When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Waktu Luang II



Entah kenapa perasaanku tak enak ketika kami mulai berjalan menelusuri perpustakaan. Profesor Kaidan masih aktif dengan ponsel dalam genggaman dekat telinganya, sedangkan aku sibuk membawa kotak peralatan hitam milik Departemen Gear.


Aku mengembuskan napas panjang, menaiki setiap anak tangga menuju balkon lantai atas. Tapi ketika sampai ... ramai, banyak murid mengerumuni.


Ah, aku dalam masalah besar.


"Untuk apa kalian di sini?" ucap tegas Profesor Kaidan merenggut seluruh atensi. Ponsel pun ia turunkan.


"Pak! Sepertinya ada penyusup dalam akademi!"


"Bagaimana kalau ini ulah hibrida?"


"Ha? Bukannya keamanan sekolah kita tingkat tinggi?"


"Hem hem, masa reptil itu berani masuk kandang singa?!"


"Tapi kerusakannya bukan main-main loh!"


Ha-ah, mereka sangat ramai dan saling bersahut-sahutan.


"Bapak datang untuk menangani hal ini, off limit, silakan kalian pergi. Terlebih kalian! Club Liberty nanti siang akan melakukan sparing, kenapa kalian masih di sini?!" celetuk beliau sembari menunjuk salah satu kerumunan siswa.


Mereka langsung panik dan berhamburan meninggalkan lokasi, menyisakan aku bersama Profesor Kaidan pada balkoni yang luas. Beliau menghela napas dan memijat kening. Sepertinya aku membuatnya pusing. Sebenarnya, tak ingin merepotkan beliau ... ah, rasa bersalah kembali menyelimuti.


Dengan sedikit menunduk, aku berkata lembut, "Maaf, lagi-lagi merepotkan Bapak."


Seketika terasa tepukan lembut di kepala. Aku pun menatap mata cokelat beliau nan teduh. "Bapak senggang sampai siang nanti, setelah itu harus mengawasi kegiatan sparing. Sudah Bapak katakan, kamu tidak merepotkan. Bapak malah senang bisa menemanimu."


Mendengar itu, aku sedikit tersipu. Sontak aku menggeleng dan mulai bersiap memperbaiki tempat. Terdengar beliau terkekeh ketika melihat gelagatku, sedikit malu tapi satu sisi ... merasa tenang pula.


Tunggu! Seharusnya jangan dulu merasa lega karena masalah lebih besar datang.


Fate, berdiri di pojokan dengan salah satu tangannya menyentuh dagu. Sejak kapan dia ada di sini?


"Fate, kenapa ... di sini?" tanyaku.


Ia pun menoleh dan menjawab, "Karena aku anggota Departemen Disiplin dan kemarin aku sehabis dari sini. Ini ... cukup mencurigakan. Tugasku menangani orang-orang bermasalah, merusak properti merupakan kesalahan besar. Aku tahu ini perbuatan seseorang, hanya satu orang."


Ia mulai melangkah dan menunjuk sayatan di tembok. "Bekas ini cukup besar, tentu dihasilkan oleh pedang, tidak ditemukan tanda-tanda lain seperti ledakan atau ceruk karena pistol. Dilihat dari bekas ini, arah serangannya hanya satu dan itu menuju pagar pembatas balkoni."


Kini mata perak kebiruan itu menatap Profesor Kaidan. "Keamanan akademi sangat ketat seperti kemiliteran negara, terlebih gerbang utama dekat gedung Departemen Eksekusi. Pencuri, hibrida, atau penjahat lainnya tidak mungkin bisa masuk. Spekulasiku, ini ulah salah satu murid. Dan kemarin, kenapa terasa samar ...."


"Eeem, itu ... karena saya." Aku terdiam sesaat, mencoba berpikir sejenak dan lanjut berkata, "Ingat kemarin kita membicarakan soal pedang? Dan saya memutuskan untuk mengambil pedang lagi."


Tentu jawaban tersebut memancing tatapan datar si gadis menuju ke arahku. Entah kenapa terasa hawa mencekam darinya, seketika beku merayap punggung pun bulu kuduk perlahan berdiri.


"Bukan masalah besar." Refleks mata perak kebiruan menatap Profesor Kaidan. "Lagi pula itu kecelakaan dan Red mau bertanggung jawab atas perbuatannya."


"Kecelakaan?" Seketika Fate kembali melihatku, tatapan itu seolah meminta penjelasan.


"Ah, sa-saya, waktu kemarin---aaaa, kembali memegang pedang tetapi terjadi sedikit kecelakaan."


"Ho? Kecelakaan? Kamu tahukan akademi memiliki CCTV dan aku bisa memeriksanya sendiri?" balas Fate dengan vokal sedikit ditinggikan.


Embusan napas lelah terumbar kemudian, tak lama satu-satunya orang tua di sini berkata, "Kontrol kekuatan Red sangat rendah. Mungkin pertama memegang senjata baru, ia tak bisa menanganinya. Dia mau bertanggung jawab dan kasus ini sudah diurus, tidak perlu repot-repot sampai memutar rekam CCTV."


Maafkan aku, Fate.


Tapi---heeee, kenapa sekarang dia juga membantu memperbaiki tempat ini? Profesor Kaidan saja sudah terlalu berlebihan menolongku. Ini bukan perkara besar. Tapi menjelaskan apa pun pada mereka, itu tak bekerja; masih bersikeras ingin membantu.


Mungkinkah mereka khawatir? Itu membuatku mengingat kejadian kemarin. Ketika sesuatu hal terjadi pada kita, maka orang-orang yang kita cintai juga merasa terluka.


Hening pun membumbung. Kami mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing, menyapu lantai; menyisihkan pot bunga yang pecah; merapikan tempat. Bahkan sampai menggunakan kekuatan dragonic masing-masing dengan alat bantu dari Departemen Gear untuk membuat keadaan seperti semula.


Cukup cepat ternyata, semua selesai tak sampai tiga puluh menit.


Sunyi pecah ketika Profesor Kaidan mulai bertanya, "Red, bukannya kamu tidak mau menggunakan pedang? Apa sekarang berubah pikiran?"


Aku membisu, memilih duduk bersandar pada tembok dan melihat langit.


Beberapa saat kemudian menjawab, "Sebenarnya pedang salah satu benda yang paling saya takuti. Dulu, kekuatan muncul dari hati ... berubah bentuk, dan menjadi pedang. Namun setiap kali menggenggamnya, saya selalu kehilangan akal. Sampai suatu saat, orang yang benar-benar saya cintai hilang ditanganku sendiri. Sejak saat itu, aku tenggelam dalam kegelapan dan menjadi monster."


Ah, tak percaya aku menceritakan hal tersebut kepada beliau. Memalukan, pasti sekarang beliau enggan melihatku. Tanpa sadar aku ingin menutup wajah dengan tangan kanan tetapi seseorang menahannya, refleks aku menoleh.


Profesor Kaidan menatapku dengan tatapan sendu. Mata cokelat itu ... binarnya sama persis seperti saat pertama beliau melihatku.


"Red, Bapak mengerti bagaimana rasanya kehilangan," tuturnya yang lembut dalam intonasi berat, bahkan tangan kukuh ikut menyentuh pipiku, "dan kamu bukanlah monster."


Mataku terbuka lebar namun membuang muka kemudian. Entah kenapa aku sedikit tidak terima atas ucapan beliau. Apa yang sudah aku lakukan jelas-jelas sudah bukan dikategorikan sebagai perbuatan manusia.


"Kamu benar-benar ... mengingatkan Bapak."


Mendadak Profesor Kaidan memelukku. Apa yang terjadi? Aku ingin menatap beliau tetapi ia sudah membenamkan wajahnya ke pundakku. "Bapak satu-satunya anak dengan kekuatan dragonic di desa. Ketika mendapatkan kekuatan itu, Bapak lepas kendali dan kehilangan segalanya."


Ia melepas dekapannya dan memegang pundakku. "Apa Bapak seperti monster di matamu?"


Kali ini aku benar-benar terkejut, bisu bak tunawicara. Namun tak bisa lepas menatap mata cokelat nan teduh di depan. Binarnya, sungguh menenangkan.


"Red, penyesalan pasti ada. Namun satu-satunya cara untuk membayar perbuatanmu adalah belajar dari kesalahan. Masa lalu mungkin berat, tapi kita harus menerimanya. Dengan penyesalanmu, pastikan hal tersebut tidak lagi terjadi." Ia mulai mengelus rambut hitamku. "Belajar dari kesalahan. Jika kamu kehilangan tujuan, maka buatlah tujuan yang baru. Agar mereka yang telah tiada masih tetap tersenyum melihat perubahan kita."


Aku tahu; aku menyadari, bahwa kembalinya dia itu tidak mungkin. Aku kira hati yang penuh kedustaan ini sudah hancur atas bukti sebuah eksistensi ditolak, seolah berdiri ditengah kerumunan tapi semua terasa hampa. Namun sekarang, merasakan sebuah harapan; sebuah kehangatan. Aku takut kehilangan ini lagi. Tidak mau, aku ....


"... Takut kejadian yang dahulu kembali terulang," ucapku dalam getir yang kentara. Mencoba sekuat tenaga menekan jiwa yang mulai merongrong.


Aku berusaha mengepal kerah baju tetapi terasa tanganku mulai disentuh; kulit yang lembut menggenggamku. Aku melirik dan di sana Fate melihatku dengan tatapannya yang biasa.


"Masa depan itu tidak pasti. Tapi karena ketidakpastian itu, kita bisa membuat jalan baru dan lebih berhati-hati. Jika kita terus melihat kebelakang, maka kita akan luput dari bahaya yang sebenarnya. Tidak ada salahnya untuk belajar ... walaupun itu sangat pelan."


Intonasi lembut si gadis bagai alunan menenangkan.


"Manusia memang sumber salah, dan tak luput dari kesalahan. Namun, karena masa lalu kita bisa menghadapi masa depan. Bukan tenggelam dengan masa lalu tersebut. Dan kamu, tidaklah sendirian."


Seketika hatiku bergetar. Kukira, sudah tidak ada lagi yang tersisa untukku. Kesedihan menyelimuti, berubah sebelum lama menjadi keinginan tersayang. Aku cukup ketakutan pun terus mengutuk takdir; melewati emosi yang menawan tetapi itu bukan yang kamu--orang terkasihku--harapkan bukan?


Hal-hal dalam hidupku mulai berubah karena dengan harapanmu; pengorbananmu, kini aku berada di sini. Dipenuhi dengan filantropi dan kasih sayang.


Aku tidak menduga ... akan diperlakukan selembut ini.


Ah, lagi-lagi air mata mengalir tanpa permisi.