When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Penyelidikan di Nifle III



Pelan-pelan, aku berjalan mendekat ke arah meja.


Di sini sungguh sunyi, sampai derit kayu terdengar pada tiap langkah.


Penerangan pun minim, hanya dari Heart Core yang setia mengikutiku ... juga, Heart Core yang bersebelahan rangka manusia utuh sedang duduk dengan kepala tergeletak di atas meja.


Aku terdiam melihat hal tersebut atas pikiran mencoba menelaah keadaan.


Akhirnya aku menyadari, baju yang dipakai tulang ini persis seperti orang tua itu kenakan. Jadi, beliau sudah meninggal? Tapi ... kenapa ada di sini? Dan sesuatu yang mengkilat dari genggaman tangannya membuatku spontan memeriksa.


Perlahan menyingkap beberapa jemari kerangka dan membawa keluar ... sebuah liontin?


Lantas kubuka penutupnya dan melihat baik-baik sebuah foto keluarga. Ada seorang wanita tersenyum lembut hingga mata terpejam, merangkul dan bersandar pada pundak seorang pria yang menggendong balita di pundaknya. Wajah mereka teramat hangat dan berseri, terlebih balita laki-laki tersenyum lebar sampai mulut terbuka---tunggu, wanita rambut ungu lurus panjang; pria bermata biru dalam; balita ini ....


Seketika teringat dengan ucapan ....


..."Ayahku sudah lama menghilang ketika misi."...


... Crist?


"Aaah, energi Tiamat yang tersisa sangat mengerikan! Aku selalu dibuat kesusahan!" Dan kekehan nan khas menggema.


Langsung aku menoleh ke arah pintu, melihat orang tua yang baru tiba dalam ruang dan tubuhnya ... separuh telah hitam pekat.


"Dan sepertinya jiwa Tiamat memanfaatkan kekuatan dragonic Anda sehingga energinya masih tersisa, berakhir manifestasi menjadi sosok Anda yang terperangkap di sini ... Tuan Certerum."


"Waah, sepertinya aku ketahuan?" Lantas senyuman di wajah kriput itu melebar.


"Yah, anggota timku tidak ada yang selamat, termasuk aku. Ketika Ritual Pengorbanan gagal, kami datang menyelidiki dan menemukan kuil ini. Tapi ketika kami semua berkumpul ke altar ... anak yang kamu panggil Mei itu masih ada, dan kakak kembarnya."


"Rei."


"Hahaha, kamu mengenal mereka berdua? Iya, anak itu menyerang kami. Satu Swordmaster sampai mengorbankan diri tapi anak itu sudah kerasukan oleh jiwa Tiamat. Kami ingin melarikan diri tapi penemuan ... ruang ini yang terakhir harus kami selidiki. Akhirnya semua anggota timku berusaha menenangkan Mei, dan aku lari ke sini untuk investigasi."


"Anda berakhir terperangkap?"


"Yah, anggota timku mengorbankan diri mereka untuk menjaga ruang ini tetap aman, gantinya aku jadi tidak bisa keluar. Terperangkap dalam waktu lama, akhirnya meregang nyawa. Tapi sebelum itu, Tiamat menemukan cara untuk mengendalikan dragonic-ku, mungkin karena pada dasarnya kuil ini adalah markasnya? Ketika ia ingin mengendalikan dragonic-ku secara penuh ... aku berhasil melarikan diri dari ruang altar. Yah, aku baru bisa melarikan diri setelah mati dan menjadi bentuk ilusi."


Begitu, pantas saja beliau terus berteriak meminta tolong dan ingin aku yang membuka pintu utama ke ruang altar. Serta ketidaksukaannya terhadap ruang utama juga ilusi bayangan aneh. Sebab ... sisa energi Tiamat.


"Kekuatan manipulasinya lumayankan? Mungkin itulah kekuatan sang ratu." Aku refleks menoleh pada beliau dan mengangguk. "Sampai bisa membuat ilusi berbentuk nyata seperti aku---ah, esensi tubuhnya juga tersegel di kuil ini sih. Yah, sampai Ritualnya gagal dan salah satu si kembar mati, segelnya terlepas sedikit demi sedikit."


Lantas mata biru tua menuju pada tanganku yang masih menggenggam liontin, membuat beliau menyunggingkan senyuman janggal. "Dan kamu seseorang yang berhasil terlepas dari pengaruh Tiamat."


"Lebih tepatnya seseorang yang ingin Tiamat kendalikan tetapi gagal."


Lagi, kekehannya mengudara. "Pantas saja kamu mengenalnya dan ia terobsesi mengejarmu, 'kan? Bahkan saat pertama kamu tiba ke dunia ini, Tiamat langsung menghampirimu dan meninggalkan kuil ini."


Oh, itukah sebabnya Mei bisa berjalan jauh membawa Rei? Karena terus mencari meskipun pertemuan pertama gagal mengendalikanku dan berakhir memutus salah satu kepalanya, tapi ia berakhir diamankan oleh sang uskup di Kota Rhodes--yang sedikit penghuninya.


Seketika atensiku mengarah pada beliau. "Sepertinya Anda sudah tahu semua, mengenai saya dan Tiamat."


"Karena aku hanya ilusi buatan Tiamat. Yah, mungkin itu sebabnya cuma kamu yang bisa mendengar teriakan minta tolongku."


"Iya, cukup mengejutkan." Aku pun bergumam, "Dan kenyataan lain setelah mati Tiamat masih ingin mengendalikanku ...."


"Kamu membunuhnya sih."


"Bersama anggota Vaughan yang lain."


Mendengar itu, beliau menyeringai.


"Kamu mungkin sudah tahu asal usul Ritual Pengorbanan. Tempat ini aslinya adalah rumah si penyihir. Seperti yang kita tahu, ia sebenarnya bukan penyihir tapi orang dengan kekuatan dragonic besar. Tetap saja, orang-orang desa merasa ketakutan dengan kehadirannya dan ia pun diusir. Ia berakhir membuat rumah dalam tanah. Orang yang berkekuatan besar dan berbeda dari yang lain, selalu mendapatkan diskriminasi ya?"


Langsung aku menunduk mendengarnya.


"Hahaha, tapi penyihir itu juga yang menyelamatkan mereka sesuai dalam legenda. Akhirnya ia membuat kuil bawah tanah untuk Ritual Pengorbanan, seperti yang kau lihat sekarang. Aku telah mengarsip seluruh temuan dalam jurnal dan peta di atas meja, mengenai ratu dan raja; Tiamat dan Genesis. Setidaknya ini hal terakhir yang bisa aku berikan untuk Vaughan. Dan untuk keadaanku ...."


"Sisa energi Tiamat berhasil merasuk, batas waktuku hanya sampai tengah malam ketika bulan tepat berada di tengah-tengah. Itu adalah masa kebangkitannya, jiwa melambangkan bulan dan tubuh melambangkan matahari. Jadi, bisa kamu hancurkan Heart Core-ku sebelum itu? Dengan begitu, sisa energi Tiamat juga akan hilang."


"Dimengerti, tapi ... apa Anda tidak sedih?"


Sontak tawa yang dipaksakan menusuk telinga, membuatku sedikit menyipit tak suka. 


"Kenapa harus sedih? Aku tahu sudah lama mati."


"Saya tidak berbicara tentang Anda, tapi Crist. Apa Anda tidak sedih?"


Langsung beliau tertegun. Ekspresinya sungguh rumit dan tampak jelas itu meluap hingga wajahnya memerah bersamaan dengan air mata yang tertahan di pelupuk. Seketika beliau membuang muka dengan mengukir gurat sabit di wajah.


Ternyata mereka berdua sama saja.


Senyum itu begitu aku kenali; senyum patah; senyum palsu; senyum yang tidak selayaknya ada di sana.


"Oh, kamu juga mengenalnya? Tentu saja sedih, aku tidak bisa ada di sisinya lagi ...."


"Kalau begitu tidak masalah jika Anda merasa sedih. Sepertinya, Crist juga merasa demikian." Aku semakin menggenggam liontin di tangan kanan dan meraih Heart Core yang binarnya telah keruh di atas meja menggunakan tangan yang lain. "Karena merasa sedih dan menangis, merupakan bukti kalau kita adalah manusia."


Lantas aku menoleh ke arahnya atas suatu senyuman yang terpancing oleh perasaan di dada. "Dan Crist sampai sekarang masih mengingat Anda."


Seketika sudut bibirnya tertarik samar; senyuman berubah menjadi lengkung sabit penuh pilu. Beliau pun diam; menunduk, seperti menyimpan pedih laksana tak tahu harus berkata apa; tidak tahu harus berekspresi apa, hanya tenggelam dalam isak.


Dan aku juga terdiam memperhatikan setiap gerak-gerik. Beliau seperti menyimpan kesedihan teramat dalam membuat suara berakhir bergetar. Mungkin, begitu juga dengan hatinya.


"Aku merindukannya. Aku mau lihat ia tumbuh dewasa dan menikah. Aku mau melihat senyuman yang cerah di wajahnya, seperti ia selalu menasihatiku. Aku juga mau ia bisa memperhatikan dirinya sendiri, seperti ia selalu memperhatikanku. Aku ingin ia terus bisa bahagia dan tersenyum, walau aku sudah tidak ada. Aku takut ia berakhir sendirian ... Crist, anakku."


"Saya yakin, Crist tidak akan sendirian. Profesor Caterine selalu memperhatikannya. Saya pikir beliau berusaha keras untuk bisa menjadi ketua departemen demi Crist juga, dengan ajaran yang Anda berikan. Karena sekarang, Profesor Caterine adalah guru wali Crist dan begitu memanjakan ... dan menyayanginya."


Lantas tawa nan lirih mengudara, terdengar begitu rapuh dan bergetar. "Yang benar?"


"Begitulah yang saya yakini, karena tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini." Aku mulai menjatuhkan Heart Core beliau ke atas lantai. "Saya pun, tidak akan membiarkan sahabat yang begitu berharga dilanda kesepian ... juga, itu hal yang paling saya benci."


Seketika beliau tertegun, kemudian tertawa atas mata layu semakin sayu.


"Kupikir kamu cuma anak ugal-ugalan, ternyata bisa sangat lembut." Akhirnya itu muncul, wajah nan teduh; tatapan seorang ayah. "Crist pasti senang mempunyai sahabat sepertimu."


Aku mulai menyiapkan Sabel, membuat pendar dari Heart Core beliau satu-satunya penerang di ruang ini. Begitu pula ujung pedang menghadap lurus ke bawah lantaran aku angkat tinggi-tinggi seraya menggenggam gagangnya dengan kedua tangan, pun liontin beliau masih terlilit di telapak kanan.


"Anda tidak sepenuhnya salah, dan menjadi suatu kehormatan memiliki sahabat yang luar biasa ... seperti Crist." Langsung aku menghunjam bola kristal tersebut.


"Dan aku harap mereka bisa membuka lembar kehidupan yang baru. Termasuk kamu, Red."


Seketika suara pecahan kaca bergema ke seluruh ruang membuat pendarnya perlahan menghilang; begitu pula sosok beliau tetapi hal terakhir yang kulihat ... senyuman itu; senyum lega dan puas. 


Namun, dirasa pula dingin yang amat pekat merengkuh. Sunyi. Sepi. Hening. Meskipun hawa mencekam yang sebelumnya kurasa menghilang, perasaan nyaman dan hangat juga lenyap. Menyisakan rasa sendu begitu kental mengetuk batin, turut mengingatkan pada statusku kini. 


Kesepian.


Sebab, lagi-lagi, teringat orang yang berharga untukku telah pergi ... ke dua kalinya.


Meskipun ia masih bisa aku perhatikan dari jauh dengan kedua mata, tapi tangannya hilang dari genggaman. Karena Fate telah bersama orang terkasihnya.


Di sini aku masih diam dengan posisi yang sedikit pun belum berpindah, lantaran apa yang terdengar sebelum ini membuatku ingat pada janji dengan Aion sewaktu dulu.


Lembar kehidupan baru ....


Aku berakhir mengembuskan napas panjang dan kembali berdiri tegap, membiarkan pedangku membias dan berubah kembali menjadi bola kristal yang melayang dan menerangi sekitar.


Tanpa basa-basi aku keluar dari ruang ini. Namun, disambut dengan cahaya begitu menyorot di ujung lorong sampai memalingkan muka dan sedikit menghadang binar tersebut menggunakan tangan---tunggu, mereka dari regu satu.


Sepertinya mereka juga menyadari diriku karena langsung menurunkan senjata-senjata yang sebelumnya menodong jelas dari kejauhan. Ah, mungkin mereka mengikuti jejakku sampai ke sini?


Langsung aku berlari menghampiri mereka.