When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Dan, Terjadi Lagi ....



Sepertinya ujian kali ini, aku benar-benar sial.


Kukira akan banyak murid menggunakan Class Goliath tapi selama aku perhatikan tidak ada yang memakainya, termasuk ketika sparing internal club. Ditambah lawan pertamaku saat sparing antar club langsung nomor tiga di Vaughan pada pendataan yang lalu. Ya, siapa lagi kalau bukan Theo.


Sekarang aku tak henti mengesah, terus melangkah dan mulai menuruni tangga hingga ayunan ritmis tungkai jenjang begitu menggema di lorong menuju stadium simulasi.


Kalau dipikir kembali, Class Goliath lebih cocok untuk mereka pemilik refleks dan kecepatan yang lumayan bukan? Mungkin itu kenapa belum banyak yang bisa menggunakannya. Selain memerlukan waktu untuk beradaptasi, mungkin tipe bertarungnya tidak cocok bagi kebanyakan orang.


Namun, jika meneliti lawanku sekarang---ah, itu merupakan class yang sangat sesuai untuk Theo. Maksudku, bagaimana caranya membaca pergerakan dan titik kelemahan; kuda-kuda yang tak biasa dan posisi kukuh tolakan daya serang; gaya bertarung unik dan seni bela diri. Aku bisa membayangkan kalau ia menggunakan class tersebut, aku bisa hancur lebur karena ... memakai pedang saja sudah dibuat kesusahan, padahal ia mengaku pedang bukan senjata yang cocok baginya.


Meskipun begitu, tetap aku akan berusaha memberikan yang terbaik. Apa lagi pernah bertarung dan berlatih bersama. Dengan insting nan tajam, aku masih memiliki kesempatan ... mungkin.


Sontak aku menyipitkan mata dan sedikit menghalau silau di ujung jalan sana ketika sorot lampu terasa begitu membutakan. Ketika hampir dekat pada ujung lorong, terasa ada yang menarik belakang baju sampai aku terkejut dan menyentak langkah---eh, Fate?


Napasnya terputus-putus dengan tangan menyentuh dada, jelas sekali dia buru-buru menyusulku. Lantas kutanya, "Ada apa?"


Menarik dan mengembuskan napas bak berusaha mengenyahkan sesak pada rongga dada, akhirnya Fate menjawab, "Umm ... hati-hati?"


Eh? Hati-hati untuk melawan Theo, kah? Aku tahu ia berbahaya---ah, mungkin Fate sebegitu mengkhawatirkanku? Padahal seharusnya dia lebih memperhatikan dirinya sendiri daripada aku. "Kamu sendiri bagaimana? Akhir-akhir ini sering melamun ...."


"Oh, mungkin ini peninggalan setelah melawan Tiamat. Kita terkena serangan mental yang lumayankan? Ingatanmu menjadi kacau sampai tidak bisa berpikir, dan mungkin kasusku menjadi sulit untuk lebih fokus dan sering mendengar suara aneh," jawabnya yang belum memberikan rasa lega padaku.


Sebab, aku yakin pertama kali Fate mendengar bisikan aneh dalam kepala ketika kami bersama di balkoni lantai atas perpustakaan, dan itu kejadian jauh-jauh hari sebelum Tiamat. Terlebih suhu tubuh---eh?! Ketika tanganku berusaha menyentuh pipinya, terdengar suara gema EVE nan khas memanggil namaku. Astaga, sekarang bukan waktu yang cocok untuk membicarakan hal ini!


"Aaah, terima kasih Fate! Aku pergi dulu."


Bergegas aku berlari, meninggalkan dia yang melambaikan tangan ke arahku dan memasuki stadium simulasi raksasa dalam ruangan. Seketika itu pula sorak-sorai seluruh orang yang menyaksikan pecah.


Ada apa ini? Mereka seperti menanti-nanti sesuatu padahal masih babak pertama di hari pertama pula. Namun, ketika berdiri dengan kukuh dan melihat lawan bertarung sejauh beberapa meter di hadapan ... aku mulai mengerti kenapa, hingga spontan mengeluarkan senyuman masam.


Seketika akar-akar neon dalam ruang ini berpendar dan dalam kedipan mata, arena berubah menjadi simulasi nyata padang gersang yang luas, bahkan teriknya matahari terasa begitu menusuk. Dan di sana Theo sudah menyengir lebar atas wajah berseri-seri tetapi auranya ... terasa sangat mematikan.


Sekarang aku paham Fate berkata hati-hati sampai mengejarku, Theo sudah jauh lebih berbahaya lagi.


Ketika aku mengeluarkan Sabel dan bersiap dalam kuda-kuda, senyum di wajah kukuhnya semakin lebar sampai mata ungu bak lavender terpejam. Lalu saling meninjukan kedua tangan yang sudah mengenakan knuckleduster terhias dua piringan logam di atas punggung tangan.


"Aku tidak akan main-main, loh!"


Theo menggunakan Class Goliath.


Sekarang dia melakukan kuda-kuda pembukaan. Berkat berlatih dengannya, aku mempelajari beberapa teknik dasar bela diri. Selain untuk mengetahui lebih dalam taktik yang dia gunakan, juga demi pengalamanku sendiri. Dan kuda-kuda ini menunjukkan bahwa Theo sudah siap dalam sikap dan pikiran.


Sepertinya ... beberapa tulangku akan ada yang patah lagi?


...****************...


Mati rasa.


Ah, terlalu banyak luka sampai tak bisa lagi merasakan beberapa anggota tubuh.


Pedang juga terpental entah ke mana.


Bahkan untuk bernapas terasa menyesakkan.


Walau berkabut dan telah hilang pendarnya, mata jelaga masih bisa melihat lawan bertarungku di bawah sana. Iya, bawah. Theo meninjuku sampai keluar dari arena dan menghancurkan beberapa bangku penonton di barisan depan--untung sudah banyak yang menghindar.


Sepertinya beberapa bagian tubuhku ada yang sobek meski kecil karena darah tak henti menetes, memberikan kesan merah pada lantai dan bangku putih yang sudah tak berbentuk; menambah aroma amis darah dariku juga volume genangan benda cair tersebut. Membuatku merasa sangat pusing tapi satu sisi, juga merasa bangga dengan diri sendiri bisa bertahan sejauh ini.


Mungkin karena tubuhku abadi? Atau memang pertahananku lumayan tinggi? Kendatipun, tidak mau lagi untuk berdiri dan melawannya. Hanya ingin ... beristirahat.


"Waah! Maaf Red, aku lupa diri."


Tapi; bagaimanapun, Theo memang luar biasa.


Mati-matian aku menggerakkan jemari demi mengeluarkan ibu jari---ah, tidak bisa. Aku tak bisa mengangkat tangan dan hanya tersenyum. Lantas dengan suara amat parau aku berkata, "Ti-tidak apa-apa ... kamu memang, luar biasa!"


Sontak si pemuda menyengir kuda, sepertinya sangat senang bisa melepas seluruh kekuatan menggunakan class yang sesuai ... dan melampiaskannya padaku.


Namun, saat itu pula kepala Theo dipukul oleh Rose, sangat keras sampai suara debam terdengar sampai sini. "Bukankah sudah kami semua bilang supaya kamu tahan diri, Theo?!"


"Maaf-maaf, aku lupa menahan diri karena melawan Red. Bagaimana dia beradaptasi dengan seranganku dan pertahanan yang keras ... begitu memicu untuk berbuat lebih, bahkan dia bisa melukaiku! Lihat, dia juga masih hidupkan?"


Astaga ... dia pikir, aku ini naga tingkat General?


"Kalau babak awal kamu sudah begini, bisa-bisa semua lawanmu patah tulang nantinya." Aksen nan khas mengudara. Fate tiba-tiba muncul tepat di depan Theo dengan langkah lugas dan aura yang sangat ... ah, pemuda itu langsung tunduk seketika meski si gadis hanya menghela napas.


Mendadak Profesor Gil datang. Apa akan memarahi---heee, beliau tertawa?


"Hahaha, biarlah, biarlah ... Theo terlalu bersemangat karena akhirnya bisa mengeluarkan kekuatan penuhnya."


Dengan tatapan datar Fate membalas, "Pak Gil, Anda tidak membantu."


Aku tertawa kecil melihat Theo berakhir dinasihati habis-habisan oleh Fate dan beberapa anggota tim medis tiba menolongku. Rasanya seharian ini ingin kugunakan untuk tidur, benar-benar terasa berat dan kantuk. Yang jelas, aku sudah kalah dan tak ada lagi pertarungan untukku.


Tidak masalah peringkatku menurun karena pengalaman lebih penting daripada gelar dan pengakuan. Lantas, aku memejamkan mata ketika badan dibawa menggunakan tandu.


...****************...


Saat bangun ... aku lumayan dikagetkan dengan pengumuman peringkat grade ulang tak jauh berbeda dari sebelumnya yang berarti aku sudah tertidur selama tiga hari penuh.


Lebih mengejutkannya, aku tetap di posisi ke sembilan tetapi Crist berhasil mengisi peringkat ke empat. Dan Theo yang tiba-tiba mendatangiku sambil mengucapkan maaf berkali-kali.