
Kami berakhir memenuhi sofa utama club.
Aku duduk antara Daniel dan Crist. Sedangkan Cecil dan Fate di sofa sebelah kanan, mereka sangat dekat dengan satu sama lain hingga kaki bersentuhan; membuatku tak bisa berhenti menatap keakraban mereka.
Setidaknya Fate menjadi lebih berseri, meninggalkan suatu kelegaan tersendiri dalam relung dada. Meski wajah itu tetap saja datar, setidaknya mata ambar kembali berbinar.
"Fate, boleh aku tanya sesuatu? Ini sudah lama terpikirkan, kebetulan sekarang saat yang tepat untuk bertanya." Seketika Crist berkata, membuat atensiku tertuju padanya. Wajah si pemuda sedikit khawatir meski tangan sudah tenang di atas paha.
"Sebelumnya kamu berkata," ucapnya tertahan karena berusaha menenggak saliva dalam tenggorokan, "ada aura yang lebih parah dari Red?"
Aku segera menimpali, "Apa kehadiranku sebegitu menyeramkan?"
Karena ... mengejutkan. Mereka sungguh takut hanya karena keberadaanku? Ah, mungkin itu yang terjadi di dunia asal juga sampai manusia menyerangku secara membabi buta.
Mungkinkah kehadiranku memang membawa mala petaka? Spontan aku menunduk hingga terasa satu tepukan pelan di pundak. Aku menoleh dan kudapati Crist telah tersenyum.
"Maaf Red, tapi memang itu yang aku rasakan. Maka dari itu aku ...." Dia melepas tangan dari pundakku. "Ingin membuktikan dan meyakini diriku sendiri. Pada akhirnya, lambat laun aku pun mengerti akan sesuatu."
Hanya itu yang dia katakan, menyisakan tanda tanya nan dalam sampai aku memiringkan kepala. Namun, melihat gelagatku Crist tetap tak lanjut berucap, terus saja tersenyum lembut bahkan lebih bersinar daripada sebelumnya. Sedangkan yang lain hanya tertawa kecil, kecuali Fate. Si gadis tersenyum tipis seakan mengerti apa yang Crist maksud.
Setelah itu Fate menjawab, "Tentu saja ada."
"Eh, bentar-bentar." Mendadak Cecil menyela pembicaraan kami dengan wajah penuh antusias. "Aku tuh ingat dulu Crist sempat jelasin mengenai tujuh dosa mematikan soal asal usul Red, iyakan? Jangan-jangan, yang auranya gelap tuh berhubungan sama ini?!"
"OOOH!" teriak Daniel menggebu-gebu, "aku paham nih masalah fantasi kayak ginian! Itu si Malaikat Jatuh itukan? Luc---"
Fate berdeham kencang membuat Daniel memutus perkataan; memancing seluruh mata tertuju pada si gadis. Kini wajahnya terlihat sedikit serius, postur duduk pun tegap.
Cecil yang ada di dekatnya ikut terkejut. "Kenapa Fate?"
"Tidak. Hanya saja ...." Kini mata ambar mulai menatap lurus pada Daniel. "Jangan sebut nama si malaikat itu."
"Lah, memangnya kenapa? Nama doang."
"Nama, tidak hanya sekadar identitas. Jika benar begitu, apa bedanya memberi nama hewan peliharaan dengan makhluk lainnya?"
Lantas Fate menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Nama adalah doa dan harapan. Jika doa adalah kebaikan, maka nama menjadi cerminan harapan. Bahkan untuk sebagian orang, nama menyimpan suatu memori yang dalam dan berdampak besar. Tidak semua orang bisa dengan santai mendengar nama-nama tertentu."
Sontak aku tertawa amat hambar. "Sepertinya itu yang terjadi padaku."
"Aaah, kalau kita ingat-ingat lagi, Red tidak pernah menyebut nama orang terkasihnya 'kan?" ucap Crist, membuatku menoleh padanya.
"Ya," jawabku, "aku belum sanggup menyebut namanya ... tapi aku selalu mengingat namanya, dalam hatiku."
Aku pun menautkan jemari. "Dan untuk malaikat yang ingin Daniel sebut ... aku tahu, dan sangat hafal ia siapa. Ia yang turut andil menciptakanku ke dunia. Sebab beberapa hal, aku sama sekali tidak sanggup untuk mengingat; menyebut; mendengar namanya."
Aku berakhir mengembuskan napas panjang. "Maaf, aku belum siap."
Seketika hening membumbung dan aku mulai menunduk, memperhatikan tanganku sendiri. Sebab kupikir, nama adalah hal remeh. Namun, hanya mengingat nama bisa begitu menyakitkan. Dulu ... bahkan dulu, aku benar-benar tak bisa mengingat namamu, Aion. Karena rasa itu; ingatan itu; sakit itu, terasa nyata ketika membayangkan namamu.
Bahkan aku merasa tak pantas; tak layak menyebut atau ingat namamu, orang yang paling aku cintai tapi berakhir menutup nyawa di tanganku sendiri. Konyol bukan? Aku sangat membutuhkannya, tapi kubunuh juga. Dikendalikan atau bukan, pelakunya ... aku. Aku mulai menggenggam kedua tangan yang bersandar di atas paha.
Pada dasarnya, mungkin jiwaku selemah itu.
"Lalu ada apa dengan makhluk itu? Kau seperti tidak asing dengan Malaikat Jatuh itu Fate," lanjut Crist.
"Karena Malaikat Jatuh itu pernah berdiam dalam tubuhku, dengan aura pekatnya ... aura Red tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan auranya. Jika dibandingkan, Red itu seperti anak kucing dan si Malaikat Jatuh itu adalah singa? Atau bahkan naga sekelas Genesis?"
"Tu-tunggu!! Jadi makhluk itu pernah bersemayam di tubuhmu?!" Aksen Cecil nan khas melengking, jelas terdengar keterkejutan di sana.
"Em, bisa dibilang seperti itu."
"Fate ... kehidupanmu sangat gila."
Fate memberikan Crist senyuman kecil dan tatapan mengerti. "Aku juga berpikir begitu."
Namun, untukku, perasaan itu kembali. Suatu dingin yang perlahan merambat punggung dan terasa juga tanganku beku; aku kian erat mengepal kedua tangan.
Dengan wajah serius, akhirnya aku memandang si gadis. "Kalau begitu, bukannya sesuatu yang terjadi di dunia asalmu juga memengaruhimu ... dan aku, hingga sekarang?"
Karena pada dasarnya, aku hanya ciptaan dari para iblis--meski jiwaku Tuhan yang beri--dan terbentuk atas tumpukan dosa. Beberapa makhluk jelas turut andil dalam dunia yang sama--duniaku dan Fate.
"Memengaruhiku? Tentu saja, karena pada dasarnya aku adalah inang dari salah satu Dosa dan di waktu yang sama aku juga inang untuk salah satu Kebajikan. Memengaruhimu? Tidak."
Fate mulai melipat kedua tangan depan dada.
"Apa yang terjadi di duniaku tidak akan memengaruhi dunia lain. Begitu juga dengan duniamu. Hanya entitas berkuasa atas alam semesta yang bisa. Keberadaan yang menyerupai Tuhan, tapi tidak akan pernah bisa menyerupaiNya--Godly Being "
Ah, begitukah? Aku mulai mengelus tengkuk. Selang beberapa menit Daniel menyikutku dan---heh! Kenapa tiba-tiba menepuk keningku?! Untung saja terselamatkan oleh poni rambut.
Tuhan, aku benar-benar terkejut.
"Dikit-dikit khawatir. Heh, kebiasaan jelek kebanyakan mikir!" celetuknya tiba-tiba.
Lantas aku merasa canggung. "A-aah, soalnya kalian mengakui baru sekarang bertemu yang seperti aku bukan? Aku khawatir kehadiranku di dunia ini pertanda sesuatu, apa lagi kalian sangat takut ketika melihatku pertama kali ...."
"Mungkin di duniamu atau di sini, immortal adalah hal yang tak biasa. Kalau di duniaku ... immortal, terutama manusia immortal, hanyalah tikus laboratorium yang bisa digunakan sampai kapan pun. Bahkan iblis-iblis kelas bawah juga sama."
Mendengar ini, seluruh mata lantas tertuju pada Fate dengan ekspresi tak percaya. Terutama aku. Membayangkannya, entah mengapa aku merasa merinding. Haruskah aku bersyukur tidak diciptakan di dunianya?
"... Aku sudah mengatakannya, tapi akan kukatakan lagi. Fate, duniamu sangat gila." Dan aku mengangguk mantap terhadap pernyataan Crist.
Rasanya, baru dengar ada manusia seekstrem itu? Maksudku, bisa menciptakan immortal dan digunakan sesukanya? Bahkan untuk kasusku, para iblis sampai turun tangan. Sedangkan dunia Fate ....
Sebenarnya, seberapa besar kekuatan sihir di sana?
"Ya, itulah duniaku. Tapi setidaknya aku jadi terbiasa dengan hal aneh yang kalian katakan."
"Itu kelemahanmu, Fate. Tidak bisa membedakan mana yang aneh dan mana yang normal." Kini Crist tertawa amat dipaksakan.
Seketika Daniel menggaruk rambut pirangnya penuh frustrasi. "Sudahlah bahas immortal-immortal gitu, pusing aku!"
"Bukannya fantasi yang kayak gini kesukaanmu? Koleksi buku supranatural kamu ada berapa banyak tuh ...."
"Memang Cil, tapi kalau ketemu langsung ya otakku enggak sampai! Haduh, lihat satu kayak Red saja sudah enggak habis pikir."
"Untung cuma ketemu satu. Percayalah, kamu tidak mau bertemu yang lainnya," timpal Fate. Eh, sepertinya ada rasa kesal tersirat di sana?
"Hahaha .... haaah. Ya, untung cuma satu," ucap Crist dengan senyuman masam.
Melihat reaksi mereka, aku merasa tak enak sendiri. Mungkin kehadiranku memang seluar biasa, semenakjubkan, dan seaneh itu? Eeeng, aku mulai menunduk dan menautkan jemari. Lalu tiba-tiba terdengar suara tawa samar di sisi dan terasa ada yang bersandar padaku. Ya, siapa lagi kalau bukan Crist. Mungkin memang sosokku tak biasa, tapi mereka ... menerimaku.
Kini Daniel juga merangkul leherku. "Untung Red dan Fate ada dipihak kita, kalau enggak habis sudah."
Huh?