When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
Kejutan di Balik Kejutan



Letih belum terobati tetapi keheningan terusik karena suara berat nan samar terus memanggil namaku, memaksa tatapan kabur melihat ke sumber suara.


Pagi ini cahaya begitu menyilaukan lantaran jendela terbuka hingga silir angin menusuk raga, membuatku sulit menangkap sosoknya---tunggu, atau ini sudah siang? Ah, entahlah ... masing mengantuk. Aku kembali memejamkan mata---


"Bangun, Red!!"


"Hah!"


Aku terkejut hingga melonjak---aahhh, sampai membentur tembok! Dengan meringis kecil aku mengusap belakang kepala dan menatap orang yang tadi berteriak tak ampun seraya menepuk badanku kuat-kuat ... Profesor Kaidan.


Lagi-lagi beliau menghela napas dan memijit keningnya sampai wajah mengernyit. "Kamu susah dibangunkan!"


Eh? Ini benar sudah siangkah? Dan aku tidur pada kamar di gedung Departemen Eksekusi. Atas rasa pusing yang masih mencengkeram aku menelaah sekitar---benar, bahkan jam di dinding menunjukkan pukul ... sebelas?!


Tapi aku tidak ada misi 'kan? Atau ada ... oh, penyelidikan di Kota Nifle! Akh, waktu itu langsung saja berlari tanpa memberitahukan apa pun. Terlebih meminta data murid hingga Heart Core dinonaktifkan oleh EVE sampai sekarang. Mungkin itu yang membuat beliau tak henti menampilkan wajah garang? 


Aku pun menyengir memohon ampun. "Bapak, maaf waktu misi ak---"


"Cepat makan lalu melapor pada Lucian!" Dan beliau menyilangkan tangan di dada dengan dua alis hampir menyatu. "Bapak tidak akan memaafkanmu sebelum Lucian. Benar-benar, kamu membuat banyak masalah! Bapak beri kamu waktu tiga puluh menit untuk bersiap-siap, Bapak akan tunggu di sini."


Haaa, sepertinya beliau sungguh marah besar padaku! Spontan aku berdiri dan berjalan cepat meski terhuyung-huyung---akh, Tuhan! Kenapa sempat-sempatnya menabrak pintu?! Astaga, pasti karena penglihatan masih kabur! Apa lagi bangun tidur langsung memaksakan diri untuk berdiri.


Refleks aku kembali meringis dan tak henti mengusap-usap kening. Meski suara kekehan yang kecil terdengar samar di belakang, tetap aku tidak berani melihat ke arah Profesor Kaidan.


Bergegas aku menuruni tangga menuju lantai dasar untuk melangkah ke dapur. Namun, seketika dalam kepala terbesit mengenai Fate ... aku mulai mendengkus. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa mendapat tidur yang cukup? Setelah terakhir kami bertemu apa ia langsung makan?


Tunggu ... kenapa aku justru memikirkannya! Heh, aku harus menyelamatkan diri dari kondisi sekarang sebelum itu semua!


Mungkin, memang gadis tersebut merupakan sebaik-baiknya hal yang kini kumiliki dan aku bersumpah akan merengkuh perempuan terkasihku dengan cinta dan kasih sayang. Sebab ia adalah segala-galanya; penguasa seluruh isi hati.


Tapi yang terjadi setelahnya kontras dengan pikiranku.


Setelah menyelesaikan segala urusan, lantas kembali ke kamar dan kulihat guru waliku masih di sana. Kemudian langsung pergi tanpa memberkata apa-apa selain meminta untuk mengikutinya.


Profesor Kaidan terus berjalan lugas sampai derapnya memenuhi lorong; kukuh; sigap, dan aku dipaksa untuk mengikuti langkah beliau dengan terburu-buru. Bahkan beberapa orang sampai melihat kami dengan ekspresi tak percaya semenjak keluar dari gedung Departemen Eksekusi, hingga sekarang berjalan menuju kantor Head Master Lucian karena wajah beliau sungguh tak kompromi.


Merespons aku pun tidak.


Hal ini membuatku berpikir apakah akan sungguh-sungguh dideportasi lebih dari kejadian mengacau ketika uji coba Class Goliath? Terlebih melihat betapa marahnya guru waliku ....


Namun, apa pun itu aku sudah siap mengambil konsekuensi lantaran sudah berkata demikian pada EVE. Aku mengerti apa yang diperbuat itu salah tetapi tak bisa tinggal diam membiarkan Fate begitu saja. Sebab aku juga tahu, ia berakhir seperti kejadian kemarin karenaku.


Lantas aku menarik dan mengembuskan napas dalam-dalam ketika berdiri tepat di depan dua daun pintu kayu nan besar. Kami berjalan masuk setelah Profesor Kaidan bukakan pintu---


"He? Fate?!" Spontan aku menunjuk ke arah meja bundar di sisi, tempat Fate duduk dengan anggun dan santainya. Sayang, dia masih tak peduli dan terus menyeduh teh.


Tunggu-tunggu, kenapa dia ada di sini? Di kantor Head Master Lucian? Ketika aku mendapat panggilan?! Jangan bilang ini membahas masalah aku yang melamarnya, mengenai ... apa itu, berbicara pada calon mertua? Benar? Akh, mana kutahu! Belum pernah seumur hidup memahami dengan jelas hal seperti pernikahan! Ah, habis sudah---sebentar, ini mencelikkan benak.


Apa inisial R. dalam nama panjang Fate yang sekarang adalah Rectorem? Dia pernah secara spontan menyebut Lucian dengan panggilan ayah ketika kami latihan bersama 'kan? Berarti Fate sudah sepenuhnya menjadi bagian keluarga ... aku mulai mengarahkan netra merah pada orang tua yang duduk tegap pada satu-satunya meja hitam metalik di belakang ruang.


Tapi ditatap lurus bak menghunjam tepat ke mata seperti itu, entah mengapa membuat tengkukku dingin dengan bulu kuduk yang berdiri. Apa lagi ekspresi beliau terlalu serius, sampai menautkan dua tangan di depan wajah; membuat mulutnya sulit dibaca.


Selang beberapa detik beliau pun berkata, "Red Sirius, kau tahu pelanggaran yang kau perbuat?"


Dan aku langsung berdiri tegap seraya menyilangkan tangan di belakang punggung. "Saya tahu dan siap menerima konsekuensinya."


"Lari dari misi lalu meminta informasi posisi ... data adalah hal penting untuk organisasi kami." Kemudian beliau bersandar dan bertopang dagu atas siku menyandar di pegangan tangan kursi.


"Pertama, kau membuat hasil penyelidikan tehambat karena kau pemegang data yang cukup penting dalam kasus Tiamat, kau bertugas menjelaskan dan menuntun informasi yang ada. Dan kau lari dari tanggung jawab. Kau juga meminta data pribadi seseorang yang hanya orang berjabatan tertentu berhak memintanya, sedangkan kau ... hanya seorang murid."


Terlihat mata merah darah beliau membidik pada beberapa tempat, seperti melakukan pengamatan padaku. Lucian pun mendengkus dan lanjut berkata, "Dari semua masalah yang kau perbuat, memang pencabutan Grade S dan pengasingan cocok untukmu, serta denda terhadap Heart Core. Jika kau diasingkan, bagaimana tanggung jawabmu sebagai pria yang sudah seenaknya melamar anakku? Kau mau tinggalkan begitu saja?"


Perlahan ... kelopak mataku terbuka lebar. Aku sudah berniat untuk serius dengan Fate tapi aku tinggal---hah! Refleks aku memegang kepala dengan kedua tangan. Astaga, demi Tuhan yang Maha membulak-balikkan hati, benar juga! Heee, berarti benar Fate sudah resmi menjadi anak beliau? Dan aku harus meninggalkannya, begitu saja?! Lalu bagaimana---ah, terlebih pengasingan itu seperti penjara yang memaksa kita melakukan misi berat dan mematikan bukan?!


Langsung aku mengacak-acak rambut dan sedikit membungkuk, tak lama karena langsung menyembur, "Mohon maaf, tapi apa bisa meminta keringanan?"


"I-itu karena tidak terpikirkan sampai situ dan mengkhawatirkan---"


"Nah, kau ucapkan sendiri. Kau tidak memikirkan masalah tentang putriku yang paling berharga, jadi mana tanggung jawabmu sebagai pria? Dengan tidak memikirkan masalahnya sama sekali?"


"Bukan! Anda salah paham!" Sontak aku membungkam mulut dengan kedua tangan. Heh, Red, jangan terbawa perasaan! Lancang sekali berteriak depan sang nomor satu di Vaughan!


Bergegas aku kembali berkata meskipun sedikit bergetar karena panik, "I-itu karena ... aku---"


Dan suaraku tertahan di tenggorokan karena rasa menjerat yang luar biasa tiba-tiba melilit perut, napas turut menjadi berat pun aku berakhir mencengkeram dada sekuat tenaga.


Malam itu perasaan buruk menyerang ibarat menyatakan akan kehilangan Fate jika tidak segera menemuinya, berakhir langsung pergi dari misi. Andai aku kembali ke akademi lalu dia tak ada karena mengerjakan tugas, bagaimana? Terlebih Disiplinaria sangat sibuk setelah kejadian Tiamat 'kan?


Aku berakhir bertindak spontan lantaran harus berbuat apa lagi? Namun, jika melakukan hal tersebut agar tidak kehilangan Fate dan sebagai ganti aku harus meninggalkannya, maka untuk apa berbuat itu semua? Tidak paham lagi, harus apa ... aku pun memejamkan mata erat-erat dan menunduk.


Namun, mendadak terasa telapak tangan yang besar menepuk kepalaku. Meski hanya satu kali, itu sukses memancingku untuk menoleh. Maka mata yang berkaca-kaca pun melihat---eh? Profesor Kaidan tertawa? Walau ... jelas sekali sangat ditahan agar tidak berakhir terbahak-bahak.


Spontan atensi terarah pada Fate yang masih duduk di kursi, dan dia---he? Kenapa memalingkan wajah dariku? Apa dia juga tertawa? Sebab pundaknya tak henti bergetar seiringan lengan kiri naik menutup mulut.


Lalu tangan Profesor Kaidan yang masih betah di kepala, mulai mengusap-usap rambut merahku. "Red, Lucian hanya bercanda."


HA?! Kacaulah ekspresi bingungku saat ini, membuat yang lain akhirnya menyembur tawa ... termasuk sang Head Master itu sendiri.


"Kakak, benar-benar ... kau pintar sekali berakting."


"Kamu sendiri menikmatinya."


"Bagaimana tidak, dia lugu sekali." Langsung Profesor Kaidan tertawa lepas dan merangkulku habis-habisan---eh, tunggu dulu!


"Jadi aku tidak dideportasi?" tanyaku seraya menunjuk diri sendiri dan berusaha bebas dari dekapan Profesor Kaidan menggunakan tangan yang lain.


Lucian yang telah reda dari gelaknya, menaikkan sebelah alis atas mata berkilat seakan mencekal perkataanku. "Memang kesalahanmu masih bisa kuterima dan dimaafkan. Apa lagi Fate, orang yang datanya kau minta, tidak masalah dengan hal ini. Tapi kau tetap akan pergi ... sebagai murid pindahan ke cabang Eother. Kau sendiri sudah menyetujui dan menandatangani hal tersebut."


Ah, iya. Benar. Aku kembali mengarahkan iris merah kepada Fate. Mengerti akan tatapanku, dia memejamkan mata dan menaikkan kedua pundak. Kemudian menyeduh teh---eh? Buru-buru aku berlari ke arah si gadis, lalu merendahkan badan sehingga bisa bertumpu pada lutut agar setara tingginya dengan meja tempatnya bersantai.


Dengan menyilangkan tangan di atas meja, aku bertanya, "Fate, kamu ... tidak keberatan?"


"Untuk apa keberatan? Itu pilihanmu 'kan?" Jemari lentiknya kembali meletakkan cangkir pada piring kecil. "Kau juga perlu mendapatkan banyak pengalaman agar bisa hidup sebagai manusia normal pada umumnya, Red. Masih banyak hal belum kau pahami."


"Iya, tapi ... rindu." Aku ucapkan itu dengan sangat lemah sampai-sampai suara berakhir tenggelam.


Namun, senyuman nan lembut perlahan menghiasi wajahnya. "Aku juga akan rindu ... maka dari itu sering bawa ponsel dan memberikan kabar kepada yang lain. Aku juga tidak keberatan jika kau sering meneleponku."


"Eh, benarkah?!" tanyaku atas wajah nan suram berubah semringah seketika.


"Tentu saja, Red ...."


Dan tangannya mulai meraih ke atas kepalaku dan membelai---Tuhan, sungguh aku memang memprioritaskan Fate di atas segalanya sampai berbuat cukup nekat dan ekstrem seperti kemarin lantaran dia adalah kebanggaanku, pun ingin membuktikan hal tersebut padanya. 


Bahkan elusan tangannya begitu lembut dan lemah gemulai, membuat tubuhku refleks ingin memeluk---hoek! Seketika ada yang mencengkeram belakang kerah bajuku begitu bertenaga dan tak ampun. Saat menoleh, ternyata benar ... Head Master Lucian.


Dan beliau berkata seraya tersenyum lebar, "Jangan lupa, kalian juga membawa keberuntungan untukku dan Kaidan!"


Seketika Fate memandang penuh curiga pada beliau. "Jangan bilang ...."


"Iya, kami menang taruhan kalau kalian akan bersama saat memasuki awal musim semi. Dan tidak ada yang percaya, akhirnya aku menang banyak!" Lantas beliau tertawa lepas.


Hah?! Kami ... dijadikan taruhan? Maksudnya, aku dan Fate yang akan bersama sudah mereka perkirakan? Dan taruhan dengan siapa? Kenapa? He? Aku tak paham. Mungkinkah ini salah satu cara beliau untuk bersenang-senang? Terbilang Lucian memang sangat eksentrik.


Sebenarnya, beliau akan bertindak sejauh apa mencari cara untuk menghibur diri ....


Sontak satu-satunya gadis di ruang ini mengesah panjang, berbeda dengan Lucian menyengir lebar tak keruan dan berkata, "Sehabis ini bagaimana kalau kita pergi makan-makan dengan uang itu? Ya, setelah mengurus Heart Core-mu, Red."