When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Piano dan Keabadian



Semua orang sudah berbaur dengan satu sama lain, termasuk Daniel dan Cecil yang berdiri di depan sana. Mereka tampak berbincang-bincang ringan karena semburat merah terlihat di pipi keduanya. Ya, sering berkelahi tetapi akur juga hingga aku berpikir mungkin mereka mempunyai keserasian dan ritme tersendiri.


Sedangkan aku duduk pada bangku ini, memakan beberapa potong kue di piring kecil. Tak banyak yang duduk pada barisan bangku belakang, hanya orang yang sebagian besar juga saling berbincang atau pencari ketenangan dengan ponsel masing-masing.


Ah, sekarang Daniel mendekatiku. Sedangkan Cecil masih setia mengekor dan semakin mengeratkan tautan tangan dengan si pirang, bahkan tak berani menatapku. Lebih tepatnya, tak berani menatap siapa pun kecuali Daniel ... itu juga ketika mereka hanya berdua.


"Red, kita ke belakang," ucap Daniel tertahan seperti memilah kata-kata yang ingin diucapkan, "enggak sih, yang benar pengin ke taman belakang. Mencari tempat agak sepi dikit. Masih wilayah mansion yang boleh didatangi kok, ada Staf Disiplinaria juga."


Lantas aku mengangguk dan dia langsung menyengir lebar.


Sebenarnya aku bingung, kenapa Daniel menjelaskan itu semua padaku? Terlebih, kenapa meminta izin? Berdasarkan pengumuman, semua orang berhak datang dan bebas bersenang-senang dalam acara lantaran fokus utama adalah kebahagiaan--asal jangan memecahkan barang yang ada di mansion. Entahlah, aku berakhir menaikkan kedua bahu. Lagi pula mereka sudah pergi jauh, aku pun lanjut memakan---eh? Habis.


Spontan aku mengembuskan napas panjang dan berpikir tentang bersenang-senang ....


Sontak aku mulai menjulurkan kaki ke depan dan bersandar pada bangku, lalu menunduk; melihat piring kecil kosong di genggaman kedua tangan. Sebab bingung bagaimana caranya menikmati acara ini. Apa di tengah keramaian, ada juga yang hilang arah sepertiku?


Rasanya kesenanganku benar-benar datang dari ia yang telah tiada. Selebihnya aku tak begitu yakin. Namun, rata-rata orang di sini melukiskan suatu senyuman---oh, ketika banyak yang peduli padaku juga merasa senang ... terutama Profesor Kaidan.


Seketika tatapan mataku meredup memikirkannya, sampai terasa ada yang duduk di samping---tunggu ....


"Profesor Kaidan?!" ucapku terkejut ketika menoleh ke samping.


Ah, beliau terkekeh selaras dengan satu tangan kukuh mengelus kepalaku. Ternyata dilihat dari dekat memang sangat gagah, tubuh tegapnya seperti seorang ksatria dengan seragam itu. "Bagaimana acaranya? Pertama kali ikut ulang tahun Vaughan 'kan?"


Aku mengangguk dan tangan beliau lepas dari kepala. "Pertama kali dalam hidup mendatangi acara besar. Bapak, sebenarnya aku bingung ... harus berbuat apa di sini?"


Ha-ah, beliau langsung tertawa dan tiba-tiba aku merasa tersipu. Pasti memalukan karena seperti orang yang ... apa itu sebutannya, kampungan?


"Kamu tidak ingin berbaur dengan siapa pun? Lihat kumpulan di sana?" Refleks aku menoleh ke mana tangan beliau menunjuk. "Dulu kamu pernah menjalankan misi dengan kelompok itu, coba berbaur dengan mereka."


"Aku tidak ...," ucapku menggantung. Sontak mata jelaga kembali menatap wajah teduh beliau.


Senyum tenangnya tak pernah lepas ketika berbicara, membuatku merasa tidak enak dan melirik lagi ke ruang yang kosong. "Kebanyakan orang akan menghindar sebelum aku sempat berbicara, bahkan beberapa akan pergi sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Takutnya ... menganggu mereka."


Aku pun menunduk.


Sebenarnya merasa tidak enak menolak saran beliau, tapi memang masih tak begitu yakin berinteraksi secara lepas jika tidak ada urusan penting. Nanti, apa yang harus aku bicarakan? Jika aku bercerita macam-macam pada mereka, apa yang akan mereka pikirkan?


Selama ini hanya sering berinteraksi dengan anggota Club Dion dan mereka tidak keberatan---ah, terasa kepalaku ditepuk sekali, amat lembut hingga menarik perhatianku untuk melirik beliau.


Mata teduh itu sayu tapi senyum masih belum luntur. "Ikut Bapak, yuk? Piringnya letakkan saja di meja depan sana."


"Eh, ke mana?"


Tiba-tiba Profesor Kaidan melihat jam di tangan kiri---ah, itu jam tangan yang dulu pernah aku berikan! Sampai sekarang beliau masih memakainya?! Mengetahui ini aku merasa sedikit tersipu, tapi beliau berkata, "Sebentar lagi Fate dan Lucian akan memainkan musik."


"Musik? Tu-tunggu, Bapak!"


Tanpa basa-basi beliau beranjak dari tempat duduk dan menarik lenganku. Aku pun merasa ini bukan dipaksa, justru benar terkesan seperti ajakan tetapi ... terlalu tiba-tiba!


Buru-buru aku meniti langkah mengikuti beliau karena mulai banyak pasang mata melihat ke arah kami---astaga, pasti sangat mencolok! Kenapa orang terhormat seperti beliau menyeret aku--orang biasa saja--di tengah acara formal seperti ini?! Langsung aku menutup muka dengan tangan lain yang masih bebas.


Maka secara perlahan aku menurunkan tangan dengan mata jelaga tersibak, menyaksikan gadis yang jemari lentiknya menekan tiap bar piano dalam suara lembut nan menyentuh. Semakin kuat emosi dalam tiap nadanya berkat permainan cello dari Head Master Lucian.


Seketika terasa ada yang menepuk pundak, membuatku refleks menoleh; menyaksikan Profesor Kaidan berkata dengan sedikit gugup bahwa beliau akan pergi sebentar, kulihat juga beberapa wanita mengelilinginya. Berkat itu pula aku menyadari jauh di tengah ruang utama mansion, orang-orang memberikan jarak karena sebagian dari mereka mulai berdansa.


Namun, atensiku lebih tertarik pada Fate yang ada di sudut ruangan; tepat di bawah temaram balkoni dalam ruangan.


Atas bermandikan cahaya malam, sosoknya berkilauan berkat helai-helai perak berjatuhan dari tangan yang tak henti menciptakan dentingan indah.


Dari sini terasa bulan seperti dekat dari jendela transparan dan berada tepat di sisi kepala sang gadis, membuat bibir merah mudanya berkilat selaras dalam mata mengerjap beberapa kali. Khidmat. Sama seperti sosok berwibawa duduk tak jauh darinya. Mata merah darah terpejam, seperti alunan musik yang mereka bawakan terlukis keharmonisan.


Dan aku merasa ... tenang, ya, amat tenang. Nada ini seakan membelai lembut, sampai ke setiap sisi jemariku yang kini terentang samar. Aku menunduk lantaran melihat telapak tangan sendiri.


Entah kenapa, nada yang tenang ini; yang damai ini; yang tenteram ini, mengingatkanku pada ia--orang terkasihku--ketika kami hanya berdua dalam hutan. Sekarang, aku seperti ... kembali melihat senyum dan kelembutan di setiap sentuhannya. Lalu aku melihat lagi warna dunia yang telah lama hilang.


Ternyata, perasaanku padanya tak pernah berubah. Seolah-olah nada ini ingin berkata bahwa cinta akan selalu bersama, di setiap napas; setiap langkah; setiap detik, selama ingat akan memori tersebut.


Walau menyakitkan, akan ada potongan manis di dalamnya 'kan? Dan tanpa sadar, tirta kembali menetes tepat di telapak tanganku. Cepat aku mengusap mata dan kembali melihat ke depan, di mana Fate dan Lucian masih memainkan musik mereka.


Terasa setiap detik begitu berarti dalam benang-benang alunan simfoni. Juga, ada ukir kebahagiaan tersendiri dari wajah pualam si gadis. Terbukti dari ukir sabit menghiasi bibir merah mudahnya.


Nada terakhir pun selesai dialunkan, sontak tepuk tangan seluruh orang yang menyaksikan pecah. Namun, aku tidak---ah, aku masih diam membisu.


Gadis itu akhirnya membalikkan badan ke arah sini. Seketika terasa mata kami terkunci. Refleks, aku tersenyum lembut dan bertutur, "Permainan musik yang bagus."


Fate membalas senyum, sangat samar tetapi aku bisa melihatnya. "Terima kasih."


Lantas dia berdiri, lalu mengelus dan melihat sisi atas piano dalam tatapan teduh. "Setiap bermain piano, mengingatkanku akan ayah kandungku. Ia selalu memangkuku di pangkuannya setiap ia bermain piano ...."


"Begitu," gumamku, entah bisa Fate dengar atau tidak.


Terasa beberapa orang mulai kembali berbincang dan menjauhi tempatku berdiri. Namun, aku masih terpaku, atau lebih tepatnya tak mau bergerak. Tidak tahu kenapa ... tapi aku masih ingin di sini, ingin mengutarakan sesuatu tapi tak sanggup; tak mau. Sampai mungkin Fate merasa heran dan bertanya, "Ada apa?"


Aku justru menunduk dan menghela napas, lebih baik pergi---eh?


"Red, tadi kamu menangis?"


Mendadak jemari lentik itu menyentuh pipiku dan refleks aku menggenggam tangannya. Kami berdua pun tertegun---he? Apa yang aku lakukan?! Tuhan, Lucian sampai memandangku sinis! Red, segera buat alasan, apa pun, yang masuk akal! Ah, aku teringat sesuatu!


"A-aku ingin bertanya, kamu tidak keberatan?"


Gadis itu menggeleng dan buru-buru aku menarik tangannya, pergi menjauhi kerumunan menuju balkoni luar.


Tuhan, apa yang merasukiku barusan?


"Ada apa? Kamu terlihat tergesa-gesa."


"Karena ingin membahas ini, hanya berdua." Dan langkahku berhenti ketika udara dingin malam mulai menyapa.


Aku pun mendongak, membiarkan iris hitam menatap sang bulan yang mungkin tak bisa berkaca di mataku. "Karena ini ... berkaitan dengan keabadianku."