When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Sergapan di Funfair III



Kami mulai mengendap-endap dalam kastil. Jujur ini sangat luas dan tak ada peta sama sekali. Jika Cecil tidak memandu kami, aku yakin akan tersasar. Terlebih ini sedikit sepi, mungkin rata-rata para Pawn dan Knight ada di luar sana, hanya ada beberapa hibrida---ah, mendadak Cecil menghentikan langkah, tangan kirinya melambai tinggi meminta kita untuk ikut berhenti. Dia sedikit membalikkan badan dan memberikan isyarat bahwa di depan ada musuh sedang mengintai.


"Postur tegap dan berbentuk setengah manusia, kemungkinan Pawn tingkat atas," bisik si gadis kecil, "dan mereka memenuhi lorong, tapi kita harus lewat sini."


Mata emas Lux menyipit, mungkin tahu lebih baik tidak membuat kegaduhan seperti menyerang secara brutal, terbukti dari gerak-gerik tangannya ke arah kami semua untuk tetap pada posisi. Ia mulai menyiapkan Heart Core dan menggenggam satu pistol---ah, mendadak Fate melangkah maju, membuat Lux mengurungkan niat. Bahkan suara desing terdengar ketika si gadis mengeluarkan pisau ganda pada dua tangan.


Langkahnya begitu pelan dalam ketuk tumit sedikit pun tak terdengar, bagai suatu langkah yang membawa pada pungkasan nyawa, hingga dengan cepat dia berbalik pada tembok bak bayangan.


Ini sedikit membawa kenangan buruk nan dingin dalam kepalaku. Meski samar, serpihan memori itu kembali. Suatu ingatan, ketika membunuh orang-orang dari balik bayangan. Pun mengingatkanku dengan kejadian jauh-jauh hari saat Fate berteriak ke arahku; menyadarkanku; berkata bahwa bukan hanya aku yang terlahir menjadi mesin pembunuh. Apa itu artinya kau juga, Fate?


Aku memejamkan mata; mencoba menekan perasaan yang mengikis dada, lantaran tak mau pikiran yang buncah mengganggu pergerakan.


Tak lama, bau anyir darah menyeruak pekat. Aku mulai berlari pada lorong tempat para Pawn berkumpul di mana Fate pergi tadi, begitu juga dengan yang lainnya. Terlihat sisa-sisa tubuh teronggok mengenaskan dan di tengahnya ... seorang gadis berdiri dengan memejamkan mata.


Para hibrida telah tumbang, semuanya, tanpa ada darah tersisa pada jaket lengan panjang milik Fate.


Cecil kembali dengan gelagat terkagum-kagumnya, berlari ke depan orang yang melakukan pekerjaan tersebut dengan baik dan meminta kami kembali pergi. Tak hanya si gadis kecil, Lux juga menepuk pundak Fate dengan senyuman terkesan. Fate membalas perlakuan mereka semua dengan mengangguk kecil atas wajah datarnya.


Kami kembali menyisir langkah mengikuti arahan Cecil. Tapi, mungkin hanya aku yang sadar ... pendar iris perak kebiruan Fate telah hilang---tidak, binar matanya telah menghilang sejak kejadian bianglala. Mungkin mereka semua melihat ini seperti perihal biasa, seorang Enforcer yang menjalankan tugas; bergerak seperti angin dalam sunyi; menembus musuh hingga tumbang.


Namun, aku---ah, Fate, sebenarnya apa yang terjadi padamu hari ini? Aku berakhir mengembuskan napas panjang.


Kami tiba pada jalan buntu---ralat, lebih tepatnya memang jauh di depan sana ada pintu besi yang begitu mencolok atas ukir naga panjang tanpa sayap dengan empat kaki. Namun, depan kami kosong. Tak ada ruang ataupun jalan, hanya jurang yang aku sendiri tidak tahu seberapa dalam dasarnya.


"Cil, benar ke sini jalannya?" tanya Daniel ragu-ragu.


Yang dituju mengangguk mantap. "Benar, aku tuh yakin di sana! Kekuatan naga yang besar terasa dari balik pintu."


Mereka semua tampak berpikir tetapi iris hitamku mencoba menyisir sekitar---ah, di sana! Meskipun jauh, ada kotakan batu melayang di atas. Mendadak mulai terbayang untuk melakukan sesuatu dan sepertinya akan memakan banyak tenaga ... tapi tetap aku lakukan. Kuarahkan tangan kiriku ke atas, membiarkan tali pegas tertancap dan berlabuh di salah satu kotakan batu. Aku pun menarik talinya kuat-kuat.


"Red, apa yang kau lakukan?" tanya Theo, tampak sadar dengan perbuatanku.


"Jalan," jawabku. Di saat bersamaan kotakan batu itu turun, berhenti dan melayang kukuh di depan kami bak jembatan.


"Ini, potongan jembatan! Jika kita bisa menurunkan semuanya, kita bisa lewat."


"Heh, apa aman?" Cecil mulai menatap ragu kepada Crist, dan dibalas dengan gelagat mengangkat kedua pundak dari si pemuda.


"Tak apa, aku akan mencoba melewatinya," tegas Lux.


Dan kami semua berakhir menurunkan potongan jalan yang mengapung, tetapi kenapa harus seperti ini? Maksudnya, membuat potongan jalan? Tunggu. Jika dipikir lagi, cara untuk ke arah tiruan Dream Land juga seperti ini; harus melewati entah potongan tanah atau jalan yang melayang.


Tapi ... kenapa?


Aku menoleh ke arah Fate dan bertanya, "Musuh ingin membuat kita kerepotan?"


Ia yang sedari tadi terus menyentuh dagu lantaran seperti orang berpikir, tetapi tidak untuk sekarang. Mungkin sudah menemukan jawaban dari dunia ilusi yang cukup aneh ini. Dengan nada yang datar Fate menjawab, "Lebih tepatnya ingin membuat kita lelah."


Seketika suara decit pintu besi yang terbuka terdengar ketika Lux mulai mendorong dua gerbang nan besar. Namun ketika masuk, lagi-lagi hanya gelap---ah! Mendadak cahaya putih menyorot sampai aku harus memalingkan wajah. Di waktu yang sama suara tepuk tangan terdengar, ada rentang waktu dari tiap ketuknya.


"Selamat. Selamat. Akhirnya badut kerajaan tiba untuk menghibur, hem?"


Refleks aku mengarahkan netra jelaga ke depan. Seorang pria berambut hitam sedang duduk angkuh atas singgasana perak besar nan megah. Dia menurunkan salah satu kaki dari atas paha dan lanjut berkata, "Berbanggalah kalian melihat penerus Yang Mulia Druk, sang penguasa petir."


Druk? Petir? Dari bagaimana dia menyebutnya, mungkin itu salah satu General tingkat atas. Pantas saja kekuatannya besar, merupakan sesosok penerus dan lagi, ada mahkota tergantung di salah satu tanduk bak rusanya. Ditambah aura kesombongan yang begitu kentara.


Pelan namun pasti, kami semua bersiap dalam kuda-kuda---ah, sepertinya musuh mengetahui pergerakan kami karena mulai menyeringai. Tapi aneh, dia tak turun dari singgasana, bahkan tombak emas masih dirangkul pada tangan kiri. Justru kembali bersandar dan menaikkan salah satu kaki ke atas paha.


Dengan menyandarkan pipi pada punggung tangan kanan, dia mencibir, "Hem, lelah, ya? Butuh istira---"


Krang! Krang!


Seketika suara rantai menggema, dalam waktu singkat senjata khas Class Executioner telah melilit ujung tombak sang hibrida. Dia tampak terkejut, sesaat, karena kembali menyeringai---


"Cepat lepas senjatmu!"


Cecil berteriak keras, begitu menusuk telinga hingga sang anggota Departemen Eksekusi yang melakukan serangan rantai tersebut spontan melepas senjata. Di saat yang sama kilatan petir menyambar dari rantai, membuat senjata tersebut kembali ke bentuk kristal ungu dan terjatuh ke atas lantai besi. Kalau Cecil tidak mengingatkan, anggota kami ini pasti hangus seketika.


Lantas suara tawa yang mengerikan menggema dalam ruang luas. Dengan menutup wajah menggunakan satu tangan, Elite tingkat atas itu jelas ... menghina kami.


"Kita tuh enggak bisa menyentuhnya, termasuk senjata kita atau senjata dia. Listrik---agh, enggak, petir tuh menyelimuti tubuhnya!" Refleks aku menoleh kebelakang dan melihat Cecil seperti berpikir keras sampai menggigit ibu jari.


Mata merah muda kembali mendelik ke depan. "Dan dia kayaknya enggak akan turun dari bangku itu, soalnya---"


Bam!


"Manusia, kenapa kalian diam?! Terpana melihatku? Hahahahaha!"


Seketika tombak-tombak semu menghunjam, kalau Theo tidak mengeluarkan Skill Aegis. Suara tumbukan antara tombak dan kubah pelindung terdengar beruntun dan perlahan, terlihat tubuh si pemuda menegang. "Ce-cepatlah! Tombak-tombak itu ikut membawa petir ketika menyerangku!"


"Harus ada seseorang ... orang memancingnya turun! Kalau begitu, kita bisa mulai menyerangnya dan aku harap, cukup waktu untuk membaca titik kelemahannya!" lanjut Cecil dengan tergesa-gesa.


Mereka semua mulai bertukar pandang. Sepertinya berpikir dan menimbang-nimbang siapa yang sanggup berhadapan langsung dengan sang hibrida, karena Theo saja mendapat serangan dari tombak-tombak semu dapat merasakan tegangan listrik; terus meringis menahan nyeri. Apa lagi berhadapan langsung? Berisiko tinggi.


Aku memejamkan mata sekali dan berkata, "Biar aku yang lakukan."


Rata-rata dari mereka menatap tak percaya padaku tetapi Crist mengangguk menyetujui. Aku ikut mengangguk, lalu mulai menyiapkan Sabel dan melangkah pelan ke luar kubah pelindung. Di kejauhan, sang hibrida kembali menyeringai, mata sepenuhnya putih membuatku cukup sulit membaca pergerakannya. Tetapi jika bukan aku yang maju, siapa lagi?


"Red, aku tahu kamu kuat dan enggak ada capek-capeknya, tapi tolong hati-hati! Dia ... dia---Red, tolong jangan mati!"


Aku mendengkus, terus melangkah dengan melintangkan pedang ramping ke depan wajah. Lebih baik Cecil menyimpan tenaga daripada berteriak begitu karena sampai kapan pun, aku tak akan mati.


Aku berpikir, ternyata memiliki tubuh kekal abadi seperti ini sungguh menguntungkan.