
Dikendalikan ... mungkin itu kenapa sulit menggapai pikiran sendiri. Ketika berada di dunia ini, badan lebih ringan daripada biasanya. Terlebih, segala hal yang terjadi terasa sangat nyata bahkan rasa sakit dan perasaan dalam hati---
"Red, kamu tidak lanjut mengetik? Seminggu lagi pendataan grade ulang dan sparing, lebih baik masalah seperti ini segera kamu selesaikan biar tidak repot."
Sontak aku tertegun dan menoleh ke kanan. Crist masih duduk dengan membaringkan kepala di atas meja, melihatku.
Dikendalikan atau tidak, tetap saja tak bisa dimungkiri bahwa aku sudah melakukan dosa yang besar. Untuk apa sibuk memikirkan hal tersebut? Monster tetaplah monster, dan tak ada yang bisa menjamin aku tidak akan lepas kendali.
Namun, setidaknya, aku harus lebih berhati-hati.
"Ah, maaf. Terima kasih sudah membantu membuat laporan kerusakan arena. Saya sedikit bingung karena kasusnya bukan melawan hibrida."
Pemuda itu tertawa, lalu mendekap kedua tangan sebagai sandaran kepala hingga kacamatanya sedikit terangkat. "Lain kali harus lebih berhati-hati mengontrol kekuatanmu."
Aku mengembuskan napas panjang. Sedikit mencondongkan badan untuk lebih serius mengetik laporan dengan laptop yang kupinjam dari Crist.
Kejadian kemarin tentang Arthur yang merasuki tubuh Fate tak bisa kuberi tahu dan tentu harus membereskan masalah tersebut. Aku juga tidak mau membuat Fate terlibat, dia pasti akan curiga terlebih instingnya sangat tajam, bisa-bisa menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu belum sebutkan tingkat kerusakan, masukan saja di paragraf tiga setelah menjelaskan di mana tempat kejadian perkara," ucap pemuda di sampingku dengan menunjuk ke layar laptop.
Mengangguk kecil, aku pun melakukan apa yang Crist sarankan---ah, setelah ini harus meminta tanda tangan Profesor Kaidan dan menyerahkannya pada staf Departemen Gear. Entah nanti seterkejut apa beliau.
Aku mendengkus. Lagi-lagi harus merepotkan guru wali, bahkan di saat akademi dalam masa liburan.
"Kalian nih, lama-lama kelihatan makin dekat."
Vokal melengking nan khas terdengar. Aku pun melirik dan melihat Cecil duduk pada bangku di hadapan seraya memakan beberapa stik cokelat.
Keadaan club benar-benar ramai sekarang lantaran semua anggota berkumpul. Total delapan orang di ruang utama, selain Fate. Aku tidak tahu ia di mana, mungkin dalam Mansion Lucian. Kalau dipikir lagi, dari semua murid, hanya Fate yang tinggal bersama Head Master Lucian.
Hmm, kira-kira kenapa ....
"Ahahaha, iyakah? Aku bersyukur akhirnya bisa semakin dekat dengan Red." Kalimat tersebut sukses membuatku terkejut dan langsung menoleh ke arah Crist.
"Ha?! Kenapa ... saya?" tanyaku dengan sedikit menunjuk diri sendiri.
"Karena kamu sulit didekati," jawabnya santai dengan mengulas senyum simpul.
Bukan, maksudku ... kenapa harus denganku? Dari semua murid di Vaughan, banyak orang yang lebih baik; kenapa harus memilihku? Aaaa, lagi-lagi pikiran berlayar entah ke mana. Harus menyelesaikan laporan ini secepatnya, terlebih sudah meminjam peralatan milik orang lain.
Dengan sedikit menggeleng, aku melanjutkan pekerjaan. Tangan kukuh mulai menari atas papan ketik dalam mata jelaga menyapu baris kata demi kata.
Haah, akhirnya selesai. Aku pun bersandar pada bangku dan sedikit melakukan peregangan.
"Kalau sudah selesai ... sini, biar aku cetak dokumennya," tutur si pemuda, mulai bangun dari duduk setelah mata biru selesai menyisir setiap paragraf dalam layar.
"Aaa, tapi ini laporan saya---"
"Tapi ini laptopku, lagi pula sudah berjanji akan membantumu 'kan?" Dan Crist mengambil laptop miliknya, menjinjing si bawaan menjauh dari aku yang setia dalam gelagap bingung seolah ingin meraih dia.
Aku berakhir pasrah dan menghela napas.
"Ih, kamu tuh, harusnya bersyukur ada orang sebaik Crist mau bantu kamu," cetus Cecil dengan menunjuk tepat depan wajahku menggunakan stik cokelat yang setengah habis.
Eh, sejak kapan dia sudah berdiri di samping? Aku sedikit terkejut sampai membelalak karena tidak menduganya.
Belum sempat membalas apa yang ia katakan, mendadak si ketua club datang dan merangkul gadis kecil dengan kekehan biasanya. "Cil, mumpung libur begini, jalan-jalan yuk!"
Ah, lama-lama aku merasa kasihan kepada Cecil. Daniel selalu memaksa dirinya. Apa di club lain akan seramai ini? Mungkin ... lebih, karena maksimal satu club bisa menampung dua belas orang, sedangkan Club Dion hanya memiliki sembilan anggota. Apa lagi club elite seperti Mercy, banyak orang yang ingin bergabung dengan mereka, pasti ramai.
Hingga terasa satu tepukan di pundak, refleks aku menoleh kebelakang. Crist datang seiringan menyodorkan selembar kertas. "Ini. Aku yakin Pak Kaidan ada di ruangnya."
Aku mengambil dokumen tersebut dan mengeceknya ... ya, sudah sesuai. "Terima kasih, Crist."
Yang dituju menjawab atas seulas senyum. Kalau diingat kembali, Crist memang orang yang baik. Bahkan sebelum Fate datang ia selalu menolong dan berusaha bisa dekat denganku. Dulu aku tak menyadarinya dan berakhir pasif. Namun pemuda ini sampai sekarang tidak berubah; tetap sehangat dulu; masih berada di sisi.
Entah kenapa, aku merasa sedikit tersipu.
"Eeem, saya ... pergi dulu."
"Ya, jangan lupa kembali untuk makan siang," ucapnya santai, kembali duduk pada bangku meja makan.
Sepertinya hanya aku yang berpikir berlebihan. Mungkin suatu saat, aku akan mengucapkan tanda terima kasih dengan benar pada Crist. Sebelum itu, harus menyelesaikan masalah ini pun mulai beranjak dari kursi dan meninggalkan gedung club.
Di luar ... ramai. Sekarang waktu liburan dan seluruh murid beserta staf dibebas tugaskan, wajar saja.
Aku harus segera menemui Profesor Kaidan.
Ketika melalui jalan setapak pada sisi taman akademi, terdengar seseorang memanggilku dari kejauhan. Suaranya samar namun terdengar berat. Aku takut seperti kejadian dengan siswa waktu itu; tidak merespons dan membuatnya kesulitan, jadi kali ini aku menoleh---eh, Profesor Kaidan! Beliau tersenyum padaku dengan ponsel di genggaman tangan.
Bergegas aku mencepatkan langkah menghampiri beliau. "Profesor Kaidan! Kebetulan saya mencari Bapak."
"Ada apa, Red? Tumben bersemangat," jawab beliau seraya meletakkan ponsel pada saku celana.
"Ini ... laporan kerusakan arena, saya butuh tanda tangan Bapak." Aku menyodorkan dokumen tersebut.
Beliau menaikkan sebelah alis. "Seluruh murid dibebas tugaskan, dan para staf bersiap melakukan pendataan grade ulang. Beberapa club bahkan dalam proses pendataan, club kamu satu minggu lagi. Bapak tidak ingat memberikanmu misi."
"Umm, bukan karena misi atau pertarungan dengan hibrida tapi ... kecelakaan."
Mendadam beliau mencengkeram kedua pundakku dan terlihat cemas. "Kecelakaan?! Ya ampun Nak, ada apa lagi?"
"Ti-tidak, saya tak apa-apa. Kemarin mencoba menggunakan pedang lagi dan ... ada sedikit kecelakaan, hehe. Detailnya saya sudah sebutkan di sini."
Beliau mengambil dokumen yang aku serahkan dan membacanya baik-baik. Beberapa saat kemudian, Profesor Kaidan mengusap wajahnya lelah dan mengembuskan napas panjang.
Dokumen itu menjelaskan bahwa aku kembali memegang pedang tepat setelah membuka Class Swordmaster. Sebab kekuatan yang besar dan kontrol rendah, aku berakhir memberikan beberapa kerusakan pada balkoni perpustakaan.
Pada hakikatnya itu memang terjadi 'kan? Aku kembali memegang pedang, detail lain mengenai Metatron yang membawa kembali jiwa ayah angkat Fate--Arthur--ke dalam tubuh anaknya sendiri tidak aku jelaskan. Lebih tepatnya tak bisa.
"Red, kalau kamu mencoba senjata baru kenapa tidak pergi ke Gedung Pusat Pelatihan?"
"Itu karena ... saya juga tidak menduganya." Tidak, aku tak bisa berbohong; tak bisa menjelaskan lebih lanjut pula. Berakhir membisu dan menautkan jemari.
Embusan napas terubar kemudian. "Ya sudah. Nanti kamu ikut Bapak memeriksa tempat kejadian perkara. Masalah pribadi harus diselesaikan sendiri. Departemen Gear pasti tidak mau ambil pusing, apa lagi di masa pendataan ulang."
Itu mencelikkan benakku.
"Saat pendataan grade ulang, boleh saya mengisi kembali identitas kesiswaan?" Aku langsung mencondongkan badan. Profesor Kaidan tampak terkejut hingga kedua mata cokelatnya tersibak atas semburat merah di wajah.
Aku lanjut berkata dalam gelagat semringah, "Saya ... sudah mempunyai nama!"