When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
Tempat Rahasia di Resort?



Aku menghela napas ketika Lux yang berjalan paling depan telah menghentikan langkah, karena sebelum ini tidak tahu ke mana si pemuda membawa kami. Sebab memasuki pintu rahasia pada dapur rumah resort yang aku sendiri tidak menyadari keberadaannya.


Dan entah bagaimana cara membukanya, Lux hanya berdiri depan tumpukan rak selama beberapa menit setelah mengucapkan ... semacam kata kunci? Lalu sela-sela dinding bergeser dan muncullah tangga menuju ke ruang bawah tanah. Seperti sekarang, kami berdiri depan pintu besi metalik nan kukuh yang sekali lagi, aku tidak tahu bagaimana cara membukanya.


Kini Fate dan Lux berdiri pada barisan paling depan dalam lorong nan sempit. Kemudian si pemuda mengeluarkan kartu identitas dan meletakkan pada kotak sensoris di samping pintu--mirip seperti milik perpustakaan. Akhirnya, pintu terbuka secara otomatis dan sungguh aku dibuat terkesima untuk ke sekian kali.


Tampak tempat yang kami masuki sekarang sangat modern dan luas meski hanya satu kotak ruang nan kosong, hampir mirip seperti ruang bawah tanah tempat rehabilitasiku, termasuk pintu besi raksasa menjulang entah berapa meter di depan sana.


Bahkan Cecil dan Daniel tampak dibuat terkesima; tak henti menoleh ke sana kemari, berbeda dari Fate menampilkan wajah datar yang biasa dan Crist ... seperti berpikir?


Namun, suatu panel perak berbentuk tabung kecil tepat di tengah ruang lebih menarik perhatianku. Apa lagi Lux berdiri lama di sana sembari menekan-nekan tombol holografi depan tabung tersebut.


Selang beberapa menit bagian atas tabung terbuka, lalu Lux mengeluarkan pin angka romawi IV---tunggu, sepertinya aku pernah lihat ... oh, itu persis yang dikenakan Head Master Lucian ketika perayaan ulang tahun Vaughan! Hanya saja, angka romawinya berbeda.


Sesungguhnya apa maksud dari angka-angka romawi yang terikat pada mereka?


"Sebenarnya cara bermain ini cukup mudah, seperti sparing biasa. Tapi karena senjatanya mengeluarkan cat jika bersentuhan, jadi orang yang badannya terkena cat keluar," ucap Lux santai sembari meletakkan pinnya pada atas tabung yang terbuka.


Dan seperti pemicu tersendiri, atas tabung langsung tertutup bak menelan pin tersebut. Tak lama kemudian dinding-dinding metalik tampak tergulung, pun muncul dua pintu seukuran kepala di kiri dan kanan ruang.


Mungkinkah pin romawi merupakan kunci rahasia?


"Gila, apa-apaan tempat ini, keren banget!" Dan ekspresi terkejut jelas terukir di wajah si pirang. "Macam kayak film aksi mata-mata!"


Sontak Crist tertawa. "Karena memang ruang ini termasuk rahasia tingkat atas. Suatu keberuntungan kita bisa berdiri di sini, aku tanpa terkecuali."


"Ha, memang kenapa? Jangan-jangan ini tuh ruang brankas rahasia!" ucap Cecil pada akhirnya setelah lama habis kata-kata atas mata neon merah muda tak henti mengedip.


"Bisa dibilang," jawab Fate saat kaki jenjangnya melangkah menuju pintu sebelah kanan, "karena di sini adalah penyimpanan prototipe Heart Core."


"Dan aku akan menyiapkannya untuk kalian," balas Lux yang berdiri pada pintu sebelah kiri---sebentar, kenapa Fate dan Lux berjalan berlainan seperti itu?


Terlihat mereka lagi-lagi melewati tahapan perizinan yang lain. Namun, sepertinya yang ini lebih ketat karena ada layar khusus di depan pintu dengan sosok EVE terpampang jelas.


Kemudian jemari dari masing-masing mereka tampak menari dengan cepat di atas tombol holografi sembari berbicara pada gadis transparan, hingga pintu seukuran kepala itu terbuka dan keluarlah beberapa bola kristal berwarna abu-abu di atas bantalan merah pada sisi Lux, sedangkan sisi Fate satu bola kristal berwarna loreng putih---he? Mungkinkah milik Fate lebih spesial lagi?


"Itu prototipe Heart Core-nya? Bentuknya sama saja kayak Heart Core biasa, buat apa pakai keamanan berlapis gini?" tanya Daniel yang sudah melipat dua tangan di belakang kepala.


"Karena siapa pun bisa menggunakannya, walau bukan pengguna dragonic," ukap Crist, "yah, jadi wajar saja."


"Itu kenapa tempat penyimpanannya juga bukan di akademi, demi alasan keamanan," sambung Lux kemudian, "ini merupakan model lama dan sudah dimodifikasi juga. Fungsinya terbatas daripada Heart Core biasa; hanya bisa menggunakan senjata sesuai kehendak. Ditambah, senjatanya tidak dapat melukai orang lain karena cuma mengeluarkan cat jika bersentuhan. Seperti yang kubilang tadi."


"Kami para Disiplinaria biasa berlatih di sini menggunakan senjata ini bersama Pak Gil. Dan ketika kugunakan, punyaku hancur akibat overheat karena terlalu sering berganti jenis senjata. Akhirnya Pak Gil meminta Departemen Gear untuk membuatkan prototipe tersendiri untukku," jawab Fate pada pertanyaan Cecil.


"Ooh, jadi nanti kita akan bermain kelompok dan menjatuhkan tim-tim yang lain? Yang terakhir berdiri tanpa kena cat, dia yang menang. Jadi kayak game battle royale nih!" Dan senyum kuda kembali terukir di wajah Daniel.


Sontak Lux menjentikkan jari. "Benar! Jadi ini akan melatih kemampuan menghindar kalian."


"Kenapa? Kan, tidak terluka?"


Setelah sekian lama, akhirnya aku bersuara tetapi pertanyaan itu membuat mereka menepuk keningnya masing-masing? Padahal menurutku akan sangat disayangkan jika tiba-tiba keluar dari permainan padahal hanya sedikit terkena cat, bahkan dalam pertarungan asli pun tidak semua serangan bersifat fatal.


Lantas aku beralih melihat Fate---Tuhan! Mata perak kebiruan mendelik tajam hingga terasa seakan menghunjam tepat ke dua netra merah, dan itu sukses membuatku beku di tempat.


"Red, cat itu kita anggap serangan."


Seketika suara desing bilah tajam menggelitik telinga dan secepat itu pula Fate telah muncul di belakangku, memberikan suatu aura mencekam tersendiri terlebih tangan kanan telah dia kunci di belakang punggung; memaksa untuk mendongak sebab pisau telah tertuju tepat ke leherku.


"Jika ini pertarungan asli dan aku musuhmu, kau sudah mati sekarang."


Sungguh, aku sangat terkejut dengan pergerakannya. Apa lagi sisi tajam--atau harusnya kubilang tumpul?--sudah berlumuran dengan cat berwarna merah yang hampir menetes pada kerah putihku; memberikan kesan horor tersendiri tetapi ... Fate sangat dekat! Bahkan terasa badannya menyentuh punggung---astaga! Kenapa justru berpikir yang tidak-tidak? Padahal sedang terkunci bukan?!


Akhirnya Fate melepasku dan langsung aku mengusap wajah secara perlahan, karena rasa panas merebak ke seluruh muka. Tuhan, ampunilah hamba nan hina ini karena membutuhkan kekuatan untuk hati yang malang supaya tidak pingsan di tempat. Sebab aku justru tergugup---ah, memang berbahaya kalau dekat-dekat dengan Fate meski si gadis tetap tenang seperti biasa atau bahkan menyerang semacam tadi, bisa-bisa aku menjadi sinting sungguhan!


Sepertinya gelagatku memancing ringisan tak suka dari Lux. "Kau mengerti tidak?"


"Tentu saja!"


Lantas Lux mendengkus dan melipat tangan depan dada bak menunjukkan sikap tak suka.


Berbeda dari Crist yang terkekeh kecil dan berkata, "Pertahanan tidak selalu soal seberapa kebal dan kuat tubuhmu terhadap serangan. Jadi kamu juga harus memperhatikan hal ini, Red. Dan apa kau ingat? Fate pernah berkata bukan, jika di tengah pertarungan asli, kalau kamu terluka kamu tidak hanya membahayakan dirimu sendiri, tapi teman setimmu juga. Karena tidak semuanya bisa dalam sekejap mengganti taktik begitu saja."


"Nah, dengerin Red. Jangan sembrono lagi!"


"Apa lagi kamu tuh dah enggak abadi!" ucap Cecil setelah Daniel bak saling bersahut-sahutan.


Ah, benar juga. Ternyata banyak sekali hal yang harus diperhatikan jika ingin bertarung sebagai tim, apa lagi dengan kondisi tubuh seperti ini. Selayaknya belajar semua dari nol.


Maka aku mengangguk sebagai respons pada mereka semua. "Aku akan lebih berhati-hati."