When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Kenapa?



Tempat ini dilingkupi temaram sebab dalam naungan kanopi dahan juga lebat dedaunan. Saat diputuskan untuk memasok kebutuhan pernapasan, perlahan mulai mengalihkan atensi pada perawakan besar depan sana di mana musuh sparing yang lumayan berat berdiri gagah. Mata hijaunya menatap bengis ke arahku bak dendam lama terpendam teramat sangat.


Sepertinya Dominguez tidak akan main-main.


Aku mulai menyiapkan Heart Core, beriringan dengan pendar dan serpihan cahaya holografi merambat ke punggung, aku bersiap dalam kuda-kuda.


Perlahan, menarik sang pedang panjang nan ramping dan menyiapkannya dalam genggaman kuat. Kembali menghirup bau basah tumbuhan, tak kusangka mereka akan menyiapkan arena simulasi menjadi tempat yang sebegini tenteram sampai para kunang-kunang tiba pada eksistensi mereka; menyerukan pendar khas tanpa segan pembuat binar gemerlap.


Mungkin ... nanti, akan berakhir tak seindah ini.


Kristal berwarna ungu tua dalam genggamannya bersinar---oh! Dia tidak mengenakan Class Gunner tetapi Executioner! Aku sangat jarang melihat Dominguez menggunakannya. Namun, kabar yang aku dengar dia biasa menggunakan si bilah tajam jika misi besar yang berat dan dikirim sendirian; khusus untuk pembunuhan.


Sepertinya Dominguez lebih andal dalam Class Executioner namun ia sembunyikan, itu membuatku makin meruncingkan atensi. Aku masih ingat perkataan Fate: sedikit pun jangan memandang lemah pada musuh.


Kuda-kuda kian kusempurnakan dalam Sabel mengkilat menantang. Lawan tarungku juga mulai atas persiapannya. Kami pun mengangguk pada guru pengawas sparing.


Profesor Kaidan melihat ke arah Dominguez dan diriku berkali-kali. Tak lama beliau mengangkat tangan kanannya.


"Pertarungan babak dua, Cross Club Sparing. Red Sirius melawan Dominguez O'Quinn." Beliau menurunkan tangannya dengan cepat. "Dimulai!"


"Hei, Red." Mata sedikit berkedut ketika namaku dipanggil, bahkan netra hijau kepunyaannya kian menyipit.


Ia menyeringai keji tetapi kakiku semakin menjejak, mencoba tidak gegabah dan menerka gerak-gerik laki-laki di depan sampai Dominguez berlisan lantang, "Kau itu makhluk hina."


Eh?


Seketika dalam pandangan iris kelam, langkahnya terasa amat pelan. Derap sol terdengar bak ketukan pembawa peristirahatan jenjam meski berada atas dataran berumput. Aku merasakan suatu ancaman, terlebih ... apa maksud kata-katanya?


"Aku muak! Kau dekat dengan Kaidan; mengalahkan Lux, kau pikir kau superior?" Jeda sebentar, kini dirinya terlihat mengancam. "Sadar siapa kau dan di mana tempatmu."


Kata-kata itu---ah, seketika jantung berderu dengan mata kian tersibak. Kalimat yang malaikat katakan, di malam itu ... dia datang. Dalam seringainya, melihatku dan---ack! Napasku mulai tak teratur bak menghirup dalam kehampaan.


"Kau tahu kenapa Kaidan langsung menanganimu?" Bibir kukuhnya berlisan lantang dengan dua pisau digenggam erat.


"Kau tahu kenapa kau selalu di tempatkan dalam pasukan paling depan?" Langkahnya tak gentar bahkan beberapa serpihan bunga liar hancur dalam derap.


"Kau tahu kenapa kau sering dikirim dalam misi sendirian?" Ia kian mendekat hingga wajah serius nan mencekam terpampang jelas. Seperti malaikat penolongku atas seringainya.


"Itu karena kau berbahaya! Aku yakin jika aku membunuhmu sekarang, mereka akan senang ...."


Trang!


Refleks aku menghalau serangan dengan Sabel melintang di depan wajah. Aku berhasil menyelamatkan ceruk leher dari tebasan tanpa iba karena seketika Dominguez telah berada satu meter di hadapan, tetapi---


"Heh, ternyata benar. Psikologismu sangat lemat."


Tubuhku kian bergetar, tak tahu sampai kapan bisa menahan serangannya karena batin terasa merongrong dalam lara. Napasku menderu namun ia semakin mendekat dan sedikit mendorongku. Aku tidak tahu ia sekuat ini atau memang benar apa yang Dominguez ucapkan ... aku lemah.


Dalam wajah tak bersahabat, Dominguez berbisik, "Kudengar kau sering lepas kendali ketika dalam posisi terhimpit."


Suaranya makin memelan namun terdengar menusuk di telinga. "Bahkan Kaidan menyiapkan banyak obat penenang untukmu, bukankah itu bukti ... kau seorang monster?"


Tidak. Tidak. Tidak!


Akh, rasanya otak seperti dibakar! Bagai serpihan rusak, kepala kembali mengulang kejadian terdahulu ketika aku bersimpuh depan dia yang bermandikan darahnya sendiri karena aku---aku ... badanku mulai bergetar. Aku merasa cintanya yang mulia hanyalah sebuah kebohongan; semua hanya ilusi dalam kesedihan nan abu.


"Hah, menyedihkan. Ternyata begini dirimu yang asli."


Tatapan itu mengingatkan pada manusia yang bersikeras menghancurkanku sampai membekas dalam raga. Haruskah kembali menutup diri pada kesunyian dan menerima ini semua?


Seperti dulu.


Dulu ... aku yang tenggelam dalam kesedihan nan kelam sehingga tak ada hal-hal indah terasa.


Kenapa aku lupa? Benar, harus sadar siapa diriku dan di mana aku berdiri. Iblis sepertiku, memang tak pantas mendapatkan kebaikan ini; tidak pantas merasakan ini semua.


Seketika mataku mengelam. Mendengar itu semua bak mengukir sesuatu yang membuat denyut nyeri di balik tulang rusuk.


Menyakitkan.


"Memang kau rendahan, hanya orang dari club elite yang layak mengalahkanku."


Dalam kedipan mata laki-laki itu menghilang dari hadapan. Desir angin mengembus cepat di sekitar, ternyata Dominguez sudah berlari memutari diriku dalam kecepatan penuh. Apa yang akan dia lakukan? Berpikir, Red, berpikirlah!


Ah, fokusku justru semakin kabur.


Dominguez mulai menyentakkan kaki kiri demi kelokan akselerasi, seperti siap menerjangku. Lakukan sesuatu. Lakukan sesuatu! Bertahan. Bertahanlah! Tapi ... kenapa harus bertahan dan terus menjalani siksaan bernama kehidupan?


Itu karena, dia telah mengorbankan dirinya demi aku 'kan?


Kenapa harus ...? Aku tidak menginginkannya.


Sungguh neraka yang nyata.


Dua pisau telah teracung mantap dan di saat bersamaan aku mengubah haluan kuda-kuda bertahan menjadi siap menerkam---tunggu, apa yang aku lakukan? Postur ini sama persis seperti dulu ketika aku membunuh ... tidak! Kenapa tubuhku tak mau bergerak?!


"Selamat tinggal, monster."


Krang! Krang!


Seketika suara rantai menggema, ragaku langsung terlilit dan tertarik menjauh dari Dominguez yang juga dipaksa untuk mundur. Tiba-tiba sosok orang tua muncul dari balik temaram, berjalan lambat memasuki arena dan mendekati kami.


Kakek itu tak henti mengusap-usap jenggot dan berkata, "Haaa ... aahh. Anak muda, selalu terbawa emosi."


Ketua Departemen Disiplin kini hadir. Ia mulai melumpuhkan Dominguez tepat di leher.


Spontan aku mendongak lantaran gelombang penyesalan membasuh. Jika diingat kembali, untuk apa aku ada di sini?


Seketika pedang dalam genggaman lepas dari kuasa, aku sudah ... tak ada lagi kemauan untuk melangkah.


Mendadak pukulan di leher terasa dan saat itu juga dingin merambat tubuh bak setruman yang mengangkat kesadaran. Perlahan terasa tubuhku ambruk dengan mata tertutup paksa.


Ternyata, langit memang tak pernah sebiru ini.