When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Pertemuan ke Dua



Aku menyandarkan siku pada meja sebagai tumpuan badan pun menutup mulut menggunakan tangan kanan, atas mata jelaga tak luput memperhatikan para gadis di depan sana.


Meskipun mereka--Fate dan Cecil--terlihat seperti anak kecil yang sibuk bermain, perkembangan Fate menunjukkan peningkatan sebab teknik penyerangan; kecepatan; refleks, terbilang baik dalam masa-masa rehabilitasi ... jika tidak dihitung seberapa banyak dia mendapat gangguan bisikan.


Padahal sudah satu minggu berlalu, masih belum mendapatkan kabar terbaru mengenai perkembangan laporanku pada Head Master Lucian. Lebih-lebih aku berpikir, sparing ini bukan pilihan yang bagus meskipun ringan karena sebatas melatih motorik dasar. Sebenarnya ruang latihan juga mendukung; sangat luas dan memiliki bangku tunggu di bagian belakang, walau tak mempunyai proyektor simulasi.


Tetap saja, belum membuka pintu kelegaan dalam dada. Tidak seperti Daniel berdiri di dekat sana lantaran bersorak semangat; Crist menempati bangku yang melingkari meja bundar dan dibuat sibuk oleh laptopnya, atensiku tak bisa lepas dari para gadis.


Kenapa juga firasat dalam hati begitu mendidih bak merasakan suatu bahaya nan dekat? Apa pun itu, aku tak mau ambil pusing karena sekarang ... wajah Fate menunjukkan keceriaan, selaras dengan Cecil dan Daniel.


Aku pun mengembuskan napas panjang.


"Memikirkan sesuatu?"


Spontan aku menoleh ke asal suara. Di sana Crist menautkan kedua tangan di atas kepala pun mendengkus singkat, mungkin ... mulai penat dengan pekerjaan?


"Hmm, bisa dibilang? Ah, tapi tenang saja, aku tidak memaksakan diri dan sudah merundingkan permasalahan ini dengan Head Master Lucian." Aku mulai bersandar pada bangku. "Hanya saja kasus satu ini lumayan genting karena berkaitan dengan dua jiwa manusia, jadi aku berusaha berpikir jalan keluar tercepat tetapi tetap saja ... buntu."


"Sepertinya memang lumayan genting. Ada hubungannya dengan Fate? Matamu serius melihatnya."


Eh, sejelas itukah?! Sontak susah payah aku meneguk ludah bak berusaha mati-matian menenangkan diri sendiri. "A-aah, ya ...."


Aku pun memalingkan wajah dan kembali melihat ke depan. "Kau tahu Crist, dari dulu aku selalu menyalahkan diri sendiri ketika kehilangan Aion. Sekarang rasanya akan mengulangi hal yang sama pada Fate. Jadi, setidaknya aku ingin bertindak sesuatu untuk masalah kita. Aku tidak mau lagi berakhir tak berdaya dan melihatnya hilang begitu saja, maka dari itu ... aku berusaha meskipun tidak seberapa."


"Hilang? Dua jiwa? Red, jangan bilang kamu dan Fate---"


"Aaa, Fate kenapa?! Aduh, kalian cepat ke sini!!" Mendadak teriakan Cecil melengking panjang membuatku spontan menoleh padanya.


Tuhan, Fate kembali diam dan tampak kaku! Bisikan lagikah? Lekas kami semua berlari menghampiri---


"Kamu masih hidup." Derap langkah seketika tersentak saat mata si gadis melirik padaku. "Ternyata kekuatan anak ini memang sesuatu."


Vokal bagai dua orang berbicara menggema dalam aksen bak wanita dewasa. Binar mata merah darah nan tajam melebihi Head Master Lucian sungguh menghunjam di balik wajah tertutup temaram, terkesan datar juga dingin. Aura ini ... sosok yang aku temui ketika ulang tahun Vaughan! Ternyata benar, saat itu memang bukan Fate!


Kemudian sosok tersebut menyilangkan tangan di depan dada dengan satu tangan beristirahat di dagu, gaya Fate saat berpikir. Namun, aku tidak suka jika sosok ini menggunakan ciri khas Fate begitu saja.


"Sungguh, harusnya kamu mati ketika memilih keabadian. Tapi di sini kamu sekarang, menjadi makhluk tak dikenal. Abadi, tapi pada saat bersamaan tidak. Hmm, mungkin panggilan halfing yang digunakan malaikat itu memang cocok untukmu."


Malaikat? Tunggu, maksudnya Lord Metatron? Tetapi beliau telah hilang---   


Seketika mata merah tersebut kembali melihat ke arahku, tatapan yang dipancarkan masih terasa dingin seakan tidak memedulikan apa pun. "... Kau adalah musuh dunia. Mengherankan kenapa dia membiarkanmu tetap hidup."


Lantas lengan kanan terangkat atas mata mendelik lurus seolah-olah menerawang sesuatu pada tangan Fate. "Hoo, menarik. Melihat anak ini adalah wadah dari kebaikan, salah satu kebajikan dari dunianya. Tidak heran kalau dia melindungimu walaupun itu pilihan yang bodoh.


Sontak genggaman tangan kueratkan dan memberanikan diri untuk berteriak, "Siapa kau?!"


Mendadak tawa keras nan khas keluar dari mulutnya. "Sungguh bodoh kalian semua. Tidak mengetahui apa-apa tentang dunia ini." Perlahan dia memiringkan kepala seakan memikirkan---ah tidak, seakan mencoba merasakan sesuatu. 


"Hmm, jadi begitu. Jadi ini alasan gangguan yang aku rasakan. Aku penasaran ...." Senyuman tipis pun menghiasi wajahnya. "Apa anak ini akan selamat melewatinya atau tidak."


Seketika hawa dingin dilibas angin tanpa ampun pun direngkuh kelewat beku berasal dari tekanan auranya, membuat yang lain mematung dalam wajah tak percaya. Berbeda denganku, semakin menyipitkan mata lantaran intens menatap entah siapa yang lagi-lagi masuk ke tubuh Fate.


"Apa maksudmu barusan?! Selamat? Apa yang terjadi pada Fate?! Apa yang ... apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya?!"


Mendadak tekanan itu hilang begitu saja dan raga Fate roboh, lekas dengan sigap aku meraih tubuhnya dalam dekapan.


Benar-benar ... kenapa banyak sosok yang suka merasuki tubuhnya? Mungkin karena kloning sehingga ada ruang kosong dalam jiwa, atau karena kekuatan sihir yang besar? Aaah, ada yang lebih penting! Aku langsung membopong Fate dengan benar.


"Ah, gila! Apaan tadi?! Ngeri! Eh, Cil, kamu enggak apa?"


"Aku benci mengatakannya, tapi aura yang dirasa lebih seram dari Red waktu dulu. Cecil berdiri paling dekat dengan Fate, wajar kalau tidak kuat---"


"Enggak! A-aku enggak apa, harusnya yang kalian tanya tuh Red itu sendiri!"


Lantas tatapan dari mata-mata mereka tertuju padaku, memaksa wajahku yang sendu melukiskan sebuah senyuman ... yang dipaksa. "Aku tak ap---"


"Red, kamu bercanda?!" teriak Cecil membuatku terkejut, "ia bilang kamu harusnya mati! Terus apa yang berhubungan sama Fate---hah, enggak mengertilah tadi tuh apa ...."


"Cil, tenang! Red bukannya immortal?"


"Ia juga bilang gitu, Daniel! Yang jelas itu tadi bukan Fate, Fate kerasukan apa a-aku enggak tahu tapi yakin itu tuh kuat banget dan bukan naga." Terlihat jelas tubuh Cecil bergetar heboh. "Se-sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?!"


"Dah dibilang, tenang dulu." Akhirnya Daniel memeluk Cecil dengan erat, seakan berusaha menguatkan dan terlihat pula si gadis kecil menahan emosi yang berkecamuk karena tubuh tak henti bergetar.


Mungkin melihat hal-hal seperti tadi terlalu berlebihan untuk mereka apa lagi Fate dalam kondisi tak baik, sehingga lumayan mengerikan ... aku bisa memaklumi, berakhir memberikan tatapan lemah.


"Aku ada di sini; di depan kalian, karena kekuatanku yang bisa mengabulkan permohonan Aion gunakan, yaitu berharap agar aku bisa hidup dengan normal. Tapi tidak tahu kenapa harus di dunia ini bersama Fate yang juga dari dunia lain. Dan seperti yang kalian dengar tadi ... ia mempermasalahkan keabadiaku."


Mengenai ucapannya, apa aku mengulur banyak waktu? Tapi harus berbuat apa ....


"Red, kamu baik-baik saja?" Spontan aku menoleh pada orang yang menyentuh pundak, yaitu Crist yang mengukir ekspresi khawatir.


"Iya, tak apa. Bisa kita baringkan Fate? Mungkin kita bawa kembali untuk diperiksa? Aku tidak bisa menggendongnya seperti ini terus."


"O-oh, ya, bawa balik ke Rumah Sakit mumpung Gedung Pusat Pelatihan sebelahan." Pelan-pelan Daniel melepas dekapannya pada Cecil, bergegas melangkah lebih dulu dan aku ikuti.


Hal tersebut tampaknya menyadarkan si gadis kecil dan dia berkata, "Ma-maaf Red. Tadi aku benar-benar kaget, terus kamu tenang gitu jadi agak aneh, dan lagi Fate kayak gitu ... aku takut ... makannya aku---eem, jangan dimasukin ke hati ya?"


"Aku akan menghubungi Miss Caterine untuk masalah tadi. Hal seperti ini lumayan berbahaya apa lagi kita tidak tahu siapa yang merasuki tubuh Fate. Dan ucapannya mengancam," tambah Crist kemudian.


Lantas kubalas mereka dengan tersenyum. "Iya. Terima kasih banyak, kalian semua."


Ah, sekarang nyeri kembali menyerang kepala sebab suatu gejolak tak biasa memenuhi relung dada, membuat hati merasa tidak nyaman. Pula dirasa perut mulai mual sebab tak bisa dimungkiri, aku mengkhawatirkan Fate. Aku tidak tahan melihatnya dalam kondisi seperti ini.


Apa lagi harus kehilangan ... untuk selamanya.


Bohong kalau aku tidak terkejut dengan kejadian barusan. Kekuatan dan aura tersebut tak biasa; belum pernah dirasakan sebelumnya, membuatku cemas hingga jantung ribut di balik serangka tulang rusuk. Hanya saja tidak ingin menunjukkannya di depan mereka yang lebih tertekan.


Apa lagi berani muncul padahal aku sedang bersama manusia biasa di luar permasalahanku, tidak seperti Lord Metatron dan Arthur yang menjaga kerahasiaan.


Sosok satu ini jelas tidak main-main.


Rasanya aku tak diberikan waktu untuk tenang---ah, apa mungkin kehadiranku tidak diterima di sini? Tapi kenapa menyeret Fate ikut masuk dalam masalahku?


Sesungguhnya apa yang gadis ini lakukan?