When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
Liburan! III



"Aakkh, bosan! Nanti Red bakalan pergikan? Kita tidur di ruang tengah saja yuk sambil main!"


Aku yang sedang membaca artikel di ponsel pun terkejut ketika tangan ditarik paksa oleh Daniel. Berbeda dengan Crist yang masih sibuk menulis pada buku kecil di meja dan mengesah panjang---ah, tunggu! Kita mau ke mana? Karena sekarang sudah menuruni tangga ke lantai bawah, lebih tepatnya ... menuju kamar tidur perempuan.


Sontak dia menendang pintu kuat-kuat dengan satu kaki. "Oi, kita tidur bareng yuk di---"


"HEI! Ini kamar cewek, enggak sopan!"


Lantas banyak barang melayang ke arah si pirang ... sebentar, ini alat kosmetik bukan? Kenapa Cecil ikut melemparnya? Ah, lagi-lagi Daniel kembali tergeletak, tapi kali ini tertimbun oleh beberapa bantal dan guling; juga baju dan barang-barang lain. Tak lama, Cecil pun keluar dari kamar seraya menyentakkan langkah---


"Ada apa?"


Langsung aku menoleh ke arah Fate yang mendekat---astaga, baju piama yang dikenakan begitu manis; baru pertama kulihat, sampai mampu menghasilkan rasa begitu benar berdiri di sini dan menatap lama padanya, membebaskan keremangan kamar bercahaya lampu tidur tunggal di ujung meja. Seketika detak jantung kembali menggila seumpama gemuruh di langit mendung, apa lagi wajah lugu itu ... hah, Red, jangan berpikir tidak-tidak!


Spontan aku menggeleng dan berkata, "Tadi Daniel bilang ingin tidur di ruang tengah, sekalian ... main?"


"Dan aku langsung menyiapkannya." Refleks aku menoleh ke asal suara di tangga sana yang mana Crist sudah melangkah turun. "Red, bisa bantu turunin kasur lipat? Nanti kita tata bersama-sama."


"Ah, iya. Aku ke sana."


Bergegas aku menghampiri Crist dan melewati Daniel yang ... diomeli habis-habisan oleh Cecil, tapi ucapan si gadis kecil ada benarnya. Seharusnya dia bicarakan dulu dengan baik-baik pada kami semua. Aku pun terkejut ketika ditarik paksa.


Ketika sudah sampai di tangga, aku langsung mengekor di belakang Crist. Maka dengan begitu pula membawa beberapa tumpuk kasur lipat. Kemudian menatanya dengan rapi di ruang tengah yang kosong--sebelumnya memindahkan meja di antara jajaran sofa--tepat menghadap pada pintu kaca, kolam renang di luar pun terlihat jelas dari sini.


"Sekarang, cowok-cowok minggir dulu. Biar aku tata posisi tidurnya." Dan Cecil mendadak muncul di depan, memaksa kami untuk mundur beberapa langkah.


Dia meletakkan bantal di antara sekat-sekat kasur lipat sembari berkata, "Crist di sini. Terus aku. Terus Fate. Ini Red. Terakhir Daniel."


"Loh, kenapa posisi tidurnya begini? Cecil tidak mau tidur dekat Daniel?"


Si gadis kecil terdiam terhadap pertanyaan Crist, tapi telunjuk kanannya naik perlahan. Seberapa detik kemudian berkata, "Nanti kamu mengerti."


He? Aku jadi ikut penasaran. Namun, ketika menoleh ke arah si pirang, dia sudah merebahkan diri di kasur dan menepuk-nepuk pada alas di sampingnya menggunakan satu tangan. "Sini Red, kita bobok bareng."


Spontan aku mengernyit dan memberikan senyuman masam---heh, maksudnya apa ....


"Tapi tidur di luar begini lumayan juga." Dan Fate di sana, duduk pada tempat yang sudah ditentukan. "Mengisi malam dengan pemandangan langit, membuat tenang."


"Iya aku senang bisa menikmatinya bersama."


Langsung aku menyerbu untuk duduk tepat di sampingnya, membuat si gadis tertawa manis---Tuhan, mungkin memang rembulan ada di luar sana tetapi ketika aku menatap kedua pasang mata perak seakan malam ada di dalamnya, mengingatkanku pada kenyataan bahwa dia adalah manusia yang akan selalu ada di sisiku selama pengembaraan dalam gulungan waktu; manusia teguh pembawa kehangatan untuk malam nan gelap.


"Yaaah, giliran sama Fate saja ... langsung gerak," gerutu Daniel dengan tersengut-sengut.


Yang tentu saja, aku abaikan karena tawa Fate semakin merekah, bersamaan dengan semburat merah di pipi; membuat isi kepala hancur lantaran kembali sinting pada ketidakmampuan mengendalikan kerja jantung untuk kembali normal; pula muncul bayang-bayang kami kedepannya nanti, hanya berdua; bersama. Lantas tanganku terpancing untuk naik dan menyentuh pipi---waa! Aku langsung mengurungkan niat karena ingat akan sesuatu.


"Fate, sebenarnya ... mau tanya---um ...," ucapku menggantung, mengundang seluruh mata tertuju padaku termasuk Fate itu sendiri. Tapi aku kembali berusaha memberanikan diri untuk berkata, "Rasanya canggung kalau nanti aku mengelus kepalamu, atau hal lain, tapi ada yang menempat dalam tubuhmu juga. Seperti ... yah, i-itu ...."


Dan tanganku menekan di antara paha yang sudah bersila karena sedikit mencondongkan badan. "Kenapa hal itu bisa terjadi?"


"Oh iya, waktu pas masa rehabilitasi juga ... seram banget. Itu tuh kenapa, Fate?"


"Kesurupan maksudnya Cil?"


"Hus, enggak sopan kamu Daniel. Ya enggak kesurupan juga!"


"Tapi ketika ada sosok lain yang menempati raga kita, yah bisa dibilang ... kesurupan," tambah Crist yang justru mendapat tatapan sinis dari Cecil, dan si pemuda hanya tersenyum menanggapinya.


Fate terdiam beberapa saat, sampai memancing seluruh tatapan menuju ke arahnya. Ah, mendadak dia bergelagat seperti paham akan sesuatu. "Mungkin karena tubuhku terbiasa dirasuki, yang pertama merasukiku adalah si malaikat jatuh itu."


Malaikat jatuh ...? Eh, maksudnya yang itu? Yang menciptakanku?!


"Loh, si malaikat yang kamu enggak boleh sebut namanya itukan? Lah?!" kejut Daniel, sepertinya ikut tak percaya dengan ucapan si gadis.


Tetapi Fate mengangguk membenarkan. "Singkatnya, ia mencoba menggodaku untuk menghancurkan dunia. Tapi aku bilang 'persetan denganmu' dan membiarkannya. Habis itu ia memutuskan untuk merasukiku, tapi karena aku melawan dan banyak hal lainnya terjadi ... ia malah tersegel di dalamku."


Si gadis pun mengembuskan napas panjang.


"Akhirnya Archangel Michael ikut merasukiku demi menyeimbangkanku, karena elemen si malaikat jatuh terlalu kental sehingga akan mengganggu tugasku di dunia itu. Meski mereka hanya serpihan jiwa karena tubuh manusia tidak akan mampu menampung sosok asli mereka. Tapi tetap saja, mendengar suara di dalam kepala---ah, tunggu, dua suara dalam kepala saling berargumen itu menyebalkan."


Kemudian Fate menjetikkan jarinya. "Ah, jiwa dari bumiku, Gaia, pernah meminjam tubuhku juga. Mungkin karena itu juga jiwa dari bumi ini bisa merasukiku. Jadi bisa dibilang tubuh dan jiwaku sudah terbiasa."


"Fate ... itu tidak biasa, sama sekali," ucap Crist dengan nada amat sangat pelan sampai senyuman di wajah berubah pahit.


Namun, Cecil cepat menyerbu, "Terus kamu bisa istirahat dengan kondisi begitu? Apalagi ada dua suara di kepalamu?"


"Tentu saja tidak bisa. Karenanya aku memfokuskan pikiranku untuk masuk ke dalam alam bawah sadarku. Lalu aku temui mereka dan bentak mereka berdua. Setelahnya, setidaknya pada malam hari, mereka diam."


"HAH?!" teriakku menjadi sampai semua orang yang sebelumnya tenggelam dalam raut tak percaya, bertambah dengan ekspresi terkejut---sebentar!


Malaikat Jahanam itu ... tersegel? Dia bisa melawan balik keberadaannya? Lalu membentak? Mereka diam? Astaga, kegilaan macam apa lagi ini?! Demi Tuhan yang berkuasa atas seluruh makhluk di alam semesta, kepalaku dirasa akan rusak membayangkan itu semua! Langsung aku berdiri dan berjalan mondar-mandir---haaa, tidak bisa tenang!


Lantas aku terdiam; memegang kepala; beralih ke sofa; duduk; merenung.


Sungguh ini semua berlebihan. Kepalaku panas.


"Red, kamu baik-baik saja?"


Spontan aku menoleh ke arah Crist yang menatapku dengan nanar. "Tidak."


Aaaakkh, langsung aku menyentuh kepala dan tak henti menggeram. "Semudah itu melawan balik kekuatan si Malaikat Jatuh?" Aku turut mengernyit dan mengulang kata, "Semudah itu?!"


"Demi Tuhan yang Maha Kuasa. Duniaku hancur karena ia, dan kamu ... semudah itu?! Astaga, mati-matian laju hidupku menjadi tak jelas karena makhluk jahanam itu. Tapi kamu menyegelnya, semudah itu?!"


Ya ampun! Tak bisa aku berhenti mengeluarkan sumpah serapah dan puji-pujian untuk Tuhan, serta kalimat 'semudah itu?'. Tapi kalau Tuhan mendengarku sekarang, sangat yakin akan tertawa lepas; terbahak-bahak; kegelian melihat tingkahku yang sebegini dibuat sinting mendengar penjelasan Fate. Rasanya aku paham bagaimana menjadi si pirang yang sekarang sudah pura-pura mati, mendengar cerita-cerita nyata tapi teramat gila; tak masuk akal; hilang waras---aah, apa pun itu tak pikir lagi!


"Fate, kayaknya kamu tuh berhasil merusaknya deh ...."


"Aku cuma menjawab pertanyaan. Untuk tetap menjadi diri sendiri meski ada serpihan jiwa dalam diri, seseorang perlu memiliki iman dan mental yang kuat." Lalu helaan napas terumbar. "Bukan salahku juga manusia di dunia Red lemah iman dan mentalnya."


"Tapi karena itu aku terciptakan?!" Spontan aku meletakkan kedua tangan depan dada, sebagai bentuk menunjuk diri sendiri sebegitu meyakinkan.


Tetapi si gadis justru menaikkan kedua pundak---aaah, tak kuat lagi! Langsung aku mendekat ke arah mereka seraya berkata, "Sayang, lebih baik kamu tidur, ya?"


"Eh, kenapa?"


Tak menjawab. Aku justru merapikan bantal Fate; mengangkat tubuhnya untuk menggendong di depan; meletakkan dengan hati-hati di atas kasur lipat; tersenyum cerah seiringan berkata amat sangat manis, "Selamat tidur."


Untung saja, aku terbantu oleh Cecil yang refleks meraih si gadis. Mengelus kepalanya; pelan-pelan menata rambutnya, membuat Fate mengembungkan pipi dengan lugu. "Baiklah."


"Daniel, kamu sudah tidur?" tanyaku demi melepas beban dalam pikiran.


"Mau tidur. Dahlah Red, enggak usah seret aku dalam obrolan kalian. Pusing!"


Sesuai dugaan. Haaah, sontak aku memijat pangkal hidung dengan satu tangan. Sepertinya berhasil menyelamatkan sisa-sisa kewarasan kami? Astaga, ini membuatku berfirasat ke depannya akan banyak hal di luar akal terjadi padaku dan Fate.


"Mau berapa kali didengar ... memang kamu dan Red tidak biasa," ucap Crist tiba-tiba. Meski dia sudah berbaring rapi di atas kasur, mata biru tua terbuka lebar. Lebih-lebih tidak berkedip sama sekali saat melihat langit-langit rumah.


Namun, aku langsung menyembur, "Memang aku kenapa?"


"Menurutmu kenapa, ha?" sergah Cecil seketika membuatku ingat akan sesuatu.


"Sebenarnya aku lumayan terkejut sewaktu pertama bertemu Red. Meski terbiasa melihat immortal, tapi ini pertama kali melihat aura sepekat Red tetapi ada setitik cahaya." Dan Fate berbalik ke arahku. "Tapi setelah itu terbiasa, lagi pula dia tidak ada bedanya dengan kita semua."


Tidak, Fate. Aku berbeda ....


Kamu yang pertama menyebut bahwa aku sama saja, lalu berhasil membuka mataku; menyelamatkan jiwaku. Jika itu bukan kamu, maka aku akan terus; selalu; berakhir; tetap, berbeda.


Kamu orang pertama yang membawa perubahan padaku. Bahkan Aion secara tidak langsung menyatakan aku berbeda, berakhir menciptakan cinta buta.


Tetap itu semua tidak aku ucapkan karena gadis tersebut sudah menatapku; hanya padaku, dengan kehangatan yang membuat hati gemetar.


Akhirnya aku turut berbaring di atas kasur seperti yang lain. Maka dirasa dadaku seumpama menyempit, karena sadar pada hakikatnya aku hanyalah anak iblis yang terselubung dosa. Namun, gadis ini sudi merentangkan lengan bagiku untuk pulang; seperti sekarang ... meraih kepalaku dan mengelusnya secara perlahan.


"Cerna semua secara pelan-pelan, atau kepalamu akan sakit. Itu mengapa ... aku tidak keberatan kalau kau butuh waktu untuk memahami semua. Ambillah waktu sebanyak yang kau butuhkan sampai dirimu siap. Aku akan menunggu."


Sebenarnya ... seberapa pantas, aku mendapatkan ini semua? Seberapa pantas, mendapatkan dia untuk diriku sendiri; menyebutnya rumah; sebagai tempat untuk kembali? Seberapa harga yang harus dibayar, untuk kasih yang begitu agung darinya?


Aku tak habis pikir.


Namun, sungguh sudi melakukan apa saja demi dia; demi Fate, tanpa mempertanyakan apa pun. Dan aku berakhir menenggelamkan wajah pada bantal di bawah.


Bahkan, apa nyawaku cukup untuk membayar semua kehangatan ini?