
Tiba-tiba gema bahana kembali memekakkan telinga, menyebabkan bumi bergetar dengan guntur di langit menghamburkan udara menuju ufuk dirgantara. Kekuatannya sangat kuat sehingga angin bertiup dan mendorong puing di sekitar seperti badai; membuatku kembali fokus dan menguatkan kubah pelindung.
Debu berputar-putar menyebarkan lapisan kebul bagi kami, terlebih kilat terus menyambar tanah di sekitar. Aku pun berteriak. Sangat kencang; semakin keras; sungguh menjadi, berharap suaraku dapat mereda rasa sakit yang menyiksa. Pedih; perih; mataku terpejam rapat atas tirta yang tak henti mengalir.
Apa aku ... bisa bertahan menahan serangan petir yang menyayat dan menahan pelindung ini tetap stabil? Karena, sang naga bahkan mulai menabrak-nabrakkan dirinya pada Aegis.
Listrik itu terasa mencabik ragaku secara perlahan.
Seluruh tubuhku menegang, mengejang singkat. Perlahan aku mulai ambruk meski dua tangan kaku mencengkeram sang pedang besar. Ha-ah, sulit bernapas. Mati-matian aku menahan kesadaran untuk terus mengeluarkan Aegis. Pandangan buyarku melihat ke depan pada naga perak yang mencebik.
Ah, dia mulai terbang tinggi. Apa ingin menyerang kami dengan amukan halilintar lagi? Kenapa semuanya ... diam?
"Red, apa kamu baik-baik saja?"
"Jangan terlalu memaksakan diri."
"Aku bisa menggantikan---"
"Heal!" teriakku.
Namun, kenapa semuanya tetap diam? Naga itu akan memberikan serangan lain, aku harus bisa menahannya! Lagi-lagi aku berdecak kesal dan menjerit meminta healing, bahkan mungkin terdengar seperti kesal tetapi aku butuh!
Seketika lingkaran sihir perak muncul tepat di bawahku, mengeluarkan bulir putih yang memulihkan tubuh---oh, ini milik Fate. "Kau masih bisa lanjut?"
"Masih!" tegasku.
Lekas aku berdiri dengan tangan tak lepas dari Zweihande---
Mendadak terasa kerah bajuku ditarik paksa---ah, Theo?
"Cukup! Sudah kukatakan, aku bisa menggantikanmu."
Kenapa? Aku masih bisa! Tidak sepertimu, tubuhku abadi! Tetapi dia terus melangkah maju, mulai mengeluarkan Zweihande miliknya yang menancap kukuh pada tanah dan menghasilkan kubah merah melindungi kita semua.
Aku hendak mengejar namun tubuh dirangkul kuat dari belakang---eh, Crist? Dia menahanku dan meminta Cecil untuk melakukan Recall Illumination.
Mendadak sebuah cahaya membutakan berkedip disusul suara nan keras. Bunyi hantaman bebatuan yang saling bertumbukan mencumbu tanah terdengar nyaring dalam cambukan kilat menyayat bumi. Tepat waktu, serangan tadi sempat tertahan oleh Theo yang sudah berteriak. Meski tak sekencang diriku tapi suaranya berbaur dengan guntur langit menyambar-nyambar udara terdengar mengerikan, bahkan sampai dia sedikit membungkuk.
Seharusnya Aegis tidak sampai membuat penggunanya ikut merasakan sakit, tetapi serangan petirnya luar biasa; sungguh menganiaya, bahkan melihat Theo membuatku merasa tercekat. Tuhan, apa ini juga yang mereka rasakan ketika menyaksikanku terus berusaha keras untuk melindungi?
Seketika Theo ambruk dan gesit Rose menghampiri si pemuda, kini Swordmaster dari Departemen Eksekusi yang berganti mengeluarkan Skill Aegis.
"Cecil, pikirkan sesuatu! Tiga Swordmaster kita tidak bisa terus-terusan menahan serangannya!"
Gadis kecil tampaknya buncah mendengar ucapan Crist.
"Matanya!" Cecil pun berteriak hingga seluruh atensi tertuju padanya. "Incar matanya, nanti dia akan berhenti menyerang ke arah sini! Tapi dia malah akan semakin menyerang tanpa arah ...."
Gadis kecil mulai menggigit ibu jari sendiri dengan iris merah muda tak henti menyisir tubuh sang naga, bahkan lensa fokus holografi turut hadir di depan kedua matanya. "Kulitnya! Dia terlindungi karena sisik yang tebal. Harus ada yang menguliti ...."
Seketika suara Cecil lemah pada akhir kalimat, sepertinya dia juga ragu akan hal tersebut karena siapa yang bisa mendekat ketika aliran listrik tinggi menyelimuti si naga?
Aku membuka mulut, hendak menjawab perkataan sang ketua tetapi hanya nada parau terdengar mengerikan, berakhir membuatku bungkam dan mengangguk sebagai jawaban. Lux mendengkus dan memejamkan mata emasnya sekali, dengan merentangkan tangan kiri tinggi-tinggi dia berseru, "Kalian! Jangan berhenti memberikan healing!"
Kemudian dia menjentikkan jemari kiri dan pada saat yang sama banyak pecahan cermin muncul mengelilingi si naga yang tak henti menggeliat di atas langit, berpadu dengan halilintar menjilat setiap gumpalan awan kelabu. Lux mulai merentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi atas dua selongsong pistol terancung mantap.
Kemudian satu tembakan mendarat pada salah satu cermin, terhisap dan memantul cepat antara satu cermin dengan cermin yang lain---ah, Mirage Mirror! Dan seketika kedua mata putih si naga hancur.
Auman nyaring pun terdengar menggelegar tetapi Lux terus menembakkan pistol secara intens ke arah potongan cermin, bahkan sampai menyipitkan mata. Kalkulasi dan berpikir cepat; memperhatikan posisi, arah, dan kekuatan tembakan; dia tak henti mengeluarkan Ultimate Skill Gunner yang perlu perhitungan terhadap itu semua. Ternyata, kemampuannya memang luar biasa.
Spontan aku meraih pedang besar yang masih menancap di atas tanah. Perisai sang anggota Departemen Eksekusi seketika pecah ketika petir kembali menggila hingga merambat dan menyambar setiap tanah, tetapi kini aku sudah kembali menahannya dengan Aegis.
Aku mengeratkan gigi demi meredam rasa sakit yang lagi-lagi hadir. Dalam kedipan mata, seluruh sisik naga perak rontok---tunggu, apa yang terjadi? Dan kekuatan healing ini bukan milik Fate ataupun Cecil. Aku sedikit melirik ke belakang ... eh, Rose?
Di mana Fate, apa ... itu?
"Semuanya, serang!" seru Lux. Seperti aba-aba tersendiri, seluruh anggota yang ada kembali menyiapkan senjata; tak henti memberikan serangan pada naga di atas.
Sontak pilar-pilar cahaya muncul hingga menahan tubuh mistis naga di angkasa, menusuk dari depan belakang; kiri kanan; atas bawah; melintang, berasal dari cermin hasil kemampuan akhir Ultimate Skill Mirage Mirror milik Lux.
Longlongan buas pun menusuk telinga. Makhluk itu makin gila setelah menerima banyak serbuan, terlebih kedua matanya hancur seiring badan yang rusak.
Sejenak, aku melihat tubuh yang terpental tak jauh dari sisi naga perak ... Fate? Kedua kelopak mataku seketika melebar, gadis itu---ah, dia mengorbankan diri untuk menguliti musuh?
Seper sekian detik cahaya yang menyilaukan hadir memaksaku berkedip, lalu bunyi barang berat jatuh ke tanah terdengar. Kami pun kembali pada dunia nyata dan sosok naga yang besar itu ambruk tepat di atas istana boneka. Ini terjadi dengan sangat cepat, sampai aku sendiri tak percaya dengan apa yang kulihat.
Semua selamat ... berkat kubah milikku, kecuali Fate yang mengorbankan dirinya.
Kini pedangku telah kembali membentuk bola kristal hitam melayang di sisi. Jauh di depan sana, tampak Fate berusaha untuk bangkit tetapi kembali jatuh dengan bersimpuh.
Aku tahu dia cepat, tapi tadi sungguh nekat. Kenapa dia---ah, bukankah itu terlalu gegabah? Memanjat langsung ke badan naga menggunakan tali pegas? Sungguh tidak biasa melihatnya bertindak tak rapi seperti ini. Apa yang dia pikirkan? Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Fate? Semenjak dalam bianglala ... karena ucapanku?
Sekarang, badanku mulai lemas; tubuh roboh dengan terduduk. Lux berlari tepat dari sisiku, lalu mengangkat Fate--menggendongnya di depan--dan membawa pergi si gadis. Namun, seluruh sekitar berjalan lambat. Mulai banyak orang mengerumuni di sekitar mereka, terlihat ramai tapi semua vokal mendam dalam telinga.
Ada apa ini? Aku tak mengerti. Pandanganku kembali dipenuhi kabut kelabu yang begitu mengusik. Sesuatu bergolak dalam batin. Ha-ah, telingaku---ah, sakit, sakit. Apa yang terjadi? Tapi dalam dada ada yang lebih pedih dan kurasakan bibirku mulai bergetar.
"Red, kamu baik-baik saja?"
Seketika aku kembali sadar---astaga, fokusku mendadak buyar tadi. Kulihat Crist menatap nanar seraya berlutut di depan dan mengelus pelan pundakku.
"Hah, bodoh kau kacamata! Red, bangun!" Tak lama Daniel ikut hadir di depanku, membungkuk dengan menyodorkan tangan kanannya. Namun, aku hanya menatap dengan ekspresi bingung.
Ah, dia mengembuskan napas panjang. Kemudian menggaruk rambut pirangnya frustrasi dan memaksaku untuk bangun dengan merangkul kuat-kuat. "Heh, ceweknya baru direbut depan mata, mana ada dia baik-baik saja, pakai tanya segala!"
Crist mencibir, "Masalah perempuan, kamu cekatan."
Begitukah? Ah, rasanya sudah tak bisa bernapas. Kepalaku kosong, bahkan sudah tidak terasa detak jantungku lagi. Semua rasa sakit itu mulai merambat ke seluruh tubuh yang perlahan beku. Pandangan mengabut dan kesadaran ... aku---
"Heh, kau puji aku apa menghina?! Dasar kacama---eh, eh, Red, ka-kau berat! Hah, Red!"
Bruk!