
Helikopter terbang rendah di jajaran pepohonan yang sedikit renggang, hingga pada akhirnya mendarat sempurna.
Kami turun satu persatu. Profesor Kaidan yang pertama, diusul oleh Daniel yang sedari tadi duduk dekat pintu.
Jarak perjalanan kami sangat jauh karena Feidelm merupakan hutan dan pegunungan, perbatasan wilayah Nezteria dan Centru.
Sebenarnya titik teleportasi daerah Feidelm sudah ada di dalam database EVE, tetapi Profesor Kaidan lebih memilih untuk melakukan perjalanan biasa daripada teleportasi.
Semakin jauh titik teleportasi maka efek perpindahan semakin kuat juga, terutama bagi orang yang alergi terhadap guncangan ruang sekala besar; kedipan lampu dan cahaya yang sangat cepat.
Aku sendiri merasa tak nyaman melakukan teleportasi dan lebih memilih berjalan biasa atau menaiki motor. Apa lagi jarak sejauh ini. Bisa saja membuat muntah, bahkan pingsan.
Profesor Kaidan tidak mau mengambil risiko tersebut terlebih untuk misi, harus dalam kondisi prima.
Sebenarnya tempat ini begitu asri. Pohon tumbuh rimbun; sungai dangkal mengalir tenang; bunga liar beraneka warna sebagai pemanis di antara hamparan hijau alam.
Tenang.
Bahkan sesekali kicauan burung terdengar mengingatkanku pada masa di mana aku dan ia tinggal bersama.
Aku menghirup napas dalam-dalam, mengobati rasa nostalgia yang mengetuk batin. Aroma embun di tiap helai dedaunan sungguh menyegarkan.
Tak lama berselang Profesor Kaidan memanggil kami untuk berkumpul di bawah naungan pohon yang besar. Barangkali ingin membahas rencana.
Kulihat Dominguez mulai meminum satu botol minuman energi---tunggu, sejak kapan dia menyimpan itu?
Dan sepertinya Neor memang mabuk perjalanan. Dia tak henti menutup mulut bahkan Fate turut membungkuk demi membantu mengelus punggungnya.
"Portal dimensi terdapat dalam gua di depan sana, jalan masuknya merupakan aliran sungai itu. Kita bagi dua tim, satu tim penyerangan dan satu tim informan. Masing-masing terdiri dari tiga orang. Tim penyerangan akan menunggu di luar sampai ada kode bahaya dari tim informan, karena kita tidak tahu apakah pemilik portalnya berada di luar atau di dalam. Jika ia di luar dan menyergap pintu masuk, maka orang yang ada dalam portal akan terjebak selamanya," tegas Profesor Kaidan yang kini ekspresinya tampak serius.
"Tugas tim informan tidak berat, cukup melihat dan mencari data di dalam portal. Jika aman, tim penyerangan bergegas mencari jejak si pemilik portal di luar. Yang pasti, Crist merupakan tim informan. Jika keadaan di dalam berbahaya, kamu bisa memberi sinyal dan datanya, sementara dua orang Departemen Eksekusi menahan sampai tim penyerangan datang."
Beliau mulai memegang dagu, seperti berpikir keras.
"Kita memerlukan orang cekatan untuk tim penyerangan karena telat sedikit bisa berakibat fatal."
"Pak, boleh minta satu Grade S menemaniku dalam tim informan?" tanya Crist.
"Oh, ya, tentu. Bapak akan menunggu di luar. Dominguez, Neor, Fate dalam tim penyerangan. Red, Crist, Daniel tim informan. Bagaimana?"
"Ya, itu sudah ba---"
"Hah! Apa-apaan itu? Anak baru itu masuk dalam tim penyerangan?!" seru Daniel kesal bagaikan kilat memotong rencana Profesor Kaidan dan Crist.
Jelas sekali dia marah. Daniel tampak menggertakkan gigi dengan dua alis hampir bertemu dan menuding tepat ke arah Fate.
Sedangkan Fate hanya menyilangkan kedua tangan di depan dada, melihat entah ke mana.
"Ada masalah?" ucap dingin Profesor Kaidan. Beliau seperti tak tahan melihat tingkah laki-laki pirang yang sewena-wena itu.
"Ya masalah dong! Harusnya aku!! Dia belum satu tahun, bukan Departemen Eksekusi, tapi tim penyerang---"
"Daniel!" gertak Profesor Kaidan yang sudah menyipitkan mata.
Jujur itu pertama kalinya aku mendengar beliau meninggikan suara, bahkan seluruh perhatian orang-orang lain sampai tertuju kepada Profesor Kaidan.
"Kalau kamu, bertarung dengan Fate dalam pertarungan hidup dan mati ... itu akan menjadi kematian instanmu!"
Daniel menatap tak percaya kepada sosok orang tua yang terkenal ramah dan tenang di depan.
Kemudian dia menatap garang; mengepal kedua tangan kuat-kuat di sisi tubuh; menumpu amarah di setiap buku jari.
Dalam kondisinya sekarang, Daniel tampak sadar tidak bisa berbuat apa-apa. Berakhir hanya berdecak.
Aku sedikit khawatir dan hendak mendekatinya. Namun, ketika menyadari kedatanganku, Daniel langsung menyentak langkah; berjalan mendekati gua yang tak jauh hingga menabrak pundak kananku.
Crist bergegas mengikuti Daniel sembari melepas kacamata, lalu meletakkannya di saku baju dan mengenakan walkie talkie telinga khas Departemen Konsultasi.
Aku memutuskan untuk mengikuti---
"Red"
"Maaf Bapak sudah menahan misimu. Sekarang tolong jangan lengah."
Aku menangguk pertanda mengerti dan segera menyusul tim informan.
Memasuki air sungai dangkal demi menyusuri gua, bisa kurasakan kakiku menjamah air, pelan-pelan naik batas terendamnya.
Berat jas jubah hitam sebab rembesan air tidak menghentikan langkahku.
Tinggi aliran sungai ini sekitar pahaku. Aku membayangkan jika Neor ikut dalam tim kami, pasti dia sudah terendam hingga seperut.
Semakin masuk ke dalam gua, pendar dari mentari makin menghilang.
Crist yang sedari tadi sibuk dengan layar holografi segera mengeluarkan Heart Core.
Terlihat dia membiarkan benda itu melayang di depan wajah. Kemudian bola kristal ungu tersebut berubah pendarnya menjadi biru. Vision milik Crist yang melingkupi hingga radius dua meter cukup membantu penglihatan kami.
Sedangkan aku mulai menyiapkan Floating Hourglass dan Daniel dengan Twin Gun. Seandainya menggunakan Vision, kami tidak dapat menyiapkan senjata seperti ini.
Heart Core hanya bisa melakukan satu tugas, entah menjadi kendaraan; Vision untuk menampakkan benda-benda tak kasat mata dan alat bantu lihat; senjata penghantar kekuatan dragonic penggunanya.
Mungkin itu kenapa Crist khusus menangani informasi dan pengumpulan data, sedangkan aku dan Daniel sebagai pengaman keadaan.
Sunyi pun mengisi, Daniel berjalan paling depan dan di sampingku Crist sibuk dengan skrin holografi yang semakin banyak layarnya. Tampak pula mulutnya seperti merapal sesuatu dengan mata tak henti menatap bar demi bar.
Ingin sekali rasanya memecah sepi untuk terbebas dari rasa canggung ini. Namun, suasana hati Daniel tampak masih tidak tenang sedangkan Crist sibuk dengan tugasnya.
Aku hanya menunduk, melihat riak air ketika kakiku memecah gelombang, membiarkan Floating Hourglass setia mengitariku.
"Sepertinya portal itu cukup dalam."
Aku langsung menoleh ke asal suara di mana Crist sudah kembali mengenakan kacamata, layar holografi kini tersisa dua di sisi kiri dan kanannya. Kalau tidak salah, dia rabun jauh.
"Iya, kita belum menemukan tanda apa-apa," balasku.
Akhirnya, aku mencoba mengajaknya berbicara. "Profesor Kaidan ... marah?"
"Ahahaha. Tidak, Red. Itu namanya tegas."
"Begitukah? Baru pertama saya melihat beliau berkata demikian."
"Hmm. Karena Pak Kaidan sangat baik kepadamu. Ahahaha, yah, ia menyukaimu."
Sontak aku menatapnya heran dan memiringkan kepala. "Kenapa?"
"Kamu sudah pernah bertanya kenapa?"
Langkahku tersentak hingga riak air sedikit memercik.
Memang aku sudah tanyakan, tetapi ... sayang kepadaku?
Akhirnya aku kembali mencepatkan langkah untuk menyusul Crist.
"Apa benar Profesor Kaidan ... menyukai saya?" tanyaku lagi, masih tak yakin atas perihal tersebut.
Tetapi Crist justru tersenyum tenang sembari melihatku. "Sudah terlihat jelas. Semua orang juga tahu."
"Tapi, kenapa?"
Crist memejamkan mata sembari memperbaiki posisi kacamata. "Menurutku kalian berdua memiliki tatapan yang sama. Mata itu ... mungkin, Profesor Kaidan mengalami hal yang sama sepertimu."
Aku masih menatap Crist tidak percaya, tetapi dia terus menampilkan senyuman, sampai mendadak wajahnya berubah gusar dan tak suka bersamaan. Langkahnya pun berhenti.
"Kita sampai," ucap Daniel.
Di saat itu juga aku melihat ke depan.
Ada portal besar, terlalu besar hingga memenuhi gua dan menutupi jalan. Lingkaran sihirnya berwarna pelangi dengan binar yang cukup aneh.
Mungkin itu kenapa mereka menempatkan misi ini sebagai SS karena belum pernah aku melihat portal sejenis selama tinggal di dunia ini.