini," sergah Crist dengan nada sedikit ditinggikan sampai aku ikut tertegun dan menoleh padanya. Wajah tenang seperti biasa---ah, tidak, terlukis rasa kesal di sana karena alis hampir menyatu.
"Itukan hal mendasar banget, masa beda negara---"
"Dan kalian lupa sepertinya kalau berusaha mencari tahu data pribadi orang lain tanpa izin merupakan pelanggaran berat di sini. Mungkin Red terlihat biasa saja ketika kalian berbaur dengannya atau kalian bercanda kelewatan padanya, tapi ada batas tak terlihat ketika kalian bersosialisasi. Mungkin, kalian juga perlu diberi hukuman?"
Kedua gadis yang duduk di samping kiri Cecil langsung menegang, lebih-lebih terlihat panik ketika Fate berkata demikian. Padahal wajah minim ekspresi itu masih biasa, hanya saja mata ambar menatap lurus bak menghunjam jantung---ah, aku pernah di tatap seperti itu olehnya. Memang terasa mengerikan.
Sontak salah satu dari mereka berkata, "Waaaa!! Ma-maaf! Senior Red, lupakan saja aku pernah bertanya gitu, ya?"
"Ah, ya ... tak apa."
"Terima kasih Fate."
"Bukan masalah."
Eh? Aku kembali dibuat heran ketika Crist mengucapkan terima kasih pada Fate. Maksudku, kenapa? Topik permasalahannya aku bukan? Tapi apa ada sesuatu yang terlewatkan? Namun, mereka berdua terlihat biasa saja, hanya Crist justru menutup wajah dengan tangan yang sudah menekuk dan bersadar di atas meja.
Lantas setelah Cecil memberikan nasihat pada mereka--kedua gadis dan Daniel--makan malam berlangsung tenang. Menjadi suatu kebiasaan pula setiap selesai makan aku membantu mencuci piring dan merapikan meja meski bukan giliran untuk bersih-bersih jikalau sempat, tapi kali ini aku mendapatkan hambatan karena Crist berdiri tepat di depanku ketika hendak melangkah.
Mata biru tuanya menatap dalam-dalam dengan ekspresi wajah yang sedikit rumit untukku mengerti. Kemudian, lengan kukuh si pemuda meraih sesuatu dalam tas pinggang.
"Aku ingin menyerahkan ini, mungkin kamu akan terkejut membacanya lebih dari mendapat surat pindah tugas. Tapi aku harap kamu bisa memutuskan isi surat ini baik-baik ... setelah ingatanmu pulih dan kamu bisa berpikir normal."
Surat yang dimaksud dia sodorkan, membuatku tertegun hingga kelopak menggulung. Kiranya iris jelaga nan polos sampai tersibak sebab rasa terkejut; bingung; takjub berpadu di alam sadarku. Sebab itu merupakan amplop berwarna cokelat dan stempel lilin emas atas ukir logo Vaughan, menjelaskan kedudukan informasi di dalamnya merupakan kelas atas dan ... namaku, tertulis di sana.