
"Untuk progres ... kamu menunjukkan banyak kemajuan." Kemudian satu map dokumen diserahkan ke atas meja yang membatasiku dengan Profesor Caterine. "Kamu memang belajar cepat, daya tangkap pun lumayan. Kalau hasil datamu terus meningkat, masa rehabilitasi bisa selesai lebih cepat dari yang diperkirakan."
Lantas aku meraih dokumen tersebut, lalu mengeluarkan dan membaca lembar-lembar isinya. Benar saja, data di sini menunjukkan peningkatan yang lumayan signifikan. Aku tidak tahu bisa berkembang secepat itu, mungkin pada dasarnya memang masih bisa tertolong? Hanya saja butuh orang yang menuntun dengan benar dan melewati tahap yang benar pula.
Aku senang mengambil pilihan ini.
"Terima kasih, Profesor Caterine!"
"Hoya, oya, lihat senyuman yang lebar itu. Kamu bisa sampai sejauh ini karena usahamu juga." Dan beliau melipat tangan depan dada. "Kamu bekerja sama dengan baik dan berusaha penuh maka bisa mendapatkan data sebagus itu. Aku harap kamu menghargai usahamu sendiri."
Ah ....
Aku menoleh ke arah beliau dan menurunkan dokumen di genggaman. Benar apa kata Daniel sewaktu dulu, tak ada yang bisa dilewatkan dari pengamatan sang dokter terbaik Vaughan.
Pada awalnya memang terasa ragu dan khawatir pada diriku sendiri. Meskipun begitu, aku tetap berusaha yang terbaik karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan usaha mereka. Namun, terkadang lupa kalau diri sendiri tak ada kemauan untuk berubah apa lagi mengambil langkah besar ... tentu semua berakhir stagnan.
Aku menjadi sedikit tersipu.
"Mungkin ... karena semua ingatanku sudah kembali, sehingga bisa berpikir jauh lebih tenang dari sebelumnya."
Perlahan-lahan, aku merapikan kertas-kertas dokumen tersebut.
"Terlebih masalah identitas yang sudah aku jelaskan bahwa jiwaku hanya sebatas robekan kecil sehingga tidak stabil dan mudah terkontaminasi ... sekarang rasanya benar-benar ringan, dada dan kepalaku. Aku tidak tahu apa yang Vaughan lakukan tetapi itu sangat membantu."
Lantas menggunakan tangan kanan, beliau menunjuk bibir merahnya beberapa kali seolah-olah berusaha berpikir.
"Red, perlu kamu ketahui kami hanya menangani masalah psikis. Untuk jiwamu yang terkontaminasi, itu sudah berhubungan dengan nyawa dan nyawa di luar batasan kami. Bisa jadi kondisi tubuh dan pikiranmu sudah membaik sehingga jiwamu ikut menjadi bersih, jadi aku harap kamu terus melanjutkan rehabilitasi."
Dan beliau beranjak dari duduk---tunggu!
Jika permasalahan jiwaku mulai stabil karena pikiran dan hati sudah tenang, bukankah ketika bersama Aion seharusnya bisa kembali ke wujud asalku yang merah; mata dan rambutnya? Sekadar perubahan kecil seperti sekarang--rambut kembali merah--seharusnya munculkan?
Namun, tetap saja, hitam bahkan masih bisa lepas kendali. Kenapa baru di dunia ini seperti ... dibersihkan? Aku sendiri cukup terkejut dibuatnya.
Apa karena tidak ada si malaikat jatuh lagi? Atau sudah jauh dari dunia asal? Mungkin---
"Oh, ya, Crist titip pesan. Jika sudah selesai pemeriksaan, segera hubungi dia."
Eh, Crist?
Profesor Caterine yang tiba-tiba mengingatkan sebelum pergi dari ruangan membuatku terkejut. Sepertinya Crist masih mengkhawatirkanku.
Lekas aku meraih ponsel dalam saku celana dan segera menghubunginya. Ternyata tidak memakan banyak waktu untuk terhubung lantaran langsung ia angkat.
"Red!" Jawaban yang antusias spontan membuatku tertawa. "Kamu sudah selesai pemeriksaan? Bagaimana hasilnya?"
"Iya, dan lumayan bagus. Ada peningkatan."
"Syukurlah. Kalau kamu senggang mau menjenguk Fate? Cecil sudah pergi terlebih dulu, setelah ini aku dan Daniel mau menyusul. Kamu bisa pergi duluan ke kamar Fate, masih di rumah sakitkan?"
"Iya, setelah ini aku ke atas. Terima kasih, Crist." Dan panggilan tertutup, membuatku kembali memasukkan ponsel dalam saku celana.
Tanpa memakan waktu, aku berdiri dan meninggalkan ruang serba putih ini.
Fate ... bagaimana kabarnya? Aku harap ia sudah membaik lantaran selama dua minggu terakhir belum sempat mengunjunginya.
Kami berdua sama-sama disibukkan oleh rehabilitasi, apa lagi aku dirawat pada ruang khusus bawah tanah sampai hafal jalur tempat nan sunyi hingga derap sol memenuhi. Apa lagi pintu-pintu besi terbuka otomatis ketika aku melewati beberapa blok, tidak seperti awal kedatangan ditemani Crist dengan kartu identitasnya. Mungkin sudah didesain untukku? Namun, dengan teknologi dan kerahasiaan ini tidak mungkin sebatas menanganiku 'kan?
Apa pun itu, bukan hakku mencari tahu rahasia mereka. Terlebih sudah memiliki tugas tersendiri pun telah menyerahkan diri; mengabdi pada Vaughan. Aku mulai mengembuskan napas panjang.
Saat sampai di lantai tiga, aku terus meniti langkah dan menyisir setiap pintu.
Sebab ruang rawat Fate kalau tidak salah di sekitar sini ... ini dia. Saat hendak membuka pintu, tangan beku di tempat lantaran mendengar suara memenuhi lorong tak henti memanggil-manggil. Ketika menoleh---oh, Daniel dan Crist!
"Kebetulan nih, masuk bareng yuk!" Daniel langsung merangkul pundakku, seperti biasa.
Namun, ketika pintu terbuka rasa hangat mendadak merasuk ketika mata jelaga menyaksikan tawa kecil di wajah pualam. Dia sedikit menutup mulut dengan tangan kanan, agar suara tak terdengar kencang tetapi menambah kesan anggun.
Cecil di sana dalam kekehan lugunya tetapi paras ayu Fate menarik hati, duduk di kasur atas rambut perak melambai lembut sebab tiupan angin dari jendela yang terbuka, menambah kesan manis---eeek, sebentar! Kenapa Daniel menyeretku?!
Wah! Seketika aku dipaksa duduk pada bangku yang dia tendang ke depan---astaga, ini terlalu dekat! Jarakku sama seperti Cecil di seberang sana yang tak henti memegang tangan Fate. Tunggu-tunggu, seharusnya jarak duduk menjenguk pasien tidak sedekat ini 'kan? Untuk Cecil tentu tak masalah karena sahabatnya!
Tetapi ketika ingin berdiri atau sekadar mendorong bangku ke belakang, Daniel telah menahanku kuat-kuat dan menempel di punggung. "Mau kabur ke mana, Red? Oooh, Fate terlalu cantik yak sampai bengong di pintu waktu lihat dia ketawa?"
Haaaa, bicara apa dia?!
"Bu-bukan begitu ...."
"Tentu saja kangen! Eeeh?! Ma-maksudku ... aaaaaa!!" Astaga, Fate sampai menatap heran! Refleks aku menutup wajah menggunakan kedua tangan.
Tuhan, Daniel yang begini tidak baik untuk jantungku ....
Sebentar, aku lebih kuat dari diakan? Kenapa tidak langsung berdir---
"Aku juga merindukanmu."
Eh?
Perlahan, aku menurunkan tangan dan melihat Fate. Atas semburat kemerahan di pipi, bibir tipis merah muda melukiskan senyum simpul; membuat perasaan bergejolak di dadaku mereda dalam jantung berdetak semakin cepat. Pula dirasa, rangkulan Daniel lepas dariku.
"Aku dengar kamu juga menjalani rehabilitasi, bagaimana hasilnya?" Nada bicara Fate terdengar amat tenang.
Dan itu tertular padaku. "Untuk bulan ini menunjukkan peningkatan. Kamu sendiri, bagaimana?"
"Baik ... hanya saja, masih sedikit lemas---"
"Fate, aku loh yang buat Red sadar! Kutonjok dia!!"
Hah?! Apa perlu yang seperti itu dilaporkan pada Fate? Tapi---ah, gadis itu langsung tertawa. Bahkan terlihat ... senang?
"Kerja bagus, Daniel."
Ini hanya aku, atau memang ada yang ada yang tidak beres? Spontan aku tersenyum masam.
"Habisnya aku sebal. Kejadian itu ingetin aku sama orang tuaku. Ha, memang mereka berdua enggak beres; orang dewasa yang egois." Dan suara Daniel melemah. "Kayak ... dari awal mereka menikah bukan karena ketulusan cinta, bahkan aku saja nih, cuma sebuah kecelakaan di mata mereka."
"Mamah bukan orang benar-benar dan Ayah menikahinya agar Mamah jadi cewek baik-baik. Sudah tahu Mamah orang enggak benar dan Ayah cuma diperalat ... masih saja enggak sadar. Terus ia depresi waktu tahu Mamah sama laki-laki lain dan main memutuskan segala hal tanpa bilang apa-apa ke aku."
Kemudian Daniel menempati satu bangku kosong di sekitar.
"Heh, sehina-hinanya aku, aku tetap anak mereka! Aku benci kalau enggak dianggap begitu dan mereka main ambil jalan sendiri; memutuskan kehidupanku sesukanya harus apa dan bagaimana, mentang-mentang aku anak kecil?!"
"Bodoh banget, aku masih bisa mikir! Biarlah aku ambil andil juga dalam keluarga, bukan dibuang kayak gitu!" Dan Daniel bersandar pada bangku. "Makannya aku selalu ingin maju terlebih dulu, aku harus tahu semua masalah dan harus bisa selesaikan juga. Aku ingin keberadaanku diakui. Dan jujur saja, karena itu aku jadi temperamental."
Ringisan mengumbar dari Cecil bak suara tersumbat dalam tenggorokan. Jelas sekali gelagatnya menunjukkan bahwa dia merasa tak nyaman. "Dari kalian semua, kayaknya cuma aku deh yang masa lalunya paling normal. Memang ... aku ada kelainan dengan fisikku ini, berbeda dari kalian tapi orang tuaku tuh suportif."
"Oh, hubunganmu dengan keluarga tidak terputus satu arah?" Lantas aku mendongak demi melihat Crist yang bertanya demikian, dia suka sekali berdiri di dekatku.
"Iya, sampai sekarang aku masih suka hubungin mereka. Mereka tuh senang banget kalau kutelepon makannya aku berusaha yang terbaik biar mereka bangga."
Kemudian Cecil menunduk dan meraba-raba jemari lentik Fate yang terus digenggam.
"Masalah hidupku paling karena fisikku kayak anak kecil, kadang kurang percaya diri depan orang banyak. Dari dulu sering kena ledek, aku jadi minder ... tapi orang tuaku masih perhatian sama aku, suka kasih semangat. Waktu aku ditarik masuk ke Vaughan mereka langsung merasa bangga padahal mereka berdua bukan pengguna dragonic tapi sudah tahu kalau Vaughan organisasi besar karena Nenek pengguna dragonic juga."
Tiba-tiba, pipi Cecil merona merah. "Tetap saja pas masuk Vaughan aku masih minder dan sulit beradaptasi, sampai Daniel dekati aku. Sejak itu aku jadi punya banyak teman, bahkan keluarga sendiri. Aku selalu berusaha biar orang-orang anggap aku normal, padahal ... itu cuma aku kebanyakan mikir yang enggak-enggak. Dibandingkan dengan masa lalu kalian, aku ini kayak kurang bersyukur."
Mendengar cerita mereka, aku mulai mengerti bahwa setiap manusia memiliki permasalahan hidup masing-masing.
Seperti Cecil berusaha terlihat normal di balik kekurangannya; Daniel sangat ingin diakui keberadaannya; Crist dengan harapan untuk selalu diingat; Fate terus mencari jawaban tentang keberadaan dan kehidupannya. Dan aku ... seseorang yang takut akan kesendirian.
Mungkin, sebab Tuhan akan selalu menguji hambaNya berdasarkan kekuatan mereka demi meraih suatu kebahagiaan.
"Dari ujian kehidupan, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Semua sama rata berdasarkan kekuatan masing-masing individu," ucapku spontan, "jika aku menjadimu, Cecil, mungkin aku tak sanggup menjalani cobaan yang dialami. Kamu luar biasa dengan caramu sendiri sehingga bisa terus melangkah sejauh ini. Tapi, aku senang kamu bisa menghargai kehidupanmu dan aku harap kamu mulai mensyukurinya ... apa lagi, kamu sudah memiliki Daniel sekarang."
Seketika si gadis kecil terkejut dan menatapku dalam pandangan tersirat tak percaya, lalu mata merah muda bak neon tertuju pada Daniel yang duduk di depannya. Mereka saling tatap dalam ekspresi tertegun.
"Hngg, aku kira Daniel suka dekati aku karena iseng saja. Makannya suka marah-marah ...."
"Enggak salah sih, a-aku juga enggak pandai gimana cara dekati cewek yang benar ...."
Sontak mereka berdua diselimuti oleh rasa tersipu begitu kentara dan lama kelamaan, semburat di pipi semakin merah padam pun mereka menunduk malu---eh, apa-apaan itu?
"Yah, Red, ucapanmu memang berbahaya sampai orang lupa diri." Heee, kenapa aku? Refleks mendongak lagi demi melihat Crist yang sedang menyengir kuda diiringi menaikkan kedua pundak.
"Waah, lupa! Aduh, maaf Fate malah keasikan curhat!" Daniel memekik panik seketika sehingga atensiku kembali tertuju padanya. Dia tak henti merentangkan kedua tangan dengan tingkah gugup.
Sama seperti Cecil yang menyentuh kedua pipi dan memejamkan mata erat-erat. "Iya ya?! Harusnya kamu istirahat!"
Fate justru menggeleng dan berkata, "Tidak apa-apa. Sejujurnya aku senang kalian cukup memercayaiku untuk menceritakan masa lalu kalian."
Dalam detik bergulir lambat, bibir tipis kembali tertarik dalam rona wajah nan lembut. Sama seperti rasa lunak dari binar keemasan merambat masuk menghangatkan ruang; juga hatiku yang dibuat nyaman pun terpesona olehnya. "Aku merasa terhormat bisa mendengar ini dari kalian."
Melihat Fate diselimuti oleh perasaan senang dan tenteram, entah kenapa membuatku merasa bahagia. Tuhan, hari ini memang hari yang menyenangkan!