
Tak lama, Crist menyilangkan tangan depan dada dengan memiringkan kepala--seperti berpikir keras. "Hmmm. Aku kurang tahu masalah ini karena datamu termasuk rahasia."
Eh, begitukah? Bahkan tangan kanan ketua Departemen Konsultasi yang biasa menangani data penting tidak tahu, sepertinya keberadaanku memang serahasia itu?
Lantas aku menoleh pada Fate dan dia masih dalam gelagat santai, bersandar seraya memejamkan mata. Namun, gadis kecil di sampingnya tidak. Cecil justru terheran-heran dalam iris merah muda bak neon menatap lurus padaku. Mungkin ... sadar dengan nama kota yang aku sebutkan?
"Kamu tuh beneran cek gosip dari forum yang aku kasih waktu itu?"
Aku mengangguk. "Ya, ternyata masalahnya cukup rumit dan ... aneh. Aku tidak tahu sudah menyelesaikannya dengan baik atau tidak, karena orang yang menjadi sumber masalah justru meninggal dunia," ucapku penuh nanar dengan mencengkeram dada kiri berbalut sweter putih, dan yang mendengar berekspresi sama seperti halnya diriku.
Ternyata, rasa itu masih membekas. Meskipun hanya menemui si kembar dalam mimpi, tetapi kejadian itu tampak nyata dan memancing suatu frustrasi; kesedihan yang dalam karena ketidakberdayaanku, menjadi orang terakhir namun tidak bisa menyelamatkan semua orang.
Mungkin, memang diriku tak kuasa atas kehilangan? Aku pun mengembuskan napas panjang.
Kulihat yang lainnya menatapku penuh harap, seperti menunggu aku untuk bercerita. Akhirnya, aku jelaskan semuanya; perjalanan anehku masuk ke dalam alam mimpi. Yang mana saat pertama menginjakkan kaki di depan gereja, justru kehadiranku sangat mencolok karena ... keanehan dalam diriku? Dan mungkin itu juga penyebab dapat bangun dari alam mimpi berkali-kali.
Sepanjang penjelasanku, Crist terlihat serius mengetik di layar holografi Heart Core. Mengetahui ini, aku menyimpulkan ternyata kasus dalam mimpi merupakan hal penting. Aku merasa tak enak tidak langsung melapor.
Sampai pada akhir perjalananku, menceritakan Rei yang kondisi jiwa sudah tenang tetapi memutuskan lanjut menyegel iblis dalam dirinya. Itu berakhir menjadikan beban tersendiri untuk jiwa Rei hingga ia meninggal dunia. Namun, karena aku berhasil menenangkan jiwanya, para penduduk yang terbelenggu dalam mimpi terselamatkan.
Saat pemakaman aku merasa tak tenang sampai sang uskup memberiku nasihat. Aku menghentikan tragedi, menyelamatkan mereka dan orang-orang di kota. Itu kerja bagus, kata beliau. Dan penjelasan lain---eh? Aku ... kembali menyadari ada yang janggal. Tapi sebelum itu, aku menyelesaikan laporanku.
Tampaknya, apa yang aku jelaskan justru membuat Crist pusing? Dia tak henti memijat kening.
"Red, tadi kamu sebut uskup di sana mengatakan 'pertama kali saya melihat mereka, Mei menggendong Rei dengan tatapan yang kosong, memohon untuk menyelamatkan kakaknya' benar begitu?"
Aku tertegun dengan pertanyaan Fate, ternyata dia menyadari hal aneh yang tadi aku rasakan. Pengamatan gadis ini memang sangat tajam. "Fate, kamu menyadarinya? Itu berarti ... sang uskup menemukan Mei dan Rei lalu dibawa ke Kota Rhodes bukan?"
Eh, kenapa harus di Kota Rhodes? Tempat itu sangat sepi meskipun gerejanya besar. Apa lagi beliau merupakan uskup agung, walau bisa melakukan visitasi kanonik--kunjungan formal--bukannya lebih baik mengurus kasus si kembar ke katedral? Mungkin, jaraknya lebih dekat dan kebetulan beliau ada di sana?
"Iya. Selama kau menjelaskan, aku mencari berkas arsip topik dalam forum. Kasus orang tertidur dan tidak dapat bangun--yang menjadi bahan gosip--baru terjadi di awal tahun dan berhenti ketika memasuki pertengahan Maret. Banyak orang yang benar-benar mengabaikan kabar ini dan menilai hanya penyakit dysania--sulit bangun tidur--yang sudah akut. Karena gejala dalam kasus gosip ini tidak sampai tiga bulan."
Fate sungguh mengerti apa yang kini kucemaskan sampai-sampai tanpa sadar, aku sedikit mencondongkan badan ke arahnya.
"Aku juga berpikir demikian. Kukira ini hanyalah gosip belaka. Jika kalian tidak meminta aku menjelaskan ini mungkin juga tidak akan sadar. Aku memang menyelesaikan masalahnya saat memasuki pertengahan Maret. Ketika si kembar Mei dan Rei tiba, kasus orang tidak bisa bangun baru terjadi di Kota Rhodes. Berarti ... sebelumnya mereka bukan berasal dari sana, dan desa kampung halaman mereka telah musnah karena Ritual Pengorbanan yang gagal."
Akhirnya, untuk pertama kali, ekspresi di wajah Fate berubah meski hanya sedikit menyipitkan mata. "Apa lagi yang kamu curigai?"
"Banyak, aku ... tak tahu harus menjelaskan dari mana."
Terasa ada yang menepuk pundakku sekali, ternyata itu Crist yang tersenyum lembutnya. "Bisa sebutkan semua? Tidak apa-apa Red, kami membutuhkan data yang mendetail."
Aku mengangguk dan mulai memaparkan, "Saat tiba, kenapa sang uskup tahu keanehan dalam tubuhku? Saat itu, aku masih benar-benar kelam dan manusia biasa tak menyadari hal ini. Rata-rata mereka menjauh karena merasa merinding di dekatku tetapi seperti yang Profesor Caterine sebutkan, saat berjarak lima meter dariku baru terasa. Namun, sang uskup bisa menyadariku ketika pertama menginjakkan kaki di Kota Rhodes, apa beliau pengguna dragonic?"
Refleks aku menutup wajah. Tuhan, mendadak rasa itu kembali seperti mengubrak-abrik relung dada tetapi berusaha kuredam. Tolong, jangan muncul di saat seperti ini karena setidaknya ... informasi dariku sangat dibutuhkan sekarang. Salahku juga tidak langsung melapor.
Tiba-tiba terasa elusan di punggung. "Maaf kalau terlalu menekanmu dan memaksa harus mengingat kejadian buruk ...."
Spontan aku menggeleng dan mencoba mengatur napas. "Tidak, tak apa. Aku tak mau terus tenggelam dalam perasaan ini. Aku ingin membantumu, Crist. Tadi, sampai mana?"
Kembali menutup mulut dengan jemari tangan kanan, aku mencoba berpikir. "Ah, ya, sebab itu aku merasa takut untuk kembali ke alam mimpi. Tapi sang uskup bilang hanya aku yang bisa menolong mereka dan bisa terus terbangun dari dunia mimpi. Kupikir, aku bisa terus bangun sebab sosokku memang anak iblis dan karena energi dalam tubuhku, bisa bersinergi dengan alam mimpi itu. Tapi jika iblis tidak ikut campur di dunia kalian ... lalu, iblis itu siapa?"
Yang lebih mengherankan ... aku ini, sebenarnya apa? Dan benarkah aku amnesia, seperti Fate?
Fate berkata, "Sepertinya jika kau memiliki tujuan yang jelas, kau bisa melangkah maju dengan baik. Teruskan hal itu, Red. Dan aku rasa lebih baik kau catat hal-hal yang kau ingat juga. Seperti yang kau sadari, ingatanmu kacau. Lebih baik kau catat dan perlahan kau urutkan untuk merapikan ingatanmu. Mungkin itu bisa membantu."
Sampai sekarang aku masih berpikir, apa Fate bisa membaca pikirkan?
"Itu juga yang kamu lakukan?"
Si gadis mengangguk terhadap pertanyaanku. "Aku rasa kau tidak perlu berpikir terlalu keras mengenai apa kau amnesia atau tidak. Tapi bukan berarti kau harus menerima begitu saja tentang ingatanmu."
Mencatat ... rasanya banyak sekali serpihan memori tak beraturan. Seperti tujuh orang yang mengelilingiku; Aion yang sebut aku manusia; anak kecil yang berdiri depan pohon besar dan banyak tangan semu putih ingin meraihnya dari langit. Itu semua, mimpi atau kenyataan?
Lalu, kenapa bisa aku amnesia? Apa itu efek ketika berpindah dunia? Saat awal bertemu Profesor Kaidan, kenapa aku bersikeras yakin dengan ingatanku sendiri--dari awal aku lahir hingga sekarang--jika pada akhirnya ternyata aku yang menghapusnya?
Ha-ah, benar-benar harus menyortir isi kepala yang kacau ini.
"Sepertinya aku mendapat panggilan. Fate bisa ikut denganku?"
Ah, aku terlalu tenggelam dalam pikiran sampai tak sadar akan sekitar. Kulihat Crist sedang menggenggam ponsel dan telah beranjak dari sofa.
Dari sini aku hanya bisa melihat si pemuda pergi dengan Fate mengikuti di belakang, meninggalkan kami--aku, Daniel, Cecil--dalam keadaan bingung. Mungkin benar mendapatkan panggilan mendadak yang amat penting, seperti biasa.
"Udah, gitu doang? Kirain apaan," celetuk Daniel dengan bersungut-sungut.
"Red, coba tuh saran dari Fate kamu langsung lakuin. Kayak nulis catatan kecil-kecil di binder terus urutin sesuai yang benar-benar kamu ingat."
"Eh, Cil, tapi serius Red amnesia? Perasaan daya ingatnya kuat deh. Kalau ujian dia hafal jawaban semua soal! Sama jalan-jalan kota juga!"
"Loh, kata Crist menurut penjelasan Bu Caterine, Red yang hapus ingatannya sendiri. Tapi kalau itu perbuatan kamu yang pasti dilakukan dengan kesadaran penuh, kenapa bisa terbuka lagi walau dikit-dikit?"
"Aku juga bingung dengan isi kepalaku sendiri," jawabku penuh rasa campur aduk.
Sungguh, selama ini aku hanya memikirkan orang lain sampai lupa dan tak sadar pada keanehan dalam diriku selain keabadian yang kian memudar.